Bucin

2490 Kata
****** London, Hospital. Dafi berdiri kaku melihat sosok itu berjalan dari ujung lorong semakin dekat dan kini sudah berdiri tepat di depan nya. Mereka sama-sama diam tidak mengatakan apapun, otak Dafi masih blank melihat gadis yang selama ini ia rindukan benar-benar ada di depan mata nya, antara percaya dan tidak. Alin mengerucutkan bibir nya kesal akan ekspresi yang Dafi berikan, diam, menatap polos dan tidak ada lagi. Apa kak Dafi nggak suka aku kesini ? belum sempat Alin memprotes akan reaksi menyebalkan itu dia lebih dulu di kejutkan dengan Dafi yang secepat kilat menyambar tubuhnya, memeluk sangat erat tubuh kecil Alin. Dibalik punggung Alin Dafi tersenyum tipis, ternyata ini bukan khayalan. Alin membalas dengan melingkarkan lengan kecil nya di punggung lebar Dafi, rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan kehangatan lelaki ini. Alin berharap detak jantung nya yang menggila tidak terdengar oleh Dafi "gimana rasanya ?" bisik Putra menjahili Saga, tatapan Saga sejak tadi seakan tidak terima melihat adegan di depan sana. Putra tau arti tatapan itu tergolong kata cemburu "rasa apa" sahut Saga berusaha santai "rasanya memendam perasaan sama kekasih teman sendiri?" jahil nya Putra semakin menjadi-jadi, hanya orang bodoh yang tidak paham akan arti tatapan lembut Saga setiap bersama Alin. Dia tahu jika teman nya itu sudah sejak dua tahun lalu mulai menyukai Alin, sejak Dafi menugaskan nya menjaga gadis itu. Benar kata orang cinta akan tumbuh jika sering bersama, tapi jika yang tumbuh hanya sebelah bagaimana ?? semoga saja semua ini tidak menjadi alasan renggang nya persahabatan mereka. Saga melirik nya sinis "sok tau !" sahut nya lagi judes, Putra menutup mulut yang hendak tertawa itu. Satu menit mereka habis kan untuk pelukan, rasa nya sangat berat untuk melerai nya namun dengan terpaksa Dafi melepas pelukan hangat itu. "Kamu kenapa kesini ? kamu sakit ?" tanya Dafi berubah cemas, Alin menggeleng pelan. Senyuman gadis itu tidak luntur sama sekali "terus kenapa ? ada apa ? hmm ?" nada Dafi terdengar sangat lembut "mau jemput kakak pulang dari rumah sakit" jawab Alin parau, ada desiran aneh yang Dafi rasakan seperti perasaan bahagia yang tiada tara. Seketika itu penyakit nya langsung hilang entah kemana, energi Dafi kembali fit seakan dia lupa jika pernah koma selama dua hari "kamu tau dari mana aku pulang pagi ini ?" Alin tidak menjawab, dia sibuk menatap lekat ke arah mata Dafi. Meski Alin terus tersenyum bahagia tapi kedua mata nya tiba-tiba saja memanas, dia tidak bisa menahan rasa haru setelah mengetahui perjuangan Dafi selama ini lewat cerita Adam dan Dirga Dafi menangkap raut wajah Alin, dia semakin panik kala melihat setetes air mata mengalir di pipi gadis itu "hei,, ada apa ? ada yang nyakitin kamu, ngomong sama aku" Dafi mengusap lembut air mata Alin, nada nya berganti gemetar khawatir apalagi Alin tetap diam tak mengatakan apapun. Grep ! kini Alin yang menabrak badan Dafi, ia tenggelamkan wajah nya di d**a bidang Dafi. Terdengar jelas bagaimana detak jantung menggila dari lelaki itu "terimakasih" ujar nya serak Dafi mengerutkan kening bingung "untuk apa, hmm ?" tanya nya lembut seraya mengelus punggung Alin "untuk semua perjuangan kakak selama ini" jawab nya di sela-sela sesegukan Dafi melepas pelukan Alin lalu menangkup kedua sisi wajah Alin, menatap lekat kedua mata indah yang ia rindukan itu setiap hari nya "kamu tau semuanya??" tanya Dafi ragu Alin mengangguk cepat "abang udah cerita semua nya, maafin abang udah buat hubungan kita kayak gini. Bahkan aku udah salah faham sama kakak, aku udah tampar kakak dua kali,, hiks hikss" Alin semakin terisak ketika mengingat bagaimana ia menampar Dafi saking emosi nya waktu itu, meski saat itu Alin tak sepenuh nya salah karena Alin tidak tahu apapun bagaimana kejadian yang sebenar nya tapi tetap saja, Alin menyesal. "Sssttt,,udah udah jangan nangis" Dafi kembali memeluk Alin berusaha menenangkan gadis itu, setiap segukan Alin terasa menyayat hati Dafi dia sangat tidak suka gadis nya menangis. "kenapa kakak sembunyiin permainan itu dari aku" tanya Alin serak namun air mata nya sudah perlahan mengering "setiap yang aku lakuin semua demi kamu, peraturan dalam setiap permainan harus di tepati, karena kalau tidak semua yang udah aku lakukan nggak akan ada guna nya" "abang jahat" Dafi terkekeh pelan mendengar nya, Adam tidak jahat Dafi tau itu, selama dua tahun lumayan dekat dengan Adam dia menjadi paham jika Adam sangat sayang kepada adiknya. Adam baik, hanya saja dia sama seperti dirinya, terlalu ambisius ke Alin sehingga tidak ingin kehilangan gadis kecil itu. ***** Apartemen Putra, London 10:30 "nih minum, sorry gue cuman punya air putih" Saga menatap malas gelas berisikan air bening itu "lo kuliah di London, di kampus ter favorit dan tinggal di apartemen orang-orang elit tapi minuman yang lo suguhin cuman ini ?" ucap Saga sedikit nge gas Putra menampilkan senyuman kuda nya "akhir bulan bro" jawab nya tanpa dosa Saga memutar bola mata nya jengah, dengan terpaksa ia pun meminum segelas air itu hingga tandas, rasanya hari ini cuaca sangat panas atau mungkin hati nya yang panas. "Sag ?" "hmmm" "lo nggak mau minta ilmu sama gue ?" Saga menatap nya bingung "ilmu apa an ?" "secara kan gue ini udah ahli dalam bidang percintaan, gue bisa kasih ilmu gimana caranya merebut pacar temen sendiri" Saga menatap nya horor sedetik kemudian jitakan kencang mendarat di atas kepala Putra "adduuuh !! kok lo jitak gue sih !" protes Putra tak terima "biar otak lo balik lagi ke tempat nya" jawab Saga geram, bisa-bisa nya Putra menawarkan hal semacam itu "ya abis muka lo serem amat sejak lihat Dafi dan Alin baikan" sahut nya sambil mengelus bekas jitakan Saga yang masih terasa sakit Saga membuang nafas berat, ia menyenderkan badan nya ke kepala kursi lalu mendongak menatap kosong atap putih disana "ini emang pertama kali buat gue ngerasain sakit hati, ngerasain gimana sakit nya sesuatu yang di ambil sama orang lain" "sakit sih, tapi gue sadar gue nggak ada apa-apa nya dari pada perjuangan Dafi buat Alin. Bahkan waktu kebersamaa gue sama Alin itu nggak ada arti nya di banding waktu nya Dafi yang ia gunakan buat memperjuangkan perusahaan mami nya, serta permainan dari bang Adam demi bisa kembali ke Alin" Saga tersenyum getir sejenak lalu kembali berkata "gue emang cinta sama Alin, gue nggak suka lihat dia sedih, lihat dia nangis. Gue pengen jadi pundak dimana dia mengadu setiap kesedihan dia, tapi dia bukan punya gue. Sekarang dia udah balik ke hati yang sebenarnya dan tugas gue udah selesai buat jagain dia" "lo nggak ada rencana buat ngungkapin perasaan lo ?" tanya Putra setelah sejak tadi diam mendengarkan Saga membenarkan posisi duduk nya, ia kini memainkan gelas bekas air yang ia minum tadi "perasaan gue cukup gue sendiri yang tau, setidak nya meski Alin nggak sama gue dia masih sama orang yang sangat tepat, gue percaya Dafi bakalan bahagiain dia" Saga tidak berniat sedikitpun untuk memberitahukan perasaan nya selama ini kepada Alin, cukup dengan melihat gadis itu bahagia saja sudah membuat tenang. Dafi orang yang tepat terlihat dari bagaimana lelaki itu berjuang sendiri demi Alin jadi akan sangat b******k jika Saga sampai punya niatan merebut Alin dari sahabatnya sendiri. "waahh, gue bener-bener salut sama lo" puji Putra bertepuk tangan kecil "udah ya habis ini jangan bahas kayak tadi lagi, gue nggak mau Dafi denger dan salah faham" ucap Saga memperingati, Putra mengangguk antusias. Awal nya Putra menawarkan ilmu perebut itu karena hanya ingin tau seberapa b******k Saga, tapi ternyata Saga sangat dewasa dan memilih jalan yang tepat meski sedikit menyakitkan. ***** Apartemen elit, Al-khadafi 10:59 Dafi tak henti-hentinya tersipu membayangkan kejadian tadi pagi, semua masih terasa seperti mimpi. Kini semua masalah nya sudah selesai tugas yang sebenarnya sedang menunggu, yaitu membahagiakan Alin. Ia memegang dadanya yang kembali berdetak kencang bahkan sangat kencang setelah dua tahun tidak pernah seperti itu, hanya ketika berdekatan dengan Alin jantung nya bisa jadi gila. "maaf tuan muda, ada tamu" Alex berdiri di ambang pintu yang memang terbuka lebar "siapa ?" "tuan Adam" ****** Seperti biasa sebotol wine menemani pertemuan dua lelaki berwajah dingin itu, Dafi hanya meneguk sekali saja sedangkan Adam hampir habis sebotol wine. "Kenapa abang sendiri yang membongkarnya ?" tanya Dafi setelah melihat Adam menghabiskan segelas wine dalam satu tegukan Adam terkekeh pelan "aku kalah, aku kalah dalam permainanku sendiri. Sekarang aku harus merelakan adik ku bersama lelaki lain selain ketiga kakak nya" Dafi diam, dia tidak tahu mau berkata apa. "Tapi aku yakin jika pilihan adik ku tidak salah" Adam tiba-tiba menatap serius ke arah Dafi, membuat lelaki yang lebih muda dari nya itu kikuk "namun, tidak sepenuhnya aku melepaskan Queen. Dia tetap adikku, dan jika sedikit saja kau menyakitinya aku akan langsung membawa nya kembali dan jangan harap ada kesempatan kedua untuk mengambilnya lagi" ujar nya dengan nada rendah menyeramkan. "Lalu untuk apa semua perjuangan ku jika nantinya aku akan menyakiti Queen" sahut Dafi mencoba sedikit tenang "ku pegang janjimu" Keputusan ini sangatlah sulit buat Adam, dia masih tidak sepenuhnya rela jika Alin akan menjadi gadis lelaki lain selain ketiga kakak nya. Alin akan membagi kasih, membagi perhatian bahkan membagi sifat manja, atau mungkin akan sepenuhnya hilang dan pindah ke Dafi semua sifat itu. Tapi Adam tidak ada pilihan lain, kebahagiaan Alin adalah tujuan hidupnya jadi dia harus ikhlas jika kini Alin memiliki cinta lain selain ketiga kakak nya, Adam yakin posisinya di hati Alin tidak akan pindah sama seperti posisi Alin di hati ketiga kakaknya. ****** DC Corp. 07:38 Semua pegawai menunduk hormat ketika tuan muda mereka lewat di hadapan mereka, Dafi datang agak terlambat, biasanya pukul 06:50 dia sudah berada di atas singgasana ruang kerja nya namun sekarang berbeda akibat terlalu asyik video call dengan Alin dia sampai tidur jam 5 pagi, bukan asyik mengobrol tapi asyik memandangi wajah tenang Alin ketika tidur dengan posisi camera on di hadapkan ke wajah gadis itu yang sudah tidur sejak pukul 10 malam sedangkan Dafi tidak tidur sama sekali malah terus memandangi pahatan tuhan itu sampai tidak sadar waktu. "Ini beberapa berkas yang harus anda tanda tangani tuan" ujar sekretaris Dafi sambil memberikan beberap map "ada berapa jadwal meeting" tanya nya sambil mata tetap fokus membaca berkas yang akan ia tanda tangani itu "ada tiga tuan, yang pertama pagi ini pukul 8, yang kedua nanti jam makan siang dan yang terakhir jam 3 sore satu jam sebelum kepulangan anda" jawab sang sekretaris se sopan mungkin Dafi selesai tanda tangan, dia diam sejenak seakan memikirkan sesuatu "apa dua jadwal setelah rapat pertama itu sangat penting ?" tanya nya dingin "iya tuan, mereka dari perusahaan inti yang sangat tuan incar itu" Dafi menghela nafas panjang aku ada janji dengam gadis ku. "baiklah kau boleh pergi" Dafi merogoh ponsel di saku celana kerja nya, menelfon nomer yang bertuliskan nama Princess?? di panggilan kedua suara lembut favoritnya menyahut "hallo kak !" hanya mendengar suaranya saja sudah membuat hati Dafi berdesir aneh, rasanya terakhir kali ia seperti ini ketika dua tahun lalu saat masih bersama gadis itu masa SMA "Queen, aku ada tiga rapat hari ini kayak nya makan siang kita akan tertunda sampai sore" ujar Dafi penuh sesal, jika saja rapat ini tidak di persiapkan sejak bulan lalu dia akan dengan mudah membatalkan nya "nggak masalah, kakak kerja aja kalau udah selesai kabarin aku" jawab Alin tanpa beban sama sekali "serius nggak papa ? sorry, aku bener-bener nggak bisa batalin rapat ini" Dafi benar-benar merasa tidak berdaya hanya karena mengundur acara makan siang yang sudah dia dan Alin rencanakan Alin tergelak sejenak di sebrang sana "aku nggak papa kak, nada nya nggak usah kayak mau nangis gitu" ejek Alin kembali tertawa "entahlah, aku ngerasa nggak semangat aja karena acara kita batal" desah Dafi lesu "kita masih punya banyak waktu jadi kakak serius kerja aja ya,, nggak usah khawatirin makan siang" Dafi pun pasrah lagi pula dia tidak ada pilihan lain, sepertinya tuhan belum mengizinkan nya makan berdua bersama Alin setelah terakhir kali makan di kantin sekolah. ***** "permisi, saya mau ke ruangan kak Dafi dimana ya ?" dua resepsionis itu saling tatap, kak Dafi ?? apa gadis di depan nya ini bercanda menyebut tuan muda mereka dengan panggilan kak. "Mbak ??" "ada yang bisa kami bantu" ujar salah satu nya ramah Alin tersenyum "saya mau keruangan kak Dafi, bisa kasih tau dimana tempat nya" tanya Alin lagi, dia sudah tidak sabar memberi kejutan kepada Dafi dengan datang ke kantor lalu membawakan makan siang berupa ayam balado kesukaan Dafi "tuan muda Dafi masih rapat, maaf ya mbak. Seharus nya mbak lebih sopan sama tuan muda Dafi" sahut yang lain, dengan dandanan lebih menor dari pada yang berbicara pertama kali dengan Alin tadi kening Alin mengerut dalam "saya kurang sopan gimana ya ?" tanya Alin heran, padahal dia sudah berusaha sangat ramah dan sopan sejak tadi "disini tuh posisi tuan muda Dafi adalah CEO plus yang punya perusahaan, jadi nggak sepantas nya kamu manggil dia dengan sebutan kak, itu sama aja nganggep dia kayak karyawan disini" jawab nya judes Alin menatap resepsionis menor itu dengan tatapan tidak suka, tidak sepantasnya posisi dia sebagai resepsionis bersikap sinis kepada tamu. "maafin teman saya ya mba" sela teman si menor tadi "tuan muda sedang rapat, mungkin setengah jam lagi akan selesai. Mohon maaf sekali jika anda tidak memiliki janji anda tidak kami izinkan masuk, jadi selama menunggu tuan muda rapat anda bisa menunggu nya disana" ujar nya sopan sambil menunjuk sofa di sudut lobi Alin menyingkirkan kejengkelannya, setidak nya tidak semua resepsionis ini judes jadi Alin masih bisa menahan emosi dan menurut, dia paham akan peraturan yang ada dia kantor ini bahkan di kantor Adam saja juga begitu Alin berbalik, saat kaki nya akan ia langkah kan menuju sofa suara berat lebih dulu menghentikan nya "ada apa ini ?" tanya suara yang Alin kenali itu, dia kembali membalikkan badan dan melihat lelaki yang ia ketahui bernama Alex berdiri di samping meja resepsionis "nona Alin ?" ujar Alex kaget melihat Alin disana Alin cengengesan di panggil nona, mungkin jika di mansion nya dulu dia biasa saja dengan sebutan itu tapi sekarang berbeda, dia berada di area kantor Dafi dan tidak sepantasnya Alex memanggilnya demikian, menurut Alin. "hai Lex" sapa nya canggung, apalagi ketika dua repsepsionis itu terlihat kaget juga saat Alex mengenalinya Alex berjalan menghampirinya "nona mau ketemu tuan muda ?" Alin mengangguk kecil "ayo saya antar" "eng-nggak usah Lex, aku nunggu disini aja" tolak Alin hendak menuju sofa tadi tapi Alex kembali mencegah nya "jangan nona, nanti tuan akan marah jika saya membiarkan akan duduk disana" "Lex, kak Dafi lagi kerja jadi aku tunggu sini aja" Alin semakin tidak nyaman ketika beberapa pegawai sengaja berhenti untuk melihat perdebatan kecilnya dengan Alex "saya tidak akan membiarkan nona duduk di sana" ujar Alex tak terbantahkan Alin akhirnya pasrah dia tidak ingin semakin menjadi bahan tontonan di lobi kantor Dafi, sebelum mengantar Alin Alex menyempatkan diri menghampiri dua resepsionis tadi lalu berkata sedikit berbisik kepada resepsionis yang menor dengan tatapan tajam dan suara rendah menakutkan "siapkan barang-barang mu dari sekarang, karena saya tidak bisa jamin jika tuan Dafi akan diam setelah tau apa yang sudah kamu perbuat kepada gadisnya"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN