Sesampainya di rumah, Stella mengambil koper dan memasukkan semua pakaian dan barang miliknya ke dalam koper. Dia hanya menyisakan pakaian dan barang yang diberikan Gerald padanya.
“Auw ...!” Stella merasakan sakit di bagian bawah perutnya. Dengan sedikit tertatih dia mencapai sofa yang ada di ruang ganti. Dia mengambil ponselnya untuk memesan taxy online.
Setelah merasa sedikit membaik, Stella berdiri lalu mengangkat kopernya yang diletakkan di samping lemari, dia kembali memegang perut bagian bawahnya yang kembali terasa sakit.
“Stey ...!” Stella menoleh dan melihat Gerald telah berdiri di pintu masuk ruang ganti.
“Kau mau ke mana?” tanya Gerald.
“Aku mau kembali ke rumah orangtuaku,” jawab Stella sambil membawa kopernya tapi kembali dia merasakan sakit pada perutnya.
“Perutmu sakit lagi?” tanya Gerald yang melihat Stella memegang perut bagian bawahnya.
“Sedikit,” jawab Stella singkat. Tanpa menunggu persetujuan Stella, Gerald langsung mengendongnya ala bridal style dan membawanya ke tempat tidur.
“Aku nggak apa-apa.” Stella menurunkan kedua kakinya ke lantai tapi Gerald menahannya ketika dia akan berdiri.
“Apa kau sering sakit seperti ini?” tanya Gerald.
“Iya, aku biasa seperti ini,” jawab Stella ketus.
“Akan lebih baik jika kita ke rumah sakit dan mencari tahu penyebabnya,” ajak Gerald tapi Stella mengelengkan kepalanya.
“Tidak usah. Nanti juga hilang dengan sendirinya.” Stella kembali berdiri dan akan mengambil kopernya tapi cekalan tangan Gerald pada tangannya membuatnya tidak dapat bergerak.
“Kenapa kau ingin kembali ke rumah orangtuamu?”
“Apa bedanya, aku kembali sekarang atau nanti, hah?” Stella menatap tajam ke dalam mata Gerald. Tatapan marah Stella dapat terlihat langsung oleh Gerald.
“Apa kau marah karena kejadian siang tadi? Aku bisa menjelaskannya, Stey.”
“Untuk apa aku marah, aku bahkan tidak peduli dengan apa yang kalian lakukan di apartement itu.” Stella menarik tangannya lalu mengambil koper dan tas selempangnya. Lagi-lagi Gerald memegang tangan Stella dan mengambil koper dari tangan gadis itu.
“Apa yang kaulakukan, G? Kembalikan koperku,” teriak Stella marah dan berusaha merebut kopernya dari tangan Gerald tapi Gerald bahkan membawa koper itu kembali ke ruang ganti, Stella membuntutinya.
“Kau tidak akan kembali ke rumah orangtuamu sampai ....” Gerald tidak melanjutkan kata-katanya.
“Sampai apa, hah? Sampai kontrak kita selesai, iya? Kalau begitu anggap aja kontrak kita selesai hari ini, gampang, ‘kan?” Stella bermaksud masuk ke ruang ganti untuk mengambil kembali kopernya tapi Gerald tetap menghalanginya.
“Apa sih maumu, G? Hiks ... hiks ....” Untuk meluapkan rasa kesalnya yang sudah tidak kuat ditahannya, Stella pun menangis.
“Kau salah paham padaku, Stey. Aku menjemput Mercy hanya untuk makan siang, tidak terjadi sesuatu di antara kami,” jelas Gerald.
“Hiks ... aku bilang aku gak peduli dengan apa yang kalian lakukan. Tapi tolong jangan libatkan aku di antara kalian berdua, hiks ....” Gerald merangkul Stella yang sedang menundukkan kepalanya ke dalam pelukannya. Semula Stella berusaha menolak tapi berkat kegigihan Gerald akhirnya Stella mau menerima pelukannya.
Suara ketukan pintu membuat Stella melepaskan pelukan Gerald.
“Nyonya, taxy online sudah datang.” Terdengar suara Nina dari balik pintu.
“Batalkan saja dan berikan uang untuk pembatalannya,” perintah Gerald pada Nina.
“Baik, Tuan.”
“Aku mau kembali ke rumah orangtuaku,” kata Stella, tetap dengan pendiriannya.
“Kau masih istriku, Stey. Aku berhak melarangmu kembali ke sana. Tolong, percaya padaku!”
“Baiklah, aku akan menunggu selama 1 minggu ini. Setelah itu kau tidak bisa melarangku.” Stella meninggalkan Gerald dan naik ke tempat tidur menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
***
Gerald datang agak terlambat ke kantor karena harus mengantar Stella ke kantornya. Setelah itu, dia pergi ke rumah sakit untuk menemui Dave karena ada sesuatu yang harus ditanyakan langsung kepada sahabatnya itu.
“Apa semua sudah siap, Shan?” tanya Gerald pada sekretarisnya.
“Sudah Tuan,” jawab Shanty.
“Di mana Pamela?” tanya Gerald.
“Pamela sudah di ruang rapat, Tuan,” jawab Shanty.
“Oke. Oya, tolong pesan 2 tiket untuk ke pulau L dan sekalian carikan resort di sana yang dekat dengan pantai!” perintah Gerald.
“Baik, keberangkatan kapan, Tuan?”
“Besok,” jawab Gerald singkat dan langsung menuju ruang rapat.
Selama rapat berlangsung dia hanya mendengarkan laporan kinerja dari para kepala divisi tanpa sedikitpun mengoreksi atau mengkritik mereka, tidak seperti biasanya. Pikirannya tertuju pada pembicaraannya dengan Dave pagi tadi.
Flashback on
Gerald menemui Dave di ruangannya setelah terlebih dahulu membuat janji.
“Ada apa, Ger?”
“Dave, ada yang ingin aku tanyakan. Aku tahu ini bukan bidangmu tapi paling tidak kau pasti sedikit mengerti.”
“Apa itu, Ger?”
“Akhir-akhir ini Stella sering merasakan sakit di bawah perutnya tepatnya itu terjadi 1 minggu yang lalu,” jelas Gerald.
“Bagaimana dengan siklus mentruasinya? Sorry, harusnya aku bertanya pada Stella langsung?” tanya Dave.
“Entahlah,” jawab Gerald serius.
“Apa ada sesuatu yang beda pada Stella yang tidak seperti biasanya, misalkan dia tidak suka bebauan atau mual jika memakan sesuatu?”
“Yah, dia tiba-tiba tidak menyukai bau telor dan sampai muntah karena menurutnya itu bau sekali,” jelas Gerald.
“Aku rasa kau harus mengajaknya ke spesialis kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut karena terus terang ini bukan bidangku tapi dari kesimpulan yang kudapat ... kemungkinan Stella sedang hamil,Ger,” kata-kata Dave membuat Gerald terpaku diam.
Flashback off
“Tuan ... Tuan Gerald ....” Gerald tersentak kaget ketika Pamela menepuk lengannya.
“Ada apa?” tanyanya.
“Mereka sudah selesai memberikan laporannya,” kata Pamela.
“Oke, rapat selesai sampai di sini dulu.” Gerald segera berdiri dari kursinya dan keluar dari ruangan.
***
Rasa penat seharian bekerja membuat Stella ingin segera mandi begitu memasuki rumah orangtuanya. Setelah memeluk kedua orangtuanya, dia pun bergegas ke kamarnya untuk mengambil handuk dan baju tidurnya karena dia berencana untuk tidur di rumah orangtuanya malam ini.
Selesai mandi Stella keluar dari kamar mandi, dia kaget melihat Gerald sedang duduk di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya. Dengan handuk yang masih membungkus rambutnya, Stella menghampiri pria itu.
“Dari mana kamu tahu kalau aku ada di sini, G?” tanya Stella.
“Bisakah kita pulang sekarang?” Gerald balik bertanya. Dari nada bicaranya, Stella tahu bahwa pria itu sedang kesal.
“Kamu gak mau makan malam dulu?” tanya Stella.
“Kita makan di luar saja. Sekarang ganti pakaianmu!” perintah Gerald.
“Aku tidak mau ikut, G. Aku lelah dan mau menginap di sini. Lebih baik kamu pulang.” Setelah menyuruh Gerald pulang, Stella masuk ke kamarnya tanpa mengetahui jika Gerald mengikutinya dari belakang.
“Kau harus ikut aku pulang, Stey. Atau aku juga akan menginap di sini,” ancam Gerald.
“Iiiih ... menyebalkan.” Stella memukul d**a bidang Gerald.
“Baiklah. Ayo, kita pulang!” ajak Stella lalu mengambil tasnya tanpa menganti pakaian tidurnya, dia pun keluar kamar.
“Kau tidak mengganti pakaianmu, Stey?” tanya Gerald yang berjalan di belakang Stella.
“Kenapa? Kau keberatan aku memakai pakaian seperti ini?” Stella dengan santainya keluar tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang sedang memperhatikannya. Melihat itu, Gerald segera melepas jaketnya lalu memakaikannya kepada Stella untuk menutupi bahu istrinya itu yang hanya mengenakan atasan setali. Setelah pamit dengan orangtuanya, mereka pun pulang.
Mobil yang dikendarai Gerald memasuki area parkir sebuah restoran mewah. Setelah memarkirkan mobilnya, Gerald mengajak Stella turun lalu mereka memasuki restoran yang didalamnya sudah banyak pengunjungnya.
“Apa kamu sudah gila mengajakku dengan pakaian seperti ini ke restoran ini, G?” bisik Stella dengan menutupi separuh wajahnya dengan katalog.
“Memangnya kenapa? Tidak terlihat aneh, kok. Lagi pula kau juga memakai jaketku. Jadi, tidak terlihat kalau kau sedang mengenakan gaun tidur,” jawab Gerald lalu memanggil waitres untuk menulis pesanan mereka.
“Sabtu ini kita akan liburan ke pulau L,” ucap Gerald.
“Apa? Aku dan kamu?” tanya Stella kaget.
“Kenapa? Bukankah kau menyukai pantai? Aku sengaja mengajakmu ke sebuah pulau yang memiliki pantai terindah.” Stella hanya diam, di dalam hatinya dia sangat senang karena keinginannya untuk mengunjungi pulau L akhirnya terwujud.
“Ayo, kita makan!” ucap Gerald setelah waitres menyajikan pesanan mereka.
***
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 2 jam dengan pesawat akhirnya Gerald dan Stella sampai di pulau L. Mereka langsung menaiki mobil menuju resort yang terlebih dulu di booking. Selama perjalanan, Stella tidak melepaskan pandangannya dari pemandangan kota itu sedang Gerald fokus dengan ipadnya yang selalu dipakainya bekerja jika dalam perjalanan bisnisnya.
Sesampainya mereka di tempat tujuan, Gerald mengajak Stella memasuki deluxe room di resort itu. Stella terperangah memasuki kamar yang begitu besar, tempat tidur ukuran king size yang mungkin cukup ditiduri 3 bahkan 4 orang, didepannya full kaca dan pintu menuju balkon. Stella berjalan menuju balkon, dia menutup mulutnya melihat pemandangan laut yang ada didepannya.
“Kau suka?” tiba-tiba Gerald telah berada di samping Stella.
“Hmmm ...!” Stella mengangguk. “Apakah kamu sengaja memilih tempat ini sebagai tempat perpisahan untuk kita?” tanya Stella.
Gerald cukup kaget dengan pertanyaan Stella tapi ponsel di saku celananya bergetar sehingga Gerald harus mengambilnya dan melihat nama Mercy pada layar.
“Aku mengangkat telepon dulu.” Gerald masuk ke dalam untuk menerima telepon dari Mercy karena dia tidak mungkin mengangkatnya di depan Stella.
“Halo Boo, kamu di mana?”
“Aku sedang di luar kota, Merc. Ada apa?” Gerald duduk di tempat tidur sambil memandang lurus ke balkon.
“Kau di luar kota? Kenapa tidak memberitahuku? Aku bisa ikut menemanimu, ‘kan.”
“Aku tidak akan lama, besok sore aku sudah kembali.”
“G, apakah bisa kita ke pantai?” tanya Stella dengan suara lantang dari arah balkon. Gerald mengangguk sambil memberi isyarat setelah dia selesai telepon.
“Kau sedang bersama siapa, Boo? Apakah itu Stella? Beritahu aku tempatnya, Boo. Aku akan menyusulmu.”
“Tidak Merc. Besok aku sudah kembali. Jadi tolong percaya padaku, oke!”
“Baiklah, tapi ingat kau tidak boleh terlalu dekat dengannya.”
“Ok, aku tutup teleponnya. Bye.” Gerald berdiri dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
“Ayo kita ke pantai, Stey!” ajak Gerald dan disambut antusias oleh Stella.
Stella dan Gerald berjalan menelusuri pantai, sesekali mereka tertawa. Sikap Stella yang kembali ceria membuat Gerald senang. Setelah merasa lelah berjalan, mereka berdua duduk di tepi pantai memandangi lautan yang begitu luas.
“Apa kau happy?” tanya Gerald.
“Iya karena keinginanku ke pulau ini sudah tercapai. Walaupun aku tahu ini juga terakhirnya aku ke sini.”
“Kau bisa ke sini kapanpun kau mau.”
“Mama nggak akan mengijinkan aku pergi sendiri walaupun itu bersama teman-temanku.”
“Apa rencanamu setelah bercerai, G. Apakah kamu akan langsung menikahi Mercy?” tanya Stella tanpa melepaskan pandangannya dari laut.
“Tidak. Paling tidak aku membutuhkan waktu 3 bulan untuk bisa menikahinya,” jawab Gerald mengalihkan pandangannya ke laut.
“Bukankah kamu sangat ingin menikahinya?” tanya Stella memalingkan wajahnya menatap Gerald.
“Ada satu hal yang harus aku cari tahu kebenarannya sebelum menikahi Mercy,” jawab Gerald membalas tatapan Stella. Karena tidak mampu melihat tatapan Gerald yang membuat dadanya berdebar kencang, Stella segera membuang pandangannya ke arah anak-anak yang sedang bermain dengan pasir.
“Aku mau ke sana sebentar, yah!” ucap Stella dan berjalan menuju anak-anak yang sedang bermain pasir. Gerald berdiri mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Jo, malam ini aku tidak bisa ke tempatmu karena aku sedang di luar kota.”
“Bersama Mercy?”
“Tidak. Aku bersama Stella. Aku ingin mewujudkan keinginannya untuk pergi ke tempat ini.” Sambil berjalan, kakinya menendang-nendang kerikil-krikil kecil.
“Apa kau yakin dengan keputusanmu untuk menceraikannya?”
Gerald terdiam, dia pun bingung dan terjebak dengan sandiwaranya sendiri.
“Aku tidak tahu, Jo. Aku ... aku dilema. Ada sesuatu yang harus kucari tahu dulu kebenarannya,” jelas Gerald.
“Saranku, kau harus memikirkan kembali keputusanmu, Ger. Sorry, aku harus mengatakannya.”
“It’s ok, Jo.”
“TOLONG ... TOLONG ....” Suara orang meminta tolong membuat Gerald mengarahkan pandangannya ke arah suara, seseorang sedang berusaha berenang untuk menolong orang yang akan tenggelam.
“Stella ...!” gumam Gerald.
Gerald mematikan ponselnya dan memasukkannya kedalam saku celananya, dia berlari menuju kerumunan orang yang sedang berkumpul melihat kejadian itu. Sesampainya di sana, dia melihat regu penyelamat membawa seorang anak kecil dan Stella dengan pakaian basah kuyup, segera Gerald menghampiri dan menarik tangannya.
“Apa yang sudah kaulakukan, hah?” teriak Gerald marah.
“A–aku hanya menolong anak itu, G. Dia berjalan ke air dan terbawa arus.” Stella takut melihat raut wajah Gerald yang memerah.
“Tapi kau bisa mati, apa kau tahu!” raut kecemasan terpahat di wajahnya.
“Iya aku tahu, maaf.” Stella menggigil kedinginan, dia merapatkan handuk yang diberikan tim penyelamat pantai tadi padanya.
“Kita kembali ke kamar, kau pasti kedinginan.” Gerald merangkul bahu Stella dan mengajaknya kembali ke kamar.
Selesai mandi, Stella langsung naik ke tempat tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan bed cover.
“Minum ini, ini bisa menghangatkan tubuhmu!” Gerald memberikan segelas air hangat pada Stella.
“Setelah ini kau harus makan supaya perutmu tidak kosong.” Tak lama bel kamar berbunyi, Gerald segera membukanya dan masuklah bellboy membawakan pesanan Gerald.
“Thank you.” Gerald memberikan tips pada bellboy itu dan mengunci kembali pintu kamarnya.
“Makanlah!” Gerald meletakkan nampan berisi makanan di meja makan. Stella berjalan menuju meja makan dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Dia menyantap makanannya dengan lahap sekali.
“Setelah makan, apa boleh aku tidur?” tanyanya pada Gerald yang sedang menyantap makanannya.
“Ya, istirahatlah!” jawab Gerald. Setelah selesai, Stella kembali ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya, tak lama dia pun tertidur.
Malam sudah larut tapi Gerald masih sibuk dengan ipadnya dan membalas pesan yang masuk dari sahabatnya, kadang sesekali dia melihat keadaan Stella yang tertidur pulas. Untuk menghilangkan rasa penatnya, diambilnya seloki wine untuk menemaninya bekerja dengan sedikit-sedikit meneguknya. Ketika akan kembali bekerja, dia melihat Stella menarik bed cover untuk menutupi seluruh tubuhnya, Gerald menghampiri Stella untuk melihat keadaannya.
“Hei ... Stey!” Gerald menepuk-nepuk pipi Stella karena melihat wajah pucat Stella dengan bibir bergetar dan mulai membiru. Stella membuka matanya menatap Gerald yang duduk di sampingnya.
“Kau kedinginan?” Stella hanya mengangguk, Gerald memegang dahi Stella, tidak demam melainkan dingin. Segera dia mengecilkan AC ruangan dan mengambil seloki yang ada di mejanya. Dia membantu Stella untuk bangkit.
“Minum ini sedikit untuk menghangatkan tubuhmu!” kata Gerald sambil mendekatkan bibir seloki pada bibir Stella. Tapi Stella tidak bisa membuka mulutnya yang gemetar. Tidak kehilangan akal, Gerald meminum sedikit wine dari seloki itu lalu membuka mulut Stella dengan tangannya dan memasukkan minuman itu melalui mulutnya. Setelah menelan minuman itu, sedikit-sedikit bibir Stella terbuka tapi masih gemetar.
“Di–di–dingin, G,” ucap Stella terpatah-patah dengan gigi yang bergemeletuk. Gerald kembali meminum wine dari selokinya, dia menangkup wajah Stella dengan satu tangannya dan menempelkan bibirnya pada bibir Stella untuk memasukkan wine yang ada di mulutnya. Stella menelan minuman itu, dia mulai bisa membuka mulutnya. Gerald mulai merasakan mulut Stella yang mulai terbuka pada bibirnya, awalnya dia hanya ingin memberikan wine pada Stella tapi ketika merasakan mulut Stella yang terbuka, diapun tak dapat menahan diri untuk tidak melumat bibir itu, mencecap rasa manis yang entah kenapa baru kali ini dia merasakannya. Stella memejamkan matanya merasakan kelembutan yang menyapu bibirnya. Sampai akhirnya Gerald melepaskan pangutannya karena merasakan napas Stella yang mulai terengah-engah efek dari ciumannya yang cukup lama.
“Apakah masih kedinginan?” tanyanya sambil mengusap sisa-sisa salivanya yang tertinggal di bibir Stella. Stella hanya mengangguk dengan tubuh masih sedikit menggigil.
“Apa kau keberatan jika aku tidur di sampingmu?” tanya Gerald. Stella hanya bisa menggelengkan kepalanya tanda dia tidak keberatan jika Gerald tidur di sampingnya. Merasa telah mendapat ijin dari gadis itu, Gerald pun naik ke tempat tidur di sebelah Stella dan menutup tubuhnya dengan bed cover.
“Tidurlah, aku akan memelukmu.” Gerald menarik tubuh Stella yang tanpa daya itu ke dalam pelukannya untuk memberikan rasa hangat pada tubuh gadis itu dan perlahan-lahan mereka berdua tertidur.
***
Keesokan hari Stella membuka matanya dan mendapati dirinya dalam pelukan Gerald yang masih tertidur. Diamatinya wajah tampan suami kontraknya itu, imajinasinya memprovokator tangannya untuk menyentuh wajah pria itu. Kapan lagi bisa melihat wajahnya, hidung mancungnya yang sempurna, bibirnya yang pernah mencium dirinya dan matanya yang ....
“Kau sudah bangun?” tanya Gerald yang tiba-tiba membuka matanya ketika jemari Stella ingin mengusap mata pria itu.
“Hmmm, iya aku baru aja bangun. Aku mau ke kamar mandi dulu!” Stella terkejut dan malu karena kepergok sedang menyentuh wajah Gerald. Dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan setengah berlari menuju kamar mandi. Gerald kembali memejamkan matanya sambil tersenyum. Bell berbunyi, Gerald bangkit dari tempat tidur kemudian membuka pintu kamar, seorang bellboy datang membawakan sarapan lalu menata makanan itu di meja setelah selesai dia pun meninggalkan kamar itu. Stella keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya lalu mendekati meja makan, mengambil sepotong roti lalu memakannya.
“Jika kau lapar, makanlah duluan!” ucap Gerald sambil melangkah ke kamar mandi. Stella langsung menarik kursi, meminum secangkir teh kemudian memakan rotinya. Selesai mandi Gerald pun ikut duduk di seberang Stella, menyeruput kopinya dan menyantap sandwich telor.
“G, sebelum kita pulang, aku ingin jalan-jalan di pantai, boleh, ‘kan?” tanya Stella.
“Tentu saja tapi tidak dekat-dekat dengan air laut!” Gerald memberi peringatan.
“Oke, aku ngerti.” Stella berdiri dari kursinya langsung menuju ruang tidur untuk berganti pakaian.
Stella berdiri memandang ke laut biru yang membentang di depannya, deru ombak dan angin laut seolah-olah menghibur hatinya yang saat ini dilanda gunda gulana karena hari ini adalah hari terakhir dia bisa bersama dengan pria yang selama 6 bulan ini menjadi suaminya dan selama 3 bulan ini telah meruntuhkan pertahanan hatinya untuk tidak mencintai pria itu. Tak terasa airmatanya menetes membasahi pipinya, dihapusnya airmata itu berulang kali. Stella tidak menyadari jika sepasang mata sedang memperhatikannya saat ini. Yah, Gerald sedang memperhatikan Stella dari balkon kamarnya saat ini, ada sedikit kecemasan yang menganggunya beberapa hari ini. Ditengah dirinya sibuk memperhatikan istri kecilnya itu, getaran bunyi ponselnya memecah perhatiannya.
“Halo, Mom.”
“Sayang, apa kau di rumah?”
“Aku sedang di luar kota, Mom.”
“Bagaimana dengan Stella?”
“Dia sedang bersamaku.”
“Oh kalian pergi bersama?”
“Ya, ada apa Mom?”
“Ah, tidak apa-apa. Nikmati saja liburan kalian berdua dan ingat untuk segera memberi Mom seorang cucu.”
“Mom, please!”
“Ger, usiamu sudah 33 tahun. Waktu kau lahir, Daddy berumur 27 tahun.”
“Jangan samakan kami, Mom. Kami dari generasi yang berbeda.”
“Baiklah-baiklah. Kapan kau pulang?”
“Sore ini kami akan pulang karena besok aku ada rapat penting.”
“Kalau begitu nanti dari bandara kamu mampir ke rumah, yah. Ada kerabat Daddy datang ke sini. Dia ingin bertemu denganmu.”
“Aku akan usahakan, Mom.”
“Yah sudah kalau begitu, sampai ketemu di rumah.”
“Bye Mom.” Gerald menutup ponselnya lalu keluar dari kamarnya.
Stella masih berdiri di tempatnya ketika Gerald menghampirinya.
“Kau menyukai tempat ini?” tanya Gerald.
“Ya, aku sedang berpikir kapan bisa ke sini lagi,” jawab Stella.
“Jika kau mau, kau bisa datang kembali ke tempat ini.”
“He ... he ... orangtuaku gak akan mengijinkannya. Mereka sangat ketat menjagaku.” Stella memalingkan wajahnya ke arah Gerald.
“Buktinya sekarang kau ada di sini.” Gerald balas menatap Stella.
“Itu karena mereka berpikir aku sudah menikah tapi setelah kita bercerai, mereka akan kembali menjagaku,” ujar Stella kembali memandang laut.
“Sore ini kita harus mampir ke rumah mom karena ada kerabat daddy yang ingin bertemu denganku.”
“Kita pulang sekarang?” tanya Stella yang tidak rela meninggalkan tempat itu.
“Sesudah makan siang kita kembali.” Gerald melihat raut kesedihan di wajah Stella.
***