Tiba-tiba cafe elit di London mendadak ramai pengunjung setelah salah satu pengunjung memposting diam-diam ada CEO muda yang sedang mengadakan meeting disana, postingan di akun i********: gadis berusia sekitar 22tahun itu mengundang banyak follower nya untuk datang ke lokasi langsung guna melihat CEO muda yang kini jadi perbincangan hangat di awak media setelah merebut serta membongkar kebusukan MD corp, Al-khadafi.
Berhubung gadis itu sedikit populer di kota nya dia memiliki lumayan banyak follower wanita, sehingga melihat story yang ia unggah membuat gadis-gadis lain yang penasaran langsung meluncur ke lokasi, sang pemilik cafe sempat bingung melihat pelanggan datang rata-rata perempuan apalagi mereka serentak duduk menghadap ke arah empat orang yang sibuk meeting di pojok an.
"Sepertinya kehadiran anda menguntungkan cafe ini tuan Dafi" puji klien nya tersenyum jahil, Dafi mendengus kecil dia risih dengan wanita-wanita itu apalagi mereka secara terang-terangan memandangi Dafi ada juga yang memotretnya diam diam.
"lanjutkan saja presentasi anda" jawab Dafi tegas, kesabaran Dafi masih di atas 50% jadi dia membiarkan mereka melakukan apa yang mereka suka tapi jika kesabaran itu sudah turun jangan salahkan Dafi kalau sifat dingin tak tersentuh masa SMA nya kembali lagi.
Tiga orang gadis berjalan sejajar sambil tertawa, jam kuliah selesai lebih cepat jadi mereka memutuskan untuk hangout sebentar di cafe terdekat.
"wih cafe nya rame banget" ujar Dania saat mereka sudah berada di halaman cafe
"iya, apa cuman penglihatan gue atau memang pelanggan nya cewek semua" timpal Luna menatap bingung ke arah cafe itu
"mungkin lagi ada acara" sahut Alin, kini mereka bertiga berdiri memperhatikan heboh nya suasana cafe di luar maupun di dalam yang terlihat dari kaca bening.
"Terus gimana dong ?? gue nggak suka coffee latte lain selain disini" eluh Dania cemberut sedih
"yaudah biar aku pesenin ke dalem kalian tunggu sini aja" putus Alin hendak melangkah masuk, namun Luna mencegah nya
"Lin, disana tuh rame banget, di pintu masuk aja sesek, kalau lo masuk terus kegencet gimana ?" tegur Luna khawatir, dia saja lebih baik memilih caffe lain dari pada harus memaksakan diri di kerumunan itu. Entah apa yang mereka heboh kan sehingga rela desak-desak kan seakan di dalam sana ada artis papan atas.
"Udah nggak papa, lagian kalau bukan aku siapa ? kamu sama Dania badan nya gede, tinggi, berisi, malah susah masuk ke dalem, kalau aku kan kecil" jawab Alin dengan senyum polosnya
Dania menggeleng tak habis fikir, kenapa ada gadis se menggemaskan ini, fikirnya. "ya karena lo kecil Lin nanti mereka tambah nggak ngelihat lo, dan itu bahaya" timpal Dania
Alin menghela nafas lesu "aku kan juga nggak suka caffe latte lain selain disini" cicit Alin, raut wajah nya berubah suram
"ya ampun kenapa nggak bilang sih, ya udah ayo biar kita yang jagain lo" putus Luna
Alin terkikik geli melihat Dania dan Luna memasang badan berada di setiap sisi kanan kiri Alin seperti bodyguard yang siap siaga menjaga majikan nya, dia jadi teringat dengan kejadian masa SMA dimana dia selalu di ikuti oleh dua bodyguard bodoh bernama Rayhan dan Jonathan, entah kenapa Alin tiba-tiba merasa rindu pada mereka.
Luna dan Dania bernafas lega bisa masuk sambil melindungi Alin sampai kedalam cafe, mereka melewati kerumunan wanita dari pintu masuk hingga ke dalam, rasanya sesak berada di tengah-tengah kerumunan itu, untung saja Alin Luna dan Dania bisa lolos dan kini ketiga nya tersenyum sumringah sudah bisa masuk ke dalam cafe itu. Tidak ada bangku yang tersisa mereka memutuskan berdiri di samping tiang sambil menunggu pesanan mereka selesai, karena keadaan tidak memungkinkan untuk bersantai disini jadi mereka memutuskan membungkus cafe latte favorit mereka dan akan meminum nya nanti di mobil.
Selama menunggu Luna sibuk bermain ponsel dia memang gadis yang cuek dengan sekitar jadi dia tidak ambil pusing dengan apa yang sedang terjadi di cafe ini, Dania sendiri sibuk memperhatikan arah pandang semua gadis itu, empat lelaki di pojok ruangan.
"Kayak nya gue tau deh kenapa cafe ini tiba-tiba rame" bisik Dania ke Alin, Alin menatap Dania bingung dia tidak memperhatikan apa-apa, hanya saja ada perasaan nyaman berada di dalam cafe dengan kondisi riuh seperti ini, Alin sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu.
"Lin coba deh lo liat ke pojokan sono" Alin si penurut mengikuti arah tunjuk Dania
Deg
Deg
Deg
mata Alin terbelalak kaget, jantung nya berdetak kencang tidak berirama, pupil nya semakin melebar saat Alin kembali bertatap pandang dengan sepasang mata coklat pekat itu.
"Lin !" tegur Dania panik melihat nafas Alin naik turun seakan selesai berlari jauh "Lin ! lo kenapa !" pekik Dania semakin panik, Luna mengalihkan atensi nya
"ada apa ?" tanya Luna ke Dania, Dania menggeleng tidak tahu namun melihat tatapan Alin yang tak kunjung berpindah akhir nya mereka berdua ikut memandang ke arah yang sama, Dafi.
Dania ikut kaget saat dia tau salah satu dari mereka adalah CEO yang kini di bicarakan di London, sedangkan Luna dia menganga tidak percaya melihat Al-khadafi di sana.
"Dafi" gumam Luna masih syok, dia mengerjapkan mata nya beberapa kali, benar itu memang Dafi, lelaki yang sudah meninggalkan sahabat nya selama dua tahun.
"a-ayo pulang" pinta Alih bernada gemetar, dia sudah tidak memperdulikan caffe latte favoritnya lagi, dia hanya ingin pulang dan pulang.
Rasa sakit yang sudah mati-matian ia sembunyikan kini muncul lagi kepermukaan, lelaki itu sudah menyakiti nya tapi kenapa dia masih rindu kepada lelaki itu, ayo lah Alin kenapa kamu lemah sekali.
"Terimakasih tuan Dafi, kami benar-benar merasa beruntung bisa bekerja sama dengan perusahaan anda"
Dafi memberikan senyuman tipis akan sanjungan itu "saya harap saham yang sudah saya tanamkan hasil nya bisa memenuhi target sebelum satu tahun, sesuai janji anda" jawab Dafi setelah nya
"pasti tuan" sahut sang klien yakin
mereka saling berjabat tangan, meeting sudah selesai dengan hasil memuaskan bagi Dafi dan juga klien baru nya itu. Dafi bersiap untuk pulang, tapi keadaan berkata lain badan nya mendadak beku saat tak sengaja dia melihat sosok gadis kecil tak jauh dari tempat ia duduk, sedang berdiri menatap nya kaget. Gadisnya ada disana berdiri tegang saat mereka saling beradu tatap, dia terlihat semakin cantik dan dewasa rasanya Dafi ingin sekali menubruk tubuh kecil itu lalu memeluk erat, namun keadaan seakan mempermainkan mereka membuat mereka saling menghindar dalam kondisi hati sama-sama tersakiti.
Sekali lagi Dafi merasa seakan di tusuk ribuan pedang mendapat tatapan kecewa dari gadis itu, rindu nya semakin menggebu tak bisa ia tahan lagi, cukup dua tahun dia hampir gila karena berjauhan dan meninggalkan nya, Dafi terpaksa melakukan itu semua karena yang ada di fikiran Dafi adalah semua demi gadis nya, hanya gadis nya.
"ALIN !!" teriak Dafi menghentikan langkah Alin yang sudah di ambang pintu hendak pergi, gadis itu tidak menoleh hanya terdiam disana dengan badan kaku. Akibat teriakan Dafi para gadis lain yang sejak tadi menganggumi Dafi sampai rela desak-desak kan itu kini saling tatap satu sama lain, menanyakan siapa yang CEO tampan itu panggil.
Nafas Alin semakin sesak saja, sudah dua tahun suara itu tidak pernah ia dengar, setiap hari Alin berharap ada telfon dari suara itu menanyakan kabar nya, tapi baru dua tahun kemudian dia mendengar lagi suara itu sudah dengan kondisi hubungan nya yang hancur lebur.
Alin memejamkan mata, tangan nya terkepal kuat dia samar-samar mendengar ketukan cepat sepatu pantofel beradu dengan lantai, suara itu semakin mendekat dan kini berhenti tepat di belakang nya, Alin terus merafalkan doa agar dia mempunyai tenaga untuk lari sekencang kencang nya namun seperti nya tuhan malah memberi kan dia kaki beku membuat nya tidak bisa kemana-mana.
Kenapa saat aku meminta dia menghubungi ku malah tidak ada kabar sama sekali, tapi sekarang saat aku memutuskan melupakan nya dia malah ada di belakang ku.
"Alin,,"
air mata Alin tak kuasa ia tahan, dia sangat merindukan suara itu, suara bariton bernada lembut saat menyebut namanya, suara dingin saat dengan gadis lain tapi melembut saat bersama Alin, namun kini semua hanya kenangan manis belaka sudah tidak ada lagi special nya Alin untuk lelaki itu. Suara lembut yang dulu hanya untuk Alin sekarang pindah ke gadis lain, Alin menyeka kasar air mata nya dia harus kuat, dia tidak boleh lemah hanya karena satu panggilan saja
kini atensi seluruh pelanggan cafe menuju ke Alin dan Dafi, semua gadis yang berada di cafe saling berbisik mempertanyakan siapa gadis bernama Alin itu, ada juga yang memfoto posisi Dafi di belakang Alin lalu memposting dengan caption yang di lebih-lebihkan, akan menjadi perbincangan hangat jika sampai foto iku tersebar ke awak media, CEO ternama yang sedang banyak di perbincangkan ternyata memiliki kekasih, bukan kah itu menarik ?
Dafi memandang nanar punggung kecil di hadapan nya itu, sedikit gemetar dan Dafi tahu jika gadis nya menangis lagi.
Grep !
Tanpa aba-aba dan tidak memperhatikan kondisi lagi Dafi langsung memeluk Alin dari belakang, memeluk nya sangat erat dia menyalurkan seluruh rasa rindu nya kepada gadis itu, Dafi menghirup rakus aroma rambut Alin yang masih sama seperti dulu, manis. Alin kaget akan tindakan Dafi dia berdiri kaku tanpa melakukan apapun otak nya mendadak kosong jantung Alin berdetak lima kali lebih cepat, meski ada rasa ingin membalas pelukan itu tapi ego Alin lebih mendominasi dia melepas paksa kedua lengan Dafi yang melingkar di perut nya lalu berbalik menatap nyalang Dafi kemudian...
PLAK !!
Alin menampar Dafi untuk yang kedua kali
"tolong jangan sembarang peluk-peluk saya tuan Al-khadafi" teriak Alin marah, bibir gadis itu gemetar saking tak kuat nya ia saat ini, sedangkan Dafi dia merasa hati nya tercubit sakit mendengar gadis itu memanggil nya dengan nama panjang nya
Alin terus menatap nyalang mata sendu Dafi lalu kembali berkata
"anda CEO ternama disini jadi saya mohon jaga tingkah anda, jangan sampai tingkat sopan anda lebih rendah dari pada kedudukan anda" desis Alin tajam, Alin terkesiap kaget tentang apa yang baru saja ia katakan kepada Dafi, dia menggeleng samar tidak bermaksud mengatakan hal sekeji itu, dia hanya merasa di permainkan oleh lelaki di depan nya itu. Lelaki yang tiba-tiba pergi tanpa kabar, lalu kembali dengan wanita lain dan kini malah se enak nya memeluk Alin seakan hati Alin hanya permainan yang bisa lelaki itu tarik ulur se enak nya saja.
Alin diam menatap Dafi, tidak ada ekspresi marah atau apapun dari wajah lelaki itu meski Alin mengatakan hal jahat, hanya tatapan penyesalan.
Dafi menghela nafas berat tak bisa berkata-kata lagi, gadis nya berubah karena ulah nya sendiri dia pantas mendapatkan tamparan ini bahkan jika lebih pun dia masih pantas, kata-kata jahat Alin barusan sama sekali tidak membuat Dafi marah dia tau jika Alin begitu karena saking kecewa nya, Dafi sadar dengan apa yang sudah ia perbuat selama ini salah, meski semua demi Alin.
Kini Dafi hanya bisa memandang sendu kepergian Alin yang perlahan berjalan menjauh ke sebrang jalan sana hanya beberapa detik sebelum dia kaget saat menyadari ada mobil melaju kencang dari arah kanan gadis itu, oh tidak !
"ALIIIN !!"
"ALINN !!"
"ALIN STOP!"
Alin tidak mengindahkan teriakan Dafi Luna dan Dania, dia terlalu tenggelam dalam mood yang sangat buruk. Alin terus berjalan, tujuan utama nya adalah mobil yang tadi terparkir di sebrang sana, pikiran nya kacau. Hingga tanpa sadar dia sudah berada di tengah-tengah jalanan padat kota London
Alin baru mendapatkan kesadaran saat di depan nya ada seorang ibu-ibu berteriak sambil memberi kode agar Alin cepat berjalan ke arah sebrang sana, ibu-ibu itu juga menunjuk ke arah kanan Alin sehingga Alin yang masih setengah sadar perlahan menoleh dan mata nya sukses membulat lebar melihat mobil melaju sangat kencang ke arah nya
"AAAAKKKHHH !!!"
BRUKK !!
BRAK !!
"ALIIIINNN !!!"