Bab 24. Liburan Kedua

3333 Kata
“Makanlah!” seru Gerald sambil menyodorkan garpu berisi sandwich ke mulut Stella sehingga Stella terpaksa memakannya. Sepotong demi sepotong akhirnya Stella menghabiskan juga sarapannya. “Sekarang minum susunya!” perintah Gerald. “Mmmh ....” Stella mengeleng sambil menutup mulutnya dengan tangan. “Ayolah, ini untuk kesehatanmu dan juga babynya,” rayu Gerald sambil menyodorkan gelas yang berisi s**u ke mulut Stella, mau tak mau Stella membuka mulutnya dan meminum s**u itu. “Jadi ini yang membuatmu meninggalkanku, Boo?” Tiba-tiba Mercy sudah berdiri di pintu ruang makan. Gerald dan Stella pun menoleh ke arah datangnya suara. “Kau harus berdiri dulu, Sweetie,” bisik Gerald di telinga Stella dan Stella pun segera berdiri dari pangkuan suaminya itu. Mercy menghampiri Gerald dan menatap tajam Stella yang berdiri tepat di sebelah Gerald. Pandangan matanya menelusuri dari ujung rambut Stella dan berhenti di perut Stella yang sudah membesar. “Jadi seperti ini caramu mengambil hati kekasihku, gadis liar,” semprot Mercy kepada Stella. Gerald menarik tangan Stella agar berdiri di belakangnya. “Merc, tolong jangan memulai keributan! Bukankah sudah jelas pembicaraan kita kemarin,” kata Gerald. “Tidak, G. Aku tidak bisa berpisah darimu,” ucap Mercy, dia menghampiri Gerald. “Apakah kau ingat, 3 tahun yang lalu kau bisa meninggalkanku, Merc. Lalu apa bedanya dengan sekarang?” tanya Gerald. “Aku menyesal, G. Karena itu, aku tinggalkan semua pekerjaanku dan kembali ke sini hanya untukmu, G. Kita bisa menikah dan punya anak-anak yang lucu. Please, G.” Mercy memohon pada Gerald. “Forgive me, Merc. Aku harap kau mau mengerti,” ucap Gerald. “Jadi kau lebih memilih menjalani pernikahan tanpa cinta dengan gadis liar itu? Aku tahu kamu, G. Kau bukan tipe pria yang mudah mencintai wanita lain. Tatap mataku dan katakan bahwa kau mencintai gadis itu. Jika kau benar mencintainya, aku akan pergi dari hidupmu, G.” Mercy menantang Gerald. “Aku ... aku rasa kau harus pergi dari sini, Merc.” Gerald memegang bahu Mercy dan memintanya pergi. “Aku akan pergi setelah kau mengatakan bahwa kau mencintai gadis itu.” Mercy bersikukuh pada pendiriannya. Stella sangat mengharapkan Gerald menjawab tantangan Mercy tapi suaminya itu justru hanya diam. Dengan kesal, Stella melewati Gerald dan Mercy meninggalkan ruangan itu. *** Stella menghempaskan tubuhnya di ranjang sambil mendekap bantal berbentuk boneka kesayangannya. “Apa susahnya sih cuma bilang aku mencintainya,” gerutu Stella. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, segera diangkatnya panggilan Bella, sahabatnya. “Ada apa, Bel?” “Stey, gue sedang bersama Rio. Dia ingin sekali bertemu loe. Loe bisa ke sini, ‘kan?” “Memang kalian di mana?” “Kita lagi di cafe biasa. Loe bisa gak ke sini?” “Oke, gue ke sana tapi loe jangan kaget yah kalau ketemu gue nanti.” “Beres deh. Gue tunggu loh, Stey. Bye ....” Stella segera menuju ruang ganti dan menganti pakaiannya dengan kemeja tanpa lengan berwarna putih dan celana panjang berpinggang karet berwarna coklat. Setelah bercermin sebentar, dia pun mengambil tasnya dan keluar kamar. “Bi, di mana Tuan?” tanyanya pada Bi Asih yang sedang membersihkan meja di ruang tengah. “Oh ... tadi sepertinya Tuan pergi dengan Nona Mercy, Nyonya,” jawab Bi Asih dengan raut wajah khawatir. Stella kaget mendengar Gerald pergi dengan Mercy, segera dia menelepon pria itu tapi tidak ada jawaban bahkan Stella mencoba beberapa kali dan tetap tak ada jawaban. “Bi, kalau Tuan pulang, tolong katakan aku pergi untuk bertemu dengan teman-temanku. Makasih yah, Bi. Aku pergi dulu.” Stella segera berlalu dari hadapan Bi Asih dengan perasaan kesal. Dengan memesan taxi online, dia pergi menemui teman-temannya. Sesampainya di tempat yang di tuju, Stella masuk mencari Bella dan Rio. Dengan lambaian tangan sahabatnya itu, dia pun segera menuju meja di mana sahabatnya duduk. “Stey, loe hamil?” tanya Bella kaget melihat perut Stella yang membuncit, begitu juga dengan Rio yang benar-benar terpukul hatinya karena dia sangat mencintai Stella. “Iya. Udah 5 bulan.” Stella menjawab dengan santai. “Jadi benar yang dikatakan pria itu, Stella?” tanya Rio. “Iya, Yo,” jawab Stella. “Berarti waktu masih kuliah, kamu sudah menikah?” tanya Rio kembali. Stella menganggukkan kepalanya. “Kamu juga sudah tahu, Bel?” tanya Rio pada Bella. “Gue baru tahu sekitar 5 bulan yang lalu.” Bella menggenggam tangan Stella. “Loe punya utang cerita yah sama gue, Stey,” bisik Bella di telinga Stella. “Ayolah, kita pesan sesuatu. Gue udah lapar.” Stella mengajak teman-temannya memesan makanan favorit mereka. Selesai makan, Bella mengajak Stella dan Rio menonton film yang baru saja tayang di cinema. Mereka pun menuju lantai atas untuk segera memesan tiket karena film yang baru diputar biasanya akan banyak orang ingin menonton. Rio mengantri untuk membeli tiket sedangkan Stella dan Bella membeli snack dan minuman untuk teman nonton mereka. *** Suara deru mesin mobil terdengar dari luar, Gerald segera menyibak gorden dari ruang tengah. Dilihatnya Stella yang baru saja keluar dari dalam sebuah mobil BMW putih dan dari pintu pengemudi keluar seorang pria. “Thanks sudah mengantar gue, Yo,” ucap Stella. “Your Welcome, Stel. Aku pulang, bye.” Rio masuk kembali ke dalam mobil, menyalakan mobil lalu melambaikan tangannya. Stella membalas melambaikan tangannya, setelah mobil pergi Stella pun masuk. Gerald melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 9 malam. Tak lama, Stella pun masuk dan mengunci pintu. Dia tidak menyadari keberadaan Gerald yang sedang berdiri dekat jendela ruang tengah dengan kedua tangan di dalam saku celananya. “Dari mana saja jam segini baru pulang?” tanya Gerald. Mendapat sapaan yang tak diduganya, Stella pun terperajat. “Huh ... G, aku kira siapa.” Stella mengelus dadanya. Gerald pun menghampirinya Stella. “Dari mana kau?” tanyanya kembali dengan raut wajah dingin. “Aku pergi dengan teman-temanku. Aku udah meneleponmu tapi ponselmu gak aktif. Kenapa kamu gak bilang kalau kamu pergi dengan Mercy?” Stella balik bertanya sambil menatap Gerald. “Aku cuma mengantarnya kembali ke apartemen,” jawab Gerald. “Harus mematikan ponsel?” tanya Stella penuh selidik. “Ponselku lowbat, Stey. Aku baru tahu setelah kembali ke rumah.” Gerald memperlihatkan layar ponselnya yang sudah penuh 100 persen. “Lalu kenapa dengan ponselmu? Aku meneleponmu beberapa kali tapi kau tidak mengangkatnya.” Gerald mengikuti Stella menaiki anak tangga menuju kamarnya. “Karena aku sedang menonton film kesukaanku,” jawab Stella sambil membuka pintu kamar. “Dengan bosmu yang baru saja mengantarmu pulang?” tanya Gerald. “Namanya Rio, G.” Stella berbalik ke arah Gerald. “Kau pergi menonton dengannya?” Gerald bertanya sambil memiringkan kepalanya. “Bertiga dengan Bella.” Stella meletakkan tasnya dan duduk di ranjangnya sambil membuka ikatan rambutnya. “Kamu udah selesai, ‘kan menginterogasiku? Kalau udah, aku mau mandi.” Stella berdiri dari duduknya, dilihatnya Gerald menganggukkan kepala, Stella pun segera menuju kamar mandi. *** Pukul 2 dini hari Stella terbangun, mulutnya terasa kering, diambilnya botol yang sudah tersedia di meja nakas lalu meminumnya. Setelah hausnya hilang, dia pun kembali merebahkan tubuhnya. KRUK ... KRUK ... Stella memegang perutnya, dia lapar. Stella kembali berusaha untuk tidur, dia berusah memejamkan matanya tapi lagi-lagi perutnya berbunyi. Karena merasa terganggu dengan rasa laparnya, dia pun turun dari ranjang lalu menuju ruangan Gerald. Dia menghampiri Gerald yang sedang tertidur pulas, rasa tidak teganya untuk membangunkan pria itu membuatnya hanya memandangi wajah suaminya itu. Selama beberapa menit Stella berdiri tanpa menyadari jika Gerald terbangun dan sedang menatapnya. “Ada apa, Stey?” tanya Gerald memecah kesunyian di ruangan itu. Stella terperajat dan melangkah mundur 2 langkah begitu mendengar suara Gerald. “A–aku lapar, G,” jawab Stella sambil memegang perut buncitnya, membuat Gerald melihat ke arah perutnya dan turun dari ranjangnya menghampiri Stella. “Aku akan membuatkan makanan untukmu.” “Mmmh ....” Stella menggelengkan kepalanya. “Aku mau kita keluar mencari makanan, G,” lanjutnya. “Ini jam 2 pagi, Stey. Di mana ada resto yang masih buka?” “Kalau kamu gak mau mengantarku, aku akan keluar sendiri.” Stella merajuk dan berjalan menuju ruangannya. “Baiklah! Kita keluar, Stey.” Gerald mengikuti Stella dari belakang. Mereka menyelusuri sepanjang jalan itu sambil melihat-lihat jika ada penjual makanan di daerah itu. Setelah setengah jam berlalu akhirnya mereka melihat penjual martabak yang masih buka. “Stop, G! Aku mau itu,” tunjuk Stella hendak keluar dari mobil tapi Gerald menahannya. “Kau tetap di sini biar aku yang turun,” ucap Gerald. “Tapi aku mau memilih rasanya, G.” “Tidak dengan pakaian seperti itu, Stey. Katakan saja kau ingin rasa apa?” tanya Gerald. “Coklat keju,” jawab Stella. Gerald pun turun dari mobil menghampiri penjual martabak. Begitu Gerald pergi, Stella melihat pakaian yang dikenakannya. Dia memakai setelan baju tidur setali dengan celana pendek. Tak lama Gerald masuk ke dalam mobil dengan 1 kotak martabak dan diberikannya kepada Stella. Dengan tidak sabar Stella segera membuka kotak itu dan mengambil sepotong martabak lalu memakannya. Gerald tersenyum melihat Stella yang sangat menikmati makanannya. “Kamu juga harus mencobanya, G. Ini enak sekali.” Stella menyodorkan sepotong martabak dengan tangannya. “Biar aku yang menyuapimu, yah,” ucap Stella sambil mendekatkan martabak itu ke mulut Gerald. Tanpa bisa menolak, Gerald pun memakan martabak itu sedikit demi sedikit sampai habis. Tanpa diminta Stella segera mengambil sebotol air mineral yang memang sudah tersedia di mobil itu lalu membukanya dan memberikannya pada Gerald. Setelah Gerald selesai meminumnya, Stella mengambil botol itu dan menghabiskan sisa air dari botol itu tanpa mempedulikan mata Gerald yang sedang melihat ke arahnya. *** “Jadi menurutmu, Gery tidak mencintaimu, Stey?” tanya Desinta pada Stella yang sedang mengaduk adonan kue. Hubungan Stella dan Desinta semakin dekat, bahkan panggilan mereka pun berubah kian akrab. Kadang Desinta yang datang mengunjungi Stella, kadang Stella yang datang mengunjungi Desinta seperti saat ini. Stella juga sudah menceritakan bagaimana pertemuan antara dia dengan Gerald yang berakhir di pernikahan. “Aku gak tahu, Sin.” Stella menggelengkan kepalanya. “Cobalah untuk menarik perhatiannya!” saran Desinta. “Caranya?” tanya Stella polos. Desinta membisikkan sesuatu ke telinga Stella dan itu membuat Stella terkejut. “Kamu bisa lihatkan kalau Jo sangat mencintaiku,” ucap Desinta. “Honey, Dave sudah datang. Apakah semuanya sudah siap?” tanya Jonathan yang tiba-tiba saja masuk ke dapur. “Semua sudah siap, kita bisa berangkat sekarang,” jawab Desinta. Mereka pun segera ke ruang tamu. “Hai, Stella. Bagaimana kabarmu?” tanya Dave yang sudah lama tidak bertemu dengan Stella. “Aku baik, Dave. Bagaimana denganmu?” “I’m good. Usia berapa sekarang kehamilanmu?” “Memasuki bulan ke 6, Dave.” “Semoga kalian berdua lancar dalam persalinan nanti, yah!” ucap Dave untuk Stella dan Desinta. “Thanks, Dave,” jawab Stella dan Desinta bersamaan. “Kita berangkat sekarang supaya tidak kemalaman sampai di resort.” Gerald membuka pembicaraan. Setelah menyiapkan semuanya mereka pun berangkat ke bandara. *** Setelah menempuh perjalanan yang cukup singkat, akhirnya mereka sampai juga pada sebuah resort berbintang lima di Pantai K. Seorang pria paruh baya menghampiri mereka dan memberikan sebuah kunci pada Gerald. “Selamat datang, Tuan Muda,” sapa pria paruh baya itu. “Terima kasih, Pak Wayan.” Gerald mengambil kunci tersebut. Setelah berbincang sejenak, Pak Wayan pun pamit pulang. Gerald segera menuju salah satu villa yang ada di resort tersebut. Gerald membuka pintu lalu memasuki villa yang terbilang cukup besar. Stella yang berdiri tidak jauh dari Gerald cukup terkejut melihat kemewahan di dalam villa tersebut. Sementara itu Jonathan mengajak Desinta memasuki salah satu kamar, begitu juga dengan Dave yang memasuki kamar paling ujung, dan Gerald mengajak Stella memasuki sebuah kamar yang lebih besar dari kamar lainnya. Stella tercengang begitu memasuki kamar karena dia dapat langsung melihat pantai dengan deburan ombak yang sangat indah. “Waaaah, indah sekali. Apa kau sengaja memilih villa ini, G?” tanya Stella. “Iya. Kau suka?” tanya Gerald. Stella menganggukkan kepalanya. Dia bahagia karena bisa kembali lagi ke pulau ini dan yang lebih membuatnya bahagia, Gerald kembali menemaninya. *** Cahaya matahari yang masuk menembus kaca jendela kamarnya membuat Stella terbangun. Dengan sedikit malas Stella bangun dan duduk, dilihatnya Gerald yang masih tertidur di sofa. Sebenarnya dia tidak tega melihat Gerald tidur di sofa tapi dia juga tidak bisa meminta pria itu untuk tidur di sampingnya karena dia tidak ingin mendengar Gerald menolaknya. Stella turun dari ranjangnya dan berjalan menuju sofa. Dia duduk di sebelah Gerald karena sofanya cukup lebar bahkan dapat ditiduri untuk 2 orang. Diperhatikannya wajah Gerald yang sedang tertidur. Walaupun perbedaan usianya cukup jauh dengan pria itu tapi bagi Stella justru wajah Gerald semakin memikat hatinya. Mata Stella tertuju pada bibir Gerald, tiba-tiba dia ingin sekali mengecup bibir itu. Perlahan-lahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Gerald, ketika wajahnya berjarak sekitar 15 cm mata Gerald terbuka dan membuat Stella ingin menarik kembali wajahnya tapi tangan Gerald segera menangkup tengkuk Stella dan membawanya untuk mendekat ke wajahnya. Gerald pun mengecup singkat bibir Stella lalu ditatapnya dalam wajah gadis yang sedang mengandung anaknya itu. Gerald menarik perlahan pinggang Stella lalu mengangkat sedikit tubuh gadis itu untuk tidur di sebelahnya dan kembali Gerald mengecup bibir mungil yang sudah menjadi candu baginya. Kali ini bukan lagi mengecup tapi justru Gerald melumat bibir istrinya itu, Stella mengalungkan tangannya pada leher Gerald dan mulai membalas ciuman pria itu. Gerald merasakan ada yang berbeda dengan perasaannya saat mencium Stella, dia membandingkannya saat beberapa waktu lalu Mercy menciumnya dan dia membalasnya. Entah kenapa, dengan Stella terasa berbeda, dia merasa sangat nyaman dan menikmatinya. Ciuman itu berlangsung cukup lama, namun harus berakhir karena ketukan pada pintu kamarnya. Suara Jonathan terdengar memanggil namanya, Gerald pun segera bangkit dari sofa dan menuju pintu dan membukanya. “Ger, kami mau ke pantai. Apa kau ingin bergabung bersama kita?” tanya Jonathan. Belum sempat Gerald menjawab, Stella sudah menjawabnya, “Aku mau ke pantai, Jo. Tunggu aku!” Stella berbalik ke dalam untuk berganti pakaian yang lebih nyaman. “Kami akan segera menyusul, Jo.” Gerald menutup pintunya setelah Jonathan pergi. Stella dan Desinta berjalan di depan Gerald, Jonathan, dan Dave. Sampai di sebuah kursi panjang mereka berhenti dan kedua wanita yang sedang mengandung itu memilih untuk beristirahat sejenak sedangkan ketiga pria itu memilih duduk di hamparan pasir. “Apakah kau sudah menarik perhatian suamimu?” tanya Desinta sambil membersihkan pasir yang melekat di kakinya. “Entahlah, aku merasakan dia sedikit berubah. Lebih perhatian dan lebih mesra dari biasanya,” jawab Stella sambil memandangi Gerald yang sedang bercengkrama dengan kedua sahabatnya. “Itu bagus, Stey. Artinya, dia mulai sedikit demi sedikit membuka hatinya untukmu.” Desinta menepuk bahu Stella. Mendengar kata-kata Desinta, hati Stella merasa sedikit bahagia. Matanya terus memandang ke arah Gerald, seakan dia tidak percaya akan memiliki seorang suami yang sangat tampan, gagah, dan dingin. “Stey, bukankah itu model terkenal, yah?” tanya Desinta membuyarkan lamunan Stella. “Mana?” Stella mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Desinta. Dan betapa terkejutnya dia begitu melihat model yang dimaksud Desinta. “Aku menyukainya, Stey. Aku salah satu penggemarnya. Ayo, kita ke sana! Aku ingin foto bersamanya, Stey.” Desinta sangat antusias untuk menghampiri Mercy yang sedang melakukan pengambilan foto. “Aku di sini aja, Sin. Mintalah Jo untuk mengantarmu, yah.” Stella menolak ajakan Desinta. “Hubby ....” Desinta berteriak memanggil Jonathan. Melihat Desinta yang sedang melambaikan tangannya Jonathan pun menghampirinya, begitu pun Gerald dan Dave. “Ada apa, Honey?” tanya Jonathan pada istrinya itu. “Antar aku ke sana. Aku ingin berfoto dengan model itu. Aku menyukainya dari dulu, Hub.” Pandangan mata Jonathan, Gerald, dan Dave mengikuti arah yang ditunjuk Desinta. Ketiga pria itu terkejut melihat Mercy yang berada di sana. “Honey, aku rasa sekarang bukan waktunya kita ke sana. Lain kali aja, oke,” ucap Jonathan. “Tapi ini keinginan anak kita, Hub.” Desinta merajuk sambil menguncang-guncang lengan suaminya. “Ajaklah istrimu ke sana, Jo. Aku, Stella, dan Dave akan kembali ke villa!” seru Gerald menepuk bahu Jonathan. “Tapi Ger ... baiklah. Aku antar istriku dulu nanti aku akan kembali ke villa,” kata Jonathan. Gerald, Stella, dan Dave berbalik arah menuju villa sedangkan Jonathan mengantar Desinta untuk menemui Mercy. *** Malam itu, mereka mengadakan barbeque di halaman villa. Stella dan Mercy mempersiapkan meja makan sedangkan Jonathan dan Gerald bergantian memanggang daging. Dave menyiapkan minuman untuk para pria. Selesai memanggang, Jonathan membawa daging itu ke meja makan. “Ini daging kesukaanmu, honey.” Jonathan mengecup bibir Desinta. “Thankyou, Hub,” ucap Desinta. Stella yang melihat kelakuan suami istri itu merasa jengah, dia pun pergi meninggalkan Jonathan dan Desinta yang sedang bermesraan. Stella menghampiri Gerald yang masih memanggang sosis, daging dan paprika yang sudah ditusukkan seperti sate. “Aku bantu yah,” kata Stella sambil membawa piring. “Bukannya kamu sedang bersama Desinta?” tanya Gerald sambil membalik-balikkan daging yang sedang dipanggang. “Lihat aja sendiri!” jawab Stella melirikkan matanya ke arah pasangan itu. Gerald mengikuti arah pandang Stella dan kembali melihat panggangannya. “Hm, mereka kenal setelah menikah dan mungkin sekarang mereka sedang jatuh cinta satu sama lain,” jelas Gerald. “Tapi inikan di depan umum, G. Tidak pantas dilihat orang, ’kan,” protes Stella. “Hm, kau bisa bicara seperti itu karena kau tidak mengalaminya.” “Aku gak akan seperti itu.” Stella mengerucutkan mulutnya, Gerald hanya tersenyum melihat reaksi istrinya itu. “Jika kau seperti itupun, Gerald tidak akan mempermasalahkannya, Stel.” Tiba-tiba Dave menimpalinya dari belakang Stella, membuat Stella kaget lalu memegang lengan Gerald. “Dave ... kamu mengagetkan aja,” rajuk Stella dan memukul lengan Dave. “Ayo, kita bawa makanannya ke sana.” Gerald memberikan sepiring daging yang sudah matang pada Dave. “Tapi tunggu dulu, aku mengundang seseorang. Kita tunggu sebentar lagi, yah,” kata Desinta. “Aku sudah di sini!” seru seseorang yang datang dari arah depan. “Mer–cy,” ucap Stella pelan. “Stey, kenalkan ini Mercy Marcelina,” ujar Desinta pada Stella yang sejak tadi menatap Mercy. “Kami sudah saling mengenal.” Mercy menatap Stella tajam. “Oya? Tapi kenapa tadi kamu tidak mau menemaniku, Stey?” tanya Desinta. “A–aku ....” Belum selesai Stella berbicara, Mercy langsung memotongnya. “Karena dia telah merebut calon suamiku.” “Apa? Stella merebut calon suamimu. Siapa?” tanya Desinta bingung. “Honey, sudahlah. Jangan mencampuri urusan oranglain, oke!” Jonathan merangkul Desinta. “Tapi Hub, aku cuma ingin tahu kebenarannya saja.” “Kau ingin tahu kebenarannya? Temanmu ini dengan cara licik telah merebut pria yang seharusnya sudah menjadi suamiku,” kata Mercy sambil menatap tajam pada Stella. “Apakah pria yang kaumaksud itu adalah Gerald? Tapi tidak mungkin Stella berbuat seperti itu. Aku mengenalnya dengan sangat baik.” Desinta masih tidak mempercayai ucapan Mercy begitu saja. “Stella tidak merebutku darimu, Merc. Tapi aku yang memilihnya untuk menjadi istriku,” bela Gerald dengan merangkul Stella yang sejak tadi hanya diam. “Aku tahu kau, Boo. Kau bukan pria yang mudah melupakan cinta pertamamu. Kau melakukannya karena tuntutan tanggung jawabmu terhadap kehamilannya. I’m right, Boo?” tanya Mercy menunggu jawaban Gerald. “Katakan padaku kalau kau mencintainya, Boo. Aku akan rela melepasmu.” Mercy menantang Gerald. Tapi Gerald tidak menjawab, dia hanya menatap Mercy. Stella menunggu ucapan itu keluar dari mulut Gerald walaupun hanya kebohongan kecil, setidaknya hanya untuk membuat Mercy tidak menganggunya lagi. “Kenapa, Boo? Kau tidak bisa mengatakannya? Atau karena kau tidak mencintainya?” Ucapan Mercy membuat suasana makin panas. Melihat tidak ada reaksi apa-apa dari suaminya, Stella pun memilih angkat kaki dari tempat itu. Dave berusaha untuk menahan Stella tapi justru gadis itu malah mendorongnya lalu berlari masuk ke dalam villa. Sementara itu, Gerald makin menatap tajam ke arah Mercy. “Awalnya aku ingin kita bisa berteman baik tapi dengan sikapmu ini, membuatku kecewa. Kalau dengan jawaban itu, kau rela melepasku maka aku akan mengatakannya. Ya, aku mulai mencintai Stella dan aku harap kau bisa menerimanya.” Setelah mengatakan itu, Gerald pun meninggalkan Mercy dan masuk ke dalam villa. Ucapan Gerald membuat mereka yang ada di tempat itu terperangah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN