Dasar Alex! Selalu saja ada tingkahnya yang menyebalkan. Akhirnya aku bisa bernapas lega setelah ia pergi dari ruangan. Kalau masih ada Alex, aku gak akan bisa fokus. Pintu terdengar diketuk, aku mempersilakan masuk. Ternyata Tamara. "Tadi Alex ke sini?" Aku mengerutkan kening, mendengar pertanyaan Tamara. "Kamu ketemu dia?" Aku tak menjawab tanya Tamara. Wanita yang masih jomblo itu duduk di kursi yang bersebrangan denganku. "Iya. Tadi di depan pintu lift. Oh ya, May. Semalam Erland datang ke rumahku. Dia minta aku supaya membujukmu mau balikan lagi sama dia. Ih, menyebalkan. Lama-lama si Erland gak tau malu." Aku tak menanggapi ocehan Tamara. Malas sekali mendengar cerita lelaki yang pernah menyakiti hati ini. Biarlah, Erland cukup menjadi masa lalu. Aku tidak mau mengingat apap

