Bab 25. Perasaan yang Terungkap

3231 Kata
Gerald menutup pintu kamarnya dan menghampiri Stella yang sedang berdiri memandang deburan ombak di pantai dari jendela kamarnya. Dia berdiri di samping gadis itu sambil memandang ke arah pantai. “Aku harap kau mau mengerti dengan sikapku, Stey,” ucap Gerald. “Aku tahu, tidak mudah mengucapkan kata- kata itu apalagi di depan wanita yang sangat kamu cintai,” ucap Stella. “Tenang aja! Aku juga sadar diri, kok. Aku cuma gadis biasa yang tiba-tiba bertemu dan terlibat pernikahan kontrak denganmu bahkan bisa-bisanya jatuh cinta padamu,” lanjut Stella sambil menundukkan kepalanya. “Maafkan aku, Stey. Ini semua akibat dari perbuatanku,” ucap Gerald. Dia memegang kedua bahu Stella dan menatap dalam pada kedua mata gadis itu. “Aku sudah bilang, G. Aku siap mengakhiri kontrak kita dan aku gak akan meminta tanggung jawabmu.” Stella balas menatap Gerald. “Aku tetap akan bertanggung jawab, Stey. Aku hanya belum yakin dengan perasaanku saat ini. Tapi perasaanku mengatakan bahwa kaulah wanita yang pantas mendampingiku.” Apa yang baru saja Gerald ucapkan membuat Stella tercengang bahkan tidak bisa berkata-kata. Melihat raut wajah Stella dengan bibir terbuka membuat Gerald tersenyum nakal lalu melumat bibir gadis itu. Perbuatan Gerald yang tiba-tiba membuat Stella bertambah kaget, tanpa dia sadari kedua tangannya memeluk pinggang pria itu. Dengan mata terpejam Stella pun membalas ciuman Gerald. Tindakan Stella membuat Gerald makin memperdalam ciumannya sambil menekan tengkuk Stella dengan sebelah tangannya. “Emmmhhh,” lenguhan Stella membuat Gerald menghentikan ciumannya. Ditatapnya mata istrinya itu yang juga sedang menatapnya. Tak lama, digendongnya tubuh berisi istrinya itu ala bridal style dan dibaringkannya tubuh itu perlahan di atas ranjang. Dalam kungkungan tangan kekarnya, Gerald kembali melumat bibir Stella dengan lembut dan mendapat balasan yang sama dari gadis yang sudah menjadi istrinya itu. Dengan sedikit keberaniannya, Stella menarik ke atas sweater yang dipakai Gerald, membuat pria itu ikut membantu melepaskan sweater dari tubuhnya, demikian juga dengan Gerald melakukan hal yang sama pada Stella. Perasaan cinta yang selama ini tidak mereka sadari akhirnya tercurahkan dalam kesunyian malam itu. *** Jam 2 pagi Stella terbangun dalam pelukan Gerald karena gerakan bayi dalam perutnya. “Ada apa, Sweety?” tanya Gerald yang ikut terbangun pada saat Stella bergerak. “Perutku, G,” jawab Stella sambil memegang perutnya. “Kenapa perutmu?” Secara spontan Gerald memegang perut Stella, sebuah gerakan kecil dalam perut Stella membuat Gerald kaget lalu bangun mengambil posisi duduk. “Gak apa-apa, G. Dia selalu bergerak seperti ini jika lapar. Tidurlah, nanti juga dia akan diam,” ujar Stella. “Tidak bisa seperti itu, Sweety. Kau harus makan, aku akan membuatkan sandwich untukmu. Tunggulah!” Gerald turun dari ranjang dan mengenakan sweaternya lalu beranjak menuju pintu. Setelah Gerald keluar, Stella segera mengenakan pakaiannya dan pergi ke kamar mandi. Gerald kembali dengan nampan berisi 2 potong sandwich dan segelas orange juice. Diletakkannya nampan itu di depan Stella. “Makanlah!” Stella mengambil sepotong sandwich dan memakannya sambil sesekali meminum orange juice. Sambil menemani Stella yang sedang makan, Gerald membuka ipadnya untuk melihat email yang masuk. “G ....” “Hmm,” jawab Gerald tetap fokus pada ipadnya. “Dari tadi kamu memanggilku sweety, kenapa?” tanya Stella penasaran. Gerald melihat sekilas ke arah Stella dan kembali melihat ke ipadnya. “Kenapa? Kau tidak menyukainya?” tanyanya. “Aku menyukainya. Lalu aku harus memanggilmu apa? Boo?” Stella balik bertanya. Gerald menoleh menatap Stella yang saat itu sudah selesai memakan sandwichnya. “No. Aku ingin kau memanggilku seperti biasa karena aku menyukainya,” jawab Gerald sambil membersihkan remah roti yang menempel pada bibir Stella dengan bibirnya. “G ...,” teriak Stella manja sambil memukul lengan Gerald. Gerald tersenyum melihat wajah Stella yang memerah karena malu. Dia mengelus kepala istri kecilnya itu lalu mencium keningnya. “Tidurlah, aku akan segera menyusul,” kata Gerald. Stella mengangguk lalu membaringkan tubuhnya, tak lama dia pun tertidur. Setelah selesai dengan pekerjaannya, Gerald menyusul Stella yang sudah tertidur pulas. *** Alarm pukul 7 yang sengaja dipasang pada ponselnya membangunkan Stella dari tidur nyenyaknya. Dengan mata masih mengantuk dia bermaksud mengambil ponselnya tapi gerakannya terhalang oleh tangan kanan Gerald yang sedang merangkul pinggangnya. Dengan perlahan, Stella memindahkan tangan itu agar memudahkannya untuk bangun. Setelah mematikan alarm pada ponselnya, dia pun bergegas ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya. Setelah mengeringkan rambutnya dan memoleskan lipgloss pada bibirnya, dia pun bergegas keluar kamar. Di ruang makan, Desinta dan Jonathan sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua. “Sorry yah, Sin. Aku bangun kesiangan,” ucap Stella merasa tidak enak pada Desinta dan Jonathan. “Tidak apa-apa, Stey. Kami yang bangun kepagian karena tidak bisa tidur lagi akhirnya kami berinisiatif untuk membuat sarapan pagi,” jawab Desinta. “Pagi semua!” sapa Dave yang baru saja selesai lari pagi. “Pagi, Dave!” balas Stella dan Desinta. “Mandilah, kita sarapan bersama!” Jonathan menepuk bahu sahabatnya itu dan Dave segera menuju kamarnya. Suara langkah kaki membuat mereka bertiga menoleh dan melihat Gerald yang sedang menghampiri mereka. “Pagi Des, Jo. Pagi Sweety!” Gerald mengecup kepala Stella dan tindakannya itu membuat Desinta dan Jonathan terperangah. Stella yang mendapat perlakuan seperti itu langsung memerah wajahnya. Untung saja Dave keluar dari kamarnya sehingga mereka sedikit terlupakan oleh kejadian itu. Mereka segera duduk di kursi masing-masing dan mulai menikmati sarapannya. Selesai sarapan Stella membantu Desinta merapikan piring dan gelas bekas mereka makan sedangkan Gerald, Jonathan, dan Dave memilih ke halaman samping untuk mengobrol. “Ger, aku tidak salah dengar, ’kan! Tadi kau memanggil Stella dengan sebutan sweety,” goda Jonathan. “Tidak.” “Jadi ... kau benar-benar dengan ucapanmu semalam bahwa kau mencintai Stella, Ger?” tanya Dave serius. “Entahlah, saat ini aku belum bisa memastikannya tapi aku yakin dia adalah wanita yang pantas menjadi istriku,” ucap Gerald. “Aku senang mendengarnya, Ger.” Dave dan Jonathan tersenyum lebar. “Sejak kapan kau mulai yakin dengan perasaanmu, Ger?” Jonathan tertarik ingin mengetahui perasaan sahabatnya itu karena yang dia tahu Gerald adalah tipe pria yang sulit untuk jatuh cinta. “I don’t know. Aku pun baru menyadarinya belakangan ini,” jawab Gerald dan mulai menceritakan bagaimana dia tiba-tiba begitu merindukan istri kecilnya itu ketika sedang di kantor lalu beberapa hal kecil yang selalu membuatnya bahagia. “Kau benar, Ger. Itu tanda-tanda jika kita memiliki perasaan pada pasangan kita karena aku pun merasakan hal itu,” ucap Jonathan. “Semoga rumah tangga kalian berdua selalu bahagia.” Dave mendoakan kedua sahabatnya itu. *** Liburan mereka pun berakhir, Gerald kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sementara Stella jika tidak pergi mengunjungi orangtuanya, dia memilih tinggal di rumah sambil belajar memasak pada Bi Asih. Selain itu, mungkin karena usia kandungannya yang memasuki 7 bulan dan sikap Gerald yang sedikit protektif padanya membuat Stella tidak bisa seenaknya pergi keluar. “Aah ... akhirnya selesai juga, Bi.” Stella mengusap keringat di keningnya setelah selesai memasak makan malam untuknya dan Gerald. Sengaja dia yang memasak kali ini untuk mengasah kemampuannya yang selama ini dia pelajari dari Bi Asih. Suara deru mobil yang memasuki garasi membuat Stella segera melepas apron yang menutupi pakaiannya. “Bi, tolong selesaikan, yah! Aku mau mandi dulu,” pinta Stella disertai anggukan kepala Bi Asih. Stella segera ke lantai atas menuju kamarnya. “Asih, di mana menantuku?” Tiba-tiba Bi Asih terkejut namanya dipanggil oleh orang yang sangat dikenalnya. “Nyonya besar! Maaf, saya tidak tahu kalau ternyata Nyonya yang datang.” “Tidak apa-apa, Sih. Di mana menantu dan anakku?” “Oh, Nyonya Stella baru saja ke kamarnya untuk mandi karena baru saja selesai memasak makan malam untuk Tuan Gerald, Nyonya. Mungkin sebentar lagi Tuan muda sampai.” “Baiklah, lanjutkan saja tugasmu. Biar kami menunggu di ruang tamu. Oya, tolong suruh Nina buatkan teh hangat untukku dan orange juice untuk Fanny,” perintah Lisa. “Baik, Nyonya.” Stella keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga karena rasa penasarannya menunggu Gerald yang tak junjung masuk ke kamar mereka. Setelah kakinya memijak anak tangga terakhir, dia terkejut mendapati mommy mertuanya dan Stefanny sedang duduk di ruang tamu. Stella pun menghampiri mereka lalu menyapanya. “Mom, kenapa gak telepon kalau mau datang, biar aku bisa menyediakan makanan kesukaan Mommy.” Stella memeluk Lisa. “Mom ingin membuat surprise buat kalian. Bagaimana keadaan kandunganmu, Sayang?” tanya Lisa sambil mengelus perut menantunya yang semakin membesar. “Baik, Mom.” Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki garasi, tak lama kemudian Gerald masuk dan terkejut melihat Mommynya. Setelah mengecup kening istrinya, dia lalu memeluk dan mencium pipi mommynya. “Ada apa, Mom?” tanyanya serius. “Tidak ada apa-apa. Mom hanya ingin melihat istrimu karena kalian tidak pernah pulang.” Lisa menepuk lengan Gerald. “Iya benar. Aku juga kangen kamu, Ger,” ucap Stefanny sambil merangkul dan menyandarkan kepalanya pada lengan Gerald. Melihat sikap Stefanny pada suaminya justru tidak membuat Stella marah tapi dia hanya menjulurkan bibirnya ke bawah dan itu membuat Gerald tersenyum. “Kami punya rencana Minggu ini akan pulang, Mom.” Gerald mengutarakan niatnya sambil melepaskan tangannya dari rangkulan Stefanny karena bagaimanapun dia harus menjaga perasaan Stella. “Kalau begitu Mom akan menunggu kedatangan kalian Minggu ini,” ucap Lisa. “Lebih baik kita makan malam dulu!” ajak Stella. Lisa mengangguk dan merangkul bahu Stella, mengajaknya masuk ke ruang makan. *** Pagi-pagi sekali Stella sudah di dapur, dia ingin membuat sarapan omelet makaroni dan banana milk kesukaan Gerald. Setelah selesai membuat banana milk, Stella segera membuat adonan untuk omelet tapi rasa ingin buang air kecil mengharuskannya ke toilet. Ketika keluar dari toilet dia berpapasan dengan Stefanny yang sedang meminum segelas orange juice. “Pagi, Fan,” sapanya. “Pagi juga,” balas Stefanny sambil berjalan menuju ruang makan. Tak lama Bi Asih datang dan bermaksud membantu Stella. “Gak usah, Bi. Biar aku yang memasaknya dan Bibi tolong bawakan ke ruang makan, yah! Aku mau mandi dulu,” pinta Stella. Selesai mandi Stella segera turun ke bawah menuju ruang makan di mana Gerald, Mommy mertuanya, dan Stefanny sudah berkumpul di sana. “Aku ingin mencicipi masakanmu, Stella.” Stefanny memotong omelet itu dan memakannya tapi tiba-tiba dia mengambil tissue dan membuang makanan dari mulutnya. “Makanan apa ini? Apa kau ingin meracuni kita?” tanya Stefanny. “Memangnya ada apa dengan makanan ini, Fan?” tanya Gerald lalu mencicipi makanan itu tapi Gerald tidak membuang makanan yang masuk ke mulutnya, dia mengunyahnya dan menelannya. Ketika Stella akan mencobanya, Gerald melarangnya. “Lebih baik kau tidak memakannya, Sweety!” Tapi Stella tidak menghiraukan larangan Gerald dan mencobanya. Dia pun mengambil tissue dan membuang makanan yang masuk ke mulutnya. “Tapi tadi aku sudah mencobanya dan rasanya tidak seperti ini, G. Pasti ada seseorang yang sengaja memasukkan garam ke adonanku.” Stella menatap Stefanny tajam. “Kau menuduhku! Untuk apa aku melakukannya? Aku tidak akan mencelakakan orang-orang yang aku cintai,” seru Stefanny marah. “Aku melihat kamu di dapur ketika aku keluar dari toilet,” ujar Stella. “Lalu kau menuduhku karena aku sedang di dapur pada saat itu, begitu!” “Cukup! Kalian tidak usah ribut,” seru Gerald. “Sudahlah, Mom akan membuatkan sarapan baru untuk kalian,” ujar Lisa yang segera menuju ke dapur. “Apa yang kukatakan semua benar, G. Kau tidak percaya padaku?” tanya Stella. “Sweety, sudahlah! Tidak usah diperpanjang, lagi pula Mom akan membuat sarapan yang baru.” Gerald memegang tangan Stella untuk menghiburnya. Tapi dengan marah Stella menghentakkan tangan Gerald lalu berdiri dari kursinya. “Karena kau lebih percaya dia, ‘kan daripada aku.” Stella meninggalkan ruangan itu tanpa menghiraukan panggilan Gerald. *** Stella membanting pintu kamarnya dengan kesal. Dia membanting tubuhnya di ranjang dan menenggelamkan wajahnya di bantal sambil menangis. Dia kesal kenapa semua orang tidak percaya padanya bahkan suaminya sendiri pun tidak percaya padanya. Pintu terbuka dan masuklah Gerald. Setelah mengunci kembali pintu kamarnya, dia menghampiri Stella dan duduk di ranjang. “Aku percaya padamu, Sweety.” Gerald mengelus rambut Stella yang sedang menangis. “Lalu kenapa kamu tidak mengatakannya waktu di ruang makan? Karena kamu lebih memikirkan perasaan Stefanny daripada aku, ‘kan?” Stella bangun dan duduk menatap tajam ke arah Gerald. “Tidak seperti itu, Stey. Aku hanya tidak ingin ada keributan di meja makan.” “Bukan ... bukan seperti itu. Aku tahu kamu lebih menyayangi dia dibanding aku, G.” Stella turun dari ranjang sambil menghentakkan tangan Gerald yang memegang tangannya. Tapi Gerald kembali menggenggam tangannya dan menariknya hingga Stella jatuh ke pangkuannya lalu mengukungnya dengan kedua tangannya. “Kau cemburu, Sweety. Aku menyayangimu lebih dari siapapun,” ucap Gerald yang tahu bahwa istrinya itu sedang cemburu padanya. Gerald berusaha sabar karena dia tahu hormon kehamilan Stella yang membuat sikap istrinya seperti sekarang. “Lepaskan aku, G! Lebih baik kamu ke kantor nanti terlambat.” Stella berusaha melepaskan diri dari kungkungan Gerald. “No, kau masih marah padaku.” “Aku gak marah, G.” “Kiss me if you not angry, Sweety.” Stella menatap Gerald sejenak lalu dia mendaratkan bibirnya pada bibir suaminya. “Good girl,” ucap Gerald dengan tersenyum. “Ayo, kita turun. Kasian Mom pasti sedang menunggu kita.” Gerald menggenggam tangan Stella dan mengajaknya turun ke bawah. *** Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa kandungan Stella pun sudah memasuki usia 9 bulan. Gerald mulai melarangnya pergi seorang diri karena khawatir terjadi sesuatu padanya. Bahkan kamar tidur mereka pun pindah ke lantai bawah yang sudah direnovasi sedemikian rupa oleh Gerald. Hari ini, Stella bermaksud untuk menginap ke rumah orangtuanya karena sudah 2 minggu Gerald berada di luar kota dan dia pun tidak tahu kapan kembalinya. Sejak kehamilannya yang sudah memasuki usia tua, dia jarang mengunjungi orangtuanya. Dengan ijin dari Gerald akhirnya Stella bisa mengunjungi orangtuanya tentu saja harus diantar oleh Ben. Setelah selesai memasukkan beberapa potong baju ke dalam tas pakaian, dia pun bergegas keluar kamar. Di ruang tamu, Ben sudah menunggunya dan segera mengambil tas yang dibawa Stella untuk dimasukkan ke dalam mobil. Sebelum pergi Stella masuk ke dapur menemui Bi Asih. “Bi, aku mau menginap di rumah orangtuaku selama seminggu. Tolong, nanti minta Nina untuk merapikan kamar atas, yah!” “Baik, Nyonya. Hati-hati di jalan!” ucap Bi Asih sambil mengantar Stella ke garasi. Dalam waktu 30 menit akhirnya Stella sampai di rumah orangtuanya. Mereka disambut oleh papa mamanya yang begitu gembira melihat putri semata wayang mereka datang. Ben pun pamit pada Stella dan orangtuanya setelah meletakkan tas nyonyanya di dalam. “Stey kangen mama dan papa,” ucapnya sambil memeluk kedua orangtuanya. “Ayo, kita masuk ke dalam!” seru Bernard sambil merangkul putrinya. Setelah melepas rindu dengan orangtuanya dan kebetulan kedainya pun kedatangan pelanggan, Stella memilih masuk ke kamarnya yang sudah berpindah sejak rumah orangtuanya direnovasi oleh Gerald. Kamarnya yang dulu dijadikan gudang oleh papanya sedangkan kamarnya yang sekarang lumayan luas dengan kamar mandi di dalamnya, juga tempat tidur berukuran queen size. Stella merebahkan tubuhnya di ranjang itu sambil memejamkan matanya sesaat. Bunyi nada dering pada ponselnya membangunkannya dan segera diambil ponselnya dari dalam tas lalu mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelponnya. “Halo,” sapanya. “Kau sedang apa, Sweety?” “G ... ehmm ... kenapa kau baru telepon aku?” tanya Stella sambil merajuk. “Heum ... maaf, Sweety. Aku sangat sibuk mengurus kekacauan yang terjadi di sini. Baru malam ini aku dapat meneleponmu.” “Aku kangen kamu, G. Kapan kamu pulang?” “Aku belum tahu, Stey. Tapi, aku akan segera pulang begitu urusan di perusahaan ini beres. Aku juga kangen kamu, Sweety.” “Lalu, bagaimana jika aku melahirkan dan urusan di sana belum beres. Apa kamu gak akan pulang juga, G?” tanya Stella kesal. “Tentu aku akan pulang, Stey. Tapi untuk saat ini, aku belum bisa kembali. Oya, bagaimana keadaan Gerald junior, hmm?” Stella hanya diam, dia enggan menjawab pertanyaan suaminya itu. Dia merasa bahwa suaminya tidak peduli dengan perasaannya yang sudah cukup lama merindukannya. Matanya yang sudah berkaca-kaca sejak tadi akhirnya tidak dapat membentuk lebih banyak lagi airmata. Stella menangis. “Kau menangis, Stey?” “Hiks ... apa pedulimu, G. Kamu bahkan gak tahu bagaimana perasaanku saat ini. Hiks ... sudah 2 minggu lebih kamu pergi, tahu gak? Apa gak bisa pulang saat weeked? Apa di sana gak libur saat weeked? Atau ....” Stella menghentikan kata-katanya. “Atau apa, Stey? Kenapa berhenti? Aku ingin mendengar kelanjutan dari pertanyaanmu.” “Hiks ... atau ada seseorang di sana yang membuatmu berat untuk pulang walau hanya sebentar?” Merasa ditantang oleh Gerald, Stella pun melanjutkan pertanyaannya. “Baiklah, kau sedang emosi saat ini. Aku tidak akan mempermasalahkan pertanyaanmu itu. Istirahatlah, selamat malam, Stey!” Setelah Gerald mematikan ponselnya, Stella melempar ponselnya ke sofa yang merapat pada ranjangnya. Dengan menutup wajahnya menggunakan bantal, tangisnya pun pecah. Dia merasa Gerald marah padanya karena pertanyaannya itu. *** Karena sangat rindunya pada suaminya, Stella merasakan pelukan suaminya di dalam mimpinya. Pelukan yang terasa begitu nyata seakan-akan Stella enggan melepasnya, dia pun balas memeluknya. Sinar matahari yang mengintip dari balik jendela dan memantulkan cahaya ke wajahnya membuat Stella setengah terbangun. Walau dalam keadaan yang masih mengantuk, dia dapat merasakan sebuah tangan pada perutnya. Stella menoleh ke sebelah kanannya dan betapa terkejutnya dia mendapati Gerald yang sedang tertidur pulas. Stella berbalik sambil mengucek-ngucek matanya untuk memastikan penglihatannya karena baru saja semalam mereka bertengkar di telepon dan saat itu pria yang dirindukannya sedang berada di depannya. “Apa kau sudah puas menatapku, Sweety?” tanya Gerald dengan mata yang sedikit terbuka membuat Stella yang sedang memandangi wajah suaminya itu terkejut. “Hiks ... kamu jahat, G.” Stella menangis sambil memukul d**a Gerald. “Hei ... hei ... maafkan aku!” Gerald segera menarik Stella dan memeluknya. Setelah Stella agak tenang, Gerald melepas pelukannya lalu menangkup wajah Stella dan menghapus sisa airmata pada pipi istrinya itu kemudian dikecup bibir tipis yang selama 2 minggu ini dirindukannya. “Kenapa kamu matikan teleponnya, G?” tanya Stella manja. “Karena aku harus segera memesan tiket pesawat untuk pulang, Stey. Kau tahu? Aku juga berusaha menahan perasaan kangenku padamu. Aku tidak pernah meneleponmu karena aku bekerja 24 jam penuh agar masalah di sana selesai dan aku dapat kembali secepatnya.” Gerald pun memberi penjelasan pada Gerald bagaimana dia berusaha mendapatkan tiket untuk kembali malam itu juga dan terpaksa membangunkan papa mertuanya untuk membukakannya pintu hanya untuk menemui Stella. “Maafkan aku, G. Tidak seharusnya aku curiga padamu. Itu karena aku takut kehilanganmu, G.” Stella membenamkan kepalanya di d**a Gerald. “Kau tidak akan pernah kehilanganku, Stey. I love you so much, Sweety.” Gerald memeluk dan mengecup kepala Stella. “Aku kangen kamu, G.” Stella mengangkat wajahnya menatap Gerald. “Aku juga kangen kamu dan baby G, Sweety.” Gerald mendaratkan bibirnya pada bibir Stella sedangkan tangan Stella melingkar pada tengkuk Gerald. Dilumatnya bibir yang menjadi candu buatnya itu. “Eunghh,” erangan Stella lolos begitu saja tatkala Gerald mencumbu leher jenjangnya. “Stey ... apa kau sudah bangun?” suara mamanya terdengar dari balik pintu, membuat aktifitas Gerald terhenti. “Sudah, Ma,” teriak Stella. “Mama sudah siapkan sarapan untuk kalian,” ucap sang mama. “I–iya, Ma,” jawab Stella. “Aku mandi dulu, yah,” kata Stella. “Mau kutemani?” goda Gerald sambil menaikkan sebelah alisnya. “Iiih ... dasar Om-om mesum.” Stella melempar bantal ke arah Gerald lalu dia pun turun dari ranjang menuju kamar mandi. Gerald tersenyum tipis melihat Stella yang masih malu-malu dengannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN