Hujan yang turun membasahi muka bumi. Membuat api yang melalap semua bangunan di tempat Zervanos pun padam. Tampak jelas sisa-sisa bangunan yang tidak menjadi abu. Menyisakan warna hitam gosong pada tiap bangunan. Kepulan asap tak lagi tampak mencemari langit. Hanya awan hitam yang dominan mengisi langit.
Tubuhnya Juan tergeletak dalam posisi telungkup. Wajahnya mencium permukaan tanah. Air turun dari atasnya menghujani tubuhnya. Tiap tetes air yang turun terasa di atas punggungnya. Juan kemudian mengangkat perlahan wajahnya. Menatap ke arah depan. Langkah tanpa arah rupanya membawa Juan kembali. Ke tempat pesakitan penuh derita.
Juan menatap markasnya yang sudah dibumi hanguskan oleh El-Chapo. Tatapannya tajam melihat ke arah markasnya. Tempat itu, dulu menjadi tempat paling nyaman baginya. Tempat di mana semua harapannya dan semua anggota Zervanos tinggal. Yang tersisa hanya bangunan bekas terbakar yang hampir roboh.
Terlihat di hadapannya, mayat-mayat dari anggotanya yang tergeletak. Masih dalam keadaan berbaris rapi bekas El-Chapo dan anak buahnya yang melakukan. Juan lantas segera bangkit, dengan sisa tenaganya berjalan perlahan mendekat. Beberapa dari anggotanya mati dalam keadaan tak wajar. Terdapat banyak bekas luka bahkan sebagian ada yang kehilangan organ tubuhnya.
Kekejian yang terkenal dari kelompok The Son of Lucifer adalah mereka selalu mengambil organ tubuh dari lawan mereka. Menjadikannya pajangan atau aksesoris. Kenang-kenangan sebagai bukti dan pengingat kalau mereka pernah menang melawan suatu kelompok. Hal serupa yang terjadi pada kelompok Zervanos. Mereka dijadikan bahan koleksi selanjutnya The Son of Lucifer.
Juan tak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan pahit ini. Ia kemudian berinisiatif membuat sebuah lubang yang cukup besar. Nantinya, ia akan memasukkan seluruh anggotanya satu per satu ke dalam lubang tersebut. Sebagai bentuk penghormatan terakhir darinya, menguburkan anggotanya dalam satu liang lahat yang sama.
Pembuatan lubang besar pun dimulai. Di bawah guyuran hujan yang tak kunjung reda, ditemani suara guntur yang menggelegar. Juan mulai menggali dengan peralatan seadanya. Kayu dan benda-benda lainnya yang ia temukan dijadikannya alat untuk menggali. Sisa-sisa tenaganya dikerahkan, pelan-pelan ia gali tanah. Hingga tanah perlahan mulai berlubang.
Waktu terus bergulir tanpa terasa malam telah tiba. Pembuatan lubang yang dilakukan oleh Juan pun hampir selesai. Hujan yang sejak tadi mengguyur pun, kini telah berhenti. Menyisakan hawa malam yang dingin sehabis hujan. Tubuh Juan merasakan dingin yang begitu luar biasa, tapi tak ia hiraukan. Ia terus menggali hingga dirasa galiannya sudah cukup dan lubang yang ia buat bisa menampung seluruh anggotanya.
Juan yang selesai membuat lubang sebagai liang lahat kemudian keluar dari lubang tersebut. Ia menyalakan perapian dengan kayu yang ada. Tujuannya agar sedikit menghangatkan tubuhnya. Meski terlihat mustahil sebab kayu yang ada basah oleh air. Juan tetap mencoba membuat api. Beberapa kali usahanya gagal hingga akhirnya api pun menyala. Ia merasakan sedikit lebih hangat dibanding sebelumnya.
Merasakan tubuhnya sudah lebih hangat, Juan lalu mulai memasukkan satu per satu anggotanya ke dalam lubang. Ia menarik anggotanya lalu menjatuhkannya ke dalam lubang. Nafasnya tersengal-sengal kelelahan karena melakukannya seorang diri. Tibalah di akhir dari anggotanya yang tersisa. Ia menjatuhakan mayat itu ke dalam lubang, menandakan telah semua anggota Zervanos ia masukkan ke liang lahat.
Juan terduduk di sisi lubang di dekat api yang menyala. Nafasnya diatur, meski masih terdengar terngah-engah. Rasanya sangat melelahkan untuknya. Juan kemudian menanggalkan jaket dan segala atribut tentang Zervanos. Ia melemparkannya ke dalam lubang tersebut. Menyisakan sebuah kalung yang ia kenakan. Satu-satunya identitas yang tersisa dari Zervanos.
“Kalian semua hidup dalam satu kesatuan dan akan mati dalam persatuan. Aku, Juan! Bangga pernah memiliki anggota seperti kalian. Segala hormat dariku untuk kalian yang terakhir kali. Maafkan aku! Akan kubalas semuanya! Demi kejayaan Zervanos!” ujar Juan di depan lubang.
Ia kemudian menyelesaikan apa yang sudah ia mulai. Menutup lubang itu, menguburkan semuanya dalam satu liang lahat. Terus ia lakukan hingga lubang tersebut benar-benar tertutup. Setelah selesai Juan kemudian menancapkan sebuah kayu di atas lubang tersebut. Sebagai tanda kalau itu adalah sebuah kuburan. Ada yang dikuburkan di bawah ini.
Juan duduk di tepi lubang di dekat perapian yang ia buat. Tangannya mendekat ke arah api untuk merasakan kehangatan. Ketika tengah menghangatkan tangannya, ia melihat kedua telapak tangannya. Kedua telapak tangannya penuh dengan luka. Ia merasakan perih setelahnya. Selesai pertarungan panjang hari ini, baru ketika malam tiba ia merasakan letih dan perih bekas lukanya.
Malam semakin larut, cahaya bulan yang sebelumnya tertutup awan kini sudah terlihat. Suara binatang-binatang di malam hari meramaikan suasana. Tapi kantuk sudah mulai menyerang Juan. Rasa lelah tubuhnya melengkapi semuanya. Juan kemudian membaringkan tubuhnya tak jauh dari api. Agar, tubuhnya tetap merasa hangat ketika tidur.
Matanya sayup-sayup, menginginkan untuk segera terpejam. Juan tak punya pilihan selain menuruti keinginan matanya. Ia pun akhirnya memejamkan mata dan tertidur. Memasuki dunia mimpinya, Juan mendapatkan kembali mimpi buruk. Ia seolah tak diberikan ketenangan bahkan ketika tidur. Di dunia nyata Juan tampak mengigau sedang di dalam mimpi Juan tengah bermimpi buruk.
Hal itu terjadi hingga pagi hari tiba. Juan pun dibangunkan oleh sinar matahari yang perlahan meninggi. Juan membuka mata, mengakhiri penderitaannya yang lain dari dunia mimpi. Ia kemudian bangkit dan hendak pergi dari tempat tersebut. Sebelum pergi, ia menatap sekali lagi ke arah markasnya dan ke arah sekitar. Untuk yang terakhir kalinya sebelum ia benar-benar memutuskan untuk pergi.
Puas melihat sekitar dan menikmati momen terakhir di tempat tersebut, Juan lantas mulai melangkah pergi. Ia melepaskan ikat rambutnya dan membiarkan rambut panjangnya terurai. Ia ingin berjalan menuju kota, tapi dalam keadaan yang tak akan dikenali oleh orang lain. Melakukan penyamaran agar tetap bisa menyelinap di tengah-tengah kerumunan.
Tibalah ia di pintu masuk kota. Dari tempatnya berdiri sudah tampak hingar bingar dan suara riuh kota. Klakson kendaraan dan banyaknya orang yang lalu-lalang. Juan berjalan memasuki kota dengan perlahan. Ia melihat pakaian yang dijemur di salah satu rumah. Tanpa pikir panjang ia lantas mengambilnya.
Ia kemudian mengenakan pakaian yang berupa jaket tersebut. Penyamaran kini ia lakukan. Ia menutup wajahnya dengan masker dan kepalanya dengan topi jaket. Merasa sudah pas, barulah ia memasuki kota dan berjalan di tengah keramaian. Ketika berjalan di trotoar, Juan langsung bertemu dengan dua orang anggota The Son of Lucifer. Ia hendak memberikan mereka pelajaran, tapi terhalang.
Tangannya sudah mengepal, tapi tak dapat melayang. Ia teringat, bukan sekarang momen yang tepat. Ia kemudian membiarkan kedua anggota tersebut lewat tanpa mencegatnya. Juan kemudian terus berjalan hingga masuk ke dalam sebuah bar. Ia berjalan menuju ke tempat bartender dan memesan sebuah minuman.
Ia duduk sambil terus menghindari kontak wajah dan mata dari sekitar. Menghindari orang-orang yang penasaran ingin melihat wajahnya. Ketika tengah duduk minum, ia mendengar dua orang yang tengah berbincang di sampingnya. Dua orang tersebut seperti tengah serius membicarakan sesuatu. Juan yang sempat tak menghiraukannya mendadak menjadi pensaran. Karena samar-samar salah satu dari orang tersebut membahas tentang kelompok mafia.
“Kau tahu? Kudengar dari temanku, The Son of Lucifer dan semua aliansi mafia di kota ini bersatu untuk berperang,” ujar salah seorang dari mereka.
“Oh, ya? Siapa yang mereka lawan? Sampai-sampai seluruh mafia di kota ini bergabung.”
“Aku dengar-dengar kelompok yang mereka lawan itu penghianat.”