Ting! Suara pintu lift terbuka. Alex mensejajari langkah kaki. "Iya. Tadi dia cerita ke aku waktu ketemu di depan lift." Kami berjalan menuju ruangan. Aku dan Alex beberapa kali menoleh ke belakang, khawatir orang yang kami bicarakan ada di belakang. "Kita ngomongnya di ruangan aku aja." "Oke." Setelah masuk ruangan, aku mengunci pintu, takutnya Tamara tiba-tiba masuk ke dalam tidak mengetuk pintu dulu. "Wah, udah siap-siap kayakya nih." Celetukkan Alex membuatku memutar bola mata malas. Aku sudah tahu maksud ucapannya ke arah mana. Alex pikirannya dari tadi tidak jauh-jauh dari m***m. "Aku kunci pintu supaya Tamara gak kepergoki kita lagi ngomongin dia, geer banget kamu!" kataku duduk di sebelahnya. Alex duduk di sofa panjang sudut ruangan. Ia melepaskan ransel, tertawa renyah.

