University of Cambridge
08:00
Kondisi Alin sudah membaik tapi tidak untuk hati nya, dia masih sering murung jika mengingat kejadian minggu lalu, kejadian yang benar-benar menguras air mata serta perasaan nya, kini dia bertekad akan menjadi Alin yang baru, Alin yang tidak akan menunggu seperti gadis bodoh lagi dan menjadi Alin yang akan berusaha membuka lembaran baru, atau cinta baru, mungkin. Fakta paling menyakitkan bagi nya adalah saat mengetahui jika Dafi disini di negara yang sama namun sampai detik ini lelaki itu tidak datang untuk sekedar menanyakan kabar atau,, sudah lah Alin lupakan dia ! apa kamu ingin terus tersakiti mengingat dia tidak pernah memperdulikan mu meski berada dalam satu negara begini, lupakan dan melangkah lah ke depan.
"hai cantik" Alin menghentikan langkahnya, dia mendongak melihat siapa seseorang yang menjulang tinggi di depan nya itu, Raxel.
Seketika itu Alin melengos ke lain arah
"makin hari makin cantik aja deh" puji Raxel
"makasih" jawab Alin jutek, dia memilih pergi namun Raxel menghalangi langkah nya "minggir Raxel, aku mau ke kelas" geram Alin mulai emosi, Raxel malah terkekeh kecil dan tidak beranjak sama sekali
"mau ngapain sih, kan masih ada dua puluh menit sebelum kelas dimulai"
"iya, dan dua puluh menit itu akan lebih berharga kalau aku gunain untuk baca buku" jawab Alin sengit
Raxel tertawa renyah, mungkin bagi mahasiswi lain tawa Raxel mempesona membuat pemilik nya semakin tampan, tapi menurut Alin tawa lelaki itu menyebalkan
setelah meredakan tawanya tatapan Raxel berubah dingin menusuk kornea mata Alin
"jangan sok jual mahal deh, gue tau kok kalau cowok waktu itu bukan cowok lo" cibir Raxel terkekeh pelan.
Alin menatap Raxel kaget, dari mana lelaki itu tau. Raxel tersenyum sinis melihat raut wajah Alin "kenapa cantik ? lo kaget ya karena gue tau semua nya ?" sambung Raxel pongah
"eng-enggak kok" bantah Alin berusaha menutupi kegugupan nya
Raxel tiba-tiba memegang erat pergelangan tangan Alin membuat gadis kecil itu memekik kesakitan "dengerin ya, waktu lo nolak gue itu sama aja lo nginjek-nginjek harga diri gue, jadi jangan harap lo bisa hidup tenang" desis Raxel bernada dingin tepat di telinga Alin, Alin meremang merasa bulu kuduk nya berdiri akibat bisikan setan itu, Raxel lalu menghentak kasar tangan Alin
"ssshh,," Alin meringis sambil mengusap pergelangan yang agak memerah, dia menatap Raxel takut saat Raxel tersenyum remeh kearahnya lalu pergi begitu saja.
"Lin !"
"hah !" Alin tersentak kaget mendapat tepukan ringan di pundak nya, dia berbalik ternyata Dania dan Luna sudah berdiri menatap nya bingung
"lo kenapa ?" tanya Dania cemas, dia melihat wajah Alin sedikit pucat "kalau masih sakit nggak usah masuk dulu" imbuh Dania memegang pundak Alin
"gue anterin pulang aja ya ?" tawar Luna ikutan cemas, Alin menggeleng cepat
"aku nggak papa kok, beneran" ujar Alin berharap mereka percaya
"Lin, kita nggak mau lo kenapa-napa, kita pulang aja ya, wajah lo pucet"
"aku nggak papa Luna, udah deh mending sekarang kita ke kelas, ayo !" Alin berjalan mendahului mereka, dia menghela nafas panjang berharap fikiran negatif serta ketakutan akibat ancaman Raxel menghilang.
16:45
Selesai kelas Alin berjalan ke parkiran untuk menemui Saga, tadi dia mendapat pesan jika Saga sudah berada di perkiran menjemputnya, lelaki itu duduk di kap mobil sambil melihat Alin yang berjalan kearah nya bersama Luna dan satu teman nya lagi yang Saga tidak ketahui namanya
"udah selesai ?" tanya Saga sesaat setelah Alin sudah berada di depan nya
"udah kak" jawab Alin, Saga tersenyum dia memberi anggukkan kecil seakan menyapa kepada Dania dan Luna
"waahh lo makin ganteng aja Sag !" puji Luna heboh, jangan abaikan ketampanan Saga dia memang semakin menawan saat dirinya sudah berkuliah, pesona lelaki itu semakin terpancar seiring bertambahnya usia membuat Saga terlihat semakin dewasa, bahkan sejak tadi dia menjadi tatapan memuja para mahasiswi disana namun Saga tetaplah Saga sifat nya masih sama dengan dia sewaktu SMA, yaitu tidak suka dengan tatapan atau pujian-pujian itu
"lo baru nyadar ?" tanya Saga terkekeh sombong, dia menyilangkan kedua tangan ke d**a
"tuh tuh, liat deh mahasiswa sini pada ngelirik lo Sag" Luna semakin heboh "gue jadi nyesel putus sama lo dulu"
"apa an sih Lun" protes Saga menanggapi bercandaan Luna, "eh temen nya Luna sama Alin kan ?" Saga menunjuk Dania dengan dagu nya, sejak tadi Dania diam mematung dia sama dengan mahasiswi lain, terpesona dengan Saga.
"i-iya" jawab nya gugup, Alin menyenggol lengan Dania pelan lalu memberi nya tatapan jahil
"kenalin gue Saga, temen nya mereka juga" Saga mengulurkan tangan, Dania menatap tidak percaya kearah tangan Saga dia tidak pernah berfikir lelaki se tampan Saga bisa ramah tamah begini, meski tangan Dania sudah berkeringat dingin dia segera membalas uluran tangan Saga, tangan mereka bersalaman beberapa detik dan yang Dania rasakan saat bersalaman dengan Saga tadi adalah tangan nya besar dan telapak nya halus.
"udah jangan lama-lama" Luna melerai jabatan mereka, Dania mendegus kesal karena tingkah Luna dia masih ingin berlama-lama menggenggam telapak tangan itu.
Saga mengecek sejenak jam di pergelangan tangan nya "ayo Lin, udah hampir malem" ajak Saga
Alin mengangguk, dia berpamitan ke Luna dan Dania lalu masuk ke mobil.
Di dalam mobil Alin diam memandang kosong kearah samping, jika di kampus dia bisa sejenak melupakan kejadian itu karena ada Luna dan Dania tapi jika sudah pulang ke apartemen fikiran nya kembali kosong dia merasa kesepian dan sedih lagi.
Saga melirik Alin sekilas, sudah hampir seminggu gadis itu semakin murung saja "ada yang lo fikirin ?" tanya Saga, padahal dia tau apa yang ada di otak gadis itu
Alin menoleh ke Saga lalu menggeleng "nggak ada kak, cuman capek aja" Alin menatap kedepan, menyandarkan diri nya ke sandaran kursi lalu mulai memejamkan mata, Saga tidak membalas dia membiarkan gadis itu memejamkan matanya sampai mereka tiba di apartemen.
*****
Alex memasang headset di kedua telinga lalu membesarkan volume nya, dia tidak peduli lagu apa yang terputar disana itu lebih baik dari pada mendengar amarah tuan muda yang selama ini ia segani. Ini sedikit membantu agar dia tidak mendengar apapun, telinga Alex benar-benar panas mendengar Dafi marah kepada setiap pegawai yang memberikan laporan pekerjaan mereka, dia kadang heran sendiri dengan tuan muda nya itu jika sudah marah bisa melebihi wanita yang sedang datang bulan, apa-apa salah, ini itu salah, bernafas saja salah jika Dafi sudah marah.
Jangan kira Dafi adalah CEO tegas, baik hati, ramah, tampan dan kalem seperti yang berita-berita kabarka, salah ! Dafi adalah singa saat di kantor, benar-benar buas. Tatapan panas nan tajam nya itu mampu membuat para pegawai ingin resign dari kantor, suara bariton nya saat marah bisa memecahkan gendang telinga, belum lagi talenta baru Dafi yaitu melempar berkas-berkas yang menurut nya jelek. Alex sudah hafal dengan semua sifat Dafi. Apalagi sifat Dafi saat rindu dengan gadis nya,, hmmm Alex merasa lucu jika sudah seperti itu, Dafi akan memantau dua laptop sekaligus, duduk di depan laptop berjam-jam hanya untuk melihat aktifitas gadis nya lewat cctv tersembunyi yang Dafi selundupkan.
Itulah akar permasalahan nya saat ini, sudah satu minggu Dafi tidak bisa memantau lagi kegiatan gadis yang selalu Dafi gumam kan saat tidur itu, yang Alex tau Dafi marah karena video cctv yang di tampilkan dalam laptop nya selama ini malah memperlihatkan rumput tanaman di hamparan taman luas itu saja posisi video nya terbalik, Alex yakin jika cctv kecil itu ada yang membuang nya.
Kini dia dan para pegawai di kantor yang harus mendapat imbas dari rindu tak tersampaikan yang sedang Dafi rasakan, samar-samar Alex masih mendengar suara menggelegar Dafi dari dalam ruangan nya sana.
"ALEX !!!" teriak Dafi sekali lagi, Alex mengernyit dalam posisi menutup mata, apakah kurang besar volume yang ia pasang sehingga suara Dafi masih terdengar jelas sekali
"dasar tangan kanan nggak guna !" desis Dafi menggeram, sudah lima menit dia berdiri di depan Alex, Alex terlihat menutup mata menikmati music sampai tidak dengar Dafi meneriaki nya, amarah sudah di ubun-ubun Dafi langsung menarik kabel headset Alex sampai putus, Alex tersentak kaget merasakan gerakan Dafi dia membuka mata dan langsung membelalak syok melihat Dafi ada di hadapan nya dengan tatapan horor mematikan
"tu-tuan, ma-maf sa--"
"enak ya, tuan nya kerja, pengawal nya dengerin musik kayak raja !" sindir Dafi sinis, Alex gelapan dia berdiri menghadap Dafi sambil menunduk hormat, lebih tepat nya menunduk takut.
"maaf tuan Dafi" cicit Alex menciut, kaki nya bergetar pelan, dia sangat ketakutan.
"Ck ! nggak berguna !" Dafi memasuk kan kedua tangan ke dalam saku celana kerja lalu melenggang pergi, Alex mendesah lega tidak mendapat amukan topan dari Dafi tapi sial, belum sepenuh nya Alex bernafas lega Dafi sudah berteriak
"MAU SAMPAI KAPAN KAU BERDIRI DI SITU LEX ! MAU KU PATAHKAN KAKI MU BIAR TIDAK KEMANA MANA SEKALIAN !"
"i-iya tuan" Alex lari terbirit-b***t menyusul langkah lebar Dafi, sungguh memalukan sekali kejadian ini, Alex di marahi tepat di depan semua karyawan Dafi.
Queena Apartemen, London
20:35
DingDong !
Alin melangkah malas ke arah pintu, siapa lagi yang datang di jam segini, dahi Ali mengernyit bingung melihat kurir makanan online di depan nya
"maaf cari siapa ya ?" tanya Alin se sopan mungkin, dia merasa tidak memesan makanan jadi Alin menanyakan hal demikian
kurir itu tidak menjawab dia hanya mengulurkan dua kantung kresek makanan ber laber Mcd,
"maaf mas, saya nggak pesan makanan" tolak Alin mendorong kresek itu sedikit menjauh
"kakak anda yang memesan" jawab nya pelan
"siapa dek !!" teriak Gavin dari dalam, Alin berbalik mengatakan jika ada kurir makanan mengantarkan pesanan "yaudah sih bawa masuk aja, kakak laper !" jawab Gavin dari dalam
Alin memutuskan mengambil dua kantong plastik makanan itu "berapa ?"
"sudah di bayar" jawab nya pelan, Alin sampai harus mengernyit memikirkan apa yang ia bicarakan, kurir itu segera pergi menjauh meninggalkan Alin yang hanya diam memandangi punggung kurir aneh itu.
kenapa aneh ? sejak pertama Alin berhadapan kurir itu terus menerus menunduk, membenarkan letak topi nya seakan menyembunyikan wajah nya dari Alin, Alin mengecek isi kantong kresek itu dia takut jika di dalam sana bukan makanan melainkan hal yang menyeramkan
"huufh,,!" Alin bernafas lega ternyata isinya makanan, dia pun membawa masuk makanan itu.
Diluar gedung apartemen Alin, seseorang baru saja keluar dia berdiri menghadap ke arah gedung itu sedikit mendongak menatap jendela kamar apartemen Alin, dia lalu membuang topi hitam yang sejak tadi ia gunakan untuk menyembunyikan identitasnya di depan Alin, senyuman lega mengembang ketika dia sudah tau kabar dari gadis kecil itu
syukurlah dia baik-baik saja, dan aku semakin merindukan nya.
Rasa nya berat melangkah jauh untuk pergi dari sana, lima menit berbincang dengan gadis itu membuat rasa rindu nya menggebu-gebu, suara lembut Alin teriang di otak nya, suara tetap sama seperti dulu, menenangkan. Tak apa tidak bisa menatap jelas wajah nya, mendengar suara nya saja sudah bisa mengobati rindu meski hanya sedikit.
"ayo tuan, kita tidak bisa berlama-lama disini, Diandra belum bisa di temukan, jadi tuan lebih baik marah-marah saja untuk melampiaskan rasa rindu tuan dari pada menemui langsung gadis itu, saya takut Diandra malah ingin mencelakai gadis tuan itu"
tanduk kemarahan langsung muncul di kepala sang tuan "semakin lama kau semakin menyebalkan Lex !" desisnya tajam.
*****
Five days ago
Breaking New
Pembawa acara : Pemirsa, kabar terbaru datang dari perusahaan MD Crop, perusahaan properti terbesar di London itu mengalami kebangkrutan hanya dalam waktu satu minggu, dari sumber yang kita dapatkan skandal yang mereka tutupi selama puluhan tahun di bongkar habis-habisan oleh pengusaha muda asal Italia bernama Al-khadafi. Ada beberapa skandal besar yang tersembunyi dibalik mendunia nya perusahaan properti itu, salah satu nya pencurian data, korupsi, penggelapan dana, penipuan beberapa perusahaan kecil dan masih ada beberapa lagi.
Skandal ter besar nya adalah perusahaan itu ternyata berdiri di atas saham Sandra yang di rebut secara licik oleh Sonya dan Mario yang tidak lain Mario adalah suami dari almarhum Sandra sendiri. Mungkin nama Al-khadafi masih asing di telinga kita tapi di telinga pengusaha besar nama Al-khadafi sudah sangat di kenal. Dan ada satu kebenaran lagi jika Al-khadafi adalah putra kandung dari almarhum Sandra teman akrab Sonya ibu dari Diandra, jadi sudah jelas apa alasan CEO muda dan tampan itu menghancurkan MD Corp. Namun sayang nya Diandra dan Sonya berhasil melarikan diri saat semua fakta itu terkuak di awak media dan saat ini kepolisian London masih berupaya menemukan mereka.