Sesuai jadwal yang sudah sekretaris Dafi katakan jika di jam makan siang dia mempunyai meeting penting, berhubung kolega nya tidak ingin keluar jadi Dafi menjamu mereka di lantai atas gedung nya tepat di dalam ruangan nyaman terbesar disana. Biasanya tempat ini memang Dafi siapkan untuk para kolega dari luar negri seperti saat ini

hanya sekitar tiga orang dari perusahaan korea yang datang ke kantor Dafi demi mendapatkan kerja sama dengan pembisnis muda yang sukses dan terkenal itu. Selama lima belas menit mereka membahas pekerjaan mereka langasung di buat terkagum kagum akan peran Dafi , disini Dafi terlihat sangat berwibawa memiliki jiwa pemimpin yang tegas dan berpendirian meski usia Dafi tergolong di bawah dari usia ketiga tamu nya itu
"saya benar-benar tidak menyangkan akan bekerja sama dengan anda" sanjung ketua dari ketiga kolega itu, katanya dia adalah CEO disana
"anda berlebihan sekali, kwalitas perusahaan anda hampir sama dengan DC corp" ujar Dafi rendah hati, tetap tanpa ekspresi apapun. Datar dan dingin.
"DC corp yang mana ?? anda bahkan mempunyai hampir ratusan perusahaan melebihi ku" decak nya tertawa ringan, Dafi mengulas senyum tipis nya dia sudah terbiasa sekarang selalu di junjung tinggi seperti ini namun tak sedikitpun Dafi suka dengan pujian itu
"ngomong-ngomong yang kami tau perusahaan anda bernama DC corp, apa itu kepanjangan nama anda ?" tanya sekretaris CEO tadi
"bukan, itu nama gabungan saja"
"kenapa anda tidak membeberkan kepanjangan dari DC corp ? nama perusahaan anda terkenal hanya DC saja tidak ada yang tau kepanjangan nya" sang sekretaris semakin penasaran
"belum waktu nya" jawab Dafi dingin "sudah jam makan siang, sebentar lagi jamuan akan datang" imbuh Dafi mengalihkan pembicaraan
ketiga kolega itu mengangguk patuh tanpa berniat bertanya apapun lagi.
Sesuai yang di janjikan jamuan makan siang terbaik sudah tersedia di meja mereka, makanan-makanan itu di pesan langsung dari restaurant terkenal se London, bahkan harga satu porsi saja hampir mencapai sepuluh dan tiga puluh juta.
Diluar pintu ruang meeting mewah itu Alin dan Alex berdebat sejak lima menit lalu, witress yang baru saja keluar dari ruangan meeting menatap aneh ke arah mereka berdua.
"Alex, pleace.... jangan paksa aku masuk karena aku nggak bakalan masuk. Di dalam sana kak Dafi lagi rapat, kalau nanti dia marah gimana !" ujar Alin kelewat geram karena Alex memaksa nya sejak tadi
"nona anda kesini untuk mengantar makan siang kan ?" Alin mengangguk polos "ini waktu yang pas, tuan muda sedang makan siang di dalam dan bukan lagi meeting jadi dia nggak akan marah"
raut wajah cemas Alin sangat menggemaskan di mata Alex, bibir mengerucut setengah centi, tatapan khawatir dan nafas memburu takut.
Apa yang kau lakukan Lex ! jika tuan muda mu tau kau sedang mengagumi gadisnya, mati lah kau !
Alex menggeleng cepat guna menghilangkan fikiran aneh nya, dia sekarang tau kenapa tuan muda Dafi nya sangat menggilai Alin. Gadis itu sangat lugu dan menggemaskan, mempunyai suara lembut menenangkan dan juga senyuman manis yang selalu membuat suasana menjadi damai. Berbeda dengan wanita-wanita menor yang mendekati Dafi.
"silahkan nona" Alin menatap horor ke arah Alex yang sudah membuka lebar pintu ruang meeting Dafi
Alin menggeleng pelan, dia bukan siapa-siapa di kantor ini bahkan hanya Alex yang tau tentang hubungan nya. Apa jadi nya jika nanti dia masuk dan menggangu pekerjaan Dafi, tiba-tiba Alin menyesal datang ke kantor ini.
"a-aku pulang aja ya !" Alin berbalik melangkah pergi
namun sebelum itu terjadi Alex lebih dulu mencegah nya, ia menarik kerah belakang baju Alin menjinjing nya seperti anak kucing sehingga Alin memekik kaget akan tindakan itu.
Kemudian Alex menyeret Alin pelan ke ambang pintu masih seperti membawa anak kucing, melepasnya disana dan sedikit mendorong punggung Alin lalu menutup pintu nya sehingga kini gadis itu sudah berada di dalam ruang meeting. Di lihat oleh empat pasang mata yang sedang makan siang, Alin meneguk saliva yang terasa sangat pahit itu
Alex sialan !!!
Alin berdiri kaku tidak bisa bergerak sama sekali, dia malu bahkan sangat malu. Jika saja dia tahu Dafi sedang meeting dia tidak akan pernah datang kesini, dia hanya tau Dafi sibuk dan memiliki tiga rapat penting dan sayangnya dia tidak tahu kapan jam meeting itu. Sial rasanya Alin ingin mencopot kepalanya lalu menggelindingkan nya saja, dia benar-benar mati kutu sekarang.
Ini semua gara-gara Alex yang menyeret nya masuk, ingatkan Alin untuk membalas perlakuan Alex ini.
"ee,,eee ma-maaf a-a-aku,," Alin menggigit bibir bawahnya, dia semakin panik karena menjadi gagap dadakan di depan orang-orang penting yang terlihat seperti wajah-wajah oppa korea itu, Alin tebak pasti mereka tamu penting Dafi dan apa yang sudah Alin lakukan ini sungguh memalukan dengan tiba-tiba masuk di situasi yang seharusnya privat.
Dafi berdiri menghampiri nya, bukan nya bahagia Alin malah gemetaran sendiri di posisinya. Bagaimana jika tindakan tidak sopan nya ini akan merusak reputasi perusahaan Dafi, Alin takut.
"ka-kak maaf" ujar Alin panik, wajah nya semakin pucat pasih
Dafi mengulas senyum tipis melihat gadis nya ketakutan, perlahan dia mengangkat tangan nya guna menyeka keringat di pelipis Alin "sama siapa kesini, hmm ?" tanya Dafi sangat lembut, tapi itu sama sekali tidak melunturkan ke takutan Alin
"i-i itu.."
"kekasih anda tuan ?" celetuk kolega Dafi jahil
"iya, calon istri saya" jawab Dafi tegas menatap lekat kedua mata Alin
"hah ?"
kedua mata Alin membulat sempurna, bibirnya menganga lebar, dia benar-benar seperti terkena serangan jantung mendengar penuturan Dafi
ca-calon istri ??
Astaga, Alin benar-benar akan mati mendadak saat ini. Bagaimana tidak, jantung nya berdetak jauh lebih kencang dari biasanya bahkan sampai ber efek sesak.
Dafi tertawa geli melihat ekspresi kaget Alin, kini giliran ketiga kolega tadi yang syok mendengar Dafi tertawa karena sejak awal meeting hingga detik ini Dafi hanya tersenyum tipis sekali saja bahkan itu hanya beberapa detik kepada mereka bertiga dan kini CEO itu malah tertawa hanya karena seorang gadis asing yang tiba-tiba masuk ke ruangan meeting.
Mereka benar-benar tidak percaya itu.
"kemarilah,," Dafi meraih pergelangan tangan Alin, membawa gadis itu ke tempat dia duduk tadi.
Alin yang masih terkena serangan mendadak hanya diam patuh ketika Dafi menyuruhnya duduk tepat di bekas lelaki itu duduk berhadapan langsung dengan ketiga tamu Dafi, sedangkan Dafi memilih berdiri di sisi sofa single yang Alin duduki sambil merengkuh pundak Alin. Senyum Dafi semakin merekah melihat Alin menggenggam erat kantong kresek berisi rantang makanan
"itu buat aku ?"
kesadaran Alin kembali seperempat itu saja karena terhentak kaget dengan pertanyaan Dafi
"e,, i-iyaa kak, tapi kayak nya kakak udah makan" ujar Alin dengan opininya sendiri.
Melihat banyak nya makanan di meja depan Alin membuatnya berfikir jika Dafi sudah makan, bahkan makanan yang ia bawa tidak ada apa-apa nya dengan semua makanan mahal restaurant itu.
"aku belum makan sama sekali" ujar Dafi sumringah "kita makan disana ya" Dafi kembali membawa Alin ke sofa yang lebih panjang untuk mereka duduki berdua, melupakan ketiga kolega yang sejak tadi melihat adegan manis nya dengam cengo.
"kak, tamu kakak gimana !" pekik Alin merasa tidak enak menganggu acara makan mereka
"astaga aku lupa" gumam Dafi terkekeh kecil akan tingkah nya yang lupa keadaan jika sudah bersama Alin, dia lalu kembali menghampiri ketiga tamu nya
"nikmatilah makan siang kalian, meeting ini kita lanjutkan satu jam lagi" kata Dafi kepada para rekan bisnis dari korea itu
"baiklah tuan Dafi, kami lebih baik makan diluar saja seperti nya anda butuh waktu berdua" ujar CEO dari perusahaan itu dengan tawa jahil nya
"terimakasih" ujar Dafi, memang seharusnya begitu sambung Dafi dalam hati.
Sepeninggal para rekan bisnis nya Dafi kembali menghampiri Alin, gadis itu duduk manis di sofa sambil memangku makanan yang ia bawa tadi, Dafi melepas jas kerja yang panas itu lalu melemparnya asal sebelum akhirnya dia duduk manis bersila di hadapan Alin
"kok mereka pergi ?" tanya Alin bingung, fikiran nya semakin berkecamuk dia takut merusak acara Dafi
"memang seharusnya mereka pergi, bukan nya kita mau makan siang berdua ?"
"mereka marah ya ?" tanya Alin sedih
kening Dafi mengerut "kenapa harus marah ?" tanya Dafi lembut, dia terus memperhatikan setiap ekspresi dari Alin tanpa bosan.
Alin menghela nafas ringan "karena aku ngerusak privat meeting kakak, pasti mereka mikir nya kakak nggak profesional terus mereka ngira perusahaan kakak jelek karena tiba-tiba ada orang nyelonong masuk" cerocos Alin dengan segala fikiran nya sendiri
"ini tuh karena Alex, dia maksa aku buat masuk, aku udah nolak eh dia malah nyeret aku kayak anak kucing terus dorong aku masuk kesini,, duuuhhh.. pasti kakak malu banget kan" gerutuan Alin semakin menggebu-gebu tapi tidak ada reaksi apapun dari Dafi, dia pun perlahan melihat ke arah Dafi yang juga sejak tadi terus menatap nya
"ka-kakak ngapain ngelihatin aku kayak gitu ?" tanya Alin gugup
"kamu lucu"
"hmm ?"
"kamu lucu kalau lagi ngomel" ulang Dafi menahan gemas ingin mencubit pipi Alin yang memerah
"iihh,, aku serius kak ! kenapa kakak malah tenang-tenang aja sedangkan aku udah ngerusak acara kakak !" teriak Alin jengkel
Dafi meraih kedua tangan Alin lalu menggengam nya erat, menatap dalam kedua mata gadis itu
"pertama, kamu nggak ngerusak acara siapapun. Kedua, aku sama sekali nggak keganggu sama kedatangan kamu. Ketiga, aku bahagia banget lihat kamu disini. Ke empat aku lapar" kata Dafi memelas seperti anak anjing kelaparan
semua kecemasan Alin menguap begitu saja mendengar penjelasan Dafi, kini dia bisa mengulas senyum dan bernafas lega karena tidak menganggu atau merusak meeting Dafi.
Alin pun segera menyiapkan makan siang untuk Dafi, makanan kesukaan lelaki itu. Dafi sudah tidak sabar merasakan makanan yang Alin bawakan, dia sampai menelan air liur nya sendiri karena Alin sedikit lebih lama menyiapkan nya.
Mereka pun makan masakan sederhana Alin berdua, melupakan beberapa piring ber isi makanan termahal dari restaurant London terbengkalai di atas meja.
Selama makan Dafi terus saja memperhatikan wajah Alin dia seperti memuaskan mata nya yang sudah dua tahun absen menatap dekat wajah Alin. Mereka bercanda berdua saling menyalurkan rasa rindu yang terpendam selama bertahun-tahun.
Setelah acara makan selesai Dafi merenggangkan dasi di lehernya, menepuk nepuk perut yang sedikit menggembung karena terlalu kenyang, ini adalah makan siang ter enak yang pernah ia rasakan.
Alin tertawa melihat perilaku lucu Dafi itu "kakak mau meeting lagi ?" tanya Alin sambil membereskan sampah wadah makanan mereka
Dafi menggeleng lemas, dia makan banyak hari ini membuat mata nya perlahan meredup
"aku ngantuk" ujar nya lemas lalu menguap lebar
setelah itu tanpa permisi Dafi merobohkan badan nya ia menaruh kepala di atas paha Alin menggesek kan beberapa kali kepala nya disana seakan menyamankan posisi lalu menutup mata dan tidur. Tingkah nya manja sekali, berbeda dengan Dafi beberapa waktu lalu saat bersama ketiga rekan bisnisnya.
Alin tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya, melihat wajah tenang Dafi saat tidur yang seperti anak kecil tanpa dosa begini membuat nya tersenyum tanpa henti, ada kehangatan tersendiri menjalar di dadanya saat ini karena kembali bersama dengan lelaki yang sangat ia cintai. Perlahan tangan kecil Alin mengusap pelan rambut hitam Dafi memberi hipnotis kepada sang empu untuk lebih dalam lagi menyusuri mimpi.
*****
Dafi terbangun setelah hampir dua jam ia tidur sangat lelap di pangkuan Alin, ia mendongak melihat wajah Alin yang juga sedang tertidur bersandar ke kepala sofa. Perlahan ia bangun tanpa membuat suara sedikitpun, rasa sesal langsung menggerogotinya melihat Alin tidur dalam posisi duduk di sebabkan dirinya sendiri yang tiba-tiba tidur di pangkuan gadis itu.
Dengan gerakan lembut dan sangat pelan Dafi mulai mengangkat tubuh Alin, menempatkan lengan di bawah leher dan bawah lutut Alin lalu menggendong bridal style gadis tidur itu. Dafi membawa Alin ke kamar pribadi tempat ia kadang istirahat disaat lelah terlalu lama bekerja, menaruh pelan gadis nya di atas ranjang king size berbau khas dirinya.Gerakan Dafi sangat pelan seakan jika dia kasar sedikit akan menghancurkan Alin saat itu juga.
Cup
"i love you"
Satu kecupan lembut mendarat di kening Alin, sekali lagi Dafi menghambiskan waktu satu menit untuk menatap wajah Alin. Dia merasa menjadi lelaki paling beruntung dan paling bahagia saat ini, semua yang ia perjuangkan tidak sia-sia.
Dafi memutuskan keluar setelah menyelimuti Alin dan memastikan AC ruangan itu tidak terlalu dingin
"tuan muda" sapa Alex menunduk hormat
"ngapain kamu disini ?" tanya Dafi dingin, Alex mengatakan sesuatu yang langsung membuat ekspresi Dafi seperti menahan amarah, rona wajah Dafi langsung merah padam serta tatapan nya menggelap saat itu juga. Alex sampai bergidik ngeri melihat nya.
Dengan langkah besar seperti terburu-buru Dafi memasuki lift pribadi lalu menekan tombol lantai paling bawah, lobi.
Suara langkah tegas menggema di seluruh lobi DC corp, siapapun yang ada disana pasti tau siapa pemilik dari langkah itu. Alex memberi perintah untuk semua pegawai di lobi berbaris rapi
"siapa disini yang bernama Gina" tanya Dafi dengan suara bariton mengintimidasi
sekitar lima pegawai lobi menunduk takut jika aura Dafi sudah gelap seperti ini
"SIAPA !!" bentak Dafi mengejutkan mereka berlima, setelah itu ada satu pegawai perlahan mengangkat tangan nya memberitahu jika nama yang di cari Dafi adalah dirinya
"sa-saya tuan"
Dafi menatap tajam pegawai dengan dandanan menor itu, dia berjalan mendekati nya lalu pas di depan Gina Dafi langsung mencengkram kuat dagu wanita itu memaksa nya mendongak untuk menatap Dafi
"aawwhh,," ringisnya kesakitan
"apa yang sudah kau perbuat pada gadis ku ? JAWAB !!"
suasana mendadak dingin, aura disana seakan mendukung emosi Dafi saat ini. Tidak ada yang berani melawan atau mengatakan sepatah kata pun
"ma-maafkan saya tuan" lirih Gina mulai menangis kesakitan, Dafi sedikit lebih kencang lagi mencengkram dagu nya membuat Gina memekik sekali
nafas Dafi naik turun tak karuan dia sangat ingin menonjok habis wajah wanita yang sudah berbicara tidak pantas kepada Alin, jika saja dia lelaki Dafi akan senang bermain-main dahulu.
"pergi kau dari kantor ku !" desis Dafi menghentak kasar wajah Gina
"hiks,, maafkan saya tuan, saya benar-benar menyesal, hiks saya ju-juga akan meminta maaf kepada nona Alin" Gina bersudut dengan kedua tangan memohon ke Dafi, kehilangan pekerjaan dari kantor Dafi adalah malapetaka selain karena gaji disini sangat besar tapi jika keluar karena masalaha sudah di pastikan akan sulit mendapat pekerjaan lagi karena hampir seluruh London ada di kuasa Dafi.
"kau fikir aku akan mengizinkan mu menemui gadis ku ? setelah apa yang sudah kau perbuat !!" bentak Dafi semakin murka
"hiks,, ma-maaf tuan"
"kau saja yang urus Lex ! pastikan dia enyah dari negara ini !" perintah Dafi tegas sambil melenggang pergi kembali ke ruangan Alin, sebenarnya dia masih tidak rela belum menghajar wanita bernama Gina itu.