“Hahaha ... itulah resikonya mempunyai istri yang lugu seperti Stella, Ger,” ucap Jonathan sambil tertawa setelah mendengar cerita Gerald tentang kejadian di rumah sakit tadi. Setelah mengantar Stella pulang, Gerald berencana kembali ke kantor tapi di tengah perjalanan dia justu memutar kendaraannya menuju JW Club.
“Aku rasa dia mencintaimu, Ger? Apa yang akan kaulakukan?” tanya Jonathan.
“Aku tidak tahu, Jo.” Gerald menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
“Setelah 6 bulan kalian bersama, apakah tidak ada perasaan cinta sedikitpun di hatimu untuk Stella, Ger?” Jonathan sedikit meragukan perasaan Gerald karena dia melihat Gerald yang sekarang jauh berbeda dengan Gerald sebelum menikah. Sekarang, dia lebih sering melihat Gerald tersenyum dibanding dulu. Bahkan mendapat pertanyaan dari Jonathan pun, dia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan itu.
“Aaah ... dari senyummu, aku bisa menebak jika kau mulai memiliki perasaan untuk gadis kecil itu, Ger.” Jonathan tersenyum senang.
“Lupakan masa lalumu, Ger. Berbahagialah dengan Stella dan anak kalian!” saran Jonathan.
“Aku belum yakin dengan perasaanku, Jo. Aku perlu waktu untuk menyakinkan perasaanku,” ucap Gerald.
“Aku setuju. Oleh karena itu sisihkan waktumu untuk mengajaknya makan malam dan menonton di luar. Kau tahu, aku melakukannya setelah menikah dan itu berhasil membuat Desinta jatuh cinta padaku, Ger.” Gerald menganggukkan kepalanya atas saran dari sahabatnya itu.
“Aku akan mencobanya. Thanks, Jo.”
***
Keadaan Stella kian membaik, dia mulai bisa berjalan jauh walau masih harus berhati-hati. Dia pun berencana untuk kembali bekerja untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Besok gue harus telepon Rio, gumamnya dalam hati. Ketika akan membuka ponselnya tiba-tiba Rio meneleponnya, Stella segera menerimanya.
“Halo, Yo!” sapa Stella.
“Halo, Ste. Bagaimana keadaanmu? Apakah kamu sudah sembuh?”
“Aku sudah sehat, Yo. Maaf, aku belum sempat telepon kamu! Oya, apa boleh jika aku kembali bekerja?”
“Tentu saja, Ste. Aku membutuhkanmu untuk ada di sampingku.”
“Kalau gitu, besok aku akan ke kantor, Yo,” ucap Stella sambil berjalan menuju balkon kamarnya.
“Aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu, Ste.”
“Iya, aku juga udah gak sabar untuk bertemu denganmu, Yo,” canda Stella membalas ucapan Rio. Tiba-tiba ponsel di tangannya diambil Gerald yang sejak tadi mendengar percakapan antara Stella dan Rio di telepon.
“G ... apa-apaan sih. Kembalikan ponselku!” teriak Stella berusaha mengambil kembali ponselnya.
“Halo, aku Gerald. Mulai hari ini Stella tidak akan bekerja lagi di kantormu,” kata Gerald sambil memegang tangan Stella yang sedang berusaha mengambil kembali ponselnya.
“Mana bisa seperti itu, G,” ucap Stella.
“Kalau boleh kutahu, dengan siapa aku bicara?” ( Terdengar suara Rio dari seberang sana ).
“Aku adalah suami Stella. Dan mulai hari ini aku tidak mengijinkan istriku untuk kembali bekerja karena dia ....” Gerald menghentikan kata-katanya karena tangan Stella menutup mulutnya. Stella menggelengkan kepalanya memberi isyarat kepada Gerald untuk tidak memberitahu Rio tentang kehamilannya karena dia yakin pasti itu yang akan Gerald ucapkan.
“Karena apa? Bagaimana mungkin Stella sudah menikah? Tolong, Anda jangan bercanda.”
“Kau bisa bertanya pada saudara sepupumu.” Gerald mematikan teleponnya lalu memberikan ponsel itu pada Stella.
“Kamu jahat ....” Stella memukul-mukul tubuh Gerald dengan kedua tangannya.
“Jahat bagaimana, Stey? Apa aku salah jika melarangmu untuk bekerja? Kau sedang hamil saat ini, Stey.” Gerald menangkap tangan Stella agar istrinya itu sedikit lebih tenang.
“Tapi apa perlu kamu mengatakan seperti tadi padanya?” tanya Stella kesal.
“Kenapa? Kau tidak ingin dia tahu bahwa kau sudah menikah, begitu?” tanya Gerald mengangkat sebelah alisnya.
“Iya. Aku tidak ingin melukai perasaannya.” Stella menjawab dengan lantangnya.
“Jadi kau ingin memberinya harapan, begitu?” Tatapan Gerald berubah dingin. Stella yang semula ingin menjawab justru mengurungkan niatnya begitu melihat raut wajah Gerald yang berubah dingin. Stella menarik tangannya dari genggaman Gerald lalu berjalan masuk menaiki tempat tidurnya. Sementara itu, Gerald segera menyadari sikapnya pada Stella yang mungkin telah membuatnya takut.
Setelah menenangkan dirinya, Gerald pun masuk dan menutup pintu balkon. Dia berjalan menuju ruangannya sendiri dan memberi Stella waktu untuk mencerna kata-katanya.
***
“Hahaha ... lalu bagaimana rasanya punya istri seperti Stella, Bro?” tanya Jonathan sambil tertawa mendengar curhat Gerald.
“Aku dibuat pusing. Kalian tahu, Pamela meneleponku karena urusan kantor tiba-tiba dia merajuk. Bahkan beberapa kali aku menjelaskannya, dia tetap seperti itu.” Gerald menggelengkan kepalanya.
“Untungnya Desinta tidak seperti itu. Dia hanya meminta sesuatu yang kadang susah ditemukan, itu saja.” Jonathan menjelaskan sedikit tentang istrinya.
“Yang aku tahu, meningkatnya hormon pada wanita hamil dapat mempengaruhi psikologis mereka. Kadang marah, takut, cemas, bahkan lebih sering menangis. Ada juga permintaan mereka yang aneh-aneh dan sewajarnya bagi kalian untuk mengerti keadaan yang sedang dialami mereka.” Penjelasan dari Dave membuat Gerald dan Jonathan menganggukkan kepala mereka. Teringat oleh Gerald kejadian beberapa waktu lalu.
Flash Back
Pagi itu Stella masuk ke ruang makan untuk sarapan. Ketika Bi Asih memberikan sepotong sandwich kesukaannya, dia malah menyingkirkannya dan hanya meminum orange juice.
“Kenapa kau tidak memakannya?” tanya Gerald.
“Aku bosan. Aku mau martabak, G,” rajuk Stella.
“Ini masih pagi, Stey. Di mana ada orang yang menjual martabak pagi-pagi,” ucap Gerald dengan tetap fokus pada tabletnya.
“Tapi aku mau martabak, G,” rajuk Stella, membuat Gerald mematikan tabletnya dan menatap Stella dalam.
“Aku akan minta Bi Asih untuk membuatnya.” Gerald berdiri dari kursinya hendak ke dapur.
“Aku gak mau. Aku mau kita mencarinya di luar, G.” Stella memohon sambil mengoyangkan tangan Gerald yang digenggamnya, Gerald melihatnya lalu menatap Stella.
“Oke. Kita cari sekarang.”
Mendengar jawaban Gerald membuat Stella kembali ceria. Dan akhirnya mereka menemukan toko martabak yang buka pagi itu.
Flash back off
Sekarang Gerald mengerti dengan sikap Stella akhir-akhir ini yang kadang sampai memicu sedikit emosinya.
“Istriku seperti itu, Dave. Akhir-akhir ini dia begitu manja bahkan setiap aku pulang, dia langsung memelukku selama beberapa menit. Menurutnya, dia kangen dengan aroma keringatku. Tapi sebaliknya jika aku selesai mandi, dia sama sekali tidak memperdulikanku,” cerita Jonathan.
“Yah, ada juga yang seperti itu, Jo. Dan sikap cemburu yang berlebihan juga pengaruh dari hormon kehamilannya. Itulah keunikan istri jika sedang hamil dan kau sebagai suami harus berusaha memahaminya,” ucap Dave.
Gerald mendengarkan semua cerita Jonathan tentang perubahan istrinya. Dan sekarang dia mengerti akan sikap Stella akhir-akhir ini.
***
Tak terasa kehamilan Stella sudah memasuki usia 5 bulan karena bertumbuhnya ukuran janin pada kandungannya, membuat perutnya semakin membesar. Stella mengelus-elus perutnya sambil melihat foto hasil USG 4D yang didapatnya ketika memeriksakan kandungannya kemarin. Dan dari hasil pemeriksaannya itu Stella dan Gerald pun dapat mengetahui jenis kelamin bayinya.
“Kamu pasti ganteng seperti daddymu, sayang,” ucap Stella masih mengelus perutnya.
“Oya? Jadi kau mengakui kalau aku ganteng?” Tiba-tiba Gerald berdiri di belakangnya. Stella berbalik menghadap ke arah Gerald.
“Sedikit. Karena kamu sudah berumur jadi gantengnya sedikit berkurang,” kata Stella berlalu dari hadapan Gerald. Gerald tersenyum mendengarnya, dia tahu bahwa Stella masih enggan mengakui perasaannya.
“Aku ingin keluar sebentar. Kau ingin menitip sesuatu?” tanya Gerald yang sudah bersiap untuk pergi.
“Mau ke mana?” tanya Stella. Gerald membalikkan tubuhnya.
“Aku harus menemui seseorang. Aku akan segera kembali,” jawab Gerald.
“Apakah menemui Mercy?” tanya Stella kembali sambil memutar-mutar kedua ibu jarinya.
“Iya, karena ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengannya. Apa kau keberatan jika aku menemuinya?” tanya Gerald.
“Mmmh ... enggak.” Stella mengelengkan kepalanya walau jauh di lubuk hatinya, dia merasa keberatan.
“Aku pergi dulu. Telepon aku jika kau menginginkan sesuatu!” kata Gerald lalu membuka pintu kamar dan menghilang dari balik pintu yang sudah menutup.
***
Gerald tiba di apartemennya setelah mengendarai mobilnya selama 20 menit. Setelah menekan password untuk membuka pintu, dia pun memasuki ruangan yang terlihat kosong.
“Merc ...,” panggilnya. Tak lama Mercy keluar dari dalam kamar dengan hanya memakai handuk untuk menutupi tubuhnya yang baru saja selesai mandi.
“Boo, kapan kau datang? Aku kangen kamu, Boo.” Mercy menghampiri Gerald lalu mengecup bibir pria itu.
“Merc, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Kau bisa berganti pakaian dulu. Aku akan menunggu di sini.” Gerald mengambil duduk di sofa. Melihat keseriusan pada wajah Gerald, Mercy pun segera kembali ke kamar. Tak membutuhkan waktu lama, dia kembali dengan pakaian santainya dan menghampiri Gerald lalu duduk di samping Gerald.
“Ada apa, Boo? Apa yang ingin kaubicarakan begitu pentingnya?” tanya Mercy dan Gerald pun menganggukkan kepalanya.
“Merc, aku ... aku tidak bisa menceraikan Stella.” Gerald menundukkan kepalanya.
“Why, Boo? Kau sudah janji padaku kalau kau akan menceraikannya dan menikah denganku. Tapi sekarang ....” Mercy tidak melanjutkan kalimatnya.
“She is pregnant, Merc.”
“Aku sudah tahu itu, Boo. Tapi kenapa harus kau yang bertanggung jawab bukan kekasihnya?” tanya Mercy.
“Karena bayi itu adalah anakku, Merc.” Jawaban Gerald membuat Mercy menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“I’am so sorry, Merc.”
“Hiks ... katakan itu tidak benar, Boo.” Mercy menangis. Gerald yang melihatnya langsung merangkulnya.
“But it’s true, Merc. I’am sorry,” ucap Gerald.
“Kita bisa tetap menikah, Boo. Aku akan mengasuh anak itu seperti anakku sendiri. Kita akan membicarakannya dengan gadis itu, Boo,” saran Mercy.
“No, Merc. Aku tidak akan memisahkan bayi dengan ibu kandungnya. Aku sudah memutuskan untuk mempertahankan pernikahanku dengan Stella. Maafkan aku, Merc.” Gerald menolak saran dari Mercy.
“Lalu, bagaimana dengan hubungan kita, Boo? Bukankah aku wanita yang kaucintai?” tanya Mercy.
“Kita harus mengakhirinya. Aku akan belajar untuk mencintainya, Merc.” Gerald melepaskan rangkulannya.
“No, Boo. Aku tidak ingin pisah lagi denganmu, Boo. Hiks ... Please, don’t leave me!” Airmata Mercy membasahi pipinya.
“Forgive me, Merc.” Gerald pun mengeluarkan airmata, dia tidak tega melihat Mercy seperti itu karena biar bagaimanapun wanita itu yang selama ini mengisi hatinya.
“Aku harus pulang, Merc. Kau bisa menempati apartemen ini selama kau di sini.” Gerald berbalik menuju pintu keluar.
Mercy pun menangis sejadi-jadinya. Dia tidak terima harus kehilangan orang yang sangat dia cintai selama ini.
“Aku akan merebutmu kembali, Boo. Aku tidak rela kau mencintai wanita lain,” gumam Mercy sepeninggal Gerald.
***
Sementara itu, Stella sedang asyik berbincang-bincang dengan Desinta di JW Club. Setelah Gerald pergi tadi, tidak berapa lama Desinta meneleponnya dan mengajaknya bertemu di clubnya. Akhirnya dengan menaiki taksi online, dia pun berangkat menuju JW Club. Sedang asyiknya berbincang-bincang, tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah Jonathan.
“Hai, Stella. Sudah lama tidak bertemu denganmu.” Jonathan menyalami Stella yang sedang duduk di sofa. Dia pun menghampiri istrinya dan mengecup pipinya. Melihat itu, Stella langsung menundukkan kepalanya.
“Kau sendiri ke sini, Stel?” tanya Jonathan.
“Iya. Desinta mengajakku ketemuan jadi aku ke sini,” jawab Stella dengan senyuman manisnya.
“Apakah Gerald mengetahui jika kau ke sini?” tanya Jonathan sambil duduk di sebelah Desinta.
“Tidak. Dia sedang sibuk mengunjungi kekasihnya,” jawab Stella dengan wajah kecewa.
“Itu hanya dugaanmu saja, Stel,” ucap Desinta menghibur Stella.
“Dia yang bilang begitu padaku, Des. Itu bukan dugaanku semata,” ucap Stella kesal.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Stella pun langsung mengambil ponsel itu dari dalam tasnya dan langsung menekan tombol hijau untuk menerima telepon itu.
“Halo.”
“Di mana kau, Stey?”
“Aku sedang bersama Desinta dan Jo di club.”
“Apa?”
“Aku akan menjelaskannya padamu nanti, G.”
“Tunggu aku di sana. Jangan ke mana-mana.”
Stella menutup teleponnya setelah mendengar Gerald mematikan teleponnya.
“Dia pasti marah, yah?” tanya Jonathan begitu melihat raut wajah Stella yang berubah.
“Maafkan aku yah, Stell. Aku akan menjelaskan padanya nanti,” ucap Desinta menyesal.
“Gak apa-apa, Des. Lagipula aku juga bosan di rumah. Pria tua itu terlalu mengekangku semenjak aku mengandung anaknya,” kata Stella santai.
“Siapa pria tua yang kau maksud itu?” Tiba-tiba Gerald sudah menutup pintu, bahkan Stella tidak mendengar suara pintu terbuka. Stella tidak menjawabnya, dia hanya mengulum senyumnya.
“Aku minta maaf, Ger. Tadi aku yang mengajak Stella ketemuan, aku tidak tahu jika kamu melarangnya berpergian.” Desinta meminta maaf pada Gerald. Melihat wajah istrinya yang ketakutan seperti itu membuat Jonathan tertawa.
“Sudah Honey. Dia tidak akan marah,” kata Jonathan pada istrinya lalu merangkulnya. Stella kembali menundukkan kepalanya melihat kemesraan pasangan itu.
“Kenapa kau tidak menelponku jika ingin ke sini?” tanya Gerald pada Stella.
“Untuk apa? Aku bukan orang yang suka menganggu ....” Stella tidak melanjutkan kata-katanya.
“Menganggu apa maksudmu?” tanya Gerald kembali.
“Sepasang kekasih yang sedang bertemu,” jawab Stella membalas tatapan mata Gerald. Mendengar jawaban Stella membuat pria itu mengeraskan rahangnya, melihat hal itu Stella segera memalingkan wajahnya.
“Bagaimana jika kita ngedate sama-sama, Ger? Kita ajak mereka makan dan nonton?” tanya Jonathan untuk menyejukkan suasana yang mulai memanas.
“Iya, hubby. Aku sudah lama ingin nonton cinema,” seru Desinta pada suaminya itu.
“Lebih baik kalian saja yang pergi,” jawab Gerald pada pasangan yang sedang di mabuk asmara itu.
“Kenapa kita gak pergi bersama mereka, G? Aku sudah lama gak nonton cinema,” ucap Stella.
“Nanti saja kita pergi tapi saat ini aku lelah,” jawab Gerald.
Mendengar jawaban Gerald seperti itu, Stella berdiri dari duduknya dan tanpa berbicara apa-apa dia bergegas meninggalkan tempat itu. Gerald, Jonathan, dan Desinta terkejut melihat Stella berjalan keluar tanpa berkata sedikitpun.
“Kejar dia, Ger!” ujar Jonathan yang sejak tadi sudah melihat airmata yang menggenang di pelupuk mata Stella. Gerald pun segera keluar menyusul Stella.
***
Akhirnya Gerald sampai di rumah setelah usahanya mengejar Stella tadi tidak berhasil karena begitu dia keluar, Stella sudah tidak ada dan menurut petugas parkir di sana dia melihat Stella menaiki taksi yang kebetulan habis menurunkan penumpang.
Gerald menaiki tangga menuju kamarnya lalu dibukanya pintu kamarnya, dia tidak melihat Stella di ruangannya lalu dia pun menuju kamar mandi tapi justru dia melihat Stella sedang memasukkan pakaiannya ke sebuah koper, Gerald segera menghampirinya.
“Apa yang kaulakukan, Stey?” tanya Gerald sambil mengambil pakaian Stella kembali dan memasukkannya ke dalam lemari.
“Biarkan aku kembali ke rumah orangtuaku hiks ...,” ujar Stella dan hendak mengambil kembali pakaiannya tapi Gerald menangkap kedua tangannya.
“Kau marah karena aku menolak ajakan Desinta dan Jo?” Gerald menatap Stella.
“Iya. Aku memang cuma istri kontrakmu, G. Hiks ... tapi saat ini aku juga seorang istri yang ingin diberi perhatian oleh suaminya. Hiks ... apa kau tahu setiap aku melihat Jo memperlakukan Desinta, aku sedih. Karena kau gak pernah memperlakukanku seperti itu. Hiks ... di matamu aku hanya seorang gadis kecil yang terpaksa mengandung karena sebuah kesalahan. Iya, ‘kan.” Stella menarik tangannya, dia menutup wajahnya sambil menangis.
“Hiks ... tadi aku menunggumu mengajakku makan di luar tapi kau malah menemuinya. Hiks ... hiks ....” Tiba-tiba tubuh Stella melungsur ke lantai tapi dengan cekatan Gerald segera mengapainya dan membawa tubuh itu ke pelukannya.
“Apa kautahu alasanku menemui Mercy? Aku menemuinya untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Aku harus memilih antara kalian berdua dan aku memilihmu untuk mendampingiku, Stey.” Gerald mempererat pelukannya dan mengelus kepala Stella. Tak lama Stella mengangkat wajahnya menatap Gerald.
“Kenapa kau memilihku? Apa karena anak ini?” tanya Stella.
“Mungkin untuk saat ini, iya. Tapi aku juga ingin mempertahankan pernikahan kita. Aku tidak ingin anakku tumbuh dalam keluarga terpisah,” jawab Gerald sambil mengusap sisa airmata pada pipi Stella.
“Tapi kau tidak mencintaiku, G. Kita akan menderita jika harus mempertahankan pernikahan ini. Kita tidak akan bahagia, G.” Stella mengendurkan pelukan Gerald.
“Bagaimana denganmu? Apakah kau ingin mempertahankan pernikahan kita?” tanya Gerald.
“A–aku tidak tahu, G.” Stella menggelengkan kepalanya dan menundukkan kepalanya. Jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya dia sangat ingin pernikahannya dengan Gerald langgeng tapi dia takut. Gerald mengangkat wajah Stella untuk menatapnya.
“Katakan padaku, Stey. Apa kau mencintaiku?” Gerald menatap dalam mata Stella. Stella terdiam, dia sangat mencintai pria ini tapi dia takut kecewa. Gerald sebenarnya tahu jika Stella mencintainya tapi dia perlu keyakinan dari gadis itu.
“Kau tidak mencintaiku?” tanya Gerald dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Aku ... aku ... tapi kau harus janji gak akan menertawaiku,” Sifat manja Stella mulai terlihat dan Gerald menyukainya, dia pun menganggukkan kepalanya.
“Sebenarnya ... aku ... aku sudah lama mencintaimu tapi aku takut mengatakannya, G,” jawab Stella sambil memainkan kancing kemeja Gerald untuk menutupi rasa malunya. Merasa tidak ada kata-kata yang Gerald ucapkan, Stella mengangkat wajahnya.
“Kenapa kamu diam, G? Apa kamu marah?” tanya Stella.
“Tidak. Aku hanya sedikit terkejut mendengarnya. Tapi aku senang.” Gerald merapikan anak rambut yang menutupi sedikit wajah Stella.
“Bagaimana denganmu, G?” tanya Stella.
“Aku belum yakin dengan perasaanku sendiri, Stey. Tapi ... aku akan belajar untuk mencintaimu,” jawab Gerald dan Stella mengangguk sambil tersenyum.
“Sekarang kita rapikan pakaianmu, setelah itu kita akan makan di luar dan menonton cinema, bagaimana?” tanya Gerald.
“Oke tapi aku yang pilih filmnya yah, G. Soalnya aku kurang suka film bergenre orangtua,” ucap Stella polos sambil berbalik hendak merapikan pakaiannya. Tapi tiba-tiba Gerald menarik kembali tangannya, membuat tubuh Stella kembali mendekat ke tubuh Gerald.
“Sejak tadi kau selalu menyebutku orangtua. Apa aku sudah setua itu untukmu, Stey?” tanya Gerald menggoda Stella.
“A–mmmh ....” Stella tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Gerald sudah membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya. Tanpa sadar Stella melingkarkan lengannya pada leher Gerald dan memejamkan matanya terbawa suasana oleh permainan Gerald yang tidak biasanya. Gerald menyeringai senang ketika mendapatkan balasan dari Stella, walaupun balasan itu masih terlalu kaku baginya.
“Eummh.” Stella mengerang ketika Gerald menekan tengkuknya dan memperdalam ciumannya. Sampai akhirnya Gerald melepaskan ciumannya, memberikan keleluasan bagi Stella untuk bernapas. Tapi Stella langsung menyurukan wajahnya di d**a suaminya. Gerald membelai rambut Stella, dia tahu jika istrinya itu malu. Setelah beberapa saat seperti itu, perlahan-lahan Stella mengangkat wajahnya menatap Gerald.
“Aku lapar, G,” ucap Stella.
“Ayo, kita berangkat sekarang!” ajak Gerald sambil menggandeng tangan Stella.
***
Pagi itu masih dengan gaun tidurnya, Stella menghampiri Bi Asih yang sedang menyiapkan sarapan.
“Pagi, nyonya,” sapa Bi Asih.
“Pagi juga, Bi. Apakah Tuan sudah pergi?” tanya Stella sambil berbisik.
“Tuan sedang di ruang makan. Nyonya ingin sarapan apa?” tanya Bi Asih.
“Aku mau sarapan mie tapi gimana yah, Bi?” Stella mengerucutkan bibirnya memikirkan caranya.
“Apakah sarapannya sudah siap, Bi?” Tiba-tiba Gerald sudah berdiri di pintu ruang makan.
“Sudah Tuan.” Bi Asih segera membawa nampan berisi sarapan untuk Gerald dan juga Stella.
“Stey, kemarilah.” Gerald melambaikan tangannya kepada Stella. Dengan terpaksa Stella pun menghampiri Gerald di ruang makan. Bi Asih mengerdipkan matanya pada Stella sambil tersenyum dan balik ke dapur.
“Kau belum berangkat ke kantor, G?” tanya Stella sambil menarik kursi dan mendudukinya.
“Sebentar lagi. Aku menunggumu untuk sarapan.” Gerald mengambil garpu dan pisau lalu memotong sandwichnya kemudian meletakkannya di depan Stella. Dia mengambil sandwich Stella, memotongnya lalu memakannya.
“Kau tidak makan sarapanmu?” tanya Gerald. Stella menggelengkan kepalanya malah memangku dagunya dengan kedua tangannya.
“Kemarilah!” Gerald menggerakkan telunjuknya. Stella mengerutkan keningnya, perasaan dia tidak melakukan kesalahan, ucapnya dalam hati. Melihat Stella diam saja, Gerald memegang pergelangan tangan istrinya itu supaya berdiri. Stella berdiri dan mendekat ke arah Gerald. Tanpa disangka oleh Stella, Gerald menariknya untuk duduk dipangkuannya. Stella merasa sangat canggung karena baru pertama kali dalam hidupnya duduk di pangkuan seorang pria yang bukan papanya.