Kamar Mandi Berdarah

1053 Kata
Begitu berhasil melepas penutup wajahnya, pria itu langsung tampak syok. Ia tak menyangka, orang yang sedang ada di hadapannya adalah Juan. Orang yang tengah jadi buronan semua orang termasuk dirinya. Ia tak bisa berkata-kata. Efek dari barang yang ia hisap sudah terlanjur naik. Bibirnya bergerak tapi tak mengeluarkan sepatah kata pun. Juan tak membiarkan orang tersebut berkata. Ia langsung melancarkan pukulan keras di wajahnya. Membuat pria tersebut merasakan sakit di wajahnya. Suara pukulannya cukup keras, seperti benda tumpul yang menghantam sesuatu. Suara se keras itu bahkan tak dapat menyadarkan rekannya yang berada di belakang pria itu. “Ada apa? Kenapa berisik sekali? Segera bereskan ia dan kembali ke sini. Masih banyak barang yang bisa kita nikmati hari ini,” ujar rekan dari pria itu. Tak tahu apa yang sedang menimpa rekannya. Juan menyeringai, ucapan dari pria itu membuatnya senang. Ia bisa memberikan pelajaran sepuasnya. Tak perlu repot-repot mengeluarkan banyak tenaga dan menghadapi banyak perlawanan. Tanpa berlama-lama lagi, Juan melanjutkan aksinya. Pria yang sudah ia pukul di pipi kanan, ia berikan hadiah juga pada pipi kirinya. Pria itu hanya bisa pasrah menerima sambil mengeluarkan sedikit erangan kesakitan. Pria itu menatap Juan lagi dengan wajah yang sudah bonyok pada kedua pipinya. Juan kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ia lalu menikam pria itu tepat di perutnya. Pria itu tak bisa melakukan apa-apa, mulutnya mengeluarkan darah. Pria itu jatuh dalam pelukan Juan. Juan lalu melepaskan pria itu yang hampir memeluknya. Membiarkannya tergeletak di lantai. Satu orang anggota The Son of Lucifer telah tewas di tangan Juan. Tinggal satu lagi rekan dari pria itu yang harus ia bereskan. Pria yang melihat samar-samar bayangan orang tergeletak. Ia lantas tertawa. “Kau luar biasa, cepat sekali membereskan pria itu. Kemarilah, kita lanjutkan selebrasi kemenangan kita,” ujar pria itu. Juan senang mendapatkan undangan itu. Dengan langkah perlahan, Juan berjalan menghampiri pria itu. Pria itu tidak menampatkan raut wajah yang takut. Ia justru tampak menyeringai menyambut Juan. Dalam pandangannya, hanya ada bayangan seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya. Yang ia tak tahu adalah seseorang itu adalah Juan yang akan mencabut nyawanya. Pria itu berusaha bangun dan memberikan apa yang ada di tangannya. Juan melihat tangan pria itu menjulur ke arahnya. Menandakan kalau pria itu hendak memberikan sesuatu pada Juan. Juan pun menerimanya, seolah dirinya adalah rekan dari pria itu. “Kenapa lama sekali? Cepat habiskan lalu kita pergi. El-Chapo pasti sudah menunggu kita. Kita harus segera mencari Juan,” ujar pria itu. Juan dengan santai menghisap barang yang diberikan padanya. Mengeluarkan asap setelah menghisapnya dalam-dalam. Pria itu berlalu meninggalkan Juan, sedang dirinya masih diam saja. Pria itu merasa ada yang tak beres dengan temannya. Ia merasa temannya tak menyahut apa yang ia katakan. “Apa kau sudah tuli?! El-Chapo akan murka pada kita jika sampai terlambat menuju ke tempatnya,” tegur pria itu. Ia berdiri di samping jasad temannya yang masih belum ia ketehui. Juan tertawa dengan tawa yang cukup kencang. Semakin lama terdengar, tawanya semakin mengerikan. Pria itu mulai merasa semakin aneh dengan sikap Juan yang dikira temannya. Juan berjalan mendekat kembali pada pria itu. Pria itu lantas mencoba memastikan yang mati di sebelahnya adalah pria yang sebelumnya dihabisi oleh temannya. Ia membalik jasad itu dan menemukan kalau yang ternyata tergeletak adalah temannya. “Siapa kau?! Beraninya kau menghabisi temanku! Aku akan memberikanmu pelajaran!” pria itu akhirnya sadar dan hendak memberikan pelajaran pada Juan. “Kenapa? Kau harus repot-repot mencari Juan? Aku ada di sini. Kemarilah! Temui ajalmu!” Pria itu terkejut begitu tahu orang di depannya adalah Juan. Ia lantas ingin segera pergi dan mengabarkan tentang keberadaan Juan. Juan bergerak cepat, langsung menangkap pria itu dari belakang. Ia segera menutup mulut pria itu dengan tangannya. Pria itu tak bisa berbuat apa-apa. Juan membisikkan kata-kata pada pria itu. “Kau tahu tempat yang paling aku sukai setelah markasku? Tempat itu ingin sekali aku kunjungi suatu saat nanti. Ada adikku di sana dan semua teman-temanku. Kau tahu di mana itu?” bisik Juan. Pria itu menggelengkan kepalanya. Keringat mengucur deras membasahi tubuh pria itu. Juan kemudian mengeluarkan benda tajam yang sebelumnya ia gunakan. Sambil mengucapkan kalimat perpisahan ia mengambil nyawa dari pria itu. “Aku ingin ke surga. Jika kau menemui adikku di sana, katakan aku menyayanginya.” Juan lalu menggorok leher pria itu. Pria itu tak bisa berteriak karena mulutnya di tutup. Hanya terdengar suara seperti hewan yang disembelih. Pria itu pun jatuh tersungkur. Setelah menghabisi mereka berdua, Juan segera mencuci kedua tangannya dan sebilah belati yang ia gunakan. Ia harus segera menghilangkan jejak. Selesai mencuci tangan, Juan lalu menyeret jasad mereka berdua dan memasukkannya ke dalam toilet. Ia menumpuknya jadi satu dalam satu tempat yang sama. Selesai melakukan aksinya, Juan kemudian berjalan keluar dengan santai. Melanjutkan menghisap cerutu hijau. Ia berjalan dengan kepala kembali ditutup oleh jaket. Wajahnya ia berusaha sembunyikan dari balik jaket, hingga langkahnya tiba di depan meja bartender. Ia hendak membayar minumannya. Kecurigaan mulai timbul dari anggota The Son of Lucifer yang lain. Ia merasa dua rekannya tak kunjung kembali dari kamar mandi. “Kenapa mereka lama sekali? Kita akan segera dimarahi oleh El-Chapo jika tidak segera berkumpul,” gumam pria itu. “Kenapa, Kak? Apa ada yang salah? Kenapa kau tampak gelisah sekali.” “Tidak ada apa-apa. Kalian tunggu di sini, ya. Aku akan menyusul kedua temanku. Aku khawatir terjadi apa-apa padanya. Aku segera kembali,” ujar pria itu pada adiknya.  Ia lantas segera menyusul mereka berdua ke kamar mandi. Ketika melangkah menuju ke kamar mandi, ia tak sengaja bertabrakan dengan Juan yang hendak keluar dari tempat tersebut. “Pakai matamu!” maki anggota itu menegur keras Juan. “Maaf!” sahut Juan lalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Juan keluar sambil menghisap cerutu. Ia kemudian membuang cerutunya lalu berjalan pergi. Sementara itu, terdengar gaduh dari dalam. Keributan yang membuat seisi tempat tersebut menjadi gempar. Suara gaduh yang terdengar hingga keluar. “Pertunjukkan baru saja dimulai,” gumam Juan lalu berjalan memasuki ke sebuah gang. Menghilang segera dari keramaian. Suasana di dalam benar-benar kacau. Anggota The Son of Lucifer yang masih hidup, histeris melihat kedua rekannya mati mengenaskan. Ia menemukan rekannya mati dan di masukkan ke dalam kamar mandi. Segera ia keluar dengan perasaan marah dan mencari pelakunya. “Siapa yang sudah bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap rekanku?! Katakana sekarang siapa yang sudah melakukannya?!! Atau kubuat kalian semua menerima akibatnya!” teriak pria itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN