Alex memutuskan menemaniku di kantor. Katanya, dia tidak mau aku sendirian. Takut aku kenapa-napa. Kalau dibandingkan dengan Erland, Alex jauh lebih perhatian dan peduli padaku. Dari dulu aku tidak pernah meminta Erland memberi perhatian lebih. Sekarang ketika Alex memberi perhatian, aku merasa aneh tapi tidak dapat dipungkiri hati bahagia. Menoleh padanya, Alex tengah menatap sambil senyam-senyum tak jelas. "Kenapa lihatin aku kayak gitu?" Alex tersentak, senyumnya semakin mengembang. "Kamu cantik," pujiknya menumpu kedua tangan di atas meja. Tadinya dia duduk di sofa sudut ruangan, tetapi entah mengapa sekarang dia justru duduk di kursi yang bersebrangan denganku. "Halah, gombal!" Bibirku mengerucut. Gombalan Alex sering kali membuatku geli. "Serius, Sayang." "Lebih baik sekarang

