Bab 6. Fitnah

1202 Kata
"Hallo, May! Kenapa nomorku kamu blokir?" Benar dugaanku itu adalah nomor baru Erland. Aku dan mama saling pandang, menggelengkan kepala. Jujur, sejak malam itu Erland datang ke rumah, aku selalu merasa khawatir dan takut. Takut kalau Erland berbuat tak menyenangkan. "Terserah aku. Mau aku blokir atau gak, bukan urusanmu." Kumatikan sambungan telepon dengan kesal. Erland gila. Sudah salah masih saja gangguin. Kalau bukan karena memandang Om Erlangga, ingin rasanya kuputuskan kontrak kerja sama dengan perusahaannya. Nomor Erland yang baru aku blokir lagi. Malas diganggu. "May, kamu jangan terlalu menunjukkan benci sama Erland. Mama takut kalau dia macam-macam nantinya." Pesan mama membuatku berpikir. Benar juga, kalau dia macam-macam bagaimana? "Iya, Mah. Erland itu menyebalkan, Mah. Aku gak bisa menutupi kebencian ini. Kadang aku masih enggak percaya Erland tega berselingkuh, mengkhianati kepercayaanku, Mah." Sial, air mata menetes lagi. Aku tidak boleh menangisi Erland lagi. Tidak boleh. "Ya Mamah mengerti. Oh ya, Video rekaman Erland juga kamu harus amankan, Nak. Buat jaga-jaga." "Iya, Mah. Nanti aku pindahkan ke laptop aja. Kayaknya sama Alex juga udah dipindah deh." Tidak berselang lama, papa datang. Penampilannya sudah rapi, siap berangkat kerja. "May, hari ini kamu mau ngantor?" tanya papa setelah duduk di kursi meja makan. "Iya, Pah, dari pada di rumah, bikin bosen, inget terus lagi. Lebih baik di kantor, banyak kerjaan." Aku harus benar-benar melupakan Erland. Bagaimana besarnya cintaku, Erland tak pantas lagi ada di dalam hati ini. Memang tidak mudah, mengingat hubungan kami terjalin dua tahun lamanya. Erland, kalau kamu bisa setia, enam hari lagi kita akan menikah. Sialan, selera sarapanku mendadak hilang. Usai meneguk s**u cokelat hangat, terdengar suara bel. Aku, mama dan papa saling pandang. "Siapa yang pagi-pagi bertamu? Mama mau buka dulu." "Biar aku saja, Mah. Mamah lanjutin aja sarapannya." Beranjak, berjalan ke depan, hendak membuka pintu. Melirik arloji di pergelangan, baru pukul tujuh pagi. Siapa yang pagi-pagi sudah bertamu ke rumah orang? "Alex?" Kedua mataku membeliak tak percaya melihat sosok lelaki bertubuh tinggi tegap berdiri di depan mata. Alex nyengir, sok manis. "Morning, Yang." "Yang, yang, Mayang! Ngapain pagi-pagi ke sini?" "Mau jemput kamu." "Idih, dibilang gak mau. Semalam kan aku udah bilang, jangan jemput! Udah pergi sana! Pergi!" kataku mendorong bahu Alex agar menjauhi pergi. Lelaki itu tetap saja bergeming, menyebalkan. "Gak mau. Kamu kenapa ngusir aku mulu, Yang? Kan aku udah dapat izin boleh deketin kamu. Aku harap kamu gak lupa." Memutar bola mata malas. Papa juga, kenapa kasih kesempatan buat nih anak? bikin ribet. "Ya emang harus diusir? Lagian, pagi-pagi begini udah nongol di depan rumah orang." Aku semakin sewot melihat Alex yang keras kepala. Enggak mau pergi. "Yang, aku ke sini lagi berusaha membuatmu jatuh cinta. Jatuh cinta padaku, Alexander Putra Erlangga." Heleh, gayanya nih bocil. "Emang kamu gak kuliah?" "Kuliah. Tapi, nanti jam sebelasan. Jadi mau ke cafe dulu. Kamu udah sarapan 'kan? Berangkat, yuk!" "Ogah." Kututup pintu rumah. Meninggalkan Alex yang entah mau pergi atau tidak. Masuk ke ruang makan, mama papa justru menatapku. "Kenapa, Mah? Pah?" "Kamu kenapa? Wajahmu kok jadi murung begitu?" Mama pasti tahu kalau aku lagi kesal. Kuhela napas berat, mengingat Alex yang datang bertamu. "Memangnya siapa yang datang?" Giliran papa yang berbicara. "Alex." "Alex?" Mama dan papa bertanya berbarengan. Aku mengangguk seraya menghabiskan s**u cokelat hangat. "Orangnya mana? Udah disuruh masuk?" Mama berdiri, sepertinya mau menemui Alex. "Udah aku usir, Mah," jawabku santai. "Astaghfirullah, May. Kamu gak boleh gitu. Tamu itu harus dimuliakan bukan diusir. Alex ke sini pasti niatnya baik. Mah, suruh Alex masuk. Suruh sarapan bareng kita." Papa menasehati, tapi aku masih belum bisa menerima kedatangan Alex yang mau mengajak berangkat kerja bareng. "Tapi, Pah. Dia ke sini mau ngajakin aku berangkat ke kantor bareng." "Oh gitu. Ya udah gak apa-apa. Mamah suruh dia masuk dulu." Ya ampun Papa, kenapa sih suka kasih harapan pada Alex? "Mama!" Panggilanku tak dihiraukan. Mama sudah pergi ke depan. Aku jadi serba salah. Kalau pergi sama Alex, nanti apa kata orang? "Mayang, meskipun kamu belum suka sama Alex, sikapmu harus tetap baik. Misalnya kamu gak mau berangkat bareng dia, obrolin baik-baik, Nak." Nasihat papa membuatku bertambah murung. Bukan tidak mau menghargai atau bicara baik-baik. Masalahnya Alex keras kepala. "Ya Allah kasihan sekali kamu belum sarapan, Lex. Ya udah kita sarapan bareng." Suara mama terdengar. Aku menoleh, melihat Alex yang tersenyum lebar. Alex mendekati papa, mencium punggung tangan papa. "Silakan duduk, Alex." Alex menarik kursi di sebelahku. Ia menoleh, tersenyum padaku. Malas sekali membalas senyumannya. "Om, Tante, saya minta maaf pagi-pagi bertamu. Udah gangguin keluarga, Om." "Enggak apa-apa. Memangnya kamu pagi-pagi datang ke sini mau ngapain?" Kok papa malah bertanya seperti itu? Apakah papa cuma pura-pura? Tadi kan aku sudah bilang ke papa kalau kedatangan Alex ingin menjemputku. Alex menoleh ke arahku, ia tersenyum. Menggelengkan kepala berulang kali, bisa-bisanya dia masuk ke dalam rumah. "Mau usaha menaklukkan hati anak gadis, Om." Astaghfirullahalazim, nih anak bener-bener dah! Kulihat mama dan papa tersenyum. Aku sendiri sangat kesal melihat tingkah lakunya. "Mah, Pah, aku mau berangkat dulu." "May, nanti aja dulu. Tunggu Alex sampai selesai sarapannya." Papa mencegah. Menoleh pada Alex, lelaki itu tersenyum lebar. "Tapi, aku gak mau dianterin dia ke kantor, Pah. Kalau orang-orang curiga kami yang selingkuh gimana? Aku gak mau cari masalah." Aku mencoba menjelaskan pada kedua orang tua termasuk pada si Alex yang tengah menikmati sarapan di rumahku. "Ya udah aku gak akan maksa kamu naik motor bareng. Tapi, aku akan ngawasin mobil kamu sampe kantor." "Dih, lebay amat sih, Lex. Dahlah, aku mau berangkat." Tak kupedulikan Alex yang masih menyantap makanan. Mencium punggung tangan mama dan papa. Berjalan cepat ke dalam kamar, mengambil tas dan dokumen-dokumen kantor lalu keluar rumah. Rupanya Alex sudah berada di atas sepeda motor ninjanya. Tak kuhiraukan panggilannya. Masuk ke dalam mobil, lalu melajukan kendaraan, keluar halaman rumah. Melihat dari spion depan, ternyata Alex mengikuti dari belakang. Ah, bodo amat. Kendaraan yang aku tumpangi sudah memasuki area parkir. Tak kusangka, Alex juga ikut masuk. Lelaki itu turun dari motor, datang menghampiri. "Yang, Ayang!" "Apaan?" "Kalau kamu mau pulang, hubungi aku, ya?" "Enggak mau. Udah sana pergi! Kuliah yang bener!" titahku sewot. Menatap nyalang lelaki yang berdiri di depan. Alex masih mengenakan helm. Beberapa karyawan yang melintas, menoleh ke arah kami. "Iya, aku akan kuliah yang bener. Kamu jangan capek-capek. Jam makan siang aku ke sini. Love you, muach!" katanya menirukan gaya orang ciuman. Awas saja kalau berani menciumku, aku pukul mulutnya. Aku berjalan cepat meninggalkannya. Masuk ke lobby, ada Tamara menenteng beberapa dokumen di tangan kanannya. "Syukurlah kamu datang lebih pagi," celetuk Tamara berjalan di sampingku. Kami masuk ke dalam lift berbarengan. Aku menghela napas berat. "Emang kenapa?" "Ada yang mau aku tanyain." "Tentang?" "Erland." Menarik napas panjang, mulai muak mendengar nama itu disebut. Ingatanku kembali melayang pada sosok lelaki yang selama ini aku cintai. Sosok lelaki yang kepadanya banyak mimpi dan harapan aku gantungkan. Tidak hanya kenangan indah saat bersamanya yang kuingat, tetapi kejadi malam itu pun kembali melintas. "Aku lagi gak mau bahas dia, Tam," timpalku di saat pintu lift terbuka. "Jadi bener kamu sama dia lagi ribut?" Langkah kaki terhenti, menoleh pada Tamara. Kenapa Tamara bisa menyimpulkan aku dan Erland bertengkar padahal aku belum cerita ke dia? "Kamu tau dari siapa?" "Erland. Katanya alasan kalian ribut karena kamu, kamu ketahuan selingkuh sama Alex." "Astaghfirullahalazim."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN