Kulihat kedua tangan Erland mengepal kuat. Raut wajahnya dipenuhi amarah. Aku tersenyum puas melihat ekspresi Erland. Dia pasti merasa harga dirinya diinjak-injak.
"Kurang ajar kalian! Wajahmu saja kelihatan polos, ternyata tukang selingkuh!" Maki Erland menatapku penuh kebencian.
"Lho, lho, tukang selingkuh kok teriak selingkuh? Lucu banget ya, Beb?" kataku menoleh pada Alex, bergelayut manja di lengannya.
Sukurin kau, Erland! Pembalasanku ini tidak seberapa. Kamu main gila dengan sekretaris gatel itu, aku bisa melakukan hal lebih dari yang kamu kira.
Mulai sekarang aku tidak boleh terlihat lemah. Erland harus merasakan apa yang aku rasakan.
"Sorry, Kak. Di acara pernikahan yang tinggal empat hari lagi, aku yang akan menjadi pengantin pria Mayang bukan Kakak."
Bagus, Alex. Untung saja dia bilang gitu. Aku ingin tahu, apakah Erland merasakan sakit hati atau tidak? Kalau pun tidak sakit hati, tidak masalah. Yang penting, aku tidak boleh menikah dengannya dan lebih baik dinikahi Alex.
"Jangan mimpi kamu, Lex! Aku gak akan melepaskan Mayang padamu begitu saja. Lihat saja, Mayang akan tetap menikah denganku bukan denganmu! Lepasin tanganmu dari dia, Mau!"
Erland berusaha menarik tanganku dari lengan Alex. Namun, sekuat tenaga kupegang lengan Alex.
"Kak, jangan kasar!" Teriakan Alex membuat Erland menghentikan aksinya. Aku bersembunyi di balik punggung Alex. Menyeramkan. Sudah tukang selingkuh, kasar pula.
"Mau, kamu harus nikah sama Aku bukan sama si Alex! Harus sama aku, May!"
"Najis!" Aku langsung menyela. Tak sudi menikah dengan lelaki yang sudah bercinta dengan wanita lain. "Kamu pikir aku mau kamu nikahi? Ngaca, Erland! Kamu itu udah punya pacar baru. Sekretarismu yang seksi itu. Sekarang biarlah kami menikah. Biarlah aku dan adikmu ini membina mahligai rumah tangga yang penuh kebahagiaan. Ya 'kan, Beb?"
Aku semakin sengaja menaburi garam dan cuka pada luka Erland. Aku harap setelah ini dia akan sadar dan tidak mempermainkan perempuan lagi.
"Iya, Sayang. Kamu betul sekali. Aku janji, akan membuatmu bahagia lahir dan batin." Alex menimpali, menatapku penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Beb. Aku sayang kamu deh."
"Sama-sama, calon istriku."
"Manusia gak tau malu! selingkuh sama calon adik ipar sendiri. Lex, lihat nanti di rumah, aku akan laporin kelakuan kalian pada papa dan mama." Erland mengancam. Aku dan Alex berusaha tetap tenang. Walaupun agak risih menggamit lengan Alex, tapi aku harus tetap tahan. Paling tidak sampai Erland pergi meninggalkan kami.
"Oh bagus, Kak. Jadi aku gak usah repot-repot kasih tau mama dan papa."
"b******k kalian!"
Erland berjalan cepat ke mobilnya, lalu melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Aku menghela napas lega setelah kepergian Erland. Melepaskan gamitan pada lengan Alex.
"Kenapa dilepas?" tanya Alex melirik lengannya sendiri.
Aku mendelik, mendengar pertanyaannya.
"Kakakmu juga udah pergi. Dah, ah. Aku mau masuk kantor dulu. Makasih dokumennya udah dianterin."
"Iya, Yang. Sama-sama. Nanti pulang aku jemput!"
"Gak usah!"
Enak saja. Dikasih hati minta jantung. Meskipun beberapa hari lagi kami akan menikah, tapi aku tidak mau terlalu dekat dengan Alex apalagi belum jatuh cinta padanya.
Sampai di ruangan, ada Tamara yang duduk menunggu.
"Kamu dari mana aja sih, May? Dari tadi dicariin baru nongol. Kata karyawan lain kamu udah pulang dari restoran dari tadi. Lah itu dari mana?" Cerocos Tamara ketika aku masuk ke dalam ruangan. Duduk di kursi kebesaran. Meletakkan dokumen yang diantarkan Alex.
"Ada apa?" Aku tak mau membahas dari mana aku pergi. Pekerjaan lagi banyak, tidak ada waktu membicarakan masalahku dengan Alex atau Erland.
"Aku mau kasih laporan bulan lalu. Laporan keuangan dengan proyek Mahadaya Tbk. Tadi mereka kirim email, katanya pengen memperpanjang kerja sama. Menurutmu bagaimana?"
Aku tercenung, tidak ingin langusng mengiyakan keinginan klien.
"Keuntungannya gimana? Sesuai target gak?"
Dalam dunia bisnis, tidak boleh gegabah mengambil keputusan meski keuntungan sangat besar dan menggiurkan. Perusahaan papa perusahaan yang besar. Kalau aku ceroboh mengambil keputusan, bisa fatal.
"Lebih dari target. Hanya saja, ada beberapa barang klien yang dikirim Mahadaya yang enggak sesuai, May. Agak menggecewakan sih menurutku, meskipun keuntungan yang kita peroleh lebih dari target."
Laporan Tamara membuat keputusanku berubah. Aku membuka lembaran demi lembaran laporan keuangan. Meneliti secara cermat. Kemudian, aku menandatangani hasil laporan keuangan itu.
"Kontrak kerja sama jangan diperpanjang. Aku gak mau kualitas barang yang kita terima nantinya akan membuat klien lain kecewa. Kalau mereka masih ingin kerja sama dengan perusahaan kita, kasih tau mereka agar tetap menjaga kualitas barang yang dikirim. Itu saja."
"Oke, nanti Aku sampaikan. Kalau begitu, aku keluar dulu."
"Iya."
Sejak papa mempercayakan perusahaan ini padaku, otomatis pekerjaan jadi bertambah banyak. Tidak hanya itu, papa juga telah mempercayakanku mengambil keputusan.
Sebelum mengetahui Erland berselingkuh, papa sudah berencana akan menyerahkan perusahaan ini padaku dan Erland yang mengelola. Bahkan Erland diberikan posisi lebih tinggi dibandingkan aku. Tetapi, rencana itu sekarang tidak mungkin terwujud. Mengingat pernikahan kami batal dan justru menikah dengan calon adik iparku sendiri. Kalau dibayangkan, lucu sekali jika nanti aku dan Alex tetap menikah dan membina rumah tangga apalagi usiaku lebih tua 5 tahun dari Alex. Mengggelengkan kepala, tak ingin terlalu memikirkan masalah itu dulu.
***
Sore hari, waktunya pulang dari kantor. Memutar pinggang ke kanan dan ke kiri. Rasanya sangat pegal. Melirik arloji, sudah pukul empat sore. Merapikan meja dan berkas-berkas lalu bersiap pulang.
Keluar ruangan, masih ada beberapa karyawan yang berada di ruangan masing-masing termasuk Tamara.
Melewati lobby kantor, terdengar seseorang memanggil.
"Yang!" Panggilan dari suara yang amat aku kenali. Yang, hanya Alex memanggilku dengan sebutan itu.
Alex berdiri di hadapan, senyumnya mengembang. Di tangan kanannya terdapat helm.
"Udah beres kerjanya?"
"Ngapain kamu ke sini?" tanyaku tanpa ingin menjawab pertanyaan Alex.
"Jemput calon istri. Kalau gak dijemput, sampe rumah takut lecet."
"Halah, garing! Gak usah, aku bawa mobil sendiri," kataku meninggalkan Alex. Namun, menit berikutnya Alex sudah berjalan di sampingku. Kami berjalan beriringan.
Baru saja hendak membuka pintu mobil, ternyata ban mobil kempes. Berjongkok, memeriksa ban kanan mobil yang kempes.
"Kenapa, Yang?" Alex yang sedari tadi kubiarkan mengekor bertanya.
"Ban mobilku kenapa kempes? mana gak ada ban serep? Ah siall!" Mulai frustasi. Kalau sudah begini, bakal repot.
Seingatku tadi waktu meeting di restoran Alex, baik-baik saja. Kenapa sekarang jadi kempes? Tidak mungkin kalau ada yang memakainya.
"Wah iya, aku suruh security restoran ganti ban-nya, ya?"
"Lah aku pulangnya naik apa?" tanyaku bingung. Malas sekali kalau pulang bareng Alex.
"Ya terserah kamu. Mau nunggu ban-nya diganti dulu atau mau pulang bareng aku lebih aman?"
"Halah, maumu!"
"Ya emang mauku. Udahlah, Yang. Pulang bareng aku aja. Kalau naik kendaraan umum, takutnya nanti dicegat kak Erland. Kalau nunggu mobil beres, ya lama. Terserah kamu, aku gak mau memaksa."
Tumbenn nih anak bijak. Biasanya suka maksa, tapi yang dikatakan Alex tidak sepenuhnya salah. Kalau aku naik kendaraan umum bisa saja Erland mengetahui dan mencegatku. Tapi, kalau aku menunggu sampai beres nih mobil, pasti sangat lama. Kalau pulang bareng Alex?
"Ya udahlah,aku pulang bereng kamu."
Langsung deh bibrnya tersenyum bahagia. Aku memutar bola mata malas, menggelengkan kepala.
"Nah gitu dong! Sebentar, aku mau telepon Mang Kirman dulu. Aku mau suruh dia perbaiki ban mobilmu. Bentar, Yang."
Aku bersandar di samping mobil, sedangkan Alex menelepon security-nya.
"Udah aku telepon. Kita pulang sekarang?" ujar Alex memasukkan ponsel ke dalam tas ransel, memindahkan ke depan.
Aku mengambil helm yang ada di depan motor, mengenakannya dan naik ke atas kendaraan roda dua.
Kendaraan kami pun melaju. Mendongak ke langit, suasana mendung. Hatiku harap-harap cemas, khawatir turun hujan. Namun, tidak berselang lama, yang aku khawatirkan terjadi.
"Lex, hujan. Gimana ini?" teriakku membuka kaca helm.
"Terserah kamu. Mau berhenti di halte apa lanjut?" Suara Alex yang tak begitu jelas membuatku semakin bingung. Sementara pakaian, sudah basah.
"Berhenti! Berhenti di warung itu!" Aku menunjuk warung makan yang berada di sisi jalan. Begitu motor berhenti, aku langsung turun. Alex berdiri di sisiku, melepaskan jaket dan menyuruh aku agar mengenakannya.
"Pakai jaketnya. Nanti kamu kedinginan."
Aku bergeming. Belum menerima pemberian Alex.
"Ck, lama! Sini, aku pakaein!"
"Biar aku sendiri!" kataku merebut jaket dari tangannya. Lalu mengenakan. Agak hangat dan nyaman.
"Ke dalam yuk! Minum yang hangat-hangat. Teh jahe merah, teh manis, atau kopi. Biar segeran. Mau, ya?"
Tak dapat menolak lagi, akhirnya aku pun mengangguk.
"Hujannya bakalan lama gak, Lex?" tanyaku saat kami duduk di kursi panjang.
"Maunya sih lama."
"Dih dasar!"