Jam tujuh malam, hujan baru reda. Aku dan Alex bersiap pulang. Mengenakan helm kembali, lalu naik ke atas sepeda motor. Sebelumnya mau telepon orang rumah, minta dijemput. Sialnya handphone mati. Alex sempat menawarkan handphone-nya tapi aku tidak hafal nomor handphone mama dan papa.
"Sudah siap?" tanya Alex.
"Dari tadi," kataku ketus.
Sepanjang jalan, tidak ada yang berbicara. Selain karena tidak ada yang dibicarakan, aku juga malas berbicara dengannya.
Di warung nasi tadi, Alex tak henti-henti menggoda dan memujiku. Mentang-mentang kami memperkenalkan diri sebagai calon pengantin, Alex dengan leluasanya menggodaku di depan pengunjung lain.
Saat kami masih menunggu hujan reda, aku sempat protes, kenapa Alex lebih suka naik sepeda motor dari pada naik mobil? Dia menjawab katanya tidak terlalu kena macet. Alasan klasik. Aku hanya berpikir, kalau naik mobil, paling tidak, tidak kepanasan. Kalau hujan, tidak kehujanan. Ah, dasar si Alex.
Memang naik sepeda motor lebih cepat sampai rumah. Buktinya sekarang saja kami sampai rumah dalam waktu tidak sampai satu jam.
Di depan rumah, melepaskan helm, menyerahkannya.
"Makasih."
"Sama-sama. Yang, aku pulang sekarang. Besok pagi aku jemput."
"Gak usah jemput."
"Ayoklah, beri aku kesempatan buat deketin kamu."
"Tapi, beesok aku udah amibil cuti. Kata mama, menjelang tiga hari acara pernikahan aku gak boleh keluyuran. Dah, ah, aku mau masuk dulu."
"Oh ya udah, bagus itu. Love you, Yang. Love you!"
Tak menanggapi ungkapan cinta Alex. Masuk ke dalam rumah. Berjalan menuju kamar. Namun, langkah kaki terhenti keetika melewati ruang keluarga.
"Kamu pulang sama Alex, May?"
Aku menoleh, mendekati mama dan papa sambil mencium punggung tangan mereka.
"Iya, Ma. Ban mobilku kempes. Gak ada ban serepnya juga. Maaf, aku gak kasih kabar. Hapeku lowbat." Mengungkapkan alasan. Aku tak mau kedua orang tua menaruh curiga.
"Enggak apa-apa. Papa dan mama udah tau kalau kamu pulang diantar Alex. Tadi orang yang nganterin mobilmu ke rumah, yang kasih tau." Papa menimpali.
"Jadi, mobilku sampai sini duluan?"
"Dari dua jam lalu."
Astaghfirullahalazim, tahu gitu, aku tunggu saja mobil selesai mengganti ban dari pada naik motor bareng si Alex. Ternyata pulang bareng Alex lebih lama sampai rumah dari pada menunggu ganti ban mobil.
"Aku pikir, pulang sama Alex lebih cepat sampai rumah dari pada nunggu ganti ban mobil, ternyata ...."
"Udah, jangan ngomong gitu. Mendingan sekarang kamu mandi, makan malam. Setelah itu, Mama dan papa mau bicara."
Aku menganggukkan kepala. Berjalan ke kamar.
Di dalam kamar, baru sadar kalau jaket Alex masih aku kenakan. Dipikir-pikir, sikap dan perlakuan Alex lebih manis dari pada Erland. Ah, mikir apa aku ini? Segera kutepis pikiran tentang Alex. Melepaskan jaket. Lalu berjalan ke toilet.
Selesai mandi dan ganti pakaian, keluar kamar, makan malam dan menemui mama dan papa. Mungkin pembicaraan yang ingin disampaikan terkait masalah acara pernikahan kami.
Makan malam aku nikmati sendirian. Melihat sekeliling, sepi. Mama dan papa sudah makan malam duluan. Tiba-tiba saja aku teringat Alex. Lelaki yang akan menggantikan Erland di acara pernikahanku nanti.
Sebelumnya, tidak pernah membayangkan menikah dengan lelaki yang belum aku cintai. Tapi, semua ini aku lakukan demi mama dan papa. Aku tak mau membuat mereka malu karena anak gadisnya gagal menikah. aku juga tidak mau mereka menanggung kerugian yang besar akibat pembatalan acara pernikahan.
Selesai makan malam, menghampiri mama dan papa.
"May, kamu udah bilang ke Alex, kalau kamu mau dia yang jadi pengganti pengantin pria-nya?" Mama memulai pembicaraan. Aku menganggukkan kepala.
"Kamu kan ingin menikah sekali dalam seumur hidup. Jujur saja, Mama dan papa takut nantinya kamu menyesal. Kalau emang kamu gak cinta sama Alex, jangan diteruskan acara pernikahannya. Besok Mama dan papa akan mendatangai WO, membatalkan acaranya."
"Jangan, Ma!" cegahku langsung.
Aku sudah sering merepotkan mama dan papa. Kali ini, aku harus rela berkorban. Seperti yang dikatakan Alex, suatu saat aku pasti bisa jatuh cinta padanya.
"Aku dan Alex udah membicarakan masalah ini. Kami udah sepakat menjadi sepasang pengantin di hari pernikahan itu. Mama dan Papa tenang saja. Alex kayaknya pria yang baik. Dia pasti bisa menjadi imam yang baik pula walaupun usianya lebih muda dariku. Sekarang aku gak peduli cinta atau enggak, yang penting dia mau tanggung jawab, memuliakan aku sebagai istrinya, itu udah lebih dari cukup." Aku mencoba menenangkan perasaan kedua orang tua. Wajar sekali jika mama dan papa mengkhawatirkan pernikahan atau rumah tanggaku nanti. Tetapi, semua ini harus berjalan sesuai rencana. Tidak boleh ada yang dibatalkan.
Mama dan papa saling pandang, menghela napas berat.
"May, apa yang membuatmu yakin kalau Alex sikapnya jauh lebih baik dari Erland?"
Pertanyaan Papa menohok hati. Aku menelan saliva, berpikir sejenak.
"Enggak tau sih, Pa. Cuma feeling aja. Tapi, selama aku mengenalnya, Alex memang baik. Dulu sih, waktu aku sama Erland masih menjalin hubungan, kami jarang ngobrol. Memang Alex beberapa kali kasih tau soal perselingkuhan Erland, tapi hanya lewat pesan singkat. Enggak pernah ia mengajak ngobrol berdua kecuali malam itu. Malam itu pun aku yang minta dia jemput ke sini. Aku ingin melihat langsung perselingkuhan Erland. Dan ternyata benar."
Kini, sudah tidak ada lagi tangisan ketika menceritakan perselingkuhan Erland. Mungkin karena di hati ini tidak ada lagi cinta untuknya.
Cerita yang aku sampaikan membuat suasana hening. Kekhawatiran jelas terlihat dari raut wajah mama dan papa. Wajar, jika kekhwatiran mereka alami. Jangankan mereka, aku juga khawatir kalau rumah tangga kami nanti seumur jagung. Ah, entahlah. Aku pun bingung.
"Ya sudah, Papa dan mama enggak akan memaksa kamu harus mengambil keputusan begini atau begitu. Kami akan menghargai apapun keputusanmu, Nak."
Aku tersenyum menganggukkan kepala.
"Mama dan papa hanya bisa mendoakanmu, semoga pernikahan kalian nanti dipenuhi keberkahan, menjadi keluarga sakinah mawaddah warrohmah. Aamiin."
"Aaamiin."
Pembicaraan malam ini berakhir. Aku kembali ke kamar.
Di dalam kamar, melihat handphone yang aku charger, mengaktifkan. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan pesan singkat. Salah satunya dari Erland. Sengaja, tidak aku buka pesan Erland. Malas.
***
Esok harinya, sekitar jam sepuluh pagi, aku dikejutkan dengan kedatangan Alex dan Om Erlangga.
"Om Er dan Alex aja yang datang, Ma?" tanyaku saat mama masuk ke dalam kamar, memberitahu kedatangan mereka.
"Iya, Nak. Papa lagi menyambut mereka. Kamu temui dulu, ya?"
Aku menganggukkan kepala. Keluar kamar, berbarengan dengan mama menuju ke ruang tamu.
Ternyata benar, yang datang hanya Om Erlangga dan Alex.
"Mayang, ada yang ingin Om sampaikan padamu, Nak." Om Erlangga membuka percakapan. Aku duduk di sofa bersama mama. Sedangkan papa duduk di sofa tunggal. Alex dan Om Erlangga di sofa yang bersebrangan denganku.
"Iya, Om. Mau menyampaikan apa?" Aku menimpali ucapan Om Erlanggga. Jujur saja, hatiku berdebar-debar. Apa mungkin kedatangan Alex dan Om erlangga ke rumahku ingin membatalkan rencana peenikahan dengan Alex? Melirik ke Alex, lelaki itu tampak diam dan sangat tenang.
"Begini, Mayang, Pak Pram dan Ibu Pram. Kedatangan saya dan Alex ke sini ingin melamar Mayang. Sebelumnya saya minta maaf atas kekurangajaran Erland, dan saya telah mengingkari janji untuk mengganti kerugian acara pernikahan yang rencana sebelumnya mau dibatalkan."
Pihak keluargaku terdiam. Membiarkan Om Erlangga berbicara lebih dulu.
"Jujur saja, saya dan pihak keluarga tidak sanggup mengganti rugi pembatalan acara pernikahan itu. Saya juga bingung dan menyesal tidak bisa memenuhi janji saya. Semalam Alex berbicara empat dengan saya. Katanya, Nak Mayang sudah bersedia dinikahi Alex dan mengurungkan pembatalan acara pernikahan. Saya sangat bersyukur dan bernapas lega."
Raut wajah Om Erlangga sumringah. Menoleh pada Alex yang tersenyum. Aku hanya diam.
"Lalu, kedatangan Pak Er dan Nak Alex ke sini apa?" Sepertinya papa sudah tidak sabar ingin mengetahui alasan utama ayah dan anak itu datang ke rumah kami.
Alex mengeluarkan kotak merah berbentuk hati, berjalan mendekatiku dan duduk bersimpuh di hadapan. Sontak aku terkejut meliihat sikap Alex.
"Mohon maaf, Tante, Om, kedatangan saya dan papa ingin melamar Mayang, anak gadis Om yang cantik jelita dan baik hati."
Aku menelan saliva melihat aksi Alex yang persis di film-film. Wajahku memanas karena malu. Sepanjang aku dan Erland menjalani hubungan, lelaki itu tidak pernah bersikap seperti Alex. Tidak dapat dipungkiri, hatiku senang mendapat perlakuan manis dari Alex. Alex membuka kotak cincin, mengangkat ke depanku.
"Mayang, will you marry me?"