Kembali

2559 Kata
Indonesia 08:45 "hmm" gumaman itu mengakhiri obrolan Adam dengan orang kepercayaan nya di sebrang sana prok ! prok ! prok ! Adam tersentak kaget mendengar tiga tepukan tangan dari belakang kursi yang ia duduki, dia segera memutar kursi menghadap ke arah pintu masuk ruang kerja nya "Dirga" gumam nya setengah kaget, di ambang pintu sana Dirga berdiri menatap nya dengan tatapan tidak bisa di artikan Dirga tersenyum sinis sambil berjalan mendekati Adam, dia duduk tanpa di suruh di kursi sebrang meja kerja Adam "aku beneran nggak habis fikir sama jalan fikiran abang" ucap nya menggeleng tak percaya "jadi semua ini ada campur tangan dari abang ?" "itu bukan urusan kamu" desis Adam menatap tajam adik kedua nya itu Dirga tertawa hambar sejenak "bukan urusan ku ?? sadar bang, Queen juga adik ku bukan adik mu saja, jadi apapun yang menyangkut Queen aku masih berhak ikut campur !" nada bicara Dirga semakin meninggi, sabar Dirga. "Aku melakukan ini semata-mata untuk Queen, agar dia benar-benar mendapatkan lelaki yang terbaik" titah Adam menyibukkan diri membuka berkas-berkas kantor nya "demi Queen ? apa demi ke egoisan abang sendiri !" cibir Dirga mendengus kecil "apa maksud mu, kalau kau tidak tau apa-apa mending tutup saja mulutmu itu !!" bentak Adam menggeram marah "abang ini pura-pura bodoh apa emang bodoh dari dulu !" "DIRGA !" Adam menggebrak meja, rahang nya mengetat serta tatapan nya sangat tajam. Baru pertama kali Dirga berbicara kurang sopan kepadanya, itu cukup mengejutkan. Dirga terkekeh pelan, hati nya terselimuti amarah saat mengatahui sebuah fakta yang mengejutkan lewat obrolan Adam lewat telefon barusan, permainan Adam dan Dafi. Itu benar-benar fakta yang tidak pernah Dirga kira, jadi selama ini yang membuat skenario hubungan adik nya adalah kakak tertua mereka sendiri ?? lelucon macam apa ini. "Nggak mau di katain bodoh tapi perbuatan nya melewati kata bodoh" cibir Dirga tak kalah tajam menatap Adam, jika dalam kondisi normal lidah Dirga tak akan mampu mengatakan hal itu tapi saat ini kondisi nya berbeda, dia menendang jauh-jauh rasa hormat nya kepada Adam karena menurut Dirga ini sudah keterlaluan. "LANCANG SEKALI KAU DIRGA !!" bentak Adam murka gemelatuk gigi nya terdengar, kedua mata Adam pun mulai menggelap dia benar-benar murka saat ini "AKU NGGAK AKAN LANCANG JIKA ABANG NGGAK KAYAK GINI !!" balas Dirga tak kalah lantang dan emosi, dia berdiri tegak dengan tatapan terus tajam ke Adam. "apa abang nggak sadar kalau selama ini yang buat Queen menderita itu bukan Dafi tapi Abang sendiri !" imbuh Dirga, nafas nya bergemuruh cepat Adam pun ikut berdiri, kini kedua lelaki dengan tipe darah yang sama itu berhadapan dan saling melempar tatapan tajam "pergi kau dari kantor ku !" usir Adam menggeram rendah terdengar sangat menakutkan, dia masih menahan emosi nya karena yang ia hadapi adalah adik nya sendiri. Dirga tak bergerak sedikitpun, dia sedang mengatur keluar masuk pernafasan nya yang panas, lalu ia kembali angkat bicara "berhenti buat Queen ku menderita bang, biarkan dia bahagia sama Dafi jangan halangi mereka. Bukan hanya abang yang tidak rela melihat dia sudah menjadi gadis dewasa dan akan memiliki pasangan, tapi aku juga ! bahkan Gavin sekalipun. Kita sama-sama nggak mau kehilangan Queen jika dia sudah memiliki kehidupan lain dengan suaminya kelak, tapi bukan seperti ini caranya bang. Bukan dengan memisah kan Queen dengan orang yang ia cintai, itu kejam bang" ucapan Dirga terdengar lirih dan dalam, seakan dia juga merasakan bagaimana perasaan Alin selama ini Adam tak menjawab dia hanya menatap sengit adik di hadapan nya itu, Dirga sedikit takut di tatap seperti itu namun kepalang tanggung dia membuang nafas berat nya dan kembali berkata "aturan yang abang buat untuk Dafi itu bukan hanya menyakiti Dafi tapi juga menyakiti Queen bang. Apa abang nggak lihat selama dua tahun ini bagaimana hari-hari Queen tanpa kabar dari Dafi ? bagaimana adik kecil kita selalu menangis menanti kabar Dafi ? tolong bang hentikan semua ini, Queen harus tau jika Dafi selama ini pergi memperjuangkan dia lewat permainan abang itu. Dan biarkan mereka bersama bang" pinta Dirga penuh harap sambil menatap Adam sendu Dirga sangat menyayangkan sikap Adam yang egois ingin menjadikan Alin tetap adik kecil nya dan tetap milik nya. Dirga tau ambisi kakak tertua nya itu, Adam membuang fakta jika Alin sudah bukan gadis kecil lagi melainkan gadis dewasa yang cepat atau lambat akan menjadi tuan putri suami nya kelak, memiliki hidup dengan orang yang Alin cintai. Adam tidak bisa menerima kenyataan itu, waktu kebersamaan dengan Alin menurutnya terlalu sebentar dan dia masih tidak rela jika sekarang Alin sudah dewasa dan mulai mencintai lelaki lain selain ketiga kakak nya. Adam sampai melakukan permainan kecil bersama Dafi dengan niatan agar adik nya tidak memiliki kekasih dulu, kejam ? memang, dan Adam tau itu. Yang terpenting Alin tetap ada bersamanya, tetap mencintai ketiga kakak nya dan tidak membagi perhatian dengan lelaki luar. Gila dan EGOIS ! Tapi bukan kah dari dulu Adam gila, egois dan tidak suka berbagi apapun yang sudah menjadi milik nya ? termasuk Queen. Sifat posesif Adam, akan adik perempuan satu-satu nya semakin menggila hingga menutup mata Adam jika perbuatan nya sudah membuat dua manusia saling mencintai itu sangat menderita. "pergi sekarang sebelum tangan ku ini menyakitimu untuk yang pertama kali" ancam Adam mendesis mulai kehabisan stok sabar, kedua tangan nya sudah terkepal siap ia layangkan jika Dirga tak kunjung pergi "mereka berdua menderita karena abang" imbuh Dirga masih berdiri tegak di hadapan Adam seakan siap jika memang ini akan menjadi sejarah dimana Adam memukul nya pertama kali, dia sudah tidak tahan melihat adiknya tersiksa begini. "kau masih ingat letak pintu nya kan Dirga !" tanya Adam membentak, dia benar-benar akan memukul Dirga saat ini Dirga mengangguk samar terlihat sangat kecewa, perlahan dia berjalan mundul menabrak kursi di belakang nya hingga bergeser "sekali lagi ku peringati bang, beritahu Queen tentang fakta selama dua tahun ini sebelum abang menyesal" setelah mengatakan itu Dirga berbalik pergi dari ruang kerja Adam. Adam menumpukan kedua tangan di atas meja, rahang nya mengeras gemelatukkan gigi nya terdengar nyaring menggema. Queen tetap milikku. ***** London Hospital, 18:04 "kondisi tuan Dafi sudah membaik tapi dia masih harus ber istirahat dengan cukup" "terimakasih dok" kata Jems menyalami dokter kepercayaan nya itu "baiklah, saya permisi" sepeninggal dokter itu Jems kembali masuk ke dalam ruang rawat Dafi, disana anak nya terlihat sangat bosan berdiam diri di atas ranjang seharian penuh. Duduk bersandar di kepala ranjang sambil mengganti chanel televisi secara random "kapan aku bisa pulang" tanya Dafi saat mengetahui Jems masuk "besok nak" jawab Jems memilih duduk di sofa empuk sudut ruangan itu Dafi mengela nafas frustasi, dia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini dan membicarakan hubungan nya dengan Alin. Dafi tidak rela hubungan yang ia jaga dan perjuangkan kini hancur begitu saja, pasti ada cara lain untuk membuat Alin mengerti tanpa harus membongkar permainan nya dengan Adam "apa yang kau alami selama kau tertidur dua hari lamanya" celetuk Jems melihat Dafi "mimpiku lebih indah dari pada kenyataan, itu yang membuat aku malas membuka mata" jawab Dafi dengan sekelebat bayangan mimpi yang ia alami dua hari ini kening Jems mengerut "apa maksud mu bermimpi gadis itu lagi ?" Dafi langsung menoleh ke Jems "bagaimana dady tau ?" tanya nya cepat Jems tertawa sejenak lalu berkata "jelas dady tau, karena hampir satu jam sekali kau menyebut nama nya" goda Jems menaik turun kan kedua alisnya, Dafi berdecak tidak suka "tapi apa yang membuat mu bangun, bukan kah kata mu di dalam mimpi lebih indah ?" Jems kembali bertanya, dia jadi penasaran kemana jiwa anak nya selama dua hari tak sadarkan diri itu. "Entah lah, seperti ada yang meminta ku bangun tapi bukan suara dady" "suara Alin ?" Dafi terdiam, tidak mungkin Alin. Gadis itu tidak mungkin datang. "Aku nggak tahu" jawab Dafi pasrah, dia sebenarnya sangat yakin jika suara itu adalah Alin tapi fakta lebih menunjukkan jika gadis itu tidak pernah datang menjenguk nya Jems hanya tersenyum tipis menatap Dafi yang terlihat sangat lemah di atas ranjang sana. Suara pintu terbuka mengejutkan mereka berdua, dari sana masuk lah Saga dan Putra dengan senyuman kuda mereka "wah lama sekali om nggak lihat kalian" ujar Jems sumringah menerima uluran tangan salam mereka berdua "iya, om bagaimana kabar nya ?" tanya Saga "om baik, kamu bukan nya kuliah di indonesia ?" Saga mengangguk "lagi liburan kesini om" jawab nya "gimana kondisi lo ?" tanya Putra ke Dafi "gue udah mendingan, kalian tau dari mana soal kondisi gue. Apa media udah nyebarin berita nya ?" "nggak kok, kita tau dari Alex dan tenang aja nggak ada yang tau selain kita" jawab Saga duduk di sisi ranjang Dafi, Dafi menghela nafas lega jangan sampai lawan bisnis nya tau jika dia sedang tumbang. "Gavin mana ? kenapa kalian berdua saja ?" tanya Jems melihat Saga dan Putra bergantian "di-dia.." "dia lagi sibuk om" sela Saga menyenggol lengan Putra memberi kode agar tidak mengatakan kepada Jems jika Gavin menolak untuk menjenguk Dafi. Jems mengangguk percaya, sedangkan Dafi tau kenapa sahabat nya itu tidak mau datang. ***** Apartemen, Queena Crystalin 18:15 Alin terdiam kaku dalam posisi duduk, jantung nya berdetak kencang, keringat dingin membanjiri pelipis serta telapak kanan nya. "jadi ini semua bukan sepenuh nya kesalahan Dafi" ujar seseorang di samping Alin, menatap prihatin ke arah nya Alin tidak merespon suara itu, tatapan nya kosong ke depan. Genangan air sudah siap meluncur dari kedua pelupuk mata nya benar-benar mengejutkan "kenapa kak Dirga baru kasih tau sekarang setelah Queen melewati dua tahun dalam kesedihan !" sembur Gavin tak habia fikir "karena aku baru tau tadi pagi Gavin !" protes Dirga tak ingin di salahkan "dan aku memutuskan untuk mengatakan sendiri kepada Queen tanpa menunggu abang, karena ini salah" Dirga langsung terbang ke London menemui Alin dan menceritakan semua yang ia dengar sewaktu Adam berbicara di telfon. Alin tidak bisa berkata apa-apa setelah tau segala nya, sekarang sudah tidak ada rahasia apapun lagi semua sudah jelas, dan fakta ini sangat menyakitkan. "ck ! aku nggak nyangka abang kayak gini" decak Gavin menggeleng pelan "Queen" Dirga menyentuh pundak Alin "maafin abang, dia hanya terlalu takut kehilangan kamu" bisik Dirga dengan nada bergetar, air mata Alin langsung jatuh setelah mendengar kata-kata itu dunia nya seakan di permainkan oleh kakak nya sendiri, hati Alin ter remas kuat saat ini. Dia tidak bisa mencerna apapun, otak nya blank. Dirga menarik pelan kepala Alin agar bersandar di pundak nya, mengelus lembut lengan adik kecil nya itu "kakak tau ini sangat mengejutkan buat kamu, bahkan kakak sendiri juga nggak habis fikir sama semua ini. Tapi kakak mohon jangan benci abang" Gavin menunduk sambil memijit kepala nya, dia tiba-tiba pusing memikirkan semua ini. Ceklek ! Pintu otomatis itu terbuka, mereka serempak kaget karena selain anggota keluarga tidak ada yang mempunyai card untuk membuka nya. Mereka terdiam menunggu siapa yang datang, Alin sampai menghentikan tangis nya. Rasa sedih Alin berganti takut, takut jika yang masuk adalah rampok atau semacamnya. "Abang !" ujar mereka bertiga serempak, mereka melotot kaget melihat siapa yang datang, Adam. Adam masuk dengan setelan kantor yang sama dengan tadi pagi, wajah nya terlihat lelah dan frustasi tatapan Adam pun sayu. Dia berjalan gontai mendekati ketiga adik nya yang terdiam di sofa. Lalu tepat di depan Alin dia berlutut dengan kepala terus menunduk dalam Alin tak membiarkan itu berlangsung lama, dia memegang kedua pundak Adam menyuruh kakak nya itu bangun. Namun Adam menolak dia perlahan mengangkat kepala nya dan sedikit mendongak menatap nanar adik kecil nya itu. Alin semakin terisak mendapat tatapan penuh sesal dari Adam dia pun langsung memeluk Adam sangat erat dan dibalas pelukan itu oleh Adak tak kalah erat. Mereka menangis berdua dalam pelukan hangat, Dirga dan Gavin pun tak kuasa menahan panas di kedua mata nya, adegan di depan mereka sangat hangat. "a-abang,, " lirih Alin sesegukan di leher Adam "maafin abang" ujar Adam serak, tidak ada segukan tapi air mata Adam mengalir sangat deras. Bahkan Alin merasa bagaimana badan Adam bergetar karena menangisi, Alin melepas pelukan itu, menangkup kedua sisi wajah Adam dan menghapus air mata nya dengan kedua jempol Alin "aku nggak akan ninggalin abang, meskipun nanti aku sudah mempunyai keluarga kecil baru, percayalah bang" ujar Alin serak, alasan Adam melakukan permainan kecil dengan Dafi sangat mencubit perasaan Alin. Abang nya takut jika Alin pergi, abang nya takut jika Alin sudah tak membutuhkan nya lagi. Padahal Alin tidak akan pernah menduakan mereka, karena mereka bertiga mempunyai tempat khusus di hati Alin. Adam mengangguk pelan seperti anak anjing yang lucu, dia pun menghapus air mata Alin sama dengan apa yang Alin lakukan padanya tadi "abang, kak Dirga sama kak Gavin" Alin berbicara sambil menatap mereka satu persatu "kalian nggak usah khawatir akan kehilangan aku, karena kalian ada di tempat paling istimewa, disini" Alin meletakkan telapak tangan nya tepat di bagian d**a sebelah kiri, jantung nya. "Abang terlalu egois selama ini, sampai abang menutup mata jika apa yang sudah abang lakukan itu melukai adik kesayangan abang sendiri" kata Adam kembali meneteskan air mata, Alin menggeleng tidak membenarkan itu dengan lembut dia kembali menghapus air mata Adam Alin memberikan senyuman termanis nya kepada Adam "aku bahkan mau terimakasih sama abang, kak Dir dan kak Gavin karena sudah mau menjadi kakak ku, menjaga ku selama ini dengan sangat baik. Aku tau kalian tidak mau aku menjadi gadis dewasa kan ?" Adam kembali menunduk dalam, dia kembali menangis. Kenapa merelakan adik kecil nya tumbuh dewasa bisa seberat ini. Dirga mengerjap-ngerjap kan mata beberapa kali, dia berharap air mata nya tidak menetes juga. Sedangkan Gavin dia hanya tersenyum berusaha kuat meski mata nya sudah sangat panas melihat ekspresi ketiga kakak nya Alin tersenyum sambil menangis "aku tetap adik kecil kalian, bahkan sampai usiaku 100tahun lagi kalian tetap kakak terbaikku dan aku tetap adik kecil kalian. Aku juga benci jadi dewasa" Alin menunduk melihat Adam yang tidak mau menatap nya "kebahagiaan terbesarku adalah menjadi adik dari kalian bertiga" Gavin tidak kuasa dia segera memeluk Alin dari samping lalu mencium pelipis Alin cukup lama "love you princess" bisik Gavin saat menempelkan kening nya di sisi kepala Alin, Alin mengangguk cepat. Dirga juga begitu dia memeluk Alin dari sisi lain dan mencium pucuk kepala Alin, adik nya sudah dewasa dan mereka harus menerima itu. Tapi benar kata Alin sampai usia habis pun Alin akan tetap menjadi adik kecil mereka. "apa abang nggak mau peluk aku juga ?" pertanyaan serak itu membuat Adam perlahan mendongak, dia tersenyum tipis lalu memeluk perut Alin menenggelamkan wajah nya di pangkuan Alin. Mereka bertiga sama-sama meneteskan air mata, tapi bukan kesedihan tapi rasa syukur karena memiliki anggota keluarga yang sangat hebat seperti ini. **** London, Hospital 05:50 Persiapan untuk kepulangan Dafi sudah lengkap, beberapa pasang baju sudah di masukkan kedalam bagasi mobil di bantu Saga dan Putra juga. Mereka berdua sengaja datang pagi-pagi sekali untuk membantu kepulangan Dafi, Dafi bukan nya senang malah menatap malas ke arah mereka berdua jika di cerita lain orang yang baru pulang dari rumah sakit akan di jemput kekasihnya dan itu sangat romantis tapi ini ? Dafi malah di jemput dua alien tak di undang "sudah siap semua ?" tanya Jems "sudah om" jawab Putra dan Saga barengan "yasudah ayo !" ujar Dafi melangkah mendahului mereka, baru beberapa langkah ia ingin melewati lorong kaki nya berhenti mendadak. Mata nya menatap sosok yang berdiri di ujung lorong sana apa itu Alin ?? mana mungkin Dafi mengucek kedua mata nya dan kembali melototi sosok gadis yang ia kira Alin itu, gadis itu tersenyum geli melihat tingkah Dafi yang sangat lucu menurutnya. "A-a alin ?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN