Bab 12. Menarik Perhatian

3352 Kata
Stella memasuki perusahaan tempatnya bekerja hari ini. Dengan penuh semangat dia menghampiri meja resepsionis. Setelah mengutarakan niatnya pada resepsionis itu, Stella pun diarahkan ke bagian HRD lalu dibawa ke bagian marketing. “Stella Caroline?” “Iya, saya. Kamu? Sepertinya kita pernah bertemu.” “Iya, aku Ferdy. Kita bertemu di pesta pernikahan Jonathan.” Ferdy mengulurkan tangannya dan disambut oleh Stella. “Senang bertemu dengan Anda, Fer–eh Pak Ferdy,” kata Stella. “Panggil saja aku Ferdy seperti yang lainnya. Ayo, aku tunjukkan mejamu!” Ferdy mengajak Stella menuju meja kerjanya. “Perhatian semuanya, kita kedatangan anggota baru namanya Stella dan tolong kalian bantu dia!” seru Ferdy pada semua bawahannya. Setelah acara perkenalan selesai, Stella pun duduk dan kebetulan dia mendapatkan teman satu meja yang cukup ramah. “Hai, namaku Devi. Semoga kita bisa bekerja sama, yah!” sapa Devi. “Namaku Stella, biasa dipanggil Stey.” “Kau kenal dengan Ferdy?” “Oh! Aku pernah bertemu dengannya di pernikahan sahabat su–sepupuku,” jawab Stella, dia tidak ingin ada yang tahu kalau dia sudah menikah. “Oya, apakah dia atasan kita?” tanya Stella. “Iya, dia kepala divisi pemasaran, masih single. Tapi hati-hati, jangan sampai jatuh cinta padanya kalau tidak kamu harus menghadapi wakil manager.” Devi menunjuk ke ruangan yang berada di sebelah ruangan Ferdy. “Namanya Felicia. Nanti kau akan tahu gimana sifatnya.” Devi tersenyum sambil kembali duduk ditempatnya dan Stella pun duduk ditempatnya. Dia mulai mengerjakan tumbukan berkas yang diberikan wakil manager, Felicia. Setiap tumbukan berkas selesai dikerjakan selalu datang lagi tumbukan kedua begitu seterusan tapi Stella berusaha menyelesaikan pekerjaannya. *** Gerald mematikan komputernya dan memasukkan laptopnya ke dalam tas. Jam sudah pukul 9 malam, hari ini dia pulang agak larut karena harus menyelesaikan beberapa masalah yang terjadi di kantor cabangnya. Dia ingin segera sampai di rumah dan beristirahat karena tubuhnya sangat lelah. DRET ... DRET ... DRET Baru saja Gerald menghidupkan mesin mobilnya, ponselnya bergetar. Dengan memakai earphone bluetoothnya, dia menerima telepon dari Stella. “Ada apa?” tanyanya sambil mengendarai mobilnya. “Kamu lagi di mana?” “Aku sedang di jalan menuju rumah. Ada apa?” “Aku mau minta tolong?” “Tolong apa?” “Mmh ... itu ... aku ....” “Kau buat masalah lagi?” potong Gerald. “Iiih, bukan itu.” “Lalu apa?” “Aku mendadak datang bulan dan kehabisan pembalut.” Terdengar suara Stella seperti menahan malu. “Apa? Kenapa tidak kau siapkan sebelumnya?” tanya Gerald. “Aku lupa, G.” Gerald menepikan mobilnya tepat di depan sebuah mini market yang kebetulan masih buka. “Aku sedang di mini market. Jangan tutup teleponnya!” Gerald masuk ke dalam mini market tersebut. Dia berjalan mengelilingi rak mencari tempat pembalut. “Ada yang bisa saya bantu, Om?” tanya seorang gadis yang kira-kira seusia Stella. “Oh, saya mencari pembalut wanita,” jawab Gerald tersipu malu karena baru kali pertama dia membeli pembalut wanita. Dia melihat gadis itu menahan tawanya. “Ini ada beberapa merk pembalut, tinggal pilih aja. Buat pacarnya atau anaknya, Om?” tanya gadis itu penasaran. Gerald menatap gadis itu dan dia juga mendengar suara tawa Stella dari ponselnya. “Untuk istri saya. Terima kasih bantuannya,” ucap Gerald. “Sama-sama. Beruntung sekali wanita yang menjadi istri Om,” kata gadis itu lalu pergi meninggalkan Gerald. “Beritahu aku, mana yang harus kubeli!” Gerald mengubah panggilan ke video call lalu mengarahkannya ke rak. “Iya, yang warna pink itu, G.” Gerald menunjuknya sekali lagi. “Iya, yang itu.” “Ok, aku tutup teleponnya.” Setelah mematikan ponselnya, Gerald segera mengambil beberapa bungkus pembalut dan membawanya ke kasir. Dia tiba di rumah dalam waktu 15 menit. “Stey ... di mana kamu?” “Aku di sini,” teriak Stella dari kamar mandi. Gerald segera menghampirinya dan memberikan pesanan Stella. “Thanks, G.” Stella kembali menutup pintu kamar mandi. *** Gerald menjemput Stella untuk mengunjungi orangtuanya karena siang tadi mommynya menelpon memintanya untuk makan malam di sana. “Memangnya ada acara apa di sana, G?” tanya Stella. “Aku juga tidak tahu,” jawab Gerald. Mobil memasuki halaman yang sangat luas. Gerald pun segera memasukkan mobilnya ke garasi. “Itu mobil siapa?” tanyanya. Pandangan Gerald pun mengarah ke mobil yang ditunjuk Stella. “Oh, itu mobil Stefanny. Ayo kita masuk!” ucap Gerald. Stella langsung menggandeng lengan Gerald. Gerald menoleh ke Stella. “Bukankah kita harus berpura-pura di depan mereka!” kata Stella untuk menghilangkan rasa malunya. Gerald mengangguk setuju dengan cara Stella. “Malam Mom, Dad!” ucap Stella dan Gerald bersamaan. “Malam sayang. Sudah lama kalian tidak pulang,” kata Lisa lalu memeluk anak dan menantunya. Gerald pun memeluk daddynya. “Kalian harus menginap malam ini!” kata Thomas pada anak dan menantunya itu. “Gery!” seru Stefanny yang baru saja keluar dari dapur dan langsung memeluk Gerald. “Apa kabarmu, Fan?” Gerald balas memeluk Stefanny. “Baik. Aku kangen kamu, Ger.” Stefanny kembali menyandarkan kepalanya di d**a bidang Gerald. “Aku mau ke kamar dulu yah, Mom.” Stella berjalan menuju kamar tanpa melirik sedikitpun pada Gerald. Melihat gelagat Stella, Lisa pun menyuruh Gerald ke kamar. “Lebih baik kau ke kamar dulu, Sayang. Sepertinya istrimu cemburu,” bisiknya pada Gerald. “Aku ke kamar dulu, Fan.” Gerald segera menyusul Stella ke kamar. Stella melemparkan tasnya ke ranjang lalu merebahkan dirinya. Dia merasa lelah dengan pekerjaannya yang tiap hari menumpuk karena Felicia yang selalu memberi setumpuk berkas yang harus dia koreksi. Menurut Devi teman satu mejanya, sikap Felicia seperti itu karena Ferdy yang selalu membantunya mengerjakan berkas-berkas itu. Dia juga lelah harus menjalani kehidupan pernikahan kontraknya dengan Gerald karena biar bagaimanapun dia adalah seorang wanita yang masih punya perasaan. Dia merasa cemburu dengan Mercy dan Stefanny. Stella langsung bangkit ketika mendengar suara pintu tertutup. “Kau belum mandi?” tanya Gerald sambil membuka kancing kemeja atasnya kemudian mengulung lengan kemejanya. “Belum. Aku ingin istirahat sebentar,” jawab Stella sambil memainkan kedua kakinya. “Apa itu hobi barumu? Memainkan kaki jika sedang gelisah?” Gerald tersenyum tipis menggoda Stella. Entah sejak kapan dia suka menggoda dan tersenyum setiap melihat tingkah laku Stella. Bahkan, tanpa dia sadari dia suka tersenyum sendiri saat di kantor jika mengingat kelakuan istri kecilnya itu. “Aku hanya merilekskan otot kakiku saja karena jarang memakai high heels.” “Kalau begitu besok kita cari sepatu dengan medium heels agar kakimu nyaman. Sekarang mandilah karena mom dan dad sedang menunggu kita!” “Apa boleh kalau aku gak ikut makan malam, G? Aku mau langsung tidur.” “Kenapa? Karena ada Stefanny? Kau harus makan, maagmu kronis, Stey.” Gerald menghampiri Stella yang masih duduk di ranjang. “Aku menganggap Stefanny hanya sebagai adik.” “Aku rasa itu bukan urusanku, G. Aku gak peduli dengan hubungan kalian.” Stella pun berdiri dan melangkah menuju kamar mandi. *** Hari minggu pagi, Stella dan Stefanny membantu Lisa membuat sarapan. Setiap hari Lisa selalu memasak untuk keluarganya walaupun mempunyai asisten rumah tangga beberapa orang tapi untuk urusan memasak, dia selalu menanganinya sendiri. “Aunty, kenapa harus repot membuat sarapan, bukankah ada Bi Ina?” tanya Stefanny. “Aunty tidak mau suami dan anak aunty merasakan masakan oranglain. Kau lihat mereka begitu menyayangi aunty, ‘kan,” jawab Lisa sambil tersenyum. “Sayang, tolong bawa makanan ini ke meja makan, yah!” perintah Lisa pada Stella. “Iya Mom.” Stella membawa makanan-makanan itu ke meja makan dibantu Stefanny walaupun mereka berdua tidak saling sapa. Setelah semuanya sudah siap disajikan, tak lama Thomas datang. “Wah, sarapan kesukaan putramu, sayang.” Thomas merangkul istrinya dan mengecup pipinya. “Iya, aku rasa dia sudah lama tidak makan sarapan ini,” kata Lisa. “Di mana suamimu, sayang?” tanya Thomas pada Stella. “Aku di sini, Dad.” Belum sempat Stella menjawab, Gerald muncul dari halaman belakang dengan rambut dan tubuh basah oleh keringat. Stella menyodorkan sebotol air mineral pada Gerald. “Thank you, Sweety.” Gerald langsung meneguk air itu. “Mandilah, setelah itu kita sarapan. Ada yang ingin daddy bicarakan denganmu!” ujar Thomas. Gerald pun segera menuju kamarnya. Tak berselang lama, dia pun kembali dengan pakaian casual berupa kaos slim fit dan celana jeans. Dia duduk di sebelah Stella yang dari tadi menatapnya tanpa berkedip. Gerald lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Stella. “Kenapa menatapku seperti itu, apakah kau baru sadar kalau pria yang kau bilang tua ini ternyata tampan?” tanya Gerald lalu memberi kecupan di pipi Stella. Tindakan Gerald itu membuat Stella terkejut dan wajahnya memerah. “Wah, aku sudah lama tidak makan omelet makaroni dan banana milk buatan mom.” Gerald pun langsung menikmati sarapannya. Selesai sarapan, Stella dan Stefanny membereskan bekas sarapan mereka dan membawanya ke dapur. “Ayo kita duduk-duduk di teras !” ajak Lisa pada Stefanny dan Stella. Belum sempat menjawab, Stella menutup mulutnya, dia merasa mual ingin mengeluarkan isi perutnya. “Kau kenapa, sayang?” tanya Lisa. “Aku mau ke kamar dulu, Mom.” Stella berlari menuju kamarnya. Stella memuntahkan semua yang dimakannya. Ah, kenapa juga gue maksa minum s**u itu, ucapnya dalam hati. Padahal dia tahu kalau dirinya tidak menyukai s**u. Setelah membasuh dan melap mulutnya, dia pun keluar dari kamar mandi. “Apakah maagmu kambuh lagi?” Stella terperajat melihat Gerald sedang bersandar di wardrobe dengan melipat kedua tangannya di d**a. “Kenapa kamu di sini? Bukannya kamu sedang bersama papa?” Stella balik bertanya. Gerald menceritakan kejadian waktu dia sedang berbincang dengan daddynya dan mommynya datang memberitahu keadaan Stella. “Mungkin tadi karena aku memaksa minum s**u. Kau tahu aku gak suka s**u, ‘kan.” Stella melewati Gerald dan duduk di sofa. “Lalu kenapa kaupaksakan meminum s**u itu jika kau tidak suka?” Gerald pun ikut duduk di sofa. “Aku gak enak sama mom jika tidak meminum s**u buatannya, G,” jawab Stella sambil memainkan kedua ibu jarinya. Melihat kebiasaan itu, Gerald segera mengenggam kedua tangan Stella. “Lihat aku! Lain kali jika kau tidak suka, tidak usah memaksakan diri karena itu akan memyusahkan dirimu sendiri, mengerti!” ujar Gerald menatap Stella yang juga sedang menatapnya. Stella menganggukan kepalanya. “Apa sekarang sudah membaik? Kalau sudah, kita keluar berkumpul bersama yang lainnya,” ajak Gerald dan Stella mengangguk. “Kau kenapa, sayang?” tanya Lisa ketika melihat Stella dan Gerald sudah bergabung bersama mereka. “Gak apa-apa, Mom. Aku tadi hanya mual aja.” “Stella tidak bisa minum s**u, Mom,” ujar Gerald. “Ooh ... lalu kenapa kamu meminum s**u itu? Jika kamu tidak suka seharusnya bilang sama Mom biar Mom buatkan yang lain untukmu.” “Gak apa-apa, Mom. Maaf, jadi buat Mom khawatir.” “Lebih baik kita jalan-jalan di taman. Cuacanya sangat sejuk di sana.” ajak Thomas. Mereka menuju taman komplek yang sangat luas. Lisa, Stella dan Stefanny berjalan di depan sedang Thomas dan Gerald berjalan di belakang agak jauh dari mereka. “Bagaimana dengan perkawinanmu, Ger?” tanya Thomas. “Kami baik-baik saja, Dad. Walau kadang ada sedikit percekcokan tapi bisa diatasi.” “Apa belum ada tanda-tanda dari istrimu?” Sambil berjalan Thomas menoleh ke Gerald. “Tanda-tanda apa, Dad?” tanya Gerald menoleh ke daddynya. “Tanda-tanda kehamilan dari istrimu.” “Oh ... belum, Dad. Stella masih muda biar dia merasakan masa mudanya dulu,” jawab Gerald agak kaget dengan pertanyaan daddynya. “Mommymu usia 20 tahun sudah mengandungmu. Jangan pernah menunda untuk memiliki anak atau nanti kau akan menyesal.” “Iya Dad. Aku akan pikirkan ucapan Daddy.” *** BRUK. Tumbukan berkas kembali menghiasi meja kerjanya padahal baru saja Stella menyelesaikan pekerjaan yang pagi tadi Felicia berikan padanya. Dasar perawan tua, gerutunya dalam hati. Stella melihat jam di pergelangan tangannya, sudah waktunya makan siang. “Stey, apakah kamu mau makan siang bersama?” tanya Devi teman satu mejanya. “Entahlah, lihat aja dia sudah memberikanku berkas-berkas lainnya. Sepertinya, dia gak begitu menyukaiku, Dev.” “Mungkin dia cemburu melihat Ferdy dekat denganmu,” bisik Devi. “Hah? kalau dia suka sama Ferdy, kenapa gak bilang aja langsung ke dia. Ini malah jutek ke aku,” kata Stella. “Jadi gimana, nih? Kamu mau makan siang, gak?” Devi berdiri sambil membawa dompetnya. “Gaklah,” ucap Stella. “Yah udah. Aku pergi dulu, yah.” Devi melambaikan tangannya. Stella kembali mengerjakan tugasnya, memeriksa berkas itu dan mengoreksinya. “Kau tidak makan siang, Stella?” Tiba-tiba Ferdy berdiri tepat di sampingnya, Stella terkejut. “Aaah, kamu mengagetkanku, tahu.” Stella mengelus dadanya. “Kenapa serius sekali mengerjakan pekerjaanmu? Ini waktunya makan siang, nanti kau bisa sakit. Ayo, kita ke ruanganku. Kebetulan aku mendapat paket makan siang terlalu banyak!” ajak Ferdy. “Gak usah. Aku belum lapar, Fer.” Stella menolaknya. “Ayo, tidak baik menolak rejeki!” Ferdy menarik pelan tangan Stella untuk ke ruangannya. Stella terpaksa mengikuti permintaan pria itu. Ferdy membuka 2 box paket makanan dan memberikan 1 box kepada Stella. Mau tak mau akhirnya Stella pun menyantap makanan itu. Tanpa mereka sadari, sepasang mata milik seorang wanita sedang memperhatikan mereka berdua. *** Jam sudah menunjukan pukul 7 malam, Stella segera membereskan berkas-berkas yang sudah selesai dia kerjakan dan meletakkannya di meja Felicia. Sementara berkas-berkas yang belum selesai terpaksa harus dia bawa pulang untuk diselesaikan di rumah. Setelah selesai membereskan mejanya, Stella bermaksud memesan taxi online tapi semuanya full order. Dia terus mencoba membuat orderan tapi tidak ada satupun yang menerima orderannya. Dia sedikit menyesal karena sudah menolak ajakan Ferdy yang ingin mengantarnya pulang. Lebih baik gue turun dulu, kali aja nanti ada yang kosong, pikir Stella, segera dia menuju lift. Setelah sampai di parkiran, Stella mencoba lagi memesan taxi online tapi hasilnya tetap sama, penuh semua. Jam pun sudah menunjukkan pukul 8 malam, dia pun menelusuri jalan hingga ke sebuah halte, kebetulan ada angkutan umum yang sedang menunggu penumpang, akhirnya dia pun menaiki mobil itu dan tanpa menunggu lama mobil itupun berangkat. Stella menikmati pemandangan malam dari dalam mobil. Selama perjalanan satu persatu penumpang turun di tempat tujuannya, sekarang hanya dia seorang diri di dalam mobil itu. Tiba-tiba mobil menepi di jalan yang sama sekali dia tidak tahu. “Maaf Non, sampai di sini aja, yah! Saya mau muter lagi,” ujar sopir itu. “Kok, cuma sampai sini sih, Pak. Lalu saya harus naik apalagi dari sini?” tanya Stella bingung. “Oh, nanti Non tinggal tunggu aja mobil berikutnya yang lewat, gak lama kok,” kata sopir itu. Dengan terpaksa, Stella pun turun dari mobil itu untuk menunggu mobil berikutnya. 10 menit, 15 menit, sampai 20 menit Stella menunggu tapi tidak satupun mobil angkutan yang lewat. Stella mulai gelisah dan takut karena dia belum pernah melewati tempat itu, belum lagi tempat itu sedikit sepi hanya 1-2 orang yang lewat di jalan itu. Stella tambah gelisah matanya mulai berkaca-kaca, tak lama airmatanya pun membasahi pipinya. *** Sementara itu, Gerald baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Dia langsung menuju ruangannya dan membuka laptopnya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena harus bertemu relasi bisnisnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan tanpa melihat si penelpon, Gerald langsung mengangkat telepon itu. “Halo!” sapa Gerald. “Hiks ... tolong aku, G!” ( terdengar suara Stella di ponselnya) “Stey, kau di mana?” Gerald langsung menutup laptopnya. “Aku gak tahu ini di mana hiks ....” “Hidupkan GPS di ponselmu dan share lokasimu sekarang!” perintah Gerald dengan sedikit berlari menuju ruang ganti untuk mengambil jaketnya dan segera keluar dari kamar. “Udah, G. Hiks ... tolong cepat, hiks ... aku takut.” “Aku segera ke sana. Jangan putuskan sambungan teleponnya, oke!” Gerald memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi Stella sambil terus mengajaknya berbicara. “Bagaimana bisa kau sampai di sana?” tanya Gerald. “Hiks ... aku pesan taxi online tapi semua penuh, akhirnya aku naik angkutan umum. Hiks ... di tengah jalan aku diturunin dari mobil itu dan sampai sekarang gak ada mobil lain yang lewat. Aku takut, G.” “Sebentar lagi aku sampai di sana, Stey.” Gerald menambahkan kecepatan laju mobilnya. “Kau di mana, G. Sudah gak ada orang yang lewat di sini hiks ....” “Aku di sini.” Gerald melihat Stella dalam jarak 100 meter. Setelah dekat, Gerald menepikan mobilnya. Melihat Gerald turun dari mobil menghampirinya, Stella berlari dan langsung memeluknya. “Hiks ... aku takut, G.” Stella menangis di pelukan Gerald. “Hush ... jangan takut, aku ada di sini.” Gerald mengelus bahu Stella untuk menenangkannya. “Ayo, kita pulang!” Gerald memapah Stella menuju mobil. Dalam perjalanan pulang, Gerald mengajak Stella ke sebuah restoran. Dia tahu Stella belum makan sejak pulang kerja tadi. Gerald pun memesan beberapa menu makanan untuk Stella. *** Sejak kejadian itu, Gerald memerintahkan Ben untuk menjemput Stella. Stella pun tidak menolaknya, dia jera setelah kejadian yang dialaminya waktu itu. Gerald senang melihat perubahan sifat Stella yang sedikit lebih penurut dari sebelumnya. Bulan berganti bulan tak terasa pernikahan yang dijalani Gerald dan Stella sudah berjalan 5 bulan dan itu berarti pernikahan mereka tinggal 1 bulan lagi. Apakah mereka akan berpisah? Hanya mereka yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya. DRET ... DRET ... “Ada apa, Mom?” tanya Gerald setelah mengangkat ponselnya. “Ger, Mom lupa memberitahumu bahwa besok Ronald menikah?” “Bolehkah jika aku tidak datang ke sana?” tanya Gerald. Dia malas bertemu dengan sepupu yang selalu berusaha menjatuhkannya di depan orangtuanya. “Tidak bisa begitu, Ger. Mom tahu kau tidak menyukainya tapi tolong hargai auntymu. Dia mengharapkan kedatanganmu, dia ingin bertemu dengan istrimu.” “Baiklah, Mom. Aku akan datang tapi tidak akan lama.” “Thank you, Sayang. Salam untuk Stella.” “Oke, Mom. Bye.” Gerald meletakkan kembali ponselnya di mejanya. Ronald, saudara sepupunya yang selalu berusaha bersaing dengannya bahkan berusaha merebut Mercy darinya. Gerald kembali teringat kejadian 5 tahun yang lalu, bagaimana usaha Ronald untuk merebut Mercy darinya. Bahkan sepupunya itu rela membuat rencana busuk dengan memasukkan minuman yang membuatnya tidak sadar diri dan membayar seorang wanita yang sama sekali tidak dikenalnya untuk tidur disampingnya lalu mengajak Mercy ke hotel tempat Ronald membawanya bersama wanita bayarannya itu. Hubungannya dengan Mercy saat itu sempat putus beberapa bulan, sampai akhirnya semua terungkap. *** Seperti permintaan mommynya, Gerald mengajak Stella menghadiri pernikahan sepupunya, Ronald. Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam akhirnya mereka sampai di tempat berlangsungnya resepsi. Hal yang pertama yang dia cari adalah kedua orangtuanya. “Itu mom dan dad, G,” tunjuk Stella. “Yah. Ayo, kita ke sana!” Gerald mengajak Stella menghampiri orangtuanya. “Gerald? Kamu Gerald, ‘kan?” “Yah. Apa kabar, Aunty?” Gerald memeluk wanita parubaya yang sedang berbincang dengan orangtuanya. “Sudah lama Aunty tidak bertemu denganmu. Kamu makin tampan, Ger.” Wanita itu menyentuh pipi Gerald. “Ini istrinya Gerald, Del,” ujar Lisa. “Kau cantik sekali, Nak. Siapa namamu?” Delia memegang tangan Stella. “Aku Stella, Aunty,” jawab Stella sambil tersenyum. “Lihat! Siapa yang datang?” Tiba-tiba suara seorang pria memecah suasana di tempat itu. Gerald berbalik, bertatapan muka dengan pengantin pria. “Akhirnya kita bisa bertemu lagi, Ger.” kata Ronald sambil tersenyum lebar. “Selamat atas pernikahanmu.” Gerald tersenyum sinis. “Apakah dia istrimu?” tanya Ronald mengalihkan pandangannya ke Stella. “Yah, dia istriku.” Gerald menarik pelan tangan Stella agar mendekat padanya. Stella mengulurkan tangannya, memperkenalkan dirinya. “Aku Stella.” “Aku Ronald, senang bertemu denganmu.” Ronald menyambut tangan Stella sambil mengedipkan sebelah matanya. Stella menarik tangannya sambil tersenyum. “Aku tahu bukan dia wanita yang kau cintai, Ger. Aku akan buktikan itu pada orangtuamu,” bisik Ronald dengan sorot mata tajam lalu pergi meninggalkan Gerald dan Stella. “Sepertinya dia tidak begitu menyukaimu, G,” ujar Stella. “Begitupun aku.” Stella melihat raut wajah Gerald yang sangat dingin. Dia tidak berani untuk bertanya hal yang sebenarnya ingin dia ketahui. “Kita pulang sekarang,” ajak Gerald pada Stella. Ketika Gerald dan Stella hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Ronald memanggil namanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN