Mendengar jawabannya Marco, Juan menjadi naik pitam. Seketika ia menghadiahi sang adik bogem mentah atas kelancangannya dan kebodohannya dalam bertindak.
Bukk! Pukulan keras mendarat tepat di wajahnya Marco.
“Dasar bodoh! Kau tidak tahu kalau kita sedang menandatangani perjanjian damai? Seluruh gangster dan mafia di kota ini sepakat untuk berdamai. Kau tidak mengerti hal itu? Kenapa kau begitu lancing?!” Juan memberikan pukulan hingga membuat Marco terjatuh.
Juan hendak mendekati Marco dan memberikannya kembali beberapa pukulan. Akan tetapi, hal itu berhasil diredam oleh anggota lain yang langsung memisahkan. Mereka menahan Juan yang akan memukuli Marco.
“Memangnya kenapa kalau aku lakukan hal ini? Kau bukannya senang? Beginikah sosok Juan kakakku yang pemberani dan disegani oleh banyak orang? Kenapa ia mendadak menjadi pengecut dan tidak berani untuk melawan? Kenapa kau menjadi tunduk pada peraturan yang orang lain buat? Kau menjadi b***k bagi mereka yang membuat perjanjian. Mana jati dirimu?!” Marco memprovokasi Juan dengan kata-katanya. Marco merasa tak puas dengan sikap sang kakak yang justru menyalahkannya dan menganggap hal yang ia lakukan adalah kebodohan.
Mendengar hal itu tentu Juan semakin marah. Ia semakin ingin menghajar sang adik atas kebodohan yang semakin jadi yang ia perbuat.
“Kau kira apa yang kau lakukan benar?! Biar kuajari kau sopan santun ketika berbicara padaku! Agar kau tahu kalau aku tetap Juan yang sama yang kau kenal beringas! Lepaskan aku!” Juan berontak dan mencoba melepaskan diri dari banyaknya anggota yang menahannya.
“ Beginikah caramu sekarang memimpin? Sudah hilangkah wibawamu sebagai seorang mafia? Berlindung dalam perjanjian damai?” ujar Marco.
“Cukup, Marco! Kau tidak bisa meredam dan menyelesaikan masalah ini. Kau hanya membuat Juan semakin marah dan murka padamu. Lebih baik kau diam. Juan melakukan ini semua demi kebaikan kita juga. Kau tidak boleh berkata seperti itu padanya. Ia lebih mementingkan kelompok ini ketimbang dirinya sendiri. Hal yang sulit kau mengerti darinya,” ujar salah seorang anggota mencoba menasehati Marco.
Marco yang terpojok hanya bisa diam. Meski hatinya ingin terus berontak. Tak bisa menerima kenyataan harus tunduk pada surat damai. Ia ingin Zervanos tidak tunduk pada peraturan siapa pun.
“Sekarang lebih baik, kau kembalikan semua barang ini. Semoga saja El-Chapo mau menerimanya. Katakan saja kalau ada kecelakaan sehingga barang ini bisa ada padamu,” ujar salah seorang anggota memberikan usulan.
“Kembalikan? Kau bermimpi? Aku tidak akan mengembalikan apa yang sudah menjadi milikku. Kalau kalian tidak mau mengakui ini sebagai milik kalian, maka biarlah ini menjadi milikku sendiri. Aku tidak keberatan untuk hal itu. Kalian juga tidak perlu takut karena, aku yang memiliki ini atas nama pribadiku dan tidak melibatkan Zervanos.”
Tak berselang lama, seorang anggota kembali dengan tergesa-gesa. Anggota tersebut di tempatkan sebagai mata-mata agar tidak ada serangan tiba-tiba dari kelompok lain secara mendadak. Melainkan, kelompok Zervanos sudah siap untuk serangan itu.
“Juan! Juan! Gawat! Gawat!” teriak anggota tersebut sambil berlari.
“Ada apa? kenapa kau berlari? Siapa yang melakukan penyerangan?!”
“The Son of Lucifer datang menyerang. Mereka datang dengan membawa begitu banyak anggota. Mereka seperti ingin menghancurkan kita.”
Mendapatkan informasi dari mata-matanya yang berjaga. Juan menarik nafas panjang. Ia menoleh ke arah sang adik dan juga anggotanya. Ia tampak bingung untuk mengambil keputusan. Rasa bimbang tiba-tiba mulai menghinggapinya. Ia tampak tak ingin melibatkan kelompoknya untuk kesalahan pribadi sang adik. Tak seharusnya banyak pertumpahan darah atas kesalahan seseorang.
“Kenapa Juan? Kenapa kau hanya diam? Apa yang kau tunggu? Kau menunggu mereka menyerang kita tanpa kita berikan perlawanan terbaik?” tanya salah seorang anggota yang melihat Juan terdiam.
“Aku hanya tak ingin melibatkan kalian untuk masalah ini. Kesalahan ini murni bukan salah kalian. Kalian tak perlu sampai terlibat. Seharusnya biar aku saja yang menyelesaikan masalah ini. Tanggung jawabku sebagai seorang kakak. Aku harus membereskan ini semua sendirian,” ujar Juan.
“Kami tidak pernah keberatan untuk ikut terlibat apa pun itu bersamamu Juan. Adikmu juga anggota Zervanos. Kamu adalah pemimpin bagi kami. Kami akan ikut berperang bersamamu. Kau tidak perlu khawatir. Kami selalu ada bersamamu.”
Perkataan anggotanya cukup membuat semangat Juan kembali. Juan merasa ada api baru menyala dalam dirinya. Ia lantas segera mempersiapkan pasukannya untuk berperang melawan The Son of Lucifer. Perang besar yang tak seimbang dari segi jumlah.
“Siapkan diri kalian! Kita akan layani keinginan The Son of Lucifer! Berperanglah dengan bangga sebagai seorang Zervanos yang sejati,.” Perintah Juan memantik semangat anggotanya yang lain. Mereka segera bersiap untuk menghadapi The Son of Lucifer.
“Aku akan ikut denganmu. Aku tidak akan membiarkanmu bertanggung jawab sendirian. Aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku,” ujar Marco meminta izin untuk bergabung dalam pertarungan.
“Sudah cukup! Aku tidak akan membiarkanmu lebih jauh mengacau! Kau lebih baik tinggal di sini saja! Aku tidak ingin kau ikut dalam pertempuran kali ini. Kau cukup tunggu di sini sebagai hukuman atas kelancangan dan kesalahanmu! Kau mengerti!” kata Juan melarang Marco untuk bergabung.
“Ta-tapi! Aku ingin ikut. Aku ingin menebus kesalahanku. Kau tidak bisa melarangku! Ini tidak adil!”
“Kalau kau masih ingin menganggapku sebagai saudaramu, dengarkan aku! Kalau aku melihatmu ikut dalam pertempuran kali ini. Hanya ada dua pilihan yang kuberikan padamu. Kau akan melihatku membunuhmu dengan tanganku sendiri atau kau jangan pernah mengaggapku saudara lagi dan jangan pernah muncul di hidupku lagi!”
Marco yang diberikan somasi keras oleh Juan tak punya pilihan. Ia terpaksa untuk tetap tinggal hingga perang usai. Sebagai bentuk tanggung jawabnya dalam menjalani hukuman yang sang kakak berikan.
Juan melanjutkan persiapannya bersama seluruh anggotanya. Ia mendengar suara deru mesin dari kendaraan yang dinaiki The Son of Lucifer. Pertanda jarak mereka yang semakin dekat dengan markas mereka.
Keluarlah Juan dan para anggota lainnya ke medan pertempuran. Mereka berjalan keluar dari markas. Agar, pertempuran tidak sampai menghancurkan markas mereka. Lokasi markas Zervanos yang diapit oleh banyak bangunan terbengkalai, memudahkan mereka untuk mengatur strategi menyerang dan bertahan.
Terlihat kelompok The Son of Lucifer datang dengan mengendarai mobil dan motor. Jumlah mereka yang sangat banyak membuat suara kendaraan mereka terdengar sangat bising. Mereka menghentikan kendaraannya begitu sudah memasuki area Zervanos.
Zervanos bersiap dengan seluruh anggota mereka yang memegang senjata. Beberapa dari mereka siap dengan senjata tumpul untuk pertarungan jarak dekat. Mereka melihat dari balik bangunan yang terbengkalai. Melihat jumlah musuh yang lumayan banyak, membuat banyak Juan berpikir keras untuk memenangkan pertempuran.