"Kapan dia cerita kayak gitu ke kamu?" tanyaku penasaran. Ternyata benar dugaanku kalau Erland memutarbalikkan fakta. Kebencian terhadap Erland semakin besar. Bisa-bisanya dia bercerita pada Tamara seperti itu.
"Semalam. Ada kali jam sepuluhan."
"Sini deh! Kamu harus lihat buktinya sendiri."
Menarik tangan Tamara agar masuk ke ruangan. Aku tidak perlu banyak bicara, lebih baik Tamara sendiri yang melihat kelakuan Erland.
"Lihat bukti apa?" tanya Tamara. Kami duduk di sofa pojok ruangan. Aku mengambil handphone, menunjukkan rekaman perselingkuhan Erland dengan sekretaris pribadinya.
"Kamu lihat sendiri rekamannya!" Tamara mengambil handphoneku, melihat video rekaman di dalam kamar hotel itu. Biar saja Tamara tahu kebenarannya dari pada dia percaya omongan Erland. Meski Tamara sahabatku, kalau tidak diluruskan kabar yang diterima dari Erland, bisa-bisa Tamara ikut membenci.
"Astagfirullah, jadi si Erland beneran selingkuh?"
Aku mengangguk. Berusaha tetap tenang dan tegar. Tidak mau terlihat terlalu mencintai atau membutuhkan Erland. Kalau memang tidak bisa setia, untuk apa dipertahankan?
"Seperti yang kamu lihat! Si Erland cuma memutar balikkan fakta. Dia gak mau disalahkan kalau pernikahan kami batal."
"Apa? Pernikahan kalian yang sisa hitungan jari mau dibatalin? Enggak salah, May? Ini terlalu beresiko. Papa kamu bakal rugi banyak."
Tamara salah satu orang yang berurusan dengan Wedding Organizer, menyiapkan rencana acara pernikahan aku dan Erland. Dia tahu betul budget keperluan acara pernikahan. Dari mulai sewa gedung, gaun pengantin, kebaya nikah, catering dan lain sebagainya. Memang kalau pernikahan ini dibatalkan, papa akan menanggung kerugian cukup besar. Tetapi semalam, Om Erlangga sudah berjanji akan mengganti kerugian semuanya. Entah benar atau tidak.
"Papa bilang gak masalah. Katanya, papa dan mama gak mau kalau aku tetap menikah dengan Erland. Papanya Erland juga semalam udah janji ke kami, kalau mereka mau menanggung kerugian."
Aku berusaha menjelaskan semuanya pada Tamara. Wanita yang selama ini menemani dan memberi nasihat padaku. Aku bersyukur hingfa kini Tamara masih mau menjadi kaki tanganku.
"Aku gak yakin, May. Mungkin Pak Erlangga mau mengganti kerugian, tapi si Erland? Enggak dah. Dia pasti semakin berkoar-koar pada orang lain kalau penyebab gagalnya pernikahan kalian karena kamu selingkuh dengan Alex. Kita sama-sama tau kalau Erland agak nekat."
Benar yang dikatakan Tamara. Aku jadi bingung harus bersikap bagaimana? Apa harus melanjutkan pernikahan ini demi membungkam mulut busuk Erland? Atau aku sebarkan saja video asusila Erland dengan sekretarisnya?
"Iya emang. Tapi, aku gak mungkin banget nikah sama dia setelah tahu dia kayak di video itu, Tam. Gak mungkin," tandasku tegas. Hatiku sudah tidak ada lagi cinta untuk Erland meski belum sepenuhnya melupakan dia. Aku tidak mau melanjutkan acara pernikahan.
Ya Allah, tolong aku. Tolong beri petunjuk terbaik untukku ya Allah.
Aku terus berdoa dalam hati. Rasa takut Erland mencemarkan nama baikku pasti akan berdampak pada keluarga dan perusahaan.
"Jangankan kamu, aku juga ogah nikah sama cowok yang kayak gitu. Ya udahlah, aku do'akan semoga masalahmu selesai dengan cara baik-baik. Jangan sampai si Erland bertindak di luar batas."
"Aamiin."
"Aku keluar ruangan dulu. Oh ya, nanti siang jam dua kita ada meeting dengan PT. Abadi Sentosa."
"Oke. Di mana meetingnya? Di kantor apa di luar?"
"Di luar. Di restoran dekat kantor."
"Siap."
Setelah Tamara keluar ruangan, aku menarik napas panjang. Memikirkan cara menghentikan fitnah yang dilayangkan Erland. Mungkin aku akan bicara dengan papa terlebih dahulu.
***
Sampai jam makan siang, aku masih memikirkan cara menghalau rencana Erland yang ingin mempermalukan keluargaku dengan menyebarkan fitnah. Lelaki b******k itu sedari tadi mencoba menelepon. Beberapa pesan singkat ia kirim. Namun, aku hanya membaca. Tidak berniat membalasnya.
Apa aku harus memberi Erland pelajaran? Dia telah berkhianat padaku dengan berselingkuh dengan sekretarisnya. Sekarang dia juga menyebarkan berita bohong, mengatakan pada beberapa orang kalau aku selingkuh dengan Alex. Erland menyebarkan fitnah itu agar nama baiknya tetap bersih. Agar tidak banyak pihak yang menyalahkan. Jujur saja, sulit bagiku menghentikan kelakuan gila si Erland. Aku bisa saja melaporkan Erland ke pihak berwajib tapi masalahnya akan panjang. Aku malas berurusan dengan polisi juga.
Apa sebaiknya aku menikah saja dengan Alex? Dengan begitu, tidak perlu pusing mendengarkan ocehan sampah Erland. Biar saja orang-orang menilaiku selingkuh dengan Alex. Tapi paling tidak, Erland akan merasa harga dirinya diinjak oleh Alex. Tentu itu akan membuatnya sakit hati.
"Alex, apa benar selama ini ia diam-diam mencintaiku? Ah, sial! Kenapa aku jadi terjebak dalam situasi yang sulit? Sebaiknya aku bicarakan masalah ini pada papa."
Segera keluar, menemui papa di ruangan utama.
"Kamu bukannya ada meeting, May?" tanya Papa saat aku masuk ke dalam ruangannya.
"Meetingnya jam dua, Pa. Aku ke sini ada yang ingin aku bicarakan pada Papa," kataku tanpa basa-basi. Papa mengerutkan kening, duduk tegak, menatapku lekat.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Nak?"
Jujur, keputusan ini sangat berat bagiku tapi mau bagaimana lagi. Dari pada papa mengalami kerugian yang besar, dari pada si Erland berkoar-koar terus, dari pada orang menilai buruk tentangku. Lebih baik aku menikah dengan Alex dan nanti di acara pernikahan itu, aku ingin menampilkan video perselingkuhan Erland dengan sekretarisnya. Aku yakin, pada acara pernikahanku nanti akan berkumpul banyak pengusaha dan kolega bisnis papa dan juga Om Erlangga.
"Apakah pihak WO ada yang menghubungi Papa?"
"Tidak. Tidak ada. Emangnya kenapa?"
"Berarti Om Erlangga belum mengganti rugi pembatalan acara pernikahan aku, Pa. Ya sudahlah, jangan dibatalin pernikahannya. Aku akan tetap menikah pada hari itu."
"Apa?" Papa terkejut. "Jangan gila kamu, May! Papa dan mama gak akan memberimu restu kalau kamu tetap menikah dengan si Erland. Enggak akan!"
Sangat tegas papa berbicara. Aku tahu, papa dan mama sangat menyayangiku. Kalau sampai acara pernikahan dibatalkan akan banyak kerugian yang papa alami. Tidak hanya kerugian, akan banyak pula asumsi buruk tentang aku dan keluargaku.
"Aku juga gak mau nikah sama dia. Tapi, dia sekarang lagi menyebarkan fitnah. Mengatakan pada Tamara kalau kami lagi bertengkar. Alasan pertengkaran itu karena aku selingkuh dengan Alex."
"Astaghfirullah anak tidak tau diri. Kurang ajar! Berani sekali dia menyebarkan fitnah seperti itu. Ini gak bisa dibiarkan, Papa akan membuat laporan pencemaran nama baik pada pihak kepolisian."
Kalau sampai itu terjadi, aku semakin merepotkan papa. Akan banyak orang yang bertanya-tanya lagi. Akan timbul masalah baru.
"Jangan, Pa. Aku gak mau berurusan dengan polisi. Sudahlah, kita benarkan saja fitnah itu. Aku gak mau merepotkan Papa dan Mama. Gak mau bikin Papa pusing."
"Maksudmu membenarkan fitnah itu bagaimana, Mayang?" Sorot mata papa begitu lekat. Aku merunduk, menelan saliva. Berharap keputusanku ini yang terbaik. Berharap kalau Alex pribadi yang baik, tanggung jawab dan setia jika menjadi suamiku kelak.
"Pa, a-aku udah mengambil keputusan kalau aku, aku tidak jadi membatalkan acara pernikahan. A-aku akan tetap menikah pada hari itu, tapi ... Ta-tapi menikah dengan Alex, bukan dengan Erland."
"Mayang! Kamu jangan main-main!" Papa berdiri dari tempat duduk. Aku menggelengkan kepala.
"Aku gak main-main, Pa. Aku serius. Aku gak mau merepotkan Papa dan mama. Aku akan menikah. Insya Allah rumah tanggaku nantinya akan bahagia bersama Alex. Bukankah menurut Papa, Alex tulus cinta sama aku?"
Jujur saja, aku belum sepenuhnya percaya pada Alex. Tapi, semua ini harus aku lakukan demi menjaga nama baik keluarga dan harga diri papa, lelaki yang selama ini aku banggakan dan hormati.
"Tapi, bukankah kamu gak cinta dia, Nak?"
"Sekarang. Sekarang memang aku gak cinta dia. Lambat laun, aku pasti bisa mencintainya. Pa, bagaimana? Apakah Papa setuju kalau Alex yang menikahiku?"