Stella terbangun dari tidur siangnya ketika mendengar ponselnya berbunyi. Dilihatnya layar pada ponselnya, tertera nama Bella disana.
“Halo, Ada apa Bel?”
“Loe ada di mana, Stey?”
“Di rumah. Eh maksud gue, di rumah Gery.” Stella mengucek matanya yang masih mengantuk.
“Jadi pria yang ngaku sepupu loe itu ternyata suami loe yah, Stey.”
“Sorry Bell. Bukan maksud gue nutup-nutupin pernikahan gue.”
“Untungnya gue belum sampe jatuh cinta sama suami loe.”
“Hehehe ... kalau gak, jeruk makan jeruk yah hehe ...” canda Stella.
“Loe ada acara gak malam ini?”
“Mmmh ... gak ada. Tadinya Gery mau ngajak gue ke pesta ulangtahun Stefanny tapi gue gak mau.”
“Loh, kenapa Stey? Kan kasian dia gak ada pendampingnya.”
“Gue malas ketemu wanita itu, Bel. Dia selalu cari ribut sama gue. Loe tahu gak kalau dia dari kecil tuh suka sama Gery. Dan sebelum nikah sama gue, orangtua Gery bermaksud ingin menikahkan Gery dengan dia,” jelas Stella.
“Loe udah tahu wanita itu naksir suami loe trus loe biarin dia pergi sendiri ke pesta itu? Gimana kalau sampe dia dikasih minuman yang ada obatnya trus dijebak sama wanita itu?”
“Maksud loe apa sih, Bel?” Stella masih tidak mengerti maksud dari omongan Bella.
“Intinya gini aja deh, Stey. Apa loe mau doi direbut sama wanita yang bernama Stefanny itu?”
“Yah nggaklah. Gery cuma menganggap dia sebagai adiknya.”
“Trus kalau nanti dia menjebak Gery dengan mengaku kalau dia hamil anak Gery, gimana?”
“Hah? Maksud loe ....” Stella teringat kejadian Ferdy yang ingin menjebaknya waktu itu.
“Bel, udah dulu yah. Gue harus siap-siap sekarang.” Stella memutuskan sambungan teleponnya lalu dia mencoba menghubungi Gerald sambil melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore tapi tidak diangkat, dicobanya meng hubungi Shanty juga tidak diangkat. Akhirnya dia mencoba menghubungi kantor dan diterima resepsionis yang langsung menyambungkannya ke lantai 10.
“Halo, dengan Pamela di sini.”
“Pamela, aku Stella. Apakah Gerald masih ada di kantor?”
“Oh, Stella. Sepertinya Tuan Gerald masih di ruangannya. Sebentar saya lihat dulu.” Stella menunggu Pamela sambil mondar-mandir dengan gelisah.
“Halo Stella, Tuan masih di ruangannya tapi dia sedang telepon.”
“Bisa tolong katakan padanya kalau saya menelponnya, Pam!”
“Baik, saya langsung sambungkan ke Tuan, yah.” Tak lama kemudian terdengar suara Gerald lewat telepon kantor.
“Halo!”
“Halo. Kenapa susah sekali menghubungimu, G?”
“Stey. Tunggu sebentar!”–Gerald kembali mengangkat ponselnya– “Merc, aku ada telepon. Nanti aku telepon balik. Oke.” Stella mendengarnya kemudian dimatikan tombol power pada ponselnya. Mendengar Gerald sedang telepon dengan Mercy membuat moodnya tiba-tiba turun. Dilemparnya ponsel itu ke ranjang lalu dia menuju kamar mandi, menangis di sana membiarkan kucuran air shower membasahi sekujur tubuhnya. Setelah cukup lama berdiam di kamar mandi, Stella keluar menuju ruang ganti. Sebuah gaun berbahan satin sebatas lutut menjadi pilihannya. Selesai berpakaian, dia pun menyisir dan mengikat rambutnya lalu memoles wajahnya dengan bedak dan memberi sedikit sentuhan lipgloss pada bibirnya. Tiba-tiba Pintu kamar terbuka, Gerald memasuki kamar dan menghampiri Stella.
“Kau mau ke mana?” tanya Gerald sambil melepas dasinya. Stella melihat Gerald lewat cermin yang ada di depannya.
“Bukankah kita akan ke pesta Stefanny?” Stella balik bertanya.
“Kau berubah pikiran?” tanya Gerald sambil membuka 2 kancing kemeja atas dan mengulung lengan kemejanya.
“Ya. Setelah aku pikir-pikir, aku harus hadir di sana supaya mom dan dad tidak curiga.” Stella berdiri dan membalikkan tubuhnya. Dia menatap Gerald yang ada di depannya sesaat lalu bergegas untuk mengambil tasnya tapi tangan Gerald menangkap pergelangan tangan Stella.
“Ada apa meneleponku? Dan kenapa teleponnya kau matikan?” tanya Gerald menatap Stella yang ada di sampingnya.
“Karena aku gak mau mengganggu pembicaraan kalian.” Stella melepaskan tangan Gerald lalu mengambil tasnya.
“Aku tunggu di bawah.” Stella bergegas keluar dari kamar.
Gerald berdiri cukup lama di tempatnya sampai akhirnya dia memutuskan untuk mandi karena dia harus pergi ke pesta Stefanny. 30 menit kemudian Gerald sudah rapi dengan kemeja slim fit berwarna biru safir dan lengan kemeja digulung sebatas siku sehingga mencetak tubuhnya dengan sangat sempurna dan celana chino berwarna biru dongker. Dia segera mengambil ponselnya dan bergegas keluar kamar.
***
Mereka pun sampai di sebuah restoran berbintang lima. Setelah memarkirkan mobilnya, Gerald dan Stella masuk menuju tangga untuk ke lantai atas tempat berlangsungnya pesta. Stella sempat kehilangan keseimbangan tubuhnya ketika lima orang wanita menyenggolnya, untung Gerald segera merangkul bahunya.
“Kau tidak apa-apa?” Stella mengelengkan kepalanya.
Mereka sampai di lantai atas, sudah banyak tamu undangan yang hadir di sana. Stella sempat tidak percaya diri melihat begitu megahnya acara itu dan para tamu yang hadir di sana adalah orang-orang kelas atas yang tidak sebanding dengan dirinya. Dia menarik ujung kemeja Gerald, membuat Gerald menoleh ke arahnya.
“Ada apa?” bisik Gerald.
“Aku malu, G. Mereka yang hadir di sini adalah orang-orang kelas atas semua. Lebih baik aku tunggu di mobil aja, G.” Stella bermaksud untuk turun tapi Gerald menahan tangannya dan menggenggamnya.
“Kau tidak perlu malu. Ada aku di sini.”
“Tapi ....”
“Kau istriku, ingat itu!” Lalu Gerald menarik Stella menyusup di antara para tamu yang dia pun tidak begitu mengenalnya.
Stella melihat para wanita yang tadi sempat menyenggolnya sedang berbisik-bisik sambil tertawa melihat ke arah Gerald dan Stella mendengar sedikit bisikan mereka tentang Gerald, tentu saja mereka tidak membicarakan keburukan Gerald tapi mereka membicarakan ketampanan dan bentuk tubuh suaminya itu. Dengan sengaja Stella bergelayut mesra pada lengan kekar Gerald dan itu membuat Gerald menoleh menatap Stella dengan sebelah alis terangkat.
“Aku nggak suka cara mereka menatapmu, G!” seru Stella.
“Kau cemburu?” tanya Gerald.
“Jangan mimpi, G,” jawab Stella dengan tersenyum kecut. Gerald bukan tidak menyadari tatapan dan pembicaraan para wanita itu tapi dia hanya tidak ingin ambil pusing. Oleh karena itu dia mendukung usaha yang dilakukan istri kecilnya itu.
“Ah, itu mom dan dad!” seru Stella menunjuk ke meja tempat mertuanya berada.
“Mom, Dad!” panggil Stella.
“Hai sayang, akhirnya kau datang juga.” Lisa memeluk Stella.
“Kau cantik, sayang,” puji Thomas.
“Daddy bisa aja.” Stella tersenyum malu.
“Itu benar, sayang. Kau bertambah cantik dan terlihat lebih gemuk. Betul, ‘kan Ger?” tanya Lisa pada Gerald yang sedang memperhatikan Stella. Dia baru menyadari perubahan bentuk tubuh istrinya itu yang tambah berisi.
“Ya, Mom,” jawab Gerald.
“GERY.” Gerald menoleh mendengar seseorang memanggilnya begitu pula dengan Stella, Lisa dan Thomas.
Stefanny berlari kecil sambil mengangkat sedikit gaunnya dengan sebuah buket bunga di tangannya.
“Happy birthday, Fan,” ucap Gerald mengulurkan tangannya tapi justru Stefanny malah mengalungkan tangannya dileher Gerald.
“Thanks bunganya, Ger. Aku suka sekali.” Lalu dengan berjinjit dia mengecup bibir Gerald. Melihat apa yang diperbuat oleh Stefanny, Stella pun langsung mendorongnya dan menamparnya. Melihat apa yang dilakukan Stella, Gerald segera menarik tangan istrinya itu.
“Kau ....” Stefanny memegang pipinya yang memerah akibat tamparan Stella.
“Kau ... wanita nggak punya malu, seenaknya mencium suami orang!” Stella masih berusaha meronta tapi dia tidak mampu melawan tenaga Gerald yang mendekapnya dari belakang.
“Cukup, Stey!” bentak Gerald.
Orangtua Stefanny yang melihat kejadian itu segera menghampiri putrinya. Dan kejadian itu juga menjadi perhatian para tamu undangan.
“Ada apa, sayang?”
“Dia ... dia menamparku, Mom!” Terlihat airmata mengembun di pelupuk matanya.
“Aku tidak akan menamparnya jika saja dia tidak mencium suamiku!” ketus Stella.
“Cukup, Stey. Kau sudah melewati batas!” bisik Gerald di telinga Stella.
“Justru dia yang udah melewati batas, G. Jangan-jangan, kamu juga menikmatinya, yah!” seru Stella.
“Kau ....” Gerald sedikit kesal dengan kata-kata Stella. Melihat situasi yang sedikit dingin antara anak dan menantunya, Lisa dan Thomas mendekatinya.
“Bawa istrimu pulang, Ger. Tidak ada yang bisa meluruhkan kemarahan seorang wanita yang sedang cemburu!” bisik daddynya, membuat rasa kesal Gerald berkurang.
“Fanny, aku minta maaf atas nama Stella. Aku janji kejadian ini tidak akan terulang lagi.” Gerald mengusap pipi Stefanny yang memerah. Melihat apa yang dilakukan Gerald membuat Stella bertambah jengkel dan hendak pergi dari tempat itu tapi Gerald segera menangkap tangan gadis itu.
“Aunty, Uncle. Aku minta maaf atas perbuatan istriku,” ucap Gerald kepada orangtua Stefanny.
“Ayo kita pulang, Stey!” kata Gerald menarik tangan Stella untuk mengajaknya meninggalkan tempat itu. Semua tatapan mata para tamu tertuju pada mereka.
“Lepaskan tanganku, G!” teriak Stella. Tapi Gerald tidak menghiraukannya dan terus menuruni anak tangga.
“Auw ...!” Stella menghentikan langkahnya dengan sebelah tangannya memegang perut bawahnya yang terasa sakit.
“Ada apa?” tanya Gerald dengan wajah dingin karena masih kesal dengan Stella.
Stella tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya meringis merasakan sakit pada perutnya.
“Kita ke rumah sakit sekarang,” ujar Gerald sedikit khawatir.
“Gak usah,” ketus Stella sambil menuruni 3 anak tangga yang tersisa perlahan-lahan dengan Gerald di belakangnya.
“Kamu tunggu di sini, aku ambil mobil dulu!” seru Gerald tapi Stella hanya diam. Tak berapa lama Gerald datang kemudian Stella segera naik ke mobil. Di tengah perjalanan Stella merasakan perutnya lapar, dia ingin makan sesuatu karena dari siang dia belum makan tapi dia enggan memintanya pada Gerald yang saat ini sedang memasang raut dingin. Stella tahu kalau dia sudah membuat Gerald dan orangtuanya malu atas kejadian yang baru saja terjadi.
KRUYUK ... KRUYUK
Stella memegang perutnya agar tidak terdengar oleh Gerald. Mobil memasuki halaman parkir sebuah restoran chinese food.
“Turunlah, kita makan dulu!” kata Gerald yang sebenarnya mendengar bunyi yang berasal dari perut Stella. Karena tidak dapat menahan laparnya, Stella pun turun dari mobil. Mereka berdua memasuki restoran itu. Gerald memesan beberapa jenis makanan sesuai keinginan Stella.
***
Pagi-pagi sekali Stella sudah bangun karena hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris Rio, dia harus datang lebih awal untuk menyiapkan jadwal yang harus dilakukan bosnya itu. Selesai mandi dan berpakaian, Stella memakaikan pelembab juga bedak pada wajahnya, tak lupa dioleskan lipgloss pada bibirnya lalu dia pun menyisir rambutnya dan mengikatnya menjadi satu. Setelah selesai berdandan, Stella pun segera keluar dari kamarnya menuju ke bawah.
Di dapur Bi Asih sudah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk kedua majikannya. Dia membuat mie goreng sesuai pesanan Stella semalam dan sandwich beserta telur mata sapi juga s**u untuk Gerald.
“Bi, bau apa ini. Huek ....” Stella mual lalu berlari ke kamar mandi dapur. Tak lama dia keluar dari kamar mandi dan melihat Gerald yang sudah berpakaian rapi.
“Ada apa?” tanya Gerald ketika melihat Stella yang sedang membersihkan mulutnya dengan tissue.
“Gak apa-apa, hanya sedikit mual dengan bau itu,” tunjuk Stella ke arah sarapan Gerald.
“Wah ... jangan-jangan Nyonya sedang isi, yah!” seru Nina gembira.
“Isi apa? Makan aja belom, udah dikasih cium bau telor!” Stella merengut.
“Tolong ambil telornya, Bi. Ganti dengan selai!” pinta Gerald pada Bi Asih.
“Maksud Nina, jangan-jangan Nyonya sedang hamil makanya tidak suka dengan bau telor.” Bi Asih menjelaskan sambil menganti telor dengan selai coklat.
“Hamil? Gak mungkinlah.” Stella mengambil sarapannya lalu memakannya sambil diam, Masa sih gue hamil?’ pikirnya. Sementara itu Gerald melirik Stella yang sedang duduk di sampingnya. Dia pun kepikiran dengan kata-kata Nina dan Bi Asih.
“Aku berangkat dulu, yah. Karena hari ini hari pertama aku masuk kerja,” ucap Stella mengambil tasnya yang diletakkan di meja.
“Aku akan mengantarmu.” Gerald lalu berdiri dari kursinya dan berjalan ke garasi dan Stella mengikutinya dari belakang.
Stella sampai di kantor sebelum Rio, bosnya datang. Dia segera menyiapkan schedule yang harus dilakukan Rio hari ini. Setelah semuanya beres, Stella mencoba mengerjakan tugas yang kemarin Rio ajarkan padanya.
“Pagi, Ste!” sapa Rio yang baru saja datang.
“Pagi juga, Tuan.” balas Stella.
“Ayolah, jangan panggil aku seperti itu, Ste!” Rio berdiri di hadapan Stella dengan kedua tangan bertumpu di meja Stella.
“Aku gak enak dengan karyawan yang lainnya, Yo,” ucap Stella dengan suara berbisik.
“Aku tidak peduli dengan anggapan mereka, Ste. Pokoknya aku mau kamu menyebut namaku seperti biasa, itu lebih enak didengarnya.”
“Oke, kalau itu maumu.” Setelah itu Stella memberikan schedule hari ini dan Rio melihat susunan schedulenya.
“Kalau begitu nanti kamu ikut aku meeting di luar, Ste. Tolong siapkan semua yang kita perlukan untuk meeting, yah!”
“Oke, Yo,” ucap Stella dan Rio pun ke ruangannya untuk menyiapkan bahan-bahan meeting nanti siang.
***
Hari ini tepat 6 hari sudah Stella bekerja menjadi sekretaris Rio. Karena besok hari libur, Stella berencana untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini juga. Ajakan Rio yang ingin mengantarnya pulang juga ditolaknya. Teman-temannya sudah banyak yang pulang sejak tadi karena perusahaan tempatnya bekerja memberikan waktu khusus ½ hari setiap weekend. Sebuah lagu yang berasal dari ponselnya membuat Stella menghentikan sementara pekerjaannya.
“Halo,” sapa Stella.
“Halo Stella! Aku Desinta.”
“Hai Des, apa kabarmu? Ada apa menelponku?” tanya Stella.
“Aku baik-baik saja. Aku mau minta bantuan kamu, Stella.”
“Boleh. Apa yang bisa aku bantu, Des?”
“Aku ingin membuat surprise untuk suamiku. Tapi, aku perlu seseorang untuk membantuku. Apa kau bisa datang ke club sore ini?”
“Mmmh ... sebenarnya aku sudah bekerja sekarang, Des. Dan aku berencana lembur hari ini.”
“Ayolah, Stel. Tolong aku, please!”
“Mmmh ... baiklah tapi aku selesaikan pekerjaanku dulu, yah. Setelah itu aku akan ke sana.”
“Thanks yah, Stel. Sampai ketemu di club.”
“Oke. Bye Des.” Setelah menutup ponselnya, diapun kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi selesai.
Jam 6 sore Stella sampai di club dan langsung menemui Desinta di dapur. Dilihatnya Desinta dan beberapa karyawannya sedang sibuk membuat cake mini dengan hiasan di atasnya. Ketika melihat Stella sudah datang, Desinta melambaikan tangannya meminta Stella untuk menghampirinya.
“Stel, kamu harus coba ini.” Desinta menyodorkan sebuah cake ke mulut Stella lalu dimakanlah kue itu oleh Stella yang kebetulan ingin sekali mencoba cake itu.
“Enak banget, Des,” seru Stella masih terus memakan sisa kue yang sudah di tangannya.
“Silahkan kamu memakannya, Stel. Aku sengaja membuat banyak karena ....” Desinta membisikkan sesuatu pada Stella.
“Seriously, Des? Wah, selamat, yah!” Stella memeluk Desinta.
***
Jonathan, Gerald, dan Dave datang bersamaan dengan mobil mereka masing-masing. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka pun bersama-sama masuk ke club menuju ruangan Jonathan.
“Ada acara apa kita diminta datang, Jo?” tanya Dave yang segera duduk di pojok sofa.
“Aku juga tidak tahu. Desinta cuma memintaku untuk kita berkumpul bersama sabtu ini,” jawab Jonathan. Dave pun menganggukkan kepalanya.
“Aku dengar Stella membuat ulah di pesta Stefanny, Ger,” kata Jonathan.
“Ehm ... Dia menampar Fanny di depan tamu yang hadir.” Gerald menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
“Pasti ada yang membuat dia melakukan itu, Ger. Aku mengenal Stella, dia gadis yang supel, ceria, ramah jadi sangat tidak mungkin dia menampar jika tidak ada penyebabnya,” bela Dave.
“Hahaha ... ternyata kau yang lebih mengenal Stella dibanding suaminya sendiri, Dave.” Jonathan menepuk bahu Dave.
“Jangan mulai, Jo. Aku hanya mengatakan dari kacamataku sebagai dokter dari papanya,” ucap Dave.
“Kau benar, Dave. Istri mana yang tidak marah jika suaminya mendapatkan ciuman dari wanita lain hahaha ....” Jonathan tertawa.
“What? Is that true, Ger?” tanya Dave. Gerald mengangguk tanda apa yang dikatakan Jonathan semua benar adanya.
“Kau tahu dari mana, Jo?” tanya Gerald.
“Kebetulan salah satu stafku membantu melayani di restoran itu,” jawab Jonathan.
“Apa kau tidak merasa sesuatu yang aneh pada Stella, Ger?” tanya Jonathan kembali.
“Betul. Apakah kamu tidak merasakan kalau Stella memiliki perasaan padamu, Ger?” Dave pun ikut bertanya.
“Tidak mungkin Gery tidak mengetahuinya. Dia bukan pria berusia 20 an,” kata Jonathan pada Dave.
Ketika mereka sedang serius menunggu jawaban dari Gerald tiba-tiba Desinta dan Stella masuk membawa cake di kedua tangan mereka. Ketiga pria itu langsung terdiam mengingat orang yang sedang mereka bicarakan saat ini ada di antara mereka sekarang.
“Honey, ada acara apa kamu meminta kami datang?” tanya Jonathan pada istrinya.
“Aku mau buat surprise buatmu, Hub. Jadi, aku minta bantuan Stella.” Desinta duduk di sebelah Jonathan sambil bergelayut manja sedang Stella berdiri melihat pasangan suami istri yang begitu mesranya. Jika saja pernikahannya bukan pernikahan kontrak pasti saat ini dia pun bisa seperti pasangan itu, khayalan Stella memenuhi otaknya.
“Apa kau mau berdiri terus di sana?” tanya Gerald yang sejak tadi memperhatikan Stella yang sedang melihat kemesraan Desinta dan Jonathan. Teguran Gerald membuat Stella memalingkan wajahnya ke arah pria itu, tanpa menjawab dia langsung menghampiri dan duduk di sebelah Gerald.
“Stella, apa kabar?” tanya Jonathan yang sedang merangkul Desinta.
“Aku baik-baik saja, Jo,” jawab Stella dengan tersenyum.
Sesekali dia melirik ke arah Gerald dan seperti dugaannya, pria itu tetap acuh padanya. Dia mengalihkan matanya ke pasangan suami istri di depannya yang semakin mesra bahkan saat ini Desinta telah duduk dipangkuan suaminya. Entah kenapa, dia juga ingin seperti Desinta. Dia ingin Gerald memeluknya, memangkunya seperti yang Jonathan lakukan tapi melihat sikap Gerald yang acuh, mustahil apa yang diinginkannya dapat terlaksana.
“Kenapa kau tiba-tiba ada di tempat ini, Honey?” tanya Jonathan.
“Mmmh ... ada sesuatu yang ingin kukatakan tapi alangkah baiknya jika kita makan cake buatanku dulu, yah.” Desinta mengambilkan sepotong cake untuk suaminya dan memberi isyarat pada Stella untuk mengambilkan cake untuk Gerald.
“Mmmh ... rasanya enak sekali, Des. Pantas saja Jonathan bertekuk lutut padamu,” ucap Dave sambil menikmati cake itu.
“Kau juga harus segera mencari istri, Dave. Biar ada yang memasak untukmu.” Desinta balas menggoda Dave.
“Aku rasa Stella juga suka memasak untuk Gerald,” ucap Desinta. Gerald hanya diam sambil tersenyum.
“Aku gak seperti kamu, Des. Aku gak bisa masak apalagi harus membuat kue seperti ini.” Untuk menutupi rasa malunya, Stella mengambil sepotong cake dan memakannya. Ketika Stella baru memakan setengah dari kuenya, dia melihat potongan kertas pada setengah kuenya. Stella mengambil potongan kertas tersebut dan membukanya lalu membacanya.
“I’M PREGNANT, HUBBY!” Selesai membaca kata-kata itu, Stella melempar kertas tersebut ke meja dan melihat ke Gerald yang pada saat itu juga sedang menatapnya, begitu pula Jonathan dan Dave.
“Itu bukan aku.” Stella memberi kode pada Desinta untuk mengatakan yang sebenarnya.
“I’m pregnant, Hubby.” Desinta akhirny memberitahu Jonathan tentang kehamilannya
“Kau hamil? Hahaha ... Thankyou, Honey.” Jonathan memeluk dan mencium Desinta, dia sangat senang mendengar kabar itu. Stella merasa lega karena pada akhirnya semua mata tertuju pada Desinta dan Jonathan. Dave dan Gerald pun turut memberikan selamat pada pasangan itu, begitu juga dengan Stella.
“Thanks, semuanya. Semoga kalian semua diberikan kebahagiaan juga,” ucap Jonathan.
“Harusnya kau bicara seperti itu pada orang di sebelahku, Jo.” Dave menggoda Gerald tapi Gerald tidak begitu menanggapinya, dia meneguk minumannya.
“Tapi jika benar dugaanku sepertinya Stella juga sedang hamil? Apa betul itu, Stella?” tanya Desinta. Ucapan Desinta membuat Stella tersedak karena dia sedang meneguk air dari gelasnya. Dia makin gugup lagi ketika semua mata tertuju padanya, apalagi tatapan tajam dari Gerald.
“Hah! Aku gak hamil, Des,” jawab Stella salah tingkah. Bagaimana tidak salah tingkah waktu di rumah Nina dan Bi Asih yang mengatakannya, sekarang Desinta ikut mengatakan seperti itu.
“Aku rasa lebih baik kita lanjutkan makan-makannya,” seru Dave yang berusaha menolong Stella. Kata-kata Dave ternyata ampuh dan membuat mereka kembali sibuk dengan makanannya.
***