Bab 13. Istri yang Sah

3308 Kata
“Kita pulang sekarang,” ajak Gerald pada Stella. Ketika Gerald dan Stella hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Ronald memanggil namanya. “Pada kesempatan ini, aku ingin mempertemukan dua orang yang saling mencintai. Dia adalah sepupuku, Gerald Alexander dan ....” Ronald tidak melanjutkan kalimatnya, matanya menuju pada satu ruangan di mana seorang wanita keluar dengan anggun menghampirinya. Dia senang melihat wajah Gerald yang terkejut melihat kehadiran Mercy di tempat itu. “Gery, sebenarnya ini surprise untukmu. Aku mengundang wanita yang kaucintai ke tempat ini. Aaah, aku lupa kalau kau sudah menikah. Apa kau masih mencintai Mercy atau sekarang kau lebih mencintai dia?”–Ronald menunjuk ke arah Stella–“Bisa kau tunjukkan pada kita semua, siapa di antara mereka berdua yang kaucintai!” Ronald menantang Gerald yang saat ini sedang menatap Mercy. Wanita itu segera menghampiri Gerald dan memeluknya. “Maaf, Boo. Aku tidak memberitahumu kalau aku kembali lebih awal dari rencana. Ronald memintaku untuk memberimu surprise,” bisik Mercy. Gerald melepaskan pelukan Mercy tanpa berkata sedikitpun. Matanya beralih menatap Ronald tajam. “Apakah kau bisa membuktikannya, Ger? Siapa di antara mereka yang kaucintai?” tanya Ronald membalas tatapan tajam Gerald. “Ronald, apa maksudnya semua ini?” Tiba-tiba mamanya menghampirinya dan membentaknya. “Aku hanya tidak ingin Gery terus membohongi orangtuanya, Ma. Wanita yang dia cintai adalah Mercy bukan istrinya,” ungkap Ronald. Semua mata tertuju pada mereka, termasuk orangtua Gerald yang terkejut mendengar perkataan Ronald. “G ... G ... lebih baik kita pulang sekarang,” bisik Stella sambil mengayunkan lengan Gerald. Tidak mendapat tanggapan dari Gerald, akhirnya Stella berdiri di depan Gerald. “Atau aku akan pulang sendiri, G.” Gerald melepaskan tatapannya dari Ronald dan menatap Stella yang berdiri di hadapannya selama beberapa menit. Tiba-tiba tangan kiri Gerald merengkuh pinggang Stella merapatkan pada tubuhnya dan tangan kanannya menangkup wajah Stella, wajahnya mendekat pada wajah Stella lalu menyatukan bibirnya dengan bibir gadis itu. Mata Stella terbelalak dengan apa yang dilakukan Gerald padanya. Hatinya sakit tapi dia tidak bisa membohongi perasaannya. Beberapa saat kemudian Gerald melepaskan pagutannya lalu mengusap bibir Stella yang basah oleh salivanya. Dia tersenyum melihat wajah Stella yang memerah karena kelakuannya. “Aku rasa kau sudah mendapatkan jawabannya.” Mata Gerald kembali menatap tajam pada Ronald. Setelah itu, dia menggenggam tangan Stella lalu meninggalkan tempat itu. *** Sejak kejadian di pesta itu, Gerald kembali menjalani kehidupannya seperti biasanya. Dia kembali sibuk dengan pekerjaannya. Peristiwa yang dialaminya di pesta itu tidak membuatnya goyah sedikitpun. Tapi, tidak bagi Stella yang sejak kejadian itu, dia berusaha untuk menghindar dari Gerald. Dia selalu berangkat kerja sebelum Gerald bangun dan sudah tertidur ketika Gerald pulang. Itu semua dia lakukan untuk menjauhkan perasaannya dari Gerald yang sudah menempati relung hatinya. Bunyi alarm pada jam wekernya membangunkan Stella pagi itu. Silau dari cahaya matahari yang masuk dari celah-celah gorden membuat matanya menyipit. Stella diam sejenak untuk mengumpulkan kesadarannya. Dia melirik ke arah jam weker yang menunjukkan pukul 8. “Hah, siapa yang mengubah alarmnya?” gumam Stella sambil mengambil jam weker itu dan mengembalikan waktunya seperti semula. Setelah itu, Stella berlari ke kamar mandi. Bunyi bel berbunyi, Nina segera membuka pintu depan. Seorang wanita dengan gaun tanpa lengan berwarna hitam sebatas paha serta balutan jas berwarna merah yang tersampir di bahunya berdiri di depan pintu. “Nona Mercy,” sapa Nina. “Apakah Tuanmu ada di rumah?” tanya Mercy dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Nina. Mercy langsung menerobos ke dalam, mencari Gerald. Tepat saat itu Gerald sedang menonton televisi di ruang tengah, Mercy menghampirinya. “Boo ....”–Mercy langsung duduk di pangkuan Gerald sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Gerald–“Aku kangen kamu, Boo,” ucapnya kemudian memberi kecupan kecil pada bibir Gerald. “Nyonya, apa Anda tidak ingin sarapan dulu?” Suara Bi Asih membuat Mercy dan Gerald menoleh, tatapan mereka bertemu dengan tatapan Stella.Tapi secepatnya Stella memalingkan wajahnya ke arah Bi Asih yang sedang berdiri di pintu dapur. “Gak usah, Bi. Aku bisa sarapan di rumah mama. Aku pergi dulu, Bi.” Stella melambaikan tangannya pada Bi Asih dan segera pergi tanpa pamit pada suaminya. “Tunggu, Stey!” Gerald mengejar Stella sampai garasi. “Ada apa, G?” tanya Stella ketus. “Aku akan mengantarmu.” Gerald mengambil kunci mobilnya yang tergantung di lemari kecil pada tembok. “Gak perlu, G. Aku sudah pesan ojek online. Aku pergi dulu.” Stella segera berjalan keluar menuju gerbang. “Kau mulai mencintainya, Boo?” tanya Mercy kepada Gerald yang kembali duduk di ruang keluarga. “Tolong, Merc. Aku hanya merasa bersalah padanya.” “Tapi Boo ... jika sikapmu seperti itu, akan membuatnya salah mengartikannya,” ucap Mercy. “Lebih baik kau kembali ke apartemen, Merc. Tidak baik jika kau berada di sini terlalu lama karena aku tidak ingin Bi Asih curiga dengan pernikahanku,” jelas Gerald sambil menatap Mercy. “Baiklah, aku akan pergi. Ingat, Boo! Aku sedikit cemburu waktu kau menciumnya di pesta itu. Tapi aku dapat mengerti situasimu saat itu. Aku pergi sekarang.” Mercy mengambil tasnya dan memberi kecupan pada pipi Gerald. *** Sementara itu, Stella sudah sampai di rumah orangtuanya. Dia segera menyimpan tasnya di kamar dan kembali keluar untuk membantu orangtuanya. “Kenapa kau tidak istirahat di rumah saja, Stey?” tanya mamanya. “Mmmh ... aku kangen sama mama dan papa,” ucap Stella sambil bergelayut manja pada lengan papanya. “Kamu sudah menikah tapi masih saja manja.” Bernard mengusap rambut putrinya itu. “Sudah ... sudah, kalau begitu bantu Mama membawakan pesanan-pesanan ini,” ujar Mery. Stella langsung mengambil nampan yang sudah berisi pesanan para pelanggan. Satu persatu pesanan para pelanggannya sudah di antar ke meja mereka. Tak terasa hari sudah menjelang sore Stella masuk ke kamarnya, dia berencana untuk mandi. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, segera dia mengangkatnya. “Halo, Dev. Ada apa?” tanyanya sambil menghempaskan bokongnya di ranjang. “Stella, nanti jam 7 Ferdy mengajak kita semua berkumpul di JW Club. Kamu bisa, ‘kan?” “Memangnya ada acara apa, Dev?” “Kau tahu, tender kita berhasil, Stel. Karena itu Ferdy mengajak kita semua bertemu di club untuk merayakannya.” “Baiklah, aku akan datang. Thanks infonya, Dev.” Stella menutup ponselnya dan segera ke kamar mandi. Selesai mandi dia pun memilih pakaian yang akan dikenakannya malam ini. Sebuah dress bermotif polkadot sebatas lutut dan tanpa lengan menjadi pilihannya. Setelah mengikat setengah rambutnya dan memoles lipgloss di bibirnya, Stella segera mengambil tasnya dan pamit pada orangtuanya. Dengan menaiki sebuah taxy online Stella menuju JW Club. *** Gerald baru saja keluar dari kamar mandi ketika ponselnya bergetar, panggilan masuk dari Jonathan pun segera diangkatnya. “Ada apa, Jo?” “Kau di mana, Ger?” “Aku habis selesai mandi. Ada apa?” “Apakah kau akan datang ke sini?” “Entahlah, masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.” “Tapi kurasa kau harus ke sini. Aku melihat Stella bersama Ferdy dan beberapa temannya.” “Sedang apa mereka di sana, Jo?” “Aku tidak tahu, sepertinya mereka sedang merayakan sesuatu. Bagaimana bisa Stella bersama mereka?” “Aku juga tidak tahu. Aku akan ke sana sekarang.” Gerald menutup teleponnya dan segera ke ruang ganti untuk menganti handuk yang membalut pinggangnya dengan kaos dan celana jeans. Gerald keluar dari kamarnya dan segera ke garasi. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk sampai ke club Jonathan. *** Jonathan segera menemui Gerald yang saat itu sedang mencari keberadaan Stella “Di mana dia, Jo?” tanya Gerald. “Tenang dulu, Ger. Kita ke ruanganku dulu!” kata Jonathan mengajak Gerald masuk ke ruangannya. “Hubby, aku membuatkan makanan untukmu,” seru Desinta begitu melihat suaminya masuk. “Nanti saja, Honey. Aku ada urusan dengan Gerald,” kata Jonathan. “Kalau begitu, aku akan meminta Sisi membuatkan makanan untukmu juga, Ger.” Desinta hendak keluar tapi Gerald mencegahnya. “Tidak perlu, Des. Aku tidak biasa makan malam,” ujar Gerald. “Kau tahu di mana dia, Jo?” tanya Gerald. “Aku juga tidak tahu. Aku bertemu dengannya di pintu masuk. Kita akan cari bersama,” ucap Jonathan. “Honey, aku akan keluar sebentar. Kau tunggulah di sini!” perintah Jonathan pada istrinya. Sementara itu di sebuah ruangan, Stella sedang berbincang-bincang dengan Devi dan beberapa orang teman kerjanya. Waitres datang membawa minuman dan makanan pesanan Ferdy. “Teman-teman, malam ini selain kita merayakan keberhasilan kita, kita juga menyambut kehadiran Stella yang baru bergabung di tim kita. Jadi, mari kita bersulang untuk Stella dan kerja keras kita selama ini.” Mereka pun mengambil gelas minuman masing-masing. Ferdy memberikan segelas cocktail pada Stella. Stella pun menerima gelas itu. “Cheers!” lanjut Fredy. Mereka serentak mengangkat gelas dan bersulang. Ketika Stella hendak meminum minumannya tiba-tiba seseorang dengan cepat mengambil gelas dari tangannya. “G ....? Stella terkejut mendapati Gerald berada di ruangan tempat dia dan teman-temannya sedang berkumpul. “Kau tidak boleh meminumnya karena ini mengandung alkohol.” “Jangan buat aku malu di depan teman-temanku, G!” bisik Stella melihat teman-temannya yang sedang melihat ke arah mereka berdua. “Lagipula, apa pedulimu? Kenapa bukan kekasihmu aja yang kau urus? Kembalikan minumanku!” lanjut Stella sambil berusaha mengambil gelas berisi cocktail itu dari tangan Gerald tapi dengan cepat Gerald langsung meminumnya. Stella mengambil gelas kosong itu dari tangan Gerald lalu menarik tangan Gerald keluar. “Sebenarnya apa maumu, G?” tanya Stella dengan tatapan marah. “Menyelamatkanmu dari minuman itu,” jawab Gerald tenang membalas tatapan Stella. “Tapi minuman itu gak akan membunuhku. Kau sudah merusak acaraku, G.” “Acara?” Gerald mengernyitkan alis dan dahinya. “Iya. Kami sedang merayakan keberhasilan tim kami yang telah memenangkan tender. Sekarang kamu sudah merusaknya,” ucap Stella marah. “Apakah kau ingin mereka semua tahu kalau Stella sudah bersuami, Ger?” tiba-tiba Ferdy muncul di belakang Stella. Gerald menatap tajam pada Ferdy. “Apa maksudmu?” tanya Gerald tidak suka melihat Ferdy ikut campur. “Kau seorang CEO, Ger. Pasti kau tahu, bagaimana karier Stella jika ada di antara mereka yang memberitahu pimpinan bahwa Stella sudah bersuami,” ungkap Ferdy. “Kau ... mengaku belum menikah?” Gerald menatap tajam pada Stella, membuat Stella menunduk. “Kau membuatnya takut, Ger,” bela Ferdy. “Diam kau!” Gerald mencengkram kerah kemeja Ferdy. Melihat perbuatan Gerald, Stella langsung memegang tangan Gerald. “Apa yang kaulakukan, G?” tanya Stella berusaha melepaskan cengkraman tangan Gerald pada kemeja Ferdy. Beberapa orang teman-temannya terlihat menghampiri Ferdy. “Ger, tenang dulu. Jangan ribut di sini, please!” Jonathan berusaha menenangkan Gerald. Gerald pun melepaskan cengkramannya dan menarik tangan Stella untuk mengikutinya. “Aku mau mengambil tasku dulu,” teriak Stella. Gerald menghentikan langkahnya dan menatap Stella dengan raut wajah yang sulit diartikan. “Cepat ambil!” ujar Gerald. Stella segera masuk ke ruangan itu dan kembali keluar membawa tasnya. “Stella!” panggil Desinta ketika melihat Stella berada di antara Jonathan dan Gerald. “Bagaimana kau bisa di sini?” tanya Desinta. “Oh, kebetulan aku sedang ada acara kantor di sini tapi ....” Stella melihat ke arah Gerald yang sudah duduk di sofa. Wajah Gerald yang sedikit memerah membuatnya takut. “Kalau begitu, bagaimana jika kita double date saja?”saran Desinta. “Loh, kenapa kamu tidak duduk di sebelah Gerald, Stella?” tanya Desinta ketika melihat Stella duduk menjauh dari Gerald. “Aku lebih nyaman di sini, Des,” jawab Stella tanpa menoleh sedikitpun kepada Gerald. “Kau kenapa, Ger?” tanya Jonathan ketika melihat Gerald memegang tengkuk lehernya. “Entahlah, aku merasa sedikit pusing dan kepanasan.” Gerald membuka kancing atas kemejanya lalu dia mengambil sebotol air dingin yang ada di meja dan langsung meneguknya sampai habis. “Ada sesuatu di minuman yang diberikan Ferdy pada Stella, Jo,” bisik Gerald pada Jonathan, dia tidak ingin Stella mendengarnya. “Kau meminumnya?” tanya Jonathan berbisik dan Gerald mengangguk. “Aku akan mengantar kalian pulang, Ger.” Jonathan hendak berdiri tapi Gerald menahannya. “Tidak usah, Jo. Aku masih kuat untuk menyetir. Kalau begitu, kami pulang dulu.” Gerald berdiri dari kursinya, diikuti oleh Stella. “Hati-hati di jalan, Ger!” seru Jonathan. *** Di tengah perjalanan Gerald mulai merasa gelisah, dia menaikkan suhu ac pada mobilnya dan berusaha memikirkan hal yang dapat menjaga kesadarannya tapi itu tidak bertahan lama. Gerald mengambil bluetooth earphone dan memakainya setelah itu dia memencet tombol pada ponselnya. “Halo Dave, sorry aku menganggumu.” “It’s okey, Ger. Ada apa?” “Apakah ada penawar untuk Aphrodisiacs, Dave?” “What? Apa kau ...?” “Aku tidak bisa menceritakannya sekarang, Dave. Apakah ada penawarnya?” “Tidak ada, Ger. Tapi kau bisa mencobanya dengan cara mandi air dingin tapi jika efeknya kuat cuma ada 1 cara.” “No, I don’t do that, Dave. Thanks for your advice” Gerald mematikan ponselnya. Stella merasakan perubahan sikap Gerald yang tidak seperti biasanya. “Apa kau baik-baik aja?” tanya Stella sambil melirik ke Gerald. “Mmmh.” Gerald berusaha fokus melihat jalan. “Lalu, apa itu Aphrodisiacs? Kenapa kamu menanyakan penawarnya? Apa kamu keracunan karena minuman tadi?” tanya Stella penasaran. Gerald hanya diam, dia tidak bisa menjelaskannya pada Stella karena dia tidak ingin gadis itu merasa bersalah. Akhirnya mereka sampai di rumah. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Gerald langsung masuk ke dalam tanpa peduli dengan Stella yang saat itu memanggilnya. “G ... G ... kamu belum menjawab pertanyaanku.” Stella terus mengikuti Gerald sampai kamar. Dia melihat Gerald tergesa-gesa masuk ke kamar mandi. DRET ... DRET ... DRET Stella melihat ke ponsel yang diletakkan Gerald di atas lemari panjang. Getaran terus menerus pada ponsel itu membuat Stella mau tak mau harus mengambilnya. “G, ada telepon dari Dave.” Tidak mendapat respon dari Gerald, mau tak mau Stella mengangkatnya. “Halo Dave, ini Stella. Gerald lagi di kamar mandi. Ada apa sebenarnya, Dave?” tanya Stella. “Bagaimana keadaannya, Stel?” “Aku tidak tahu. Aku memanggilnya pun tidak dihiraukannya. Dia langsung masuk ke kamar mandi,” ucap Stella. “Kau tahu apa yang dia minum atau makan sebelumnya?” “Iya, dia meminum minumanku. Aaah, sebenarnya aku tadi ada acara dengan teman-temanku lalu Gery mengambil minuman yang diberikan Ferdy untukku.” Stella menjelaskan kronologi kejadian di club JW. “Ferdy? Memberikan minuman untukmu dan Gery yang meminumnya?” “Iya. Dia bilang minuman itu mengandung alkohol tapi aku memaksa mau meminumnya tapi dia langsung meminumnya.” “Dia berusaha melindungimu, Stella. Minuman itu mengandung obat perangsang dan Ferdy berniat jahat padamu.” “Obat perangsang? Untuk apa? Tapi tidak mungkin Ferdy berbuat jahat padaku, Dave. Dia sangat baik padaku,” kata Stella lugu. “Itu—aku rasa biar Gery yang menjelaskannya padamu. Saat ini, mungkin dia sedang berusaha menghilangkan efeknya tapi jika efeknya terlalu kuat, aku rasa cuma kamu yang bisa menolongnya.” “Aku? Bagaimana caranya, Dave?” tanya Stella polos. “.................” “Apa?” Mendengar perjelasan yang diberikan Dave, Stella menutup mulutnya dengan mata terbelalak. “Hanya itu cara terakhir untuk menolongnya, Stella.” “Aku tidak bisa, Dave,” ucap Stella. “Pikiranlah baik-baik, Stel. Aku harus pergi sekarang.” Stella melihat Gerald keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk yang melilit pada pinggangnya. Dia masuk ke ruang pakaian. Bergantian Stella yang masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Dia menatap dirinya di cermin sambil memikirkan perkataan Dave tadi. “Apa menurutmu aku harus menolongnya?” tanya Stella pada dirinya di cermin. *** Setelah berganti pakaian, Stella mencari Gerald di ruangannya tapi dia tidak melihatnya di ruangan itu. Stella bermaksud mencari Gerald ke lantai bawah dan ketika dia ingin membuka pintu, Gerald masuk dengan sebotol air mineral dingin di tangannya. “Kau dari mana, G?” tanya Stella. “Aku mengambil air.” Gerald menunjukkan botol air yang dibawanya. Dia hendak ke ruangannya tapi Stella menghadangnya. “Apakah aku bisa menolongmu, G,” kata Stella. “Tidak perlu. Istirahatlah!” jawab Gerald hendak kembali ke ruangannya tapi Stella lagi-lagi menghalangi langkahnya. “Tapi kata Dave, hanya aku yang bisa menolongmu, G.” “Menjauh dariku, Stey. Aku bisa mengatasinya. Tolong, biarkan aku sendiri.” Gerald berusaha menghindar dari Stella tapi Stella membandel dan kembali menghalangi langkah Gerald. Kali ini Stella yang mengambil inisiatif terlebih dahulu, dia berjinjit sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Gerald lalu menempelkan bibirnya ke bibir pria yang berstatus suaminya itu. Gerald menelan salivanya, dia tetap berusaha menahan hawa panas yang sedang berkecamuk di dalam tubuhnya. Dipegangnya bahu Stella lalu didorongnya perlahan agar gadis itu tidak tersinggung dengan penolakannya. “Cukup, Stey. Menghindarlah dariku seperti yang kaulakukan selama ini. Lagi pula kontrak kita hampir selesai!” tegas Gerald sambil menelan salivanya kembali lalu meninggalkan Stella yang diam terpaku. Matanya berkaca-kaca mendengar perkataan Gerald yang mengingatkannya pada kontrak pernikahan mereka. Airmatanya menetes membasahi kedua pipinya, tangisnya pecah saat itu juga. Dia menangis bukan karena penolakan Gerald tapi karena dia tidak ingin berpisah dari pria itu. Sekarang Stella benar-benar yakin dengan perasaannya bahwa dia sangat mencintai Gerald. Sementara itu di ruangannya, Gerald berusaha menahan hawa panas yang semakin menyerangnya ditambah suara isak tangis Stella yang membuat kepalanya seperti mau pecah. Dia tidak tega melihat Stella seperti itu dan dia lebih tidak tega lagi jika masa depan gadis itu harus rusak di tangannya. Stella menghampiri Gerald yang saat itu sedang duduk di ranjangnya dengan kepala menunduk sambil memegangi kepalanya. Stella memanggil Gerald, membuat pria itu mengangkat kepalanya. Gerald melihat mata Stella yang sembab, dia khawatir melihat keadaan Stella saat ini tapi dia berusaha untuk tidak memperlihatkan kekhawatirannya itu. Keringat mulai membasahi t-shirt yang menutupi tubuhnya. Dinginnya suhu di ruangan itupun tidak dapat meredakan hawa yang semakin panas di dalam tubuhnya. “Ijinkan aku yang menolongmu, G! Aku mohon.” “Tidak, Stey. Tolong, keluar dari ruanganku!” pinta Gerald sambil memejamkan matanya. “Kenapa kamu gak mengijinkanku untuk menolongmu, G? Apa karena aku begitu menjijikan buatmu hiks ....” Stella menangis. “Tidak seperti itu, Stey. Kau punya masa depan dan aku tidak ingin merusak masa depanmu,” jelas Gerald. “Lalu, kamu mengharapkan Mercy yang menolongmu. Begitukah, G?” Stella menghampiri Gerald dan berdiri tepat di depannya. “Jangan memulai pertengkaran, Stey!” seru Gerald dengan sorot mata tajam. Tapi Stella tidak takut, dia sudah terlanjur emosi dengan sikap Gerald padanya. “Kalau begitu, aku memilih kamu yang akan menjadi masa depanku, G. Bagaimana?” Gerald terdiam, tatapan matanya tidak lepas dari Stella. Merasa tidak mendapatkan jawaban dari pria itu, Stella pun sadar bahwa bukan dia yang Gerald harapkan dapat menolongnya saat ini “Aku melihat apa yang kalian lakukan tadi pagi, G. Jika memang dia yang kamu harapkan bisa menolongmu, aku akan memintanya untuk datang malam ini.” Stella mengambil ponsel Gerald yang ada di meja dan bermaksud untuk menghubungi Mercy. Tiba-tiba Gerald menghampiri Stella serta mengambil ponsel itu lalu melemparnya ke sofa yang ada di ruangan itu. Dia memegang ke dua bahu Stella sambil menatapnya. “Kau membuatku marah, Stey.” Gerald yang sudah tak sanggup menahan hawa panas di tubuhnya lalu menarik pinggang Stella dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang tengkuk Stella kemudian Gerald mendekatkan bibirnya menyentuh bibir mungil tersebut. Stella terdiam memaku, dia terkejut. Merasa tidak mendapat respon dari Stella, Gerald hampir saja melepaskan ciumannya namun perlahan Stella membuka bibirnya dan membalas ciuman Gerald. Merasakan respon Stella terhadapnya, Geraldpun menekan tengkuk Stella dan memperdalam ciumannya. Stella mengalungkan kedua tangannya dileher Gerald lalu memejamkan matanya. Gerald dapat melihat kepolosan Stella, dia pun berusaha mengimbangi Stella yang terlihat masih sangat amatir dalam berciuman. Gerald semakin yakin bahwa dia adalah orang yang pertama buat Stella. Dengan sangat hati-hati direbahkannya tubuh Stella di ranjang tanpa melepaskan pangutannya, perlahan ciumannya turun ke leher jenjang Stella dan membuat tanda kepemilikan di sana dan malam itu, Gerald menjadikan Stella sebagai istri yang sesungguhnya. “Maafkan aku.” Gerald mengecup kepala Stella yang tertidur di pelukannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN