Ilyash sudah sejak beberapa menit yang lalu berdiri di ambang pintu, tetapi tak sedikit pun mengalihkan perhatian Zafina dari lamunannya. Ilyash yang sejatinya sangat peduli dan menyayangi Zafina pun tak bisa berdiam diri saja, seperti seorang abang yang lepas tangan saat adiknya memerlukan sebuah nasihat. "Ana, kamu kenapa? Udah makan siang?" Ilyash duduk di sofa single dalam kamar Zafina, sementara wanita itu masih duduk bersandar di kepala kursinya. Matanya yang tadi hanya memandang kosong ke luar jendela beralih pada Ilyash. Senyum kecil dia berikan untuk menunjukkan bahwa dia tak sedang berada dalam keadaan buruk. Ini sudah hari ketiga setelah pertemuannya dengan Adam sore itu, Zafina masih memikirkan banyak hal. Dari harapan Adela yang memintanya sebaiknya memberikan Adam kesempatan
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


