"Kamu jangan bersedih, Nak. Pernikahanmu gagal bukan akhir dari kebahagiaan. Kegagalan hanya kebahagiaan yang tertunda. Papah sangat yakin, akan ada pria yang baik hati dan setia yang mau menjadi suamimu."
Perkataan papa membuat hatiku tenang dan bersemangat menjalani hari. Tak lagi merasa sedih dan kecewa padahal sebelumnya aku merasa malu berhadapan dengan orang banyak. Malu karena gagal menikah.
"Terima kasih, Pah. Papah dan Mamah selalu ada bersamaku."
"Sama-sama, Nak."
Aku sangat bersyukur memiliki kedua orang tua seperti mereka. Di saat aku menghadapi masalah, mama dan papa selalu berusaha menghibur dan menenangkan. Entah bagaimana nasib ini jika tanpa mereka?
Papa membatalkan acara pernikahanku dengan Erland. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi teman-teman papa nanti jika mengetahui acara pernikahan dibatalkan?
Ya Allah, tolong aku. Semoga saja masalah ini tidak membeeri pengaruh buruk bagi perusahaan papa. Aamiin.
Sampai di rumah, kami menyantap makan malam bersama. Tidak ada kesedihan yang terlihat dari kedua orang tuaku. Mereka masih seperti biasa. Tersenyum dan terlihat ceria.
"Pah, tadi tuh Mama lucu dan gemes banget lihat tingkah si Alex. Orang lagi menghadapi masalah serius, dia malah bilang gitu. Pake segala mau jadi pengantin pengganti. Ada-ada saja," celetuk mama, menahan tawa ketika kami baru selesai makan malam.
Aku menghela napas berat mengingat Alex yang tak lain adik Erland mengungkapkan keinginannya menjadi pengantin pengganti Erland.
Selama ini dia memang baik padaku. Sering kasih tahu kalau Erland jalan dengan cewek lain, tapi dulu sering tak kupedulikan. Bagiku, Erland bisa dapat dipercaya. Ternyata benar yang dikatakan Alex. Erland tukang selingkuh.
"Menurut Papah, sikapnya si Alex lebih gentle dari pada kakaknya. Dia juga terlihat bersungguh-sungguh cinta sama kamu, May. Bener gak?"
Ya Allah, kenapa pula papa menanyakan masalah perasaan Alex padaku?
"Aku gak tau, Pah. Ya emang sih, sejak kejadian semalam itu, Alex berulang kali minta jadi pengantin pengganti. Ya aku gak maulah, Pah. Nanti apa kata orang? Kakaknya gak mau, tapi sama adiknya mau. Malah blunder. Nanti disangka aku yang selingkuh sama adiknya." jawabku apa adanya. Aku juga tidak mau terlalu cepat membuka hati. Seharusnya papa tidak boleh memberi harapan pada Alex. Aku paling tidak suka memberi orang harapan palsu.
"Anak Mama memang paling terbaik, paling oke, paling cantik. Pemikkiranmu Mama dukung seratus persen. Tapi, tadi Papah kenapa memberi harapan pada Alex?Mending kalau Mayang sebelum satu tahun bisa jatuh cinta sama Alex. Kalau tidak? Kasihan tuh anak." Giliran Mama yang berkata. Aku hanya menggelengkan kepala melihat mama dan papa yang berbincang.
"Sesama lelaki, Papah bisa lihat kesunguhan kata-kata Alex dari sorot matanya. Papah percaya kalau Alex memang sangat mencintamu, May. Percaya Papah. Misalnya kamu bersedia Alex jadi pengganti kakaknya, Papah juga setuju."
"Dih, Papa. Jangan terlalu percaya sama Alex. Alex dan Erland itu kakak adik. Darah mereka sama. Aku takut aja kalau dia justru gak jauh beda dengan kakaknya," katakku tak mau menutupi kenyataan.
"Siapa bilang mereka sedarah?" Perkataan papa membuatku mendongak, mencondongkan tubuh agak ke depan, memicingkan kedua mata. Tak mengerti maksud papa yang mengatakan Alex dan Erland tidak sedarah. Begitu pula mama, lebih menghadap papa.
"Maksud Papa apa? Memangnya Erland dan Alex gak sedarah? Mereka bukan saudara kandung gitu?" tanyaku diliputi penasaran. Papa menghela napas, menoleh padaku dan mama bergantian.
"Ya, mereka gak sedarah. Bukan saudara kandung. Ya udahlah, kalian gak perlu tau. Aib orang. Papa mau istirahat dulu. Kamu juga, May. Cepat istirahat! Jangan nangis lagi. Lelaki b******k seperti Erland, enggak pantas kami tangisi."
Aku tersenyum mendengar pesan papa.
"Iya, Pah."
Mama dan papa sudah masuk kamar, tinggallah aku seorang diri. Jujur saja, aku sangat penasaran. Bagaimana ceritanya Alex dan Erland tidak sedarah? Memang kalau aku perhatikan, tante Erna lebih menyayangi Erland dari pada Alex. Apa mungkin Alex anak angkat mereka?
Astaghfirullah, aku kok jadi kepo begini? Menggelengkan kepala, beranjak ke kamar.
Di dalam kamar, sudah tidak ada lagi foto Erland. Sebelumnya ada beberapa foto Erland di dalam kamarku . Sekarang sudah aku bakar. Meski hatiku sangat sakit dan kecewa tapi sisi lain sangat bersyukur, kelakuan busuk Erland aku ketahui sebelum kami resmi mmenajdi suami istri.
Lamunanku buyar mendengar suara notifkasi pesan di handphone. Melihat nama kontak yang tertera, ternyata Alex Kubuka pesan tersebut.
"Yang, kamu udah di rumah dengan selamat?"
Pertanyaan apaan ini? Dia kata selamat? Memangnya aku lagi dikejar penjahat?
"Udah." Hanya itu balasan yang kukirim pada Alex. Beranjak ke toilet, hendak membersihkan diri sebelum tidur.
Keluar dari toilet, melihat handphone. Ada beberapa panggilan tak terjawab. Semuanya dari nomor baru yang sama.
"Nomor siapa ini? Apa jangan-jangan nomor Erland?"
Selain ada notifikasi telepon tidak terjawab, ada pesan yang masuk juga.
"Alhamdulillah kalau kamu sampai rumah dengan selamat. Besok sebelum berangkat kerja, aku mau jemput kamu. Kamu ke kantor, aku kerja ke cafe. Mau, ya?"
Dengan cepat kubalas pesan Alex.
"Enggak mau."
Apa jadinya kalau sekarang aku jalan bersama Alex? Bisa timbul fitnah nantinya.
Kusimpan handphone, meski berdering berulang kali. Melirik layar handphone, ternyata masih nomor baru yang sebelumnya menelepon berulang kali. Siapa dia?
Berpikir sejenak sebelum mengangkat. Tidak berselang lama, pesan singkat masuk dari nomor tersebut.
"Angkat teleponku!"
Sudah dapat kuduga, itu pasti Erland. Lebih baik handphone dinonaktifkan dari pada diganggu kakak beradik itu.
***
Perlahan membuka mata, melihat jam dinding pukul 4 dini hari. Merentangkan kedua tangan, menguap dan menyibak selimut. Berjalan ke toilet, membuang air kecil dan berwudhu. Sebelum suara azan Subuh berkumandang, aku melakukan salat tahajud. Memohon ampunan serta mengucap syukur. Bersyukur karena Allah menyelamatkanku dari lelaki buaya macam Erland.
Tidak berselang lama, samar-samar terdengar suara azan Subuh yang berasal dari Masjid seberang rumah. Tempat tinggalku memang berseberangan dengan Masjid.
Usai melaksanakan kewajiban seorang muslim, aku keluar kamar hendak membantu mama yang tengah menyiapkan sarapan.
"Pagi, Mah, " sapaku berdiri di samping kanan mama.
"Pagi, May. Gimana tidurmu semalam? Nyenyak?"
Aku tersenyum bahagia mendengar perhatian mama. Perhatian kecil tapi sangat Aku butuhkan. Orang tuaku sosok figur yang patut dicontoh. Selama ini mama dan papa tidak pernah memaksakan kehendak. Dari mulai masalah pendidikan, pekerjaan apalagi masalah asmara. Semuanya dipercayakan pada anak. Oleh karenanya Aku selalu menjaga kepercayaan mereka.
"Alhamdulillah nyenyak, Mah. Hanya saja semalam ada nomor baru yang meneleponku berulang kali."
"Siapa?" Mama menghentikan gerakan tangan yang memotong wortel.
"Enggak tau, tapi kalau ditelisik dari pesan singkat yang dikirim, aku curiga nomor itu milik Erland," jawabku tidak terlalu yakin.
"Kenapa kepikiran itu Erland? Bukannya kamu menyimpan nomor Erland, May?" Mama sudah beres menata sarapan di atas meja. Aku dan mama duduk di kursi yang bersebrangan.
"Iya aku simpan tapi sejak tau dia selingkuh, nomornya aku blokir sampai sekarang belum dibuka blokirannya. Kemungkinan besar dia pake nomor baru."
Kulihat mama tampak berpikir. Mungkin mama juga sedang menduga-duga siapa yang meneleponku berulang kali.
"Coba, May. Sekali-kali kamu angkat teleponnya. Barang kali dugaanmu salah. Mama takutnya itu telepon penting. Kamu kan kerja di kantor, takut dari klien atau pengusaha lainnya."
Ucapan Mama tak sepenuhnya salah. Mungkin sebaiknya aku angkat dulu telepon dari nomor baru itu.
"Ya udah, Ma. Aku mau ambil hapenya dulu."
"Iya, Nak" Aku berjalan ke kamar, mengambil handphone, mengaktifkannya kembali. Ternyata benar, nomor baru itu masih saja berusaha menghubungi. Aku pun keluar kamar lagi, berjalan cepat ke arah dapur.
Baru saja sampai dapur, handphone yang ada di tanganku berdering. Mama menoleh, melihatku yang terpaku di tempat.
"Apa itu panggilan dari nomor baru yang kamu ceritakan tadi?" Mama tergesa-gesa menghampiri. Aku menganggukkan kepala.
"Iya, Mah."
"Coba angkat, terus kamu loudspeaker supaya Mamah bisa dengar suara orang itu."
"Baiklah."