Stella melihat dirinya di cermin kamar mandi, entah kenapa dia terus kepikiran dengan ucapan Desinta di club tadi dan jika seandainya itu benar, apakah dia juga harus mengatakannya kepada Gerald? Apakah Gerald mau menerima kehamilannya? Sedang pernikahan mereka akan segera berakhir. Suara ketukan pada pintu kamar mandi membuatnya tersadar dari lamunannya. Dibukanya pintu kamar mandi dan di hadapannya telah berdiri Gerald dengan handuk di bahunya. Stella segera melewati Gerald menuju ranjangnya. Di saat pikirannya sedang kacau tiba-tiba bunyi pada perutnya begitu mengganggu, dia lapar padahal baru beberapa saat lalu dia minta Gerald menghentikan mobilnya di pinggiran jalan karena perutnya terus berbunyi minta diisi. Akhirnya dia membeli 1 box pizza di sebuah gerai makanan dan memakannya ketika Gerald kembali melajukan mobilnya.
“Aaah ... kenapa pas mau tidur sih laparnya?” gumamnya. Dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 12 malam. Dia malas untuk ke dapur tapi perutnya tidak bisa diajak kompromi lagi, Stella turun dari ranjangnya dan keluar dari kamar untuk ke dapur.
Stella mengambil panci dan air lalu memasaknya. Sambil menunggu air mendidih, Dia mengambil 2 bungkus mie instan di lemari penyimpanan.
“Kau sedang apa?” Stella kaget dan melompat ke samping mendengar seseorang menegurnya dari belakang.
“Aaah ... kau mengagetkanku, G,” bentak Stella sambil menepuk-nepuk dadanya. Gerald menghampirinya dan melihat air yang sudah mendidih lalu mematikan kompornya.
“Iih ... kenapa dimatiin, aku mau memasak mie!” seru Stella menepuk tangan Gerald dan hendak menyalakan kembali kompor itu. Tapi Gerald menutup tombol power kompor itu dengan tangannya.
“Tidak harus mie, Stey. Apalagi 2 bungkus, itu bisa merusak lambungmu.”
“Mmmmh ... tapi aku lapar, G. Aku gak akan bisa tidur jika lapar,” ujar Stella kesal sambil menghentakkan kakinya. Sifat kekanak-kanakannya kembali muncul, dia lupa saat ini yang berdiri di depannya adalah Gerald bukan orangtuanya.
“Kenapa tidak masak yang lain? Tidak harus mie, ‘kan,” kata Gerald. Entah kenapa dia mulai menyukai sikap Stella yang sedikit kekanak-kanakan.
“Bodo, ah.” Stella merajuk sambil melewati Gerald yang sudah membuatnya kesal tapi Gerald mencekal lengannya.
“Kita masak yang lain tapi jangan mie lagi,” ujar Gerald.
“Aku bukan Desinta yang bisa memasak. Yang aku bisa cuma memasak mie instan.” Stella menepis tangan Gerald pada lengannya.
“Duduklah! Aku akan buatkan makanan yang layak untuk dikonsumsi,” perintah Gerald pada istri kecilnya itu. Gerald mengeluarkan daging sirloin, kentang, brokoli, dan wortel dari dalam kulkas. Dengan cekatan dia pun memasak semua bahan-bahan itu, Stella yang sempat kesal pada Gerald dibuatnya kagum dengan keahlian yang dimiliki suaminya itu. Dalam 15 menit Gerald sudah menyajikannya di meja tempat di mana Stella duduk.
“Makanlah!” ucap Gerald.
“Kenapa cuma 1 porsi? Lalu untukmu mana?” tanya Stella.
“Aku tidak lapar. Aku hanya ingin minum segelas s**u agar bisa tidur.” Gerald membuka kulkas dan mengambil segelas s**u dan meminumnya.
“Aku ingin ke kamar, kau tidak apa-apa jika kutinggal?”
“Mmmh ....” Karena mulutnya penuh, Stella hanya bisa mengelengkan kepalanya. Gerald mengerutkan dahinya dengan sebelah alis matanya terangkat.
“Maksudku gak apa-apa,” ujar Stella setelah mulutnya sedikit kosong. Akhirnya Gerald pun keluar dari dapur menuju kamarnya.
***
Matahari memancarkan sinarnya disertai hembusan angin pagi hari yang masuk lewat pintu balkon yang sudah terbuka. Pasti Gery yang sudah membukanya, pikirnya, membuat dia terbangun dari mimpi indahnya. Stella melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi. Entah kenapa pagi ini dia begitu malas mengangkat tubuhnya, dia begitu kesal dengan sinar matahari yang masuk mengenai wajahnya sehingga ditutupnya kembali seluruh tubuhnya dengan selimut.
Ketukan pada pintu kamarnya membuat Stella terbangun dan mengangkat tubuhnya sedikit untuk bersandar di kepala ranjang. Dia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 12 siang. Bunyi ketukan pintu kembali terdengar, dengan sedikit malas Stella turun dari ranjang lalu menuju pintu dan membukanya.
“Maaf, Nyonya. Saya diminta Bi Asih memberitahu Anda kalau makan siang sudah siap,” ucap Nina.
“Baiklah. Aku mandi dulu,” ucap Stella dengan malas. Setelah Nina pamit untuk kembali ke dapur, Stella membawa tubuhnya ke kamar mandi, ditanggalkannya seluruh pakaian yang membalut tubuhnya lalu diputarnya kran agar air dari shower mengucur membasahi wajah dan tubuhnya untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih menyerangnya. Selesai mandi, dia membalut tubuhnya dengan handuk menuju ruang ganti. Dipilihnya kaos lengan pendek dan hot pants berbahan katun karena akhir-akhir ini dia merasa hawa di sekitarnya agak panas lalu dia pun keluar kamar wuntuk segera mengisi perutnya yang sejak tadi keroncongan.
Stella menghampiri Bi Asih yang sedang membawa nampan berisi air putih menuju ke ruang makan, dia mengikutinya. Kenapa dia tidak ke kantor? Hatinya bertanya. Yang dia lihat saat ini Gerald sedang di ruang makan, Stella menarik kursi yang ada di samping Gerald.
“Kamu gak ke kantor?” Stella membuka percakapan lebih dulu karena tidak mungkin bagi Gerald membuka percakapan jika sedang sibuk membuka tabletnya.
“Apakah ada kantor yang buka pada hari minggu?” Gerald balik bertanya sambil tetap fokus pada tabletnya. Stella tertegun sesaat lalu membuka ponselnya untuk melihat waktu pada layar ponselnya.
“Lalu kenapa kamu gak bangunin aku?” tanya Stella pura-pura untuk meredakan rasa malunya.
“Kau mungkin masih lelah, jadi aku tidak tega membangunkanmu.” Gerald mengambil lauk beserta sayur untuk mengisi piringnya. Stella pun mengikutinya mengambil sepotong ayam.
“Kau tidak memakan sayurnya?” tanya Gerald.
“Aku gak suka sayur. Jangan paksa aku!” jawab Stella sambil memakan nasi beserta daging ayamnya. Gerald tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya, dia tahu gadis di depannya ini sangat keras kepala. Mereka menikmati makanan dalam keheningan hanya tablet dan ponsel yang menemani mereka.
Selesai makan, mereka kembali ke kamar. Gerald bermaksud melanjutkan pekerjaannya tapi Stella memanggilnya.
“G, bisa aku bicara sebentar?”
“Ada apa?” Gerald memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
“Aku cuma mau tahu kesalahan apa yang aku perbuat sampai kamu mengacuhkanku akhir-akhir ini?” tanya Stella. Gerald menatap Stella sejenak tapi tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar, dia mengambil ponselnya dan melihat nama Mercy dilayar. Tanpa mempedulikan Stella, dia bergegas ke ruangannya untuk mengangkat telepon dari Mercy.
“Ada apa, Merc?” tanyanya. Entah apa yang dikatakan Mercy sehingga Gerald bermaksud mengunjungi mantan tunangannya itu.
“Oke, aku akan ke sana sekarang.” Gerald menutup ponselnya. Mendengar langkah kaki gerald, segera Stella berlari ke tempat tidurnya berpura-pura memainkan ponselnya. Dari ujung matanya, dia melihat Gerald masuk ke ruang ganti dan tak lama keluar dengan jaketnya.
“Kau mau ke mana, G?”
“Aku ada keperluan sebentar. Aku segera kembali,” jawab Gerald.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, G,” bentak Stella. Ada semacam kekuatan yang membuatnya berani membentak pria itu. Gerald berhenti dan menatap Stella tajam.
“Kita bisa bicara nanti, Stey.”
“Apa Mercy lebih penting buatmu, G?” Mata Stella mulai berkaca-kaca, entahlah akhir-akhir ini dia terkesan lebih cengeng jika berhadapan dengan pria itu.
“Apa?” Gerald memalingkan sedikit wajahnya dengan sebelah alis terangkat.
“Itu Mercy, ‘kan? Apakah dia begitu pentingnya buatmu?” ulang Stella.
“Aku tidak harus menjawab pertanyaanmu, Stey.” Gerald berbalik menuju pintu. Stella kesal dan melompat dari ranjangnya tapi karena kecerobohannya, perut bagian bawahnya kembali sakit.
“Aaauw ... aaah.” Stella membungkuknya tubuhnya sambil memegang perutnya. Gerald yang hendak membuka pintu akhirnya mengurungkan niatnya lalu berlari ke arah Stella dan segera mengangkat tubuh gadis itu kemudian dibaringkan di tempat tidur.
“Apakah perutmu sakit lagi?” tanyanya khawatir.
“Tidak apa-apa. Pergilah!” ujar Stella. Setelah menatap Stella cukup lama akhirnya Gerald bergegas keluar dari kamar. Stella tahu siapa yang menelpon Gerald dan dia juga tahu bahwa pria itu ingin menemui Mercy tapi dia tidak bisa melarangnya. Padahal sengaja dia tidak ke rumah orangtuanya hari minggu ini, karena hari ini dia ingin sekali menghabiskan waktu dengan Gerald tapi kenyataan yang didapatnya justru membuatnya sedih, diambilnya ponsel diatas meja rias.
“Bel, kita keluar yuk!” ajaknya pada Bella lewat ponselnya.
“Ayo tapi gue ajak Rio, yah. Soalnya dia lagi di sini, ga enak kalau gue tinggal, Stey.”
“Oke, biar rame sekalian. Loe jemput gue atau gue naik taksi aja?”
“Rio bawa mobil jadi gue ikut dia, Stey. Loe share loc aja biar kita jemput.”
“Gak usahlah biar gue naik taksi aja tar ketemuan di mana gitu.” Sambil menelpon Stella melangkahkan kakinya menuruni anak tangga satu persatu.
“Siang Nyonya.” Stella menoleh ke arah datangnya suara.
“Ben, kau sudah datang!” seru Stella.
“Sudah Nyonya. Baru saja saya sampai. Apakah Anda ingin pergi?”
“Oh iya, aku ada janji ketemuan dengan temanku. Sebentar Ben.” Stella kembali mendekatkan ponselnya di telinga.
“Kita ketemuan di mall K aja, Bell. Gue pergi sekarang, bye!” kata Stella pada Bella sambil menutup ponselnya.
“Biar saya antar Anda, Nyonya,” ucap Ben.
“Nggak usah, Ben. Lebih baik kau istirahat aja,” ucap Stella.
“Baik, Nyonya. Mohon Anda hati-hati di jalan!” kata Ben dan Stella menganggukkan kepalanya, dia pun langsung keluar rumah.
***
Gerald sedang mengemudikan mobilnya, dia baru saja menjemput Mercy dari bandara. Sudah seminggu dia tidak bertemu dengan wanita yang masih dicintainya ini karena Mercy sedang melakukan pemotretan di luar kota.
“Ger, aku lapar. Gimana kalau kita makan siang dulu?” tanya Mercy.
“Oke, kita mampir di restoran favoritmu.”
Mereka sampai di sebuah resto bintang lima karena sebelumnya Gerald sudah reservasi tempat lebih dahulu jadi mereka tidak perlu mencari-cari tempat. Mereka memesan menu spesial tak lama kemudian pesanan pun datang. Seorang waitres menata pesanan mereka dengan hati-hati. Setelah waitres itu pergi, mereka pun menikmati makanannya.
“Apa kamu sudah mengurus perceraianmu, Boo?” tanya Mercy.
“Aku akan segera mengurusnya tapi itu membutuhkan waktu paling lama satu bulan,” jelas Gerald.
“Selama itu? Lalu bagaimana dengan pernikahan kita?” Mercy balik bertanya.
“Merc, setelah bercerai aku membutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan untuk bisa menikah lagi denganmu.”
“What? Kenapa selama itu, Ger?” Mercy membanting sendok dan garpunya, Gerald menatapnya tajam.
“Sorry Ger, aku sedikit kesal. Kau tahu aku sangat mencintaimu, aku ingin selalu bisa bersamamu.” Mercy menggenggam tangan Gerald.
“Aku tahu, tapi kau juga harus memahami bagaimana perasaan orangtuaku jika aku langsung menikah denganmu sedangkan aku baru saja bercerai. Setidaknya kau harus bisa mendekati mereka kembali setelah mereka kecewa padamu,” kata Gerald.
“Aku takut kamu jatuh cinta pada gadis itu, Boo,” ucap Mercy.
“Jika kau sudah selesai, kita ke apartemen sekarang,” ajak Gerald.
“Iya, aku juga tidak mood untuk makan, Boo.” Setelah Gerald membayar makanannya, mereka pun segera pergi ke apartemen.
***
Stella masuk ke sebuah restoran favoritnya, dia melihat Bella melambaikan tangannya, segera dihampirinya Bella dan Rio. Dia mengambil tempat di samping Bella.
“Aku bisa menjemputmu tadi, Ste,” ucap Rio.
“Gak usah, Yo.”
“Aduh, mentang-mentang sekantor. Mending pesan makanan, gue udah lapar tahu!” Bella melambaikan tangannya memanggil seorang waitres.
“Siang Kak, mau pesan apa?” tanya waitres itu. Stella memesan menu kesukaannya spagghetti carbonara lalu Bella dan Rio juga memesan menu kesukaannya. Sambil menunggu pesanannya tiba, mereka melanjutkan percakapannya.
“Habis makan kita mau ke mana?” tanya Bella pada Stella.
“Aku mau jalan-jalan ke pantai, Bel,” jawab Stella.
“Boleh, kita bisa ke sana nanti.” Rio langsung menyetujui keinginan Stella.
“Beuh, giliran dia yang ngajak, loe turunin.” Bella menggoda Rio. Tak lama makanan mereka pun datang. Mereka menyantap makanan itu sambil mengobrol.
“Bukannya loe gak suka pantai yah, Yo. Apa karena Stella terus loe jadi suka, gitu yah?” goda Bella.
“Kalau loe gak suka, kita bisa pergi ke tempat lain, kok,” ujar Stella.
“Aku suka kok, Ste. Jangan dengar omongan Bella!” seru Rio.
Setelah mereka selesai makan, mereka pun melanjutkan rencana mereka.
***
Gerald sampai di apartemennya, setelah menekan paswood, pintu terbuka, mereka masuk ke dalam.
“Aku langsung ke kamar yah, Boo. Aku mau mandi dulu,” kata Mercy sambil membawa kopernya ke kamar sedangkan Gerald memilih duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Apartemen yang dimiliki Gerald cukup besar, terkadang jika dia sedang suntuk di kantor, dia akan ke apartemen ini untuk sekedar istirahat. Sekitar 30 menit kemudian, Mercy keluar dari kamar dengan menggunakan gaun setali sebatas paha dengan potongan d**a rendah. Dia terlihat sexy karena memiliki tinggi semampai dan tubuh langsing berisi sangat pantas jika dia menjadi seorang model.
Dia menghampiri gerald yang tertidur di sofa lalu duduk di samping pria yang sedang tertidur itu. Mercy memandangi wajah Gerald yang memiliki ketampanan seorang aktor. Dia tidak boleh kehilangan pria ini, apapun akan dia lakukan untuk bisa mendapatkannya. Perasaan cemburu pada Stella kembali menguasainya. Aku tidak boleh kalah dari gadis kecil itu, ucapnya dalam hati.
Mercy membelai wajah Gerald dengan hati-hati mulai dari mata, hidung dan bibirnya. Pelahan-lahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Gerald lalu dikecupnya pipi pria itu. Gerald terbangun merasakan sentuhan di pipinya, wajahnya hanya berjarak 15 cm dengan wajah Mercy.
“Boo ....“ panggilnya lembut.
“Mmmh ....” Gerald memberi tatapan lembut pada wanita di depannya itu. Mercy mulai mendekatkan wajahnya kembali dan mendaratkan sebuah ciuman lembut pada bibir Gerald, semakin lama ciuman itu semakin dalam dan Gerald pun membalas dengan mengulum bibir wanita itu, jemarinya menyusup ke dalam rambut Mercy dan memberi tekanan di belakang kepala wanita itu, ciuman mereka semakin panas sampai akhirnya jemari Mercy mulai membuka satu persatu kancing kemejanya. Gerald melepaskan ciumannya dan mendorong Mercy dengan perlahan. Dia langsung mengambil posisi duduk dan kembali mengancingkan kemejanya.
“Sudah sore, aku harus pulang.” Gerald beranjak dari duduknya dan mengambil jaket yang dia sampirkan di sofa.
“Tidak bisakah kau menginap di sini, Boo?”
“Tidak Merc. Selama aku masih terikat pernikahan, aku tidak akan menginap bersamamu.”
“Kalau begitu segera ceraikan gadis itu, Boo. Aku tidak mau menunggu lama untuk bisa bersamamu.” Mercy berdiri dari sofa itu dan memeluk Gerald.
“Bagaimana dengan aku, Merc? Berapa lama aku harus menunggumu? Apakah 3 bulan waktu yang lama buatmu?” tanya Gerald.
“Maafkan aku, Boo. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku cuma takut kehilanganmu, itu saja.” Mercy menggenggam tangan Gerald.
“Aku pulang sekarang. Istirahatlah!” Setelah mengecup kening Mercy, dia pun bergegas meninggalkan apartemen itu.
***
Pukul 9 malam Stella baru sampai di rumah, dia menaiki tangga menuju kamarnya, dibukanya pintu perlahan dan menutupnya kembali secara perlahan. Dia berjalan pelan agar langkahnya tidak terdengar Gerald karena dia tahu kalau pria itu sudah di rumah, dia melihat mobilnya ada di garasi.
“Dari mana saja kau?” Stella terperajat dan menoleh ke belakang, di mana Gerald sedang bersandar pada dinding yang memisahkan ruangannya dengan ruangan Stella dengan kedua tangannya dilipat di d**a. Rasa kesal karena diacuhkan pria itu kembali menghampiri relung hatinya.
“Ooh, aku menghabiskan waktuku hari ini dengan pergi makan dan jalan-jalan ke pantai bersama teman-temanku,” jawab Stella sambil meletakkan tasnya di meja.
“Teman? Yang mana?” tanya Gerald.
“Apa kaulupa? Kau pernah melihatnya bersamaku di restoran waktu itu.”
“Bukankah dia bosmu?”
“Iya. Teman sekaligus Bos.”
“Kenapa harus mengajakmu ke pantai?”
“Karena dia tahu aku menyukai pantai.” Stella mengambil handuk di balkon dan masuk ke kamar mandi sambil menggerutu.
“Dasar Om-om!”
“Aku mendengarnya, Stey!” ucap Gerald dengan senyuman tersungging dibibirnya. Entahlah, setiap berbicara dengan Stella walaupun keluar nada ketus dari bibir gadis itu, dia tidak bisa marah justru bibirnya memaksanya untuk tersenyum. Gerald kembali ke meja kerjanya dan memeriksa email yang masuk.
Setelah selesai mandi, Stella menyisir rambutnya yang masih basah usai keramas. Dia duduk di pinggiran ranjangnya sambil memikirkan sesuatu yang harus kembali dia tanyakan pada Gerald.
Stella berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju ruang kerja Gerald. Dilihatnya Gerald sedang sibuk dengan laptopnya, pria itu tidak menyadari kehadiran Stella.
“Ehem.” Dehamannya membuat Gerald melihat ke arahnya.
“Ada apa?” tanya Gerald sambil kembali melihat laptopnya. Melihat Gerald kembali mengacuhkannya, Stella pun kembali emosi.
“Bisa gak, luangkan sedikit waktumu untuk menjawab pertanyaanku tadi siang, G?” tanyanya kesal.
“Pertanyaan apa?” Gerald melihat Stella melayangkan tatapan tajam padanya.
“Apa salahku sampai kau mengacuhkanku selama seminggu ini?” tanya Stella dengan nada yang cukup tinggi. Bukannya menjawab tapi Gerald malah kembali fokus pada laptopnya.
“Kenapa diam? Jawab aku, G!” teriak Stella kesal melihat sikap Gerald yang biasa-biasa saja.
“Apa yang harus aku jawab? Aku merasa tidak pernah mengacuhkanmu, Stey.” Gerald berdiri dari kursinya lalu menghampiri Stella.
“Bohong. Aku merasa kau mengacuhkanku semenjak aku bekerja. Bahkan kau selalu pulang lewat dari jam 12 malam.” Matanya berkaca-kaca akibat menahan rasa kesal yang berkecambuk di dadanya.
“Aku sedang mengerjakan sebuah proyek besar, Stey. Aku harus ke kantor pagi-pagi sekali dan pulang larut malam agar proyek ini cepat selesai.” Gerald memberi penjelasan pada Stella.
“Bohong. Aku merasa bukan karena itu.”
“Terserah kau, Stey. Aku sudah menjelaskannya padamu.” Gerald memalingkan sedikit kepalanya, menatap Stella.
“Ya. Apapun yang kaukatakan, kau bosnya. Aku hanya perlu bertahan selama 1 minggu ini sampai kita bercerai nanti,” ucap Stella.
Gerald kembali ke mejanya dan duduk diatas meja itu dengan kedua tangan dilipat didepan d**a dan kedua kaki disilangkan, dia terlihat santai mendengar perkataan Stella.
“Apa kau sangat ingin kita bercerai?” tanya Gerald.
“Iya. Aku ingin segera menata hidupku kembali dan juga masa depanku. Karena itu, segeralah buat surat perceraian kita.” Jawaban Stella membuat wajah Gerald sedikit mengencang.
“Mengurus surat perceraian tidak semudah yang kau bayangkan. Seandainya aku mengajukannya sekarang, prosesnya tidak bisa cepat, bisa membutuhkan waktu paling lama 1 bulan.” Gerald memberikan penjelasan.
“Baiklah. Aku siap menandatanganinya.” Stella kembali ke ruangannya. Gerald hanya diam, ada perasaan ragu di hatinya untuk menceraikan Stella. Apa yang telah diperbuatnya malam itu, sampai saat ini masih menganggu pikirannya.
***
Kali ini lain dari biasanya, Stella berangkat pagi-pagi tanpa sarapan sama sekali. Untuk saat ini dia tidak ingin bertemu dengan Gerald karena hatinya masih kesal dengan pertengkarannya semalam.
Dengan menaiki taxy online akhirnya Stella sampai di kantor. Setelah menyimpan tasnya, dia mengambil berkas-berkas yang akan dibawanya meeting siang ini. Terdengar olehnya suara karyawan lain yang baru saja datang, tak lama kemudian Rio datang.
“Aku bawakan sarapan untukmu, Ste.” Rio memberikan paperbag kepada Stella.
“Thanks, Yo. Bolehkah gue makan sekarang?” tanya Stella sambil membuka box dari paper bag tersebut.
“Tentu saja boleh, Ste. Makanlah!”
Ketika akan masuk ke ruangannya, tiba-tiba Rio kembali menghampiri Stella yang sedang memakan sarapannya.
“Oya, nanti Tuan Ray ingin kita meeting di apartementnya karena dia sedang kurang enak badan,” kata Rio.
“Oke. Aku sudah siapkan semua keperluan meeting dengan beliau, kok,” ujar Stella.
“Oke. Lanjutkan sarapanmu kembali.” Rio tersenyum lalu menuju ruangannya.
Tepat pukul 12 siang, Stella dan Rio sampai di sebuah apartement mewah di mana relasinya tinggal. Mereka menaiki lift menuju tempat yang diberikan oleh relasinya itu. Pintu lift terbuka, mereka keluar dan mendapati 2 pintu apartement yang saling berhadapan.
“Menurutmu yang mana apartement Tuan Ray, Ste?” tanya Rio karena jarak antara pintu yang satu dengan yang lainnya cukup jauh sehingga Rio tidak bisa melihat dengan jelas nomor yang ada di samping pintu.
“Bagaimana kalau loe ke sana dan gue ke sini?” tanya Stella.
“Oke.” Ketika mereka akan berpencar tiba-tiba pintu dari salah satu apartement itu terbuka dan Stella hanya berdiri tertegun melihat 2 orang yang sangat dikenalnya keluar dari apartement itu. Tatapan mata Stella bertemu dengan tatapan mata kedua orang itu.
“Ste, berarti yang sebelah sini apartement Tuan Ray,” kata Rio.
“Ste ..., kamu tidak apa-apa?” tanya Rio sambil menepuk bahu Stella.
“Gue gak apa-apa. Ayo, kita ke sana,” ajak Stella dengan menarik tangan Rio menuju apartement orang yang ingin ditemuinya.
***