Alex menarik lenganku agar ikut menemui wanita yang telah melahirkannya. Suster mengikuti kami dari belakang. Membuka pintu, terlihat mama Alina tengah duduk di sofa depan televisi. "Mamah!" Panggil Alex, masuk ke dalam kamar. Raut wajah mama Alina terlihat cerah dan senyumnya mengembang. "Anakku," panggil mama Alina, merentangkan kedua tangan. Alex menghambur dalam pelukan. Ia menangis, aku duduk bersimpuh di samping Alex. Sedangkan Suster, keluar kamar, menutup pintu. Memberi ruang pada kami berbicara. Sungguh suatu keajaiban, belum satu hari mama Alina keluar dari rumah sakit jiwa, keadaan jiwanya sudah membaik bahkan tatapannya sudah tidak lagi kosong. Andai saja dari dulu dibawa pulang ke rumah ini, mungkin sekarang mama Alina sudah sembuh. Mereka melepaskan pelukan. Mama Alina

