Bab 14. Pilihan yang Sulit

3395 Kata
Cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden jendela membuat Gerald terbangun dan memicingkan matanya. Rasa lelah yang sangat masih mendominasi tubuhnya, setelah beberapa saat merilekskan otot-ototnya dia pun bangun mengambil posisi duduk. Dia melihat tempat tidurnya yang serba kusut dan pakaiannya yang berserakan di lantai. Dipejamkannya matanya sesaat dan mengingat-ingat kejadian yang terjadi semalam. “Stella.” Dia segera melompat dari tempat tidurnya, mengenakan pakaiannya dan mencari Stella di ruangannya. Mungkin dia sudah di bawah, pikirnya. Segera Gerald masuk ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya. Setelah selesai berpakaian, dia pun turun menuju dapur. “Pagi Tuan, sarapan Anda sudah siap,” kata Bi Asih. “Di mana nyonya, Bi?” tanya Gerald. “Nyonya pergi pagi-pagi sekali, Tuan.” Gerald mengangguk dan menuju ruang makan. Dia mencoba untuk menghubungi ponsel gadis itu tapi tidak diangkatnya. Sementara itu, Stella sudah sampai di kantornya. Dia menyimpan tasnya dan membuka berkas-berkas yang harus dia kerjakan. Tak lama teman-temannya datang satu persatu. “Stella, siapa pria yang mengambil minuman itu?” tanya Devi. “Bukan siapa-siapa,” jawab Stella sambil tersenyum. “Mereka pada bilang pria itu kekasihmu. Apa benar?” “Kalau iya, kenapa?” Stella masih tersenyum sambil membereskan berkas-berkasnya. “Aku dengar dari Felicia kalau kekasihmu itu seorang CEO dari Xander Corp.” Devi merasa penasaran dengan sikap Stella. “No comment.” Stella berdiri dari kursinya dengan membawa berkas-berkas yang sudah selesai dia kerjakan untuk diserahkan ke Felicia. Stella meletakkan berkas itu di meja Felicia. Ketika dia ingin keluar tiba-tiba Felicia berdiri di depannya. “Kau hanya gadis yang baru beranjak dewasa tapi sudah pintar merebut hati 2 pria sekaligus,” sindir Felicia. “Apa maksudmu, Fel?” “Jangan kaupikir aku tidak tahu siapa pria yang datang di acara kita semalam.” Stella hanya diam, dia tidak ingin berdebat dengan wanita itu. “Kau sudah mendapatkan seorang CEO dari Xander Corp lalu kenapa kau masih mendekati Ferdy?” “Aku tidak mendekatinya tapi dia yang berusaha mendekatiku,” jawab Stella. “Kau cukup percaya diri juga, yah.” Felicia menuju mejanya. “Tentu saja. Coba kaupikir untuk apa aku mendekatinya sedangkan aku sudah memiliki kekasih seorang CEO seperti yang kaukatakan tadi.” “Kau ....” Felicia kehabisan kata-katanya. “Aku mau kembali ke mejaku dulu.” Stella tersenyum sinis. Ketika akan kembali ke mejanya, Stella melihat Ferdy di ruangannya. Dia segera masuk ke ruangan itu dan menutup pintunya. “Ste–Stella, ada apa?” Ferdy berdiri dari kursinya. PLAK. Stella menghampiri Ferdy dan menamparnya. “Aku sudah menganggapmu sebagai temanku tapi kau malah mau menjebakku dengan minuman itu, dasar b******k!” “Stella, tolong maafkan aku!” Ferdy mendekati Stella. “Stop! Jangan coba-coba mendekatiku!” Stella mundur beberapa langkah dan segera membuka pintu. “Mulai hari ini, aku resign dari perusahaan ini.” Stella keluar sambil membanting pintu. Teman-teman satu timnya melihat ke arahnya termasuk Devi. Stella membereskan meja kerjanya lalu mengambil tasnya “Stella, kamu mau ke mana?” tanya Devi. “Mulai hari ini aku resign dari tempat ini, Dev. Aku pergi, bye.” Stella pun keluar dari ruangan itu. *** “Bel, loe di mana?” Stella menghubungi Bella, sahabatnya. “Gue di rumah, ada apa, Stey?” “Temenin gue jalan, yuk! Gue lagi suntuk.” “Oke, kita ketemuan di mall biasa, gimana?” “Ehm. Oke, tapi loe gak usah ajak Rio yah!” pinta Stella. “Iya gue ngerti. Lagian Rio nya juga udah kerja.” “Yah udah, gue berangkat sekarang, Bel.” Stella mematikan ponselnya dan memesan taksi online. Stella menghampiri Bella yang sedang menunggunya di depan cafe. “Ada apa, Stey? Dari tadi gue perhatiin loe kaya gak mood gitu?” tanya Bella, setelah mereka mendapatkan meja di sebuah cafe yang biasa mereka datangi jika sedang jalan di mall itu. “Nggak ada apa-apa kok,” jawab Stella. “Loe gak bisa bohongin gue, Stey. Gue kenal loe dari SMA. Ada apa, Stey?” “Kalau gue baru cerita sekarang sama loe, apa loe bakal marah sama gue?” “Nggaklah, Stey. Ada apa?” “Sebenarnya gue ....” Stella berhenti sesaat, seorang waitres mengantarkan pesanan mereka. “Terima kasih,” ucap Stella dan Bella bersamaan. “Sebenarnya kenapa, Stey?” “Loe ingat gak, waktu gue disuruh jadi pacar orang yang mobilnya gue tabrak?” “Iya gue ingat, trus kenapa?” “Sebenarnya, setelah gue dikenalin sebagai pacarnya, sebulan kemudian gue married sama dia karena paksaan orangtuanya.” “Hah! Gila loe yah, Stey. Jadi selama ini sebenarnya loe udah married?” Bella sedikit kecewa dan Stella hanya bisa mengangguk. “Udah berapa lama, Stey?” “Bulan ini udah berjalan 5 bulan lebih dan beberapa minggu lagi pernikahan gue selesai.” Bella bertambah kaget mendengar ucapan Stella. “Apa maksud loe, Stey?” “Gue ngejalanin pernikahan kontrak selama 6 bulan. Setelah 6 bulan, kami akan bercerai.” “Apa kompensasi yang loe dapat setelah bercerai?” “Gue ga minta apa-apa, Bel. Lagi pula apa yang gue lakuin adalah untuk membalas budi karena dia udah selamatin nyawa papa gue.” “Tetap aja itu gila, Stey. Loe udah dirugiin sama dia. Apa dia juga udah menyentuh loe?” Stella yang sedang menyedot minumannya tersedak begitu mendengar pertanyaan Bella. Stella kembali menyedot minumannya agar tidak terlihat gugup di mata Bella. “Loe jatuh cinta sama dia, Stey?” tiba-tiba Bella mengajukan pertanyaan lain, membuat Stella tertunduk diam. Tak lama dia menangis, Bella pindah ke sebelah Stella dan memeluknya sambil mengusap bahunya. Setelah cukup lama menangis, Stella menghapus airmatanya dengan tissue yang disodorkan Bella padanya. “Gue mau ke toilet dulu, yah.” Bella mengangguk dan Stella segera menuju toilet. Sambil menunggu Stella kembali, Bella mengetik sesuatu di ponselnya. Tak lama Stella pun kembali. “Kita mau jalan ke mana lagi, Stey?” tanya Bella. “Gak tahu.” Stella mengelengkan kepalanya. “Gimana kalau kita nonton. Ehm, kebetulan ada film kesukaan kita yang akan tayang jam 2 ini. Nanti, pulangnya kita makan di kedai mie kesukaan loe, gimana?” tanya Bella. Stella mengangguk setuju. *** “Kau dari kantor, Ger?” tanya Jonathan. “Iya. Tapi aku malas kembali lagi ke kantor.” Gerald keluar dari kantor begitu jam makan siang dan langsung ke rumah Jonathan yang tidak begitu jauh dari kantornya. “Kau baik-baik saja, Ger?” tanya Jonathan. “Aku baik-baik saja,” jawab Gerald singkat. “Lalu bagaimana dengan Stella? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Jonathan kembali. “Entahlah. Dia sudah berangkat pagi-pagi sekali ketika aku masih tidur.” “Tapi setidaknya, kau sudah menyelamatkannya dari ba****an itu, Ger.” Jonathan menuang air mineral ke gelas Gerald. “Tapi sekarang aku yang menghancurkan masa depannya.” Gerald mengambil gelas itu dan meminumnya. “Tidak, Ger. Dia istrimu.” “Bagaimana jika dia sampai ....” Gerald menghentikan ucapannya. “Hamil maksudmu? Kenapa? dia istrimu. Dan jika itu terjadi, mungkin itu suatu pertanda untukmu bahwa dialah sosok masa depanmu.” “Bagaimana dengan Mercy, Jo?” “Kau masih memikirkannya, Ger?” “Aku bilang padanya kalau aku akan menceraikan Stella setelah 6 bulan pernikahan.” “Apa? Jangan gila, Ger. Kau sendiri yang bilang kau sudah menghancurkan masa depannya. Kau harus bertanggung jawab, Ger!” seru Jonathan agak marah. “Saat ini, aku tidak bisa berpikir, Jo.” Gerald kembali meneguk minumannya. “Di mana Stella sekarang, Ger?” tanya Jonathan. “Mungkin di kantornya, aku mencoba menelponnya tapi tidak diangkat.” “Jemputlah dia, Ger. Jangan sampai ba****an itu mendekatinya!” Jonathan memberi saran dan Gerald menganggukkan kepalanya. *** Selesai menonton film, Stella dan Bella segera menuju cafe untuk makan malam, mereka mencari tempat duduk dan seseorang melambaikan tangan pada mereka. “Kok, loe bisa ada di sini, Yo?” tanya Stella pada Rio. “Ehm iya, aku kebetulan habis pulang kerja. Jadi, mampir dulu ke sini,” jawab Rio berbohong, Stella hanya mengangguk. “Loe mau pesan apa, Stey?” tanya Bella. “Mmmh ... spaghetty carbonara.” Bella memesan makanan dan minuman untuk mereka. Tak lama makanan dan minuman mereka pun datang. “Bagaimana kabarmu, Stella?” tanya Rio disela mereka makan. “Baik,” jawab Stella singkat. “Aku dengar kamu sudah bekerja, yah?” tanya Rio. “Gue resign,” jawab Stella. “Oya? Hm ... di tempatku bekerja sedang membuka lowongan. Mungkin kamu ingin mencobanya,” kata Rio “Boleh. Nanti loe kirim aja alamatnya biar gue bisa antar cv dan berkas lainnya,” ucap Stella. “Yo, nanti loe tolong anter Stella, yah. Gue harus jemput mama.” Bella meminta tolong pada sepupunya itu. “Gue bisa pulang sendiri, Bel.” “Jangan! Ini udah malam jadi biar aku anter kamu, please,” pinta Rio. Stella hanya diam tidak menjawab. Rio mengantar Stella sampai di depan rumah orangtuanya. Stella melepas helm yang dipakainya. “Thanks, Yo,” ucap Stella sambil memberikan helm kepada Rio. “Your welcome. Aku balik dulu, yah,” pamit Rio. “Hati-hati di jalan!” Stella melambaikan tangannya pada Rio yang langsung memacu motornya. “Kau dari mana?” Stella kaget dan mundur 2 langkah mendengar suara itu. “Kenapa kamu ada di sini, G?” tanya Stella. “Aku menjemputmu. Kenapa dengan ponselmu? Aku berkali-kali mencoba menghubungimu.” Stella mengambil ponsel dari dalam tasnya. “Oooh ... baterainya habis.” Stella menjawab dengan kepala tertunduk sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. “Lebih baik kamu pulang, G. Aku ingin menginap di sini.” “Kenapa? Apa karena w semalam ... ?” Gerald belum selesai berbicara, Stella langsung memotongnya. “Bu–bukan karena itu. Aku hanya butuh waktu sendiri aja.” “Baiklah, kalau begitu aku juga akan menginap di sini!” Gerald bermaksud hendak masuk ke dalam tapi Stella mencekal tangan Gerald. “Kamu gak boleh menginap di sini. Kamarnya cuma 2 sedang di kamarku ranjangnya kecil,” ujar Stella. “It’s ok. Aku bisa tidur di sofa.” “Baiklah, kita pulang!” seru Stella kesal dan langsung menuju ke mobil Gerald. Di dalam mobil mereka sama-sama terdiam. Stella membuang pandangannya ke jendela sedangkan Gerald fokus mengendarai mobilnya. Gerald memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi karena kebetulan sudah larut malam, kendaraan yang lewat pun sedikit. *** Pagi-pagi sekali, Stella sudah sampai di rumah orangtuanya. “Ma, Pa. Aku di sini.” Stella mengejutkan kedua orangtuanya yang saat itu sedang sibuk. Dia mencium pipi kedua orangtuanya. Bernard merangkul dan mencium kepala putrinya itu. “Aku ke sini mau bantuin papa dan mama.” “Kau tidak bekerja, Stey?” tanya Mery. Stella menggelengkan kepalanya. “Kenapa, sayang?” tanya Benard. “Gery melarangku bekerja, Pa,” jawab Stella berbohong. “Menantu mama itu memang pria yang sangat baik. Kemarin sore, dia datang ke sini dan membantu mengantarkan makanan ke pengunjung. Seorang bos besar tapi mau melakukan pekerjaan itu.” Mamanya mengacungkan jempol di depan Stella. “Sudah-sudah, antarkan makanan ini ke meja yang ujung!” perintah papanya. Stella pun meletakkan tasnya di meja dapur dan segera membawa nampan ke depan. Beberapa kali dia mondar-mandir mengantarkan makanan ke meja-meja pengunjung. Seperti biasa, setiap jam makan siang kedai makan orangtuanya selalu ramai. “Stey, sekarang kamu antarkan makanan ini untuk suamimu!” suruh papanya. Sebenarnya Stella ingin menolaknya tapi dia tidak ingin orangtuanya curiga akhirnya dia terpaksa menuruti permintaan papanya. Stella tiba di kantor Gerald dan disambut sikap hormat dari resepsionis, Stella pun membalasnya dengan anggukan kepala dan senyum manisnya lalu langsung menuju lift khusus yang biasa dipakai Gerald. “Lihat, siapa yang datang! Kau kangen dengan suamimu, yah?” goda Shanty. “Iiih ... apaan sih,” ujar Stella sambil meletakkan box-box itu di meja Shanty. “Tolong, berikan box ini untuk bosmu dan yang ini, untukmu!” ucap Stella. “Kenapa bukan kau saja yang memberikannya?” “Aku gak mau ganggu dia, lagian aku masih ada keperluan,” ucap Stella berbohong dan langsung pergi dari ruangan itu, membuat Shanty mengernyitkan alisnya. “Tuan, ini makanan untuk Anda.” Shanty meletakkan box makanan itu di meja Gerald. “Aku tidak memesan ini, Shan.” Gerald bingung. “Baru saja Stella ke sini mengantarkannya, Tuan,” kata Shanty. “Stella yang mengantarnya?” tanya Gerald mengernyitkan kedua alisnya. “Iya Tuan.” “Terima kasih,” ucap Gerald. *** Gerald merasa bahwa Stella berusaha menghindarinya. Stella selalu berangkat pagi-pagi sekali ketika dia belum bangun dan sudah tertidur ketika dia pulang. Sebenarnya bisa saja dia menegurnya tapi dia tidak mau melakukannya karena dia ingin memberikan waktu pada Stella. Dan hari ini, sepulang kantor dia sengaja mampir ke club menemui kedua sahabatnya, Jonathan dan Dave. “Hai, Bro.” “Bagaimana seminarnya, Dave?” tanya Jonathan. “Berjalan lancar dan banyak hal baru yang kudapat di sana,” jawab Dave. “Bagaimana dengan kalian?” Dave balik menanyakan keadaan sahabat-sahabatnya. “Aku baik-baik saja,” jawab Jonathan. “Lalu bagaimana dengan kau, Ger?” tanya Dave. “Apa kau yang meminta Stella untuk menolongku, Dave?” tanya Gerald sambil meneguk minumannya. “Iya. Karena hanya dia yang bisa menolongmu saat itu.” Melihat Gerald diam, Jonathan membisikkan sesuatu ke Dave. “Aku rasa kau harus menyelesaikan masalahmu, Ger. Jika kau seperti ini, permasalahan di antara kalian tidak akan pernah selesai. Usianya masih sangat muda jadi kau yang harus mengalah sedikit,” saran Dave. “Masalahnya Mercy sudah kembali, Dave,” ucapo Jonathan. “Kau masih mengharapkan Mercy, Ger? Setelah apa yang sudah terjadi antara kau dan Stella?” tanya Dave. “Aku juga tidak tahu, Dave. Aku benar-benar pusing dihadapkan pada persoalan ini.” Akhirnya Geraldpun membuka suaranya. “Aku mengerti keadaanmu, Ger. Tapi menurutku, kau harus mempertahankan pernikahanmu dengan Stella. Lupakanlah Mercy, Ger!” saran Dave. “Aku setuju dengan Dave. Stella gadis baik, Ger. Masa depannya ada di tanganmu sekarang.” Jonathan juga ikut memberikan sarannya. Gerald hanya diam mendengar saran dua sahabatnya itu. *** Dering bunyi alarm membangunkan Stella dari tidurnya. Dia kaget melihat pintu balkon kamarnya yang sudah terbuka, dia pun melihat jam weker yang ada di atas meja nakas. Pasti dia yang mengubah alarmnya, pikir Stella. “Aku harus cepat-cepat mandi.” Stella melompat dari ranjangnya lalu berlari ke kamar mandi. Selesai berganti pakaian, Stella mengambil tasnya dan segera turun ke lantai bawah sambil mengendap-ngendap hendak menuju garasi tapi langkahnya terhenti karena berpapasan dengan Gerald yang masuk dari arah garasi. “Kau mau ke mana lagi?” tanya Gerald sambil melipat kedua tangannya di d**a. “Mmmh ... kau belum berangkat ke kantor?” tanya Stella untuk menutupi kegugupannya. “Belum. Aku menunggumu untuk sarapan,” jawab Gerald tersenyum karena ingat perbuatannya semalam yang dengan sengaja mengubah waktu alarm pada jam weker Stella. “Aku sarapan di rumah mama aja.” “Kenapa? Kau tidak ingin menemaniku sarapan?” tanya Gerald sambil mendekat ke arah Stella. “Aku ... aku ....” Stella mundur beberapa langkah. “Mencoba menghindariku?” Dengan santainya Gerald terus mendekat ke arah Stella, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya. Stella terus mundur sampai akhirnya langkahnya terhenti karena tubuhnya menyentuh dinding. Sementara Gerald terus mendekatinya hingga berjarak 30 cm dengan Stella. “Nggak, G. Aku gak menghindarimu. Aku cuma ingin ....” Stella terdiam. Dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya, jantungnya berdetak cepat sekali. Jika ingin jujur, dia memang menghindar dari Gerald karena dia tidak ingin sakit hati. Jika dia terus berada di dekat pria itu, perasaan cintanya akan semakin dalam. Stella tidak ingin itu terjadi padanya. “Ada yang harus kita bicarakan, Stey. Nanti sepulang kantor, aku akan menjemputmu. Sekarang kita sarapan bersama!” Gerald menarik tangan Stella untuk mengikutinya ke ruang makan. Stella terpaksa mengikuti Gerald menuju ruang makan. *** Gerald tiba di rumah mertuanya pukul 7 malam, suasana di kedai makan itu masih sangat ramai. Terlihat Stella yang mondar-mandir mengantarkan makanan ke para pengunjung dibantu seorang pegawai laki-laki bernama Deny. Melihat kesibukan di kedai itu, Gerald pun langsung ke dapur sambil menggulung lengan kemejanya sampai dibawah sikunya. “Sejak kapan kamu datang, Nak?” tanya Bernard pada menantunya. “Baru saja, Pa. Biar aku bantu mengantarnya ke meja pengunjung,” kata Gerald mengambil nampan yang sudah siap diantar. “Tidak usah, Nak. Kau sudah lelah dengan pekerjaanmu. Lebih baik kau istirahat di dalam, nanti Papa suruh Stella menyiapkan makan malam untukmu,” ucap Bernard. “Aku tidak lelah, Pa. Aku senang melakukannya.” Gerald membawa pesanan itu ke meja yang sesuai dengan nomor yang ada di nampannya. Pandangan mata Stella tidak lepas dari Gerald yang ikut mondar mandir melayani tamu. Ternyata dia lebih ganteng jika berpakaian seperti itu, ucapnya dalam hati. Tiba-tiba Stella dikagetkan dengan datangnya sekumpulan wanita yang baru saja pulang kantor dan beberapa gadis seusianya. Mereka meminta Gerald yang melayani pesanannya. Ada yang menarik tangan Gerald, ada juga yang berdiri memegang bahunya bahkan ada yang meminta foto selfie berdua dengannya. “Kau tidak cemburu melihat suamimu di kelilingi wanita-wanita dan gadis-gadis belia itu?” bisik Mery pas ditelinganya, membuat Stella kaget. “Iih ... mama ngagetin aja, sih,” protes Stella, mengerucutkan mulutnya. Dia melihat lagi ke arah Gerald yang tidak bisa bergerak sama sekali. Stella pun segera menghampiri kerumunan itu. “Minggir-minggir semuanya! Kalian ke sini tuh, mau makan atau mau menganggu suami orang?” tanya Stella emosi. “Memangnya kamu siapa? Kok malah kamu yang marah-marah,” seru salah seorang gadis sambil mencibirkan bibirnya. Stella ingin menghampiri gadis seusianya itu tapi dengan cepat Gerald mencekal lengannya. “Maaf, dia istri saya,” kata Gerald sambil menatap Stella yang juga sedang menatapnya. Para wanita dan gadis-gadis itu kembali duduk di tempatnya masing-masing. Gerald merangkul bahu Stella, mengajaknya ke dapur. “Kamu tidak boleh bersikap seperti itu pada mereka, Stey. Biar bagaimanapun mereka tamu di sini,” tegur Mery. “Sebenarnya, mereka tuh datang bukan untuk makan, Ma. Tapi punya maksud lain,” ucap Stella lalu masuk ke dalam rumah. “Begitulah sifatnya, Nak Gery,” ucap Mery pada Gerald yang hanya tersenyum. “Tolong jaga dia, Nak. Mama rasa hanya kamu yang bisa membimbingnya agar dapat menjadi istri dan ibu yang baik nantinya.” “Baik, Ma. Mama tidak usah khawatir. Aku akan menjaganya.” “Nak Gery, masuklah ke dalam untuk makan malam. Setelah itu ajaklah Stella pulang.” Bernard meminta Gerald masuk ke dalam. Gerald mengangguk dan masuk ke dalam. Setelah makan malam, Gerald pun mengajak Stella pulang. *** Sesampainya di rumah, Stella langsung masuk ke kamar diikuti oleh Gerald di belakangnya. “Stey, kita harus bicara.” Gerald mencekal lengan Stella. “Bicara apalagi?” Stella melepaskan cekalan tangan Gerald. “Malam itu ....” Ucapan Gerald terputus karena getaran di ponselnya. Dia mengambil ponselnya dan melihat nama Mercy di layar ponselnya. “Nanti kita lanjutkan lagi, Stey.” Gerald menuju ruangannya. “Halo, Merc.” “Halo Boo. I miss you so much.” “I know. I’m sorry, Merch. Akhir-akhir ini aku banyak pekerjaan. Jadi aku tidak bisa menemuimu.” “Aku mengerti, G. Tapi setidaknya kita bisa makan siang atau makan malam, G.” “Baiklah.” Gerald memegang keningnya dan memijatnya. “Bagaimana kalau besok kita makan malam, G?” “Oke. Aku akan menjemputmu.” “Oke. Bye, Boo.” “Bye, Merch.” Gerald berbalik dan melihat Stella sedang duduk di sofa sambil menatapnya. Gerald menghampirinya dan duduk di sampingnya. “Apa yang mau kamu bicarakan, G?” tanya Stella. “Soal malam itu. Aku telah melakukan kesalahan padamu. Maafkan aku, Stey!” ucap Gerald. Stella menundukkan kepalanya, menghindari tatapan mata Gerald. “Kamu gak salah. Kamu sudah menolongku dari maksud jahat Ferdy. Jadi anggap aja, aku balas budi.” “Balas budi katamu? Aku sudah menghancurkan masa depanmu, Stey. Dan itu kau anggap balas budi.” Gerald kaget mendengar kata-kata Stella. “Lalu maumu aku harus bilang apa,G. Apa aku harus meminta kamu untuk bertanggung jawab?” Stella menatap mata Gerald. “Kalau itu yang kauminta, aku akan melakukannya, Stey.” Gerald pun menatap tajam Stella. “Tapi aku gak akan memintanya, G. Sesuai perjanjian, kita akan bercerai setelah 6 bulan pernikahan.” Stella berdiri dari sofa ingin kembali ke ruangannya. “Apa kau yakin ingin bercerai dariku?” tanya Gerald, dia berdiri di belakang Stella. “Bukankah akan lebih baik jika kau menikah dengan wanita yang kaucintai, G,” jawab Stella setelah sesaat terdiam. Gerald diam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Merasa tidak mendapat tanggapan dari Gerald, Stella pun meninggalkan ruangan Gerald dan kembali ke ruangan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN