"Sini kamu! Sini!"
Aku dan yang lainnya tersentak melihat Om Erlangga menarik tangan Erland sampai jatuh tersungkur di bawah kedua kaki papa.
"Pa, jangan kasar pada Erland!" sentak tante Erna. Tampak tak terima dengan perlakuan Om Erlangga.
"Jangan selalu kau bela anakmu ini, Erna! Lihat dia, dia sudah bikin kita malu! Erland, sekarang kamu harus minta maaf pada Pak Pram! Lakukan, Erland!"
Aku menelan saliva melihat sorot mata Om Erlangga yang memerah. Emosi sepertinya sudah menguasai diri. Melihat Erland yang masih duduk tersungkur di bawah kedua kaki papa. Bukannya segera minta maaf dan mengakui kesalahannya, Erland justru membuang muka ke arah lain. Muak sekali melihat sikapnya.
"Cepat minta maaf! Cepat, Erland!"
Om Erlangga suaranya makin meninggi. Kepala Erland sampai ditekan-tekan. Kupegang tangan mama, ada rasa takut melihat kekerasan di depan mata.
"Pa, sudah, Pa ... Sudah. Namanya manusia pasti punya kesalahan. Wajar saja kalau Erland pernah berbuat salah, Pa." Tante Erna terus saja membela.
Tante Erna bilang kesalahan Erland yang selingkuh wajar? Gila saja. Orang berselingkuh dibilang wajar? Astaghfirullah, sudah tidak benar pemikiran tante Erna.
"Erland, bangun, Nak. Berdiri." Tante Erna membantu Erland berdiri. Lelaki itu hanya meringis, memegang pipinya yang lebam.
"Ma, Kak Erland tidur sama wanita lain bukan wajar tapi kurang ajar," sela Alex memperingatkan tante Erna. Aku dan mama hanya menggelengkan kepala. Bagaimana bisa tante Erna mewajarkan anaknya yang berselingkuh? Kalau dia ada di posisi seperti aku, apa mau diselingkuhi Om Erlangga?
"Kamu jangan ikut campur, Alex! Masuk ke kamar sana!" Tante Erna tidak terima. Dia justru mengusir Alex.
Perlakuan tante Erna pada Erland dan juga pada Alex sangat berbeda sekali. Tante Erna seperti lebih menyayangi Erland ketimbang Alex.
"Kali ini aku harus ikut campur, Mah! Sekalian aku mau bilang ke Mamah dan Papah kalau aku yang akan menggantikan posisi Kak Erland menjadi pengantin pria Mayang."
Kedua mataku membeliak tak percaya mendengar ucapan Alex. Ternyata dia tidak main-main mengungkapkan keinginannya. Bagaimana ini? Kalau aku menolak niat Alex, kasihan dia. Kalau aku terima? Aku tidak cinta. Tidak mungkin aku menikah dengan orang yang tidak aku cintai.
Tidak hanya keluargaku yang terkejut, kedua orang tua Alex pun sama. Kedua mata tante Erna sampai melotot. Mulutnya menganga lebar.
"Kamu ngomong apa, Alex?" Om Erlangga mendekatkan wajahnya pada Alex. Lelaki yang usianya lebih muda dari papa duduk di samping Alex. Aku melirik mama dan papa, mereka tampak diam, memerhatikan keluarga Erlangga. Bibir Erland menyunggingkan senyum sinis. Kulihat darah segar keluar dari sudut bibir. Sepertinya Om erlangga memukul Erland sangat keras.
"Pah, dari pada acara pernikahan ini dibatalkan, dari pada keluarga kita dan keluarga Mayang menanggung malu karena kelakuan si b******k itu, aku mau jadi pengantin pria Mayang. Acara pernikahannya tetap berlangsung. Papah kan tau sendiri, kita udah mengundang banyak orang. Banyak kolega dan rekan bisnis. Kalau perrnikahan ini dibatalkan, banyak asumsi publik yang melebar kemana-mana. Dan tentunya, aib si b******n itu akan terbongkar. Siapa yang malu? Dia gak malu, tapi keluarga kita yang malu," tandas Alex lantang.
Suasana hening mendengarkan penuturan Alex. Apa yang dikatakan Alex ada benarnya. Keluargaku dan keluarganya pasti menahan malu terutama rival bisnis perusahaan papa. Setidaknya kami akan menjadi bahan olok-olok mereka.
"Aku emang gak berkecimpung di perusahaan Papa dan perusahan Om Pram, tapi aku dibesarkan lewat penghasilan perusahaan itu. Sudah menjadi kewajibanku menjaga reputasi baik perusahaan Papah," sambung Alex, menatap lekat Om Erlangga.
Sepertinya Alex tidak akan menyerah meyakinkan Om Erlangga agar menyetujui rencannya. Aku sendiri bingung jika benar Alex yang akan menjadi pengganti pengantin pria. Usia kami berbeda 5 tahun. Alex juga masih kuliah. Belum lagi dia adiknya Erland. Kalau kami menikah, sudah pasti Erland akan menjadi kakak iparku.
"Bacot kau, Lex! Bilang aja kau naksir sama Mayang. Kau ingin nikahin dia karena udah terlanjur berselingkuh. Ternyata bukan cuma aku yang selingkuh, kalian juga. Ngaku aja, jangan munafik."
Aku melotot mendengar tuduhan Erland. Lelaki buaya darat, b******k, dia yang salah malah melempar kesalahan pada kami. Kalau tidak ada orang tuanya, sudah kutampar mulut Erland yang busuk itu.
"Ya benar, Pah. Mungkin Alex bilang kayak gitu, karena sebenarnya Alex dan Mayang sudah---"
"Cukup!" sentak Om Erlangga, menghentikan tuduhan tante Erna yang sedari tadi membela kelakuan Erland.
Ya ampun tante Erna membenarkan tuduhan anaknya.
Om Erlangga menoleh pada istri dan anak sulungnya. Tante Erna kulihat merundukkan kepala, sedangkan Erland hanya membuang pandangan ke arah lain.
"Kalian sungguh luar biasa. Berani sekali menuduh anakku dan Alex selingkuh. Kalau memang kalian beranggapan anak kami berselingkuh, aku semakin yakin membatalkan pernikahan mereka. Ayok, kita pulang sekarang! Dan kau Alex. Terima kasih atas niat baikmu tapi mohon maaf, Om gak tertarik dengan saranmu. Mayang lebih baik menyendiri dulu. Masalah kerugian atau menjadi bahan olok-olokkan, kami tidak masalah. Toh bukan kami yang menjadi penyebab gagalnya acara peernikahann ini tapi dia yang menjadi penyebabnya. Kalau aku mau, aku bisa saja menyebarkan rekaman video Erland dan sekretarisnya. Apa itu yang kalian inginkan?" ucap papa sebelum Om Erlangga bicara. Papa sudah mengambil keputusan. Memang benar, kalau aku dendam, sudah kusebarkan videoa asusila Erland dan sekretarisnya. Tapi, semua itu tidak aku lakukan. Kami masih memandang Om Erlangga sebagai partner sekaligus teman baik Papa.
"Jangan Pak Pram! Kalau memang mau batalin pernikahannya, ya gak apa-apa. Jangan sebarin aib orang, dosa itu." Tante Erna langsung menyela. Dia bicara dosa tapi kelakuan anaknya yang bercinta sebelum menikah dianggap wajar. Aneh.
"Pak Pramudya, kami sungguh minta maaf. Benar-benar minta maaf. Erland memang kurang ajar. Kami janji akan mengganti semua kerugian yang dialami Pak Pram. Saya janji."
Kasihan Om Erlangga. Dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Kini harus menahan malu dan kerugian dari perbuatan anak sulungnya. Sedangkan Alex, bocah itu merundukkan kepala. Terlihat bersedih. Ah, biar saja. Masa iya aku menikah dengan calon adik ipar dalam waktu cepat? Terkesan murahan sekali. Kalau memang Alex ingin menggantikan posisi Erland, dia harus berjuang untuk membuatku jatuh cinta. Aku tidak mau mempunyai suami yang tidak aku cintai atau mencintaiku.
"Terima kasih niat baiknya, Pak Erlangga. Kalau begitu kami pamit pulang." Aku, mama dan papa beranjak, bersalaman hanya pada Om erlangga saja. Kami pun keluar rumah.
"Om, Tante!" Langkah kami terhenti di depan mobil. Aku, mama dan papa membalikkan badan, melihat lelaki yang masih mengenakan jaket itu berdiri di hadapan.
"Ada apa, Alex?" tanya papa datar. Aku sendiri, sudah malas melihat anggota keluar Erlangga termasuk Alex.
"Ucapanku tadi sangat serius, Om. Apa gak bisa, kalau acara pernikahannya tetap berlangsung?"
Ya Allah tuh anak. Masih saja bertanya masalah acara pernikahan. Papa tersenyum simpul, memegang sebelah pundak Alex.
"Tidak bisa, Nak Alex. Mayang, anak kami bukanlah barang. Om bisa jamin, ia adalah wanita baik-baik. Kami tidak mungkin dengan mudahnya menyerahkan Mayang dengan lelaki yang menurut Om, belum diicintainya. Om tau betul, Mayang bukan wanita yang mudah jatuh cinta. Tidak mungkin juga kami membiarkan dia menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya. Om percaya kamu cinta sama Mayang, tapi Om gak yakin kalau Mayang sudah jatuh cinta sama kamu."
Aku menahan tawa, melipat bibir. Kedua pundak Alex menurun. Tampak sekali kesedihan dari raut wajahnya. Begitu pula mama, kulihat mama tercenung. Raut wajahnya seperti iba pada Alex. Mau bagaimana lagi? Aku bukan wanita yang mudah jatuh cinta. Aku juga bukan wanita yang mudahnya menerima pria lain meskipun dia memiliki sifat yang baik.
"Baik, Om. Saya mengerti. Kalau begitu, saya akan berusaha membuat Mayang jatuh cinta pada saya. Tolong izinkan saya mendekati Mayang sampai dia benar-benar mau saya nikahin, Om."
Papa terkekeh, menurunkan tangan dari pundak Alex. Lalu pandangannya beralih padaku dan Mama.
"Kamu ingin Om izinkan mendekati Mayang sampai dia jatuh cinta padamu?"
"Iya, Om. Saya bisa buktikan kalau saya pantas menjadi belahan jiwa anak gadis, Om. Saya akan buktikan. Tolong izinkan saya berusaha membuat Mayang jatuh cinta pada saya sampai dia mau saya nikahi, Om. Please ...," ucap Rhey memelas.
Papa berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepala.
"Oke, Om izinkan kamu berusaha mendekati Mayang samapi dia jatuh hati dan mau kamu nikahi. Tapi, waktunya hanya sampai 1 tahun. Setelah 1 tahun kamu belum juga bisa membuat Mayang jatuh hati, kamu harus menjauhinya. Bagaimana? Apa kamu sanggup?"
"Insya Allah sanggup, Om."