Pagi itu Stella berangkat menuju alamat kantor yang diberikan Rio padanya dengan membawa berkas-berkas yang diperlukan untuk melamar pekerjaan.
Sesampainya di tempat tujuannya, dia segera menuju meja resepsionis dan mengutarakan keperluannya pada salah seorang resepsionis akhirnya Stella dipersilahkan ke ruangan direktur. Ada perasaan aneh yang menyelubungi hatinya, kenapa harus ke ruangan Direktur bukan HRD seperti perusahaan pada umumnya. Tapi Stella tetap mengikuti arahan resepsionis, dia memasuki ruang Direktur dan mendapati seseorang yang sedang duduk di belakang meja dalam posisi membelakanginya.
“Selamat pagi, Tuan. Saya Stella. Saya diminta datang oleh Pak Rio untuk melamar pekerjaan di perusahaan ini.” Stella memperkenalkan diri.
“Lamaranmu diterima. Kamu akan menjadi sekretarisku, Stella.” Kursi yang diduduki orang itu berputar dan Stella terkejut melihat Rio yang ada di kursi tersebut.
“Rio? Kok, loe bisa ada di sini?”
“Ini ruanganku, Ste. Sorry, aku tidak bilang padamu bahwa aku adalah Direktur di perusahaan ini karena aku takut kamu akan menolak bekerja di sini,” kata Rio lalu berdiri dan mengajak Stella duduk di sofa.
“Gue ... eh saya ... eh ....”
“Biasa saja, Ste. Kamu boleh bicara seperti biasa, kok. Tidak ada larangan.”
“Tapi, ‘kan gak enak kalau didengar karyawan yang lain, Yo.”
“It’s ok. Aku akan bicara pada mereka kalau kamu adalah temanku. Oya, kapan kira-kira kamu siap bekerja?”
“Senin depan, gimana?” tanya Stella.
“Oke. Selamat bekerja di sini, Ste.” Rio menjulurkan tangannya dan dibalas oleh Stella. Rio pun menjelaskan apa saja yang akan dikerjakan Stella nanti dan dia juga memperlihatkan jadwal-jadwal yang sudah tertulis di agendanya.
Tak terasa hari sudah menjelang siang. Rio segera merapikan berkas-berkas yang tergeletak di meja dibantu oleh Stella.
“Kita makan siang bersama yah, Ste. Sekalian aku ingin memberikan sedikit penjelasan soal pekerjaanmu,” ucap Rio dan Stella hanya menganggukkan kepalanya.
Rio mengajak Stella ke sebuah restoran italy yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantornya.
“Kamu mau pesan apa, Ste?” tanya Rio memecah kekakuan di antara mereka. Seorang waitres bersiap mencatat pesanan mereka.
“Spaghetty carbonara dan lemon tea,” jawab Stella.
“Saya ... bistecca fiorentine and green tea.”
“Baik. Silahkan Tuan dan Nyonya menunggu sebentar.” Waitres itu pun segera memproses pesanan Rio dan Stella.
“Ah, mereka mengira kita suami istri, Ste. Maaf, yah,” ucap Rio merasa tidak enak hati tapi Stella hanya menanggapinya dengan senyum.
***
TOK ... TOK ... TOK
“Maaf Tuan,” kata Ben setelah membuka pintu ruangan Gerald.
“Masuklah, Ben.” Gerald menutup laptopnya.
“Tuan, saya sudah menemui pemilik rumah yang akan menjual rumah itu.”
“Bagaimana hasilnya, Ben?” tanya Gerald.
“Beliau setuju dengan harga yang Anda ajukan, Tuan.”
“Baguslah. Tolong, kau urus semuanya dengan Lucas sampai selesai!” perintah Gerald
“Baik Tuan.” Ben meninggalkan ruangan itu untuk melaksanakan perintah Gerald.
Ketika akan membuka laptopnya, dia melihat ponselnya menyala dan terlihat wajah Mercy pada layar ponsel itu, Gerald segera mengangkatnya.
“Halo, Merc.”
“Boo, kita jadi makan siang ‘kan?”
“Iya, Merch. Aku akan menjemputmu.” Gerald kembali menutup laptopnya lalu mengambil jasnya dan keluar dari ruangannya.
Gerald menjemput Mercy di sebuah butik, di mana Mercy sedang melakukan pemotretan sebagai model gaun pengantin dari butik tersebut. Sekitar 15 menit menunggu Mercy selesai pemotretan akhirnya mereka pun pergi dari butik itu.
“Kau ingin makan di mana, Merc?
“Di daerah sini ada restoran Italy yang sangat enak, Boo. Kita ke sana saja, yah.” Mercy menunjukkan jalannya pada Gerald.
Mereka sampai di restoran yang dimaksud Mercy. Setelah memarkir mobilnya, Gerald dan Mercy turun dari mobil memasuki restoran mewah tersebut. Ketika masuk ke dalam, kesan mewah dan megah dengan langit-langit yang tinggi dihiasi lampu gantung yang cantik membuat suasana di dalamnya terkesan romantis karena mereka yang datang pun kebanyakan berpasangan.
Mercy memilih meja di posisi tengah sehingga memudahkannya untuk melihat semua interior unik pada restoran itu. Tiba-tiba pandangannya tertumpu pada sebuah meja yang ada di sudut ruangan.
“Boo, coba kaulihat meja di sudut ruangan sana,” ucap Mercy bersamaan dengan pandangan matanya yang sedang melihat ke sudut ruangan. Gerald pun mengikuti arah pandang Mercy.
“Lihatlah, Boo. Gadis itu berani selingkuh di belakangmu padahal dia masih terikat kontrak denganmu.” Gerald kembali melihat menu makanan yang ingin di pesannya.
“Lalu, apa bedanya dengan aku? Bukankah saat ini aku juga sedang bersamamu?” tanya Gerald sambil memesan makanannya untuk dicatat oleh pelayan restoran.
“Tentu saja beda, Boo. Kau yang mengontraknya jadi yang harus mematuhi isi kontraknya adalah dia, Boo,” ucap Mercy.
Tak lama pelayan pun tiba dengan menu pesanan mereka. Gerald segera menyantap makanannya. Melihat Gerald yang terkesan acuh, Mercy pun tidak banyak bertanya dan ikut menikmati makanannya.
***
“Malam, Bi,” sapa Stella yang baru saja sampai di rumah.
“Malam, Nyonya,” jawab Bi Asih yang sedang mencuci piring. Stella membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air mineral lalu meminumnya.
“Apakah Nyonya ingin makan malam? Biar Bibi masakan.”
“Aku udah makan malam, Bi. Lebih baik Bibi istirahat sekarang. Aku mau ke atas dan mandi.” Stella membawa sisa air di botol minumnya ke kamar.
Dia membuka dan menutup kembali pintu kamarnya lalu meletakkan tas dan botol minumnya di meja nakas, setelah itu dia pun menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya.
Gerald yang saat itu sedang membaca buku lalu menutupnya dan menuju ruangan Stella. Dia pun menunggu Stella keluar dari kamar mandi. Sekitar 30 menit, Stella keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya. Dia terkejut melihat Gerald sedang berdiri pada tembok pembatas antara kamar mandi dan ruang ganti.
“Kau mengagetkanku, G.” Lalu Stella pun masuk ke ruang ganti. Tak lama dia pun keluar dengan kaos tidur dan celana pendek berwarna senada. Rambutnya yang basah dibiarkannya terurai. Dia melihat Gerald masih berdiri di sana.
“Ada apa, G?” tanya Stella bingung.
“Kau dari mana seharian ini?” tanya Gerald dengan melipat kedua tangannya di d**a.
“Aku di rumah mama.” Stella menjawab sambil menatap mata Gerald.
“Seharian ini kau di sana?”
“Mmmh.” Stella mengangguk.
“Apa kau tidak sedang berbohong?” Gerald berjalan mendekat ke arah Stella dengan memasukkan kedua tangannya pada saku celananya.
“Sebenarnya hari ini aku ada wawancara untuk sebuah pekerjaan dan aku di terima di perusahaan itu, G,” kata Stella.
Merasa Gerald makin mendekat ke arahnya, Stella pun mundur beberapa langkah.
“Lalu kalian merayakannya di sebuah restoran Italy, begitu?” Gerald berhenti tepat di depan Stella yang berjarak hanya 60 cm.
“Itu karena sudah waktunya makan siang jadi dia mengajakku sekalian makan siang,” jawab Stella.
“Siapa dia?”
“Aku rasa itu bukan urusanmu, G.” Stella hendak berbalik arah menghindari Gerald tapi Gerald segera mencekal lengannya.
“Bukan urusanku? Statusmu masih istriku, apa kau lupa?”
“Aku juga melihatmu dan Mercy pada saat kalian masuk dan berjalan sambil bergandengan tangan. Apa kau juga lupa dengan statusmu? Lepaskan aku, G.” Stella berusaha menarik tangannya tapi genggaman Gerald pada lengannya sangat kuat.
“Jadi karena pria itu, kau ingin bercerai dariku?” tanya Gerald menatap dalam mata Stella, membuat Stella balas menatapnya.
“Iya. Sama seperti kamu yang mengharapkan Mercy untuk menjadi pendampingmu, aku juga mengharapkan dia menjadi pendampingku kelak,” jawab Stella kesal.
“Apa kau bisa membuktikannya padaku?” tanya Gerald masih mencekal lengan Stella.
“Membuktikan apa?” Stella balik bertanya dengan wajah menantang.
“Buktikan bahwa kau memang mengharapkan pria itu untuk menjadi pendampingmu kelak!”
“Hah, dengan apa ...?” Ucapan Stella terputus karena dia kaget ketika Gerald menarik lengannya, membuat tubuhnya merapat pada tubuh Gerald yang kekar. Sebelah tangan Stella mendorong d**a Gerald untuk memberi jarak. Tapi Gerald justru membawa tangan Stella yang tadi dicekalnya untuk melingkar pada pinggangnya lalu kedua tangan Gerald menangkup pipi Stella dan menatapnya dalam.
“Buktikan padaku, Stey,” ucap Gerald sambil tersenyum tipis. Stella menggigit bibir bawahnya melihat senyum sinis Gerald, dia dapat merasakan aura kemarahan dari pria itu.
“Bu–buktikan ap–mmmph.” Gerald membungkam bibir Stella dengan ciuman yang sedikit kasar membuat gadis itu sempat memukulnya. Merasakan tubuh Stella yang menegang, membuat Gerald tersadar lalu mengubah ciumannya menjadi lebih lembut. Perlahan-lahan Stella pun memejamkan matanya dan menerima ciuman Gerald.
Suara getaran pada ponsel Gerald yang dia letakkan di atas meja sewaktu menunggu Stella tadi, membuatnya melepaskan ciuman itu. Gerald mengambil ponselnya dan melihat nama Mercy pada layar ponselnya. Dia menghampiri Stella dan mengusap bibir gadis itu yang sedikit bengkak karena kekasarannya tadi.
“Kau sudah membuktikannya padaku, Stey. Dan aku rasa, aku sudah tahu jawabannya. Sekarang istirahatlah!” Gerald berlalu dari hadapan Stella menuju ruangannya. Sementara Stella tertegun dengan apa yang baru saja terjadi.
***
Di ruangannya, Gerald mengangkat telepon dari Mercy dari ponselnya yang sejak tadi bergetar.
“Halo, Merc.”
“Boo, akhirnya kau mengangkat teleponku. Kenapa lama sekali?”
“Aku sedang menyelesaikan pekerjaanku. Ada apa, Merc?”
“Bisakah kau ke tempatku sekarang, Boo?”
“Tapi ini sudah malam, Merc.”
“Ada yang mendatangiku, Boo. Dia sedang berusaha membuka passwordnya. Tolong aku, Boo. Please!”
“Oke, aku akan ke sana. Tunggu aku dan jangan buka pintunya!”
Setelah menutup teleponnya, Gerald berlari ke ruang ganti untuk mengambil jaketnya. Ketika akan pergi, dia menghampiri Stella yang sedang duduk di ranjangnya.
“Aku harus pergi sebentar. Kau tidurlah!” Gerald mengelus rambut Stella.
“Apakah itu Mercy?” tanya Stella sambil mengangkat kepalanya menatap Gerald.
“Mmmh.” Gerald mengangguk.
“Saat ini dia membutuhkan pertolonganku, Stey. Aku tidak akan lama. Percayalah!” Gerald membungkukkan tubuhnya dan mengecup kening Stella, setelah itu dia pun meninggalkan kamarnya.
Stella hanya termenung mendengar kata-kata Gerald. Dia merasakan jantungnya berdetak sangat cepat, perasaan cemburu beberapa waktu ini datang menguasai perasaannya. Stella sadar jika dia sudah jatuh cinta pada pria itu, dia telah mencintai Gerald. Perasaan yang seharusnya tidak boleh ada dalam hubungan perjanjian pernikahan mereka. Tapi sebuah pertanyaan yang ada dalam benaknya saat ini belum terjawab, apakah pria itu juga mencintainya?
***
Gerald sampai di kantor setelah terlebih dahulu mengantarkan Stella ke rumah orangtuanya. Dia memulai aktifitasnya sehari-hari seperti biasanya. Suara ketukan pintu membuat Gerald mengangkat wajahnya.
“Ada apa?” tanya Gerald.
“Tuan, nanti siang ada janji temu dengan Tuan Gibert dari PT. SOB dan ini berkas-berkas yang harus Anda tanda tangani.” Pamela meletakkan map berisi berkas tersebut.
“Oke. Nanti kita pergi bersama. Kau siapkan semuanya, yah!”
“Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi.” Gerald mengangguk dan Pamela meninggalkan ruangan itu dengan senyum yang sulit diartikan. Siapa yang tak senang pergi bersama bosnya yang tampan karena selama ini jika ada pertemuan dia selalu diantar Ben. Mungkin karena saat ini Ben sedang cuti, pikir Pamela.
Gerald segera mengangkat ponselnya yang bergetar tanpa melihat layarnya.
“Halo.”
“Halo Ger.”
“Fanny. Ada apa pagi-pagi sudah menelponku?” tanya Gerald sambil terus memeriksa berkas yang harus ditandatanganinya.
“Aku kangen kamu, Ger. Sudah lama kamu tidak pulang. Sekalian aku mau mengundangmu ke pesta ulangtahunku sabtu ini. Kau harus datang, yah Ger!”
“Aku akan datang. Kau mau hadiah apa dariku?”
“Kau tahu kesukaanku, Ger. Aku ingin kamu bawakan aku bunga, Ger. Kau ingat terakhir kamu berikan aku bunga waktu aku ulangtahun ke 17.”
“Iya aku ingat. Oke nanti aku bawakan bunga kesukaanmu, yah. Sekarang aku harus memeriksa beberapa berkas untuk rapat nanti.”
“Oke, bye Ger.”
“Bye Fan.” Gerald mematikan ponselnya dan kembali fokus pada kerjaannya.
***
Di rumah mamanya, Stella sedang melayani pengunjung kedai yang hendak makan, dia menulis pesanan para pengunjung setelah itu kertas pesanan diserahkan ke papanya.
“Pa, buatin Stey bakmi juga, yah. Stey lapar!” pinta Stella ketika melihat papanya akan membuatkan pesanan bakmi.
“Iya, papa buatkan untuk kamu, sayang.” Stella menemani papanya membuat bakmi untuk beberapa mangkok, dengan kecepatan tangannya akhirnya bakmi-bakmi itu siap untuk disajikan. Stella dibantu Denis segera membawa pesanan itu ke pengunjung. Setelah selesai, Stella pun menyantap bakmi buatan papanya itu dengan lahapnya padahal baru 2 jam yang lalu dia menyantap 2 mangkok bubur, tadi setelah makan 1 mangkok bubur perutnya masih lapar jadi dia minta tambahan 1 porsi lagi.
“Stey ...!” Stella menoleh, seseorang memanggilnya.
“Bella.”
“Gue kebetulan lewat sini. Gue kangen jadi gue mampir deh,” ujar Bella.
“Jiah ... makanya cari pacar jadi bisa kangenin pacar loe,” ucap Stella sambil membawa mangkok bekas makannya ke dapur.
“Stey, tolong antarkan ini!” suruh mamanya.
“Gue bantu yah, Stey.” Bella ikut membantu Stella mengantarkan makanan ke beberapa meja. Sambil kerja sambil bercanda, itulah mereka berdua. Orangtua Stella pun mengelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua gadis itu, sampai tak terasa waktu menjelang malam.
“Stey, ajak Bella makan dulu sana. Mama udah siapkan makanan di meja makan,” perintah Mery. Stella menarik tangan Bella dan mengajaknya masuk ke dalam.
“Ayo, kita makan, Bel!” Stella mengambil nasi dan lauk pauk untuknya, disusul Bella mengambil sendiri untuknya.
“Stey, apa boleh kalau tiap hari gue ke sini. Gue bisa bantu-bantu?” tanya Bella sambil memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
“Boleh aja. Itung-itung ngeringanin beban gue,” jawab Stella.
“Dasar loe, yah.” Bella melempar kerupuk yang ada dipiringnya.
“Hehehehe.” Stella tertawa.
“Stey, Gery datang. Sekalian siapkan juga makan malam untuk suamimu!” suruh mamanya. Stella kaget dan menatap Bella yang saat itu sedang meliriknya.
“Kalian sedang makan?” tiba-tiba Gerald sudah ada di hadapan mereka. Bella terpaku melihat sosok pria yang dulu mengaku sepupu Stella itu.
“G, duduklah. Aku ambilkan piring untukmu.” Stella bangkit dari duduknya menuju lemari dapur.
“Kau temannya Stella?” tanya Gerald pada Bella.
“Oh iya. Aku Bella, sahabat Stella dari SMP.” Bella mengulurkan tangannya dan disambut oleh Gerald.
“Aku Gerald.” Gerald hanya menyebutkan namanya saja tanpa memberitahu siapa dia.
“Tadi aunty bilang kau suaminya Stella?” tanya Bella, Gerald hanya mengangguk. Stella memberikan piring pada Gerald.
“Nih anak! Bukannya sendokkan nasi untuk suamimu!” Mamanya memukul bahu Stella.
“Iih ... mama. Gery biasa melakukannya sendiri,” protes Stella.
“Tidak apa-apa, Ma.” Gerald mengambil nasi dan lauk pauknya sendiri.
“Stey, gue harus pulang. Aunty, makasih makan malamnya.” Bella menganggukan kepala pada Gerald.
“Terima kasih sudah membantu kami, yah. Hati-hati di jalan, Nak!” seru Mery.
“Gue antar keluar, Bel.” Stella pun menganter Bella keluar.
“Stey, ternyata dia suami loe. Pantes aja loe jatuh hati padanya, udah ganteng tajir pula,” goda Bella.
“Apa sih loe, Bel. Udah sana pulang.” Stella mendorong Bella.
“Bye, Stey.” Bella masuk ke mobilnya sambil melambaikan tangannya. Stella kembali ke ruang makan. Gerald pun sudah selesai makan dan sedang mengobrol dengan papa mertuanya. Stella membantu mamanya mencuci piring dan peralatan dapur. Setelah semuanya beres, Stella menghampiri Gerald untuk mengajaknya pulang. Mereka pun pamit pada orangtuanya.
“Sabtu ini, kosongkan waktumu karena kita harus datang ke pesta ulangtahun Fanny,” ucap Gerald sambil menyetir.
“Kalau aku gak mau ikut, boleh, ‘kan?” tanya Stella.
“Lalu aku harus bilang apa pada mom and dad?” Gerald melihat ke Stella yang tetap membuang pandangannya keluar.
“Yah, cari aja alasan apa kek. Pokoknya aku gak mau ke pesta itu.” Stella melirik ke arah Gerald yang sedang menyetir.
“Baiklah, kalau kau tidak mau ikut, aku tidak memaksa.” Gerald mengalah karena dia tidak ingin bertengkar dengan Stella.
“Stop ... stop, G!” seru Stella.
“Ada apa, Stey?” Gerald bertanya sambil meminggirkan mobilnya.
“Aku mau itu.” Stella menunjuk ke sebuah kedai pizza yang cukup ramai pengunjungnya.
“Bukankah kau baru saja makan, Stey.” Gerald memarkirkan mobilnya.
“Tapi aku masih lapar, G,” ucap Stella manja, dia hendak membuka pintu mobil tapi Gerald menghalanginya.
“Aku yang akan turun, kau diam di mobil!” Seru Gerald.
“Aku mau yang super supreme yah, G,” pinta Stella.
“Oke.” Gerald turun dari mobil menuju antrian yang sedikit sudah berkurang. Selang 15 menit, Gerald kembali dengan 2 box pizza pesanan Stella dan memberikannya pada Stella. Dia kembali menyalakan mobilnya, sementara itu Stella membuka box dan memakan pizza kesukaannya.
“Kau mau coba?” Stella menyodorkan sepotong pizza pada Gerald.
“No. Aku sedang menyetir, Stey!” kata Gerald menolaknya.
“Paling gak, coba segigit aja. Aku suapi, yah!” Kembali Stella menyodorkan pizza itu. Gerald menatap Stella yang mengerdipkan kedua matanya sehingga mau tak mau dia mencoba segigit dari pizza yang disodorkan Stella.
“Enak, ‘kan.” Stella memakan sisa pizza bekas gigitan Gerald. Satu box habis dimakannya. Stella turun dari mobil dan masuk ke dapur, meletakkan 1 box pizza di meja lalu mengambil minum di kulkas. Tak lama, Gerald pun masuk ke dapur langsung mengambil botol mineral yang sedang dipegang Stella dan meneguk sisa air itu.
“Wah, kamu gak takut kena penyakit?” tanya Stella.
“Bagaimana denganmu? Kau memakan sisa pizza bekas gigitanku.” Gerald balik bertanya sambil tersenyum tipis dengan sedikit memalingkan kepalanya.
“Ah, apa iya aku makan pizza bekas gigitanmu?” tanya Stella dengan mimik wajah serius sambil mengacak rambutnya dan itu membuat Gerald mengelengkan kepalanya, tertawa. Dia membalikkan badannya menaiki tangga ke kamar diikuti Stella di belakangnya.
***
Stella mengeliat meregangkan otot-ototnya, cahaya matahari yang masuk lewat celah gorden membuat silau matanya. Dia pun bangun menginjakkan kakinya di lantai, mengambil segelas air yang selalu dia sediakan untuk diminum ketika dia bangun pagi. Dia berjalan menuju balkon membuka pintunya, memandang langit yang cerah sambil sesekali meregangkan otot di tubuhnya. Angin pagi yang berhembus menerpa tubuhnya yang hanya memakai setelan baju tidur tank top dengan celana pendek sehingga membuat tubuhnya sedikit mengigil, dia mendekap tubuhnya merasakan hawa dingin. Tiba-tiba sebuah jubah mandi menutupi tubuhnya, membuat Stella menoleh.
“Jangan berdiri di sini dengan pakaian seperti ini!” seru Gerald.
“Kenapa kamu yang keberatan?” tanya Stella memalingkan wajahnya melihat Gerald yang berdiri di sebelahnya.
“Tentu saja karena mereka tahu kau adalah istriku. Apa kata mereka jika melihatmu dengan pakaian seperti ini.” Gerald menatap Stella.
“Aku gak peduli apa kata mereka. Aku biasa berpakaian seperti ini, G. Jika kau keberatan aku bisa kembali ke rumah orangtuaku,” ketus Stella sedikit tersinggung dan mengembalikan jubah mandi itu pada Gerald, Stella pun masuk ke kamar mandi. Gerald menundukkan kepalanya sebentar dan melangkah menuju ruangannya untuk mengambil tas laptopnya. Ketika akan keluar kamar, dilihatnya Stella keluar dari ruang ganti dengan kaos bergambar keroppi dan celana jeans buntung.
“Kau tidak ke rumah mama?” Gerald bertanya pada Stella yang sedang mrnyisir rambutnya.
“Nggak dulu. Badanku pegal-pegal mungkin karena kemarin begitu banyak pengunjung di kedai,” jawab Stella.
“Kau ingin ke dokter. Aku bisa antar.”
“Gak usah, cukup istiharat sebentar nanti juga hilang sendiri pegal-pegalnya.” Stella melangkah ke arah pintu dan Gerald pun membuka pintu kamar.
“Bi, buatkan aku mie yah dua bungkus!” pinta Stella pada Bi Asih.
“Dua bungkus, Nyonya?” tanya Bi Asih kaget karena biasanya Stella hanya minta dibuatkan satu bungkus saja.
“Nanti maagmu kambuh, Stey,” ujar Gerald memperingatkan Stella.
“Gak akan, G. Aku lapar sekali.”
“Jika kau lapar, kau bisa makan nasi goreng.”
“Mmmmh,”–Stella menggelengkan kepalanya–“Aku lagi mau mie. Kalau pagi-pagi makan nasi, aku suka mual,” lanjut Stella.
“Bagaimana, Tuan?” tanya Bi Asih dan akhirnya Gerald menganggukan kepalanya. Bi Asih pun segera membuatkan mie untuk Stella. Di ruang makan, Gerald memperhatikan Stella yang sedang menyantap mienya sambil dia menyeruput secangkir cappucinonya.
“Nanti malam kau yakin tidak ingin ikut ke pesta Stefanny?” tanya Gerald meletakkan cangkirnya.
“Yakin,” jawab Stella singkat.
“Baiklah, mungkin aku akan pulang agak malam.”
“Oke.” Lagi-lagi jawaban Stella sangat singkat.
“Aku berangkat sekarang. Istriharatlah di rumah!” Gerald berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju garasi.
***