Ternyata restoran yang dijadikan tempat meeting perusahaan kami dengan klien, restoran milik Alex. Lelaki itu terlihat sibuk di dekat kasir. Duduk di balik komputer. Apa Alex tidak masuk kuliah?
Mengalihkan pandangan agar tidak disadari Alex. Rencanaku bersedia dinikahinya belum disampaikan. Mungkin kalau Alex membahas lagi, barulah aku menyampaikan rencanaku.
Usai meeting, Alex ternyata menyadari aku dan Tamara ada di restoran. Alex menghampiri kami.
"Aku ke kantor duluan," ujar Tamara.
"Oke." Kupersilakan Tamara ke kantor lebih dulu. Aku memang ingin bicara empat mata dengan Alex.
"Jadi ini restoran kamu?" Berbasa-basi dulu sebelum ke pembahasan utama. Aku harap, tidak perlu aku yang memulai. Semoga saja Alex mau membahas lagi. Semua ini aku lakukan supaya Erland tidak menuduh atau memfitnah kami lagi.
"Iya. Awalnya sama temen, tapi udah satu tahun belakangan jadi punya sendiri. Temen pergi ke luar negeri."
"Cewek?"
"Apanya?"
Dih, Pura-pura tidak mengerti. Eh tapi, kenapa juga aku tanya temennya cewek atau cowok? Nanti disangka aku curiga lagi.
"Bukan apa-apa."
Mengalihkan pembicaraan, meneguk secangkir teh, lalu meletakkan kembali ke tempat semula.
Sesaat tidak ada yang bicara antara kami. Dalam hati aku berharap Alex membahas masalah pernikahan yang tinggal menunggu empat hari lagi. Kalau saat ini, Alex tidak membahasnya, aku akan membiarkan pernikahan itu dibatalkan saja. Memang salah diriku yang awalnya sempat menolak saran Alex yang menginginkan menjadi pengantin pengganti. Tetapi, setelah aku pikir-pikir, mungkin menikah dengan Alex salah satu jalan keluar membungkam mulut Erland.
"Yang?"
"Hm?"
"Apa kamu udah yakin kalau acara pernikahanmu dibatalin aja?"
Akhirnya Alex membahas masalah ini juga. Aku harus tenang, tidak boleh terlihat terlalu ingin Alex yang menjadi pengantin pengganti.
"Jujur saja, sampai saat ini pihak keluargamu ternyata belum membatalkan semua rangkaian acara pernikahan pada WO. Aku juga gak tau kenapa. Ya mungkin karena kerugian yang akan keluargamu tanggung terlalu banyak."
Aku menjeda kalimat, memandang pengunjung lain yang mulai berdatangan.
"Memang benar. Semalam ketika keluargamu pulang, mama dan papa bertengkar. Mama yang larang papa mengganti kerugian yang keluargamu tanggung. Mama dan Kak Erland juga yang melarang Papa buat ngebatalin semua rangkaian ceritamu di hari H."
Jawaban yang diucapkan Alex membuatku terkejut dan kecewa pada Om Erlangga padahal semalam sudah berjanji di depan papa dan mama kalau Om Erlangga mau mengganti semua kerugian yang akan kami alami.
Memejamkan kedua mata sejenak, menarik napas panjang lalu menatap kembali lelaki yang duduk bersebrangan denganku.
"Oh begitu, ya?"
"Yang, aku minta maaf untuk semuanya. Aku gak bisa berbuat banyak. Mama dan papa justru ingin pernikahan itu tetap terjadi. Membiarkan keluargamu tetap mengadakan pernikahan supaya orang lain tau kalau dalam pernikahan itu tidak ada pengantin pria. Mama bilang, akan ngebiarin asumsi publik. Mau itu asumsi baik atau sebaliknya. Dan jujur aja, Yang. Aku takut sekarang Kak Erland sedang menyebar fitnah terkait ketidak hadirnya nanti dia di acara pernikahanmu itu."
Aku tersenyum miring. Tidak menyangka kalau tante Erna juga sangat licik. Aku terdiam sejenak, belum mau menanggapi ucapan Alex. Aku ingin tahu, apakah Alex akan tetap ingin menjadi pengantin pengganti pria dalam acara pernikahanku nanti atau dia mau mengikuti saran papa semalam?
"Kalau kamu mau dengerin saranku, lebih baik acara pernikahan itu tetap berjalan tapi Yang, aku yang jadi pengganti pengantin prianya. Aku ingin menjaga nama baik kamu dan keluargamu. Kalau calon istri Kak Erland bukan kamu, aku juga gak mau jadi pengantin pengganti. Yang, cobalah kamu pikir-pikir lagi. Dari pada keluargamu mengalami kerugian, dari pada orang lain berasumsi tidak baik tentang acara pernikahanmu yang batal, lebih baik kita menikah saja, Yang."
Kali ini, entah mengapa aku tersenyum mendengar penuturan Alex tentang dirinya yang mau jadi pengantin pengganti.
"Emang kamu mau nikahin aku yang pernah pacaran sama Kakakmu?"
"Maulah. Mau banget. Emang aku yang mau. Aku gak bakal menyia-nyiakan gadis sebaik dan setia kayak kamu, Yang."
Aku terdiam, berpikir lagi tentang alasan Erland sampai berselingkuh dengan sekretaris pribadinya. Semalam salah satu pesan singkat Erland berisi, dia selingkuh atau bercinta dengan wanita lain karena beralasan aku yang tidak mau diajak bercinta sebelum menikah. Ah, dasar lelaki m***m. Apa harus, pacaran disertai melakukan hubungan intim? Aku rasa tidak harus dan seharusnya tidak. Emang aja si Erland yang nafsuan.
"Alex, dua hari kemarin aku benar-benar gak tau harus berpikir apa. Aku bahkan, sampai terpikirkan mau mengakhiri hidup. Tapi, setelah aku pikir-pikir lagi, kalau aku melakukan itu, pasti si Erland akan besar kepala dan menganggap aku terlalu cinta padanya. Perbuatan itu hanya membuat dia semakin angkuh dan percaya diri."
"Kamu benar banget, Yang. Buat apa sampai melakukan perbuatan bodoh? Mengakhiri hidup sendiri bukan solusi terbaik. Kalau kamu mau, nih sorry bukan aku ngajarin kamu gak baik."
"Ngajarin gak baik bagaimana?" tanyaku penasaran. Alex merunduk sebentar, menyinggungkan senyum tipis.
"Kalau kamu merasa sakit hati oleh perbuatan Kak Erland, pembalasan sakit hati yang paling terbaik dan ampuh menunjukkan kebahagiaan hidupmu di depannya bukan menunjukkan kehancuranmu. Kalau kamu hancur, aku yakin seratus persen, Kak Erland akan merasa terlalu dicintai dan menganggap kamu membutuhkannya. Paham gak?"
Cukup tersentak mendengar penuturan Alex. Namun, yang dikatakan Alex memang ada benarnya. Kalau sampai keluargaku dicemooh orang lain, pasti Erland akan berbahagia. Begitu pula jika orang lain melihat kondisiku yang gagal menikah, mereka pasti mengasihaniku atau bisa saja membela Erland.
"Ya aku paham. Ya, ya mau bagaimana lagi, Lex. Aku gak mungkin banget dinikahi dan punya suami kayak si Erland. A-aku juga gak tau harus berbuat apa. Jujur, aku gak mau membuat orang tuaku menanggung semua kerugian atas batalnya acara pernikahanku nanti. Sudah mengeluarkan banyak budget, acara dibatalkan, harus memberi penjelasan pada mereka dan belum lagi harus menerima berbagai dugaan dari orang lain. Dugaan itu gak bisa kita atur. Harus menduga baik atau harus menduga buruk. Sumpah, Lex. Aku benar-benar bingung dan kalut."
Semua yang aku rasakan, diceritakan pada Alex. Selama aku menjalin hubungan dengan Erland, aku dan Alex tak pernah berbincang sampai satu jam lamanya. Kalau ketemu, paling hanya bertegur sapa. Misalnya ngobrol pun, Alex hanya mengatakan kalau kakaknya selingkuh di belakangku. Memberitahu kelakukan Erland bersama para wanita lain. Baru hari ini, aku dan Alex berbicara cukup lama.
"Aku ngerti posisi kamu dan keluargamu. Makanya aku menawarkan diri, Yang. Bukan aku sok jadi pahlawan kesiangan. Tapi ya memang, aku benar-benar cinta kamu walaupun kamu belum bisa cinta aku. Cinta itu perlu waktu apalagi hatimu yang baru terluka. Aku harus menyembuhkan lukamu dulu, setelah itu barulah aku berusaha membuatmu jatuh cinta. Aku yakin, kamu bisa cinta aku kalau aku dengan tulus mencintaimu. Aku sangat yakin."
Menelan saliva, mendengar penuturan Alex. Lelaki yang baru berusia 20 tahun itu menunjukkan keseriusan dari raut wajah. Aku menghela napas berat. Bingung, menimpalinya bagaimana.
"Yang, aku mohon untuk kesekian kalinya, jangan batalkan acara pernikahannya. Kamu tetap melangsungkan pernikahan di hari itu dan aku yang menjadi pengantin pengganti prianya. Mau, ya? Please."
Pertanyaan itu yang aku tunggu dari tadi. Raut wajah Alex memelas. Aku mengulum senyum simpul lalu menganggukkan kepala.
"Hm, kalau begitu, sekarang a, aku mau terima saranmu, Lex."