Bab 9. Boleh Dong?

1205 Kata
"Serius, Yang? Kamu mau aku nikahin?" Terlihat rona bahagia dari raut wajah Alex. Aku tersenyum tipis, menganggukkan kepala. "Lex, kalau kamu jadi pengantin pengganti Erland, apa kamu gak merasa aku manfaatin?" Jujur, aku sangat tak enak hati. "Manfaatin bagaimana?" "Tadi kan kamu bilang, dengan aku menunjukkan kebahagiaan bersamamu di depan Erland, itu membuatnya sakit hati." "Oh itu. Gak masalah justru aku berterima kasih ke kamu udah mau memberikan kesempatan. Kesempatan menyembuhkan luka hatimu dan kesempatan membuatmu jatuh hati ke aku." Alex memang terlihat tulus. Tapi, bagaimana jika aku tetap tidak bisa jatuh cinta padanya? Aku terdiam, tidak tahu harus menanggapi seperti apa lagi. "Yang, kalau begitu, nanti malam kita beli cincin nikah. Aku gak mau make cincin nikah yang dibeli Kak Erland. Kamu mau anter 'kan?" Alex mengalihkan pembicaraan. Aku tersenyum kecut. "Lex, aku gak bisa anter kamu beli cincin. Kamu pilihkan sendiri aja ya?" Senyum Alex seketika memudar. Ia tersenyum miring, menganggukkan kepala. Aku tahu, Alex pasti kecewa tapi aku juga tidak mau mencari masalah baru. Walaupun Alex akan menikah denganku, bukan berarti aku mau diajak ke sana kemari. "Oke. Kalau kamu gak bisa. Gak apa-apa." "Ya udah, aku mau balik lagi ke kantor. Makasih kamu udah mau dengerin ceritaku dan mau menolongku." Aku harap, acara pernikahan kami nanti berjalan dengan lancar. Tidak terhalang oleh Erland atau siapapun. Demi kedua orang tua, rela dinikahi lelaki yang belum bisa aku cintai. "Mau aku antar sampe kantor?" "Enggak usah, makasih. Aku pamit." "Hati-hati, Yang." *** Sampai di lobby kantor, kulihat Erland duduk di sofa tunggu. Mau ngapain dia ke sini? "Mayang!" Baru saja membalikkan badan, Erland sudah memangggil. Jujur saja, Aku malas sekali bertemu dengannya. Pesan singkat yang Erland kirim berupa ancaman dan caci maki tidak aku respon sama sekali. Bagiku, membalas pesan tidak bermoral Erland, sama saja tidak bermoral. "Mau apa kamu ke sini?" tanyaku sinis, tanpa ingin berbasa-basi. Erland berusaha menggenggam telapak tanganku, namun aku tepis dengan kasar. "Jangan sentuh aku! Baiknya kamu pergi dari sini. Jangan pernah gangguin aku lagi. Ngerti?" Tidak akan kubiarkan lelaki busuk itu berbicara apalagi menjelaskan permasalahan yang tengah kami hadapi. Erland sudah sangat mengecewakanku. Dia benar-benar kurang ajar dan tidak mau meminta maaf pada kedua orang tua. Di mana kesopan santunannya? "May, kamu jangan marah-marah terus. Aku mau kita bicara baik-baik. Jangan dengan emosi." Aku mendelik tak suka mendengar ucapannya. "Maksudmu apa bicara baik-baik? Enggak ada yang perlu kamu bicarakan lagi terutama tentang hubungan kita yang udah berakhir di malam itu saat kamu satu ranjang dengan sekretarismu itu, Erland!" Sengaja, mengeraskan suara. Kulihat beberapa karyawan berhenti, melihat ke arah kami. Erland salah tingkah, ia menghela napas berat. "Kita bisa bicara di cafe seberang jalan, May. Ayok ikut aku!" "Enggak!" Langsung kutepis cekalan tangan Erland. Tak sudi bicara berdua dengannya lagi. "Kamu kenapa ngeyel banget sih, May? Aku cuma ingin diberi kesempatan buat jelasin dan memperbaiki diri. Acara pernikahan kita tinggal empat hari lagi, May. Aku gak mau membatalkan acara pernikahan kita. Enggak mau!" Sorot mata Erland sudah tidak ada lagi cinta dan kasih sayang. Memalingkan wajah ke arah lain, enggan menatapnya. "Acara pernikahan yang tinggal empat hari memang tidak aku batalkan. Aku akan tetap menikah di hari itu." Kulirik Erland tersenyum lebar. Dia pikir aku akan menikah dengannya? Tentu saja tidak. Aku tidak mau menikah dengan lelaki yang pernah tidur bersama wanita lain. Selama ini aku selalu berusaha menjaga mahkota seorang wanita. Aku ingin mempersembahkan mahkota ini pada suamiku kelak. Hanya pada suamiku. "Nah gitu dong. Aku yakin banget, kamu dan keluargamu pasti tidak mau menanggung malu karena acara pernikahan mewah itu akan dibatalkan. Jelas rugi dong. Terima kasih, Sayang. Terima kasih masih mau menikah denganku." Lucu sekali mendengar sifat percaya diri Erland. Aku menggelengkan kepala berulang kali, lantas menatapnya lekat. "Acara pernikahanku memang tidak dibatalkan. Tetapi, bukan berarti aku mau menikah denganmu setelah tau kamu berselingkuh, Erland! Malam itu sudah aku putuskan, aku gak akan mau menikah denganmu. Enggak akan mau," tandasku di iringi luapan emosi. Kedua mataku mulai memanas. Berharap tidak menangis di depan lelaki sampah macam Erland. Jika aku menangis, pasti dia akan bahagia. Erland mencebik, seolah menertawakan keputusanku. Biar, biarlah dia tertawa saat ini. Tapi sebentar lagi, aku pastikan Erland akan menahan malu atas perbuatannya sendiri. "Kalau kamu enggak mau aku nikahi, terus mau dinikahi sama siapa? Apa jangan-jangan kamu udah nyewa lelaki lain buat jadi pengantin penggantiku? Iya? Huh, dasar cewek murahan! Bilang aja kamu emang pengen ganti pasangan." Astaghfirullah, mulut Erland benar-benar tidak bisa dijaga. Sepertinya dia tidak merasa bersalah sedikit pun. Bagusnya makhluk model seperti Erland, lenyap di muka bumi. "Terserah apa katamu. Yang jelas, sampai mati aku enggak akan pernah mau kamu nikahi!" kataku tegas, meninggalkan Erland yang masih berdiri terpaku. Tak kupedulikan penilaian Erland yang menganggapku sangat rendah. Hati ini sudah sangat sakit hati dan kecewa. Tidak mungkin memberi kesempatan pada lelaki itu apalagi sebentar lagi kami menikah. Tidak mau menghabiskan waktu bersama lelaki b******k macam Erland. Tiba di dalam ruangan, kuhempaskan b****g di atas kursi kebesaran. Memejamkan kedua mata. Kenangan saat bersama Erland berkelebat. Lelaki yang dulu amat aku cintai dan aku percaya kini dengan teganya mengkhianati kepercayaan itu menjelang hari pernikahan. Suara dering handphone terdengar. Menyeka lelehan air mata, mengeluarkan handphone dari dalam tas. Melihat siapa yang menelepon, rupanya Alex. Menghela napas panjang, berusaha menetralisir perasaan. Alex tidak boleh tahu kalau aku baru saja bertemu dengan kakaknya. "Hallo, Lex?" sapaku setelah sambungan telepon berlangsung. "Kamu udah sampe kantor?" "Udah." "Ketemu Kak Erland?" Aku terkejut mendengar pertanyaan Alex. Apa mungkin tadi dia melihatku bicara dengan Erland di lobby? "Yang? Mayang jawab tanyaku!" Aku tersentak, menelan saliva dan menjawab, "Iya. Tadi aku ketemu dia. Kamu lihat di mana?" "Di parkiran. Ini aku lagi di prakiran kantormu." Keningku mengkerut mendengar jawaban Alex. "Ngapain kamu ke sini?" "Mau anterin dokumenmu yang tertinggal." "Dokumen? Bukannya tadi udah dibawa Tamara?" tanyaku sembari mengingat-ingat Tamara saat keluar restoran. "Enggak tau. Aku lihat di kursi satunya. Mungkin tertinggal. Gimana? Mau kamu yang temuin aku di sini atau aku yang temuin kamu di sana?" Aku terdiam sejenak. Berpikir, mana yang akan menimbulkan masalah lebih besar. "Kamu tunggu di sana saja. Aku yang turun lagi." "Oke." Meletakkan handphone di atas meja kerja, keluar ruangan, berjalan cepat menuju area parkir kantor. Kalau Alex yang ke ruanganku, nanti akan timbul banyak pertanyaan. Lebih baik aku yang menemuinya di area parkir. Kulihat Alex berdiri di samping sepeda motor ninja. Aku berjalan agak cepat ke arahnya. "Tadi Aku lihat Kak Erland di sini," kata Alex saat aku berdiri di hadapannya. "Mana dokumennya?" Aku enggan menanggapi ucapan Alex. Lelaki berusia 20 tahun itu menyerahkan dokumen yang tertinggal di restoran. "Terima kasih." "Yang!" Tiba-tiba Alex mencekal lenganku. "Apa?" "Apa Kak Erland menyakitimu?" Menghela napas berat, berusaha melepaskan cekalan Alex. "Enggak. Aku mau kerja dulu. Makasih udah repot-repot nganterin ini." "Oh, jadi begini cara kalian berselingkuh? Hebat!" Aku dan Alex terkejut mendengar suara dari arah belakang. Rupanya Erland masih ada di sini. "Pantas saja kamu gak mau aku nikahin, May. Ternyata kalian diam-diam berselingkuh. Luar biasa!" Aku sudah tidak tahan lagi dengan tuduhan Erland. Lelaki itu selalu merasa benar sendiri dan tidak mau mengakui kesalahannya. Tanpa berpikir panjang, kugamit lengan Alex dengan mesra. "Kalau iya kenapa? Kamu bisa selingkuh dengan sekretaris murahanmu itu! Aku juga boleh dong, selingkuh dan menikah dengan calon adik iparku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN