Bab 12. Pengusiran

1337 Kata
Jujur, aku salah tingkah melihat aksi Alex seperti di film-film. Bagiku ini sangat romantis. Air mata haru tak terasa mengalir di pipi padahal aku sangat sadar, belum bisa mencintai dia. "Yang?" panggil Alex lirih. Tatapan matanya begitu sendu. Aku merunduk sejenak, lalu dengan tangan gemetar, kuraih kotak berbentuk hati dan berwarna merah dari tangan Alex. Lalu, menganggukkan kepala. Alex tersenyum, berdiri, aku pun berdiri di hadapannya. Alex mengambil cincin di dalam kotak, menyematkan di jari manisku. "Terima kasih, Yang. Terima kasih udah mau menerima lamaranku," kata Alex tersenyum lebar. "Iya, sama-sama." Kami duduk kembali. Pembicaraan masalah pernikahan pun dimulai. Papa, Mama serta Om Erlangga menceritakan tentang apa saja yang akan kami lakukan di acara pernikahan nanti. "Tapi, pada acara pernikahan Matang dan Alex nanti, saya ingin memberitahu alasan kenapa Mayang tidak menikah dengan Erland dan justru menikah dengan calon adik iparnya," ucap papa tegas. "Kenapa begitu, Pak Pram?" Om Erlangga tampak tak mengerti. "Karena kami selaku orang tua tidak mau Mayang disalahkan apalagi sampai dituduh selingkuh duluan. Saya akan menceritakan semuanya tanpa ada yang dikurangi atau dilebihin. Pak Erlangga tenang saja, kami masih punya etika." Jawaban papa membuat Om Erlangga dan Alex saling pandang. Aku tahu, Om Erlangga pasti takut nama baiknya akan tercoreng. Ia belum menimpali, Om Erlangga justru terlihat bingung. "Pak Er gak perlu malu karena perbuatan Erland. Toh dia kan bukan anak kandung Pak Er. Hanya anak Ibu Erna dari suami sebelumnya. Sudahlah, tidak perlu Pak Er pikirkan masalah itu. Mayang ini anak kandung kami, sudah menjadi kewajiban menjaga nama baiknya." Aku tersentak kaget mendengar ucapan papa yang mengatakan kalau Erland bukan anak kandung Om Erlangga. Aku pikir, Erland adalah anak sulungnya ternyata bukan. Pantas saja Tante Erna lebih menyayangi Erland dari pada Alex. Melirik Alex, lelaki itu merunduk sedih. Kalau memang dia bukan anak kandung tante Erna, lalu siapa ibu kandungnya? Om Erlangga terlihat menarik napas panjang. Ia kembali menatap papa. "Pak Pram benar. Tapi, meski bagaimana pun, Erland sudah saya anggap anak sendiri. Ya sudah tidak apa-apa. Saya juga sanksi sebenarnya kalau Erland dan mamanya akan menghadiri pernikahan Alex dan Mayang. Mereka belum bisa menerima." Ya Allah, kalau Erland belum bisa menerima pernikahanku dengan Alex, apakah lelaki itu tidak akan mengacaukan acara kami? Jangan sampai ya Allah. Aku terus berdoa. Tujuanku menikah dengan Alex ingin menjaga nama baik mama papa, tapi aku takut Erland melakukan kekacauan. "Justru saya yakin kalau Erland akan datang dan mungkin akan memancing keributan. Oleh karena itu, masalah Erland, biar nanti saya yang urus." Aku dan mama sontak menoleh pada papa. Sepertinya papa mempunyai rencana lain. Om Erlangga terkejut, keningnya mengkerut mendengar ucapan papa. "Apakah Pak Pram akan mencelakai Erland?" Jelas sekali rasa cemas dari raut wajah dan intonasi suara Om Erlangga. Aku salut padanya, meskipun Erland telah membuatnya malu walaupun bukan anak kandung, tapi Om Erlangga masih memikirkan nasib Erland. Papa tersenyum miring, menggelengkan kepala. "Enggak, Pak Er. Anda pikir saya penjahat? Saya hanya mengurungnya saja agar tidak keluar sampai acara pernikahan Alex dan Mayang selesai. Itu saja." Penjelasan papa membuat kami bernapas lega. Tidak menyangka kalau papa punya rencana seperti itu. Erland memang harus dikurung sementara waktu. Jika Erland dibiarkan berkeliaran, aku sangat yakin dia akan datang ke acara pernikahanku dan membuat keributan. "Baiklah, saya percaya pada Pak Pram. Terima kasih Pak, sudah mau menerima lamaran Alex dan tidak meminta ganti rugi pada kami. Jujur saja, kami tidak memiliki banyak uang untuk mengganti kerugian kalau acara pernikahan ini dibatalkan." Kasihan Om Erlangga. Memiliki perusahaan besar tapi aku dengar sering kekurangan modal. Papa sendiri sudah sering memberinya suntikan modal untuk perusahaan yang tengah dipimpin Erland. Sekarang aku mulai mengerti, kenapa Alex lebih memilih buka usaha sendiri? Mungkin karena Erland terlalu menguasai. "Ya sama-sama. Kami juga berterima kasih pada Alex, karena bersedia menikah dengan Mayang padahal Alex sendiri tau kalau anak kami belum bisa mencintainya." Aku merunduk mendengar ucapan papa. Antara malu, sedih dan bingung. Cinta tak bisa diundang untuk datang atau disuruh pergi kecuali ditaburi luka. Mungkin kalau hati ini telah terluka, perasaan cinta akan berangsur pergi. "Enggak apa-apa, Om. Saya punya satu keyakinan, suatu saat nanti Mayang akan bisa membalas cinta saya. Saya yakin." Alex terlalu percaya diri. Namun, aku pun mengaminkan. Suatu saat ingin mencintai suami sendiri. "Alhamdulillah, kami turut mendoakan Nak Alex." Kali ini mama yang menimpali. "Pak Pram dan Ibu Widuri, kalau begitu kami pamit pulang dulu. Saya berharap acara pernikahan Alex dan Mayang berjalan dengan lancar. Aamiin." "Aamiin." Aku, mama dan papa mengantar mereka sampai depan rumah. Hari ini Alex membawa mobil bersama papanya. Setelah kepergian Alex dan Om Erlangga kami pun masuk ke dalam rumah. Namun, baru saja hendak ke ruang keluarga, terdengar suara bel berbunyi. "Biar aku aja yang buka pintunya, Ma," ucapku menghentikkan langkah mama. "Oh ya udah." Aku berjalan ke arah pintu depan. Berpikir, siapa yang datang. Apa mungkin Alex kembali lagi? Setelah membuka pintu, kedua mata membeliak. Terkejut, melihat Erland sudah berdiri di depan pintu. "May, tolong izinkan aku bicara lagi." Aku langsung menutup pintu tapi sial, Erland justru menghalangi pintu agar tertutup. "May, dengerin aku dulu! Aku gak mau batal nikah sama kamu! Aku gak akan biarin kamu nikah sama si Alex. Gak akan, May! Kita harus tetap menikah, Mayang. Harus!" Tubuhku terpelanting ke belakang, Erland mendorong pintu sangat keras. "Mayang!" Suara mama terdengar dari belakang. Tidak hanya mama, papa pun menghampiri. Mama merangkul pundakku. "Erland! Jangan kurang ajar di rumah kami!" Sentak papa berjalan cepat ke depan, mendorong tubuh Erland agar menjauh dari pintu. Aku dan mama mendekati papa, memegang lengannya agar tidak tersulut emosi. "Om, Tante, saya minta maaf. Saya benar-benar menyesal karena telah berselingkuh. Tolong nikahkan saya dengan Mayang. Saya yakin, kalau Mayang sangat cinta pada saya. Saya yakin." Aku, mama dan papa terkejut seraya mengucapkan istighfar bersamaaan. "Dasar cowok gila! Sok kecakepan, sok kepedean! Asal kamu tau, sejak aku melihatmu satu ranjang dengan wanita itu, cintaku sudah hancur berkeping-keping. Sedikit pun tidak ada keinginan menjadikanmu suamiku. Tidak ada, Erland!" kataku tegas, melotot ke arah lelaki yang wajahnya mulai memerah, mungkin karena menahan emosi. "Apa karena Alex? Apa karena Alex telah menggodamu, Mayang? Sampai kamu tidak mau aku nikahi?" "Kalau iya kenapa? Aku rasa, bukan urusanmu lagi, Erland! Hubungan kita udah berakhir. Lagi pula kamu duluan yang mulai selingkuh, kamu yang telah nyakitin hatiku. Jadi wajar kan, kalau aku juga melakukan hal yang sama? Sakit dibayar sakit, luka dibayar luka bahkan nyawa dibayar nyawa. Paham kau, Erland?" Aku terus bicara, mengabaikan usapan lembut tangan mama pada punggung. "Tenang, anakku. Tenang ... kamu gak boleh tersulut emosi." Mama berusaha menenangkan tapi kali ini aku tidak mau terlihat lemah dan bersedih lagi di depan Erland. Aku lelah. "Bagus, Mayang. Papa suka cara bicaramu. Lelaki sampah seperti Erland, jangan pernah kamu kasih kesempatan. Erland, kalau kamu ingin tetap menikah, kenapa tidak kamu nikahi saja sekretarismu itu? Nikahi saja dia, Erland. Jangan pernah berharap Mayang mau kembali lagi padamu. Karena apa? Kami selaku orang tua Mayang, tidak akan pernah memberi restu jika Mayang menikah denganmu. Tapi, kami akan sangat memberi restu jika Mayang menikah dengan calon adik iparnya, Alexander Putra Erlangga." Tanpa disadari, aku tersenyum simpul mendengar ketegasan papa. Ekspresi wajah Erland sudah tidak dapat menahan emosinya. Kedua tangan Erland mengepal kuat, menatap papa nyalang, seperti sangat membenci. "Nak Erland, sebaiknya sekarang Nak Erland pergi ya? Jangan mengganggu Mayang lagi. Bukankah sekarang Nak Erland senang karena tidak memiliki kekasih seperti Mayang yang norak, terlalu kolot dan tidak pernah mau diajak bercinta olehmu sebelum menikah? Bukannya sekarang kamu juga senang, sekarang bisa dengan bebas bercinta dan menjalin kasih dengan banyak wanita? Jadi kami mohon, silakan pergi dari sini dan jangan pernah kembali menggangu Mayang lagi. Tante dan Om sudah tidak sudi memiliki menantu sepertmu, Erland." Ternyata ucapan mama lebih menyakitkan dari pada papa. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga yang begitu sayang dan perhatian padaku. Semoga mama dan papa selalu sehat dan bahagia. "Begitu, ya? Keluarga sombong! Enggak bisa dibaikkin. Om, Tante, saya tidak akan pernah lupa penghinaan kalian hari ini. Sampai saya mati, saya akan mengingatnya! Dan saya, enggak akan ngebiarin Mayang dan Alex hidup bahagia. Gak akan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN