PEDULI TAPI GENGSI

1962 Kata

Sekarang masih pukul tujuh lebih seperempat. Arham masih duduk di kursi depan ruang IGD. Pikirannya penuh dan seakan mengambang. Padahal jam prakteknya sudah lewat sejak tadi. Dia hanya sedang menghindar dari Fasha. Entah kenapa dia bersikap begitu. Rasanya ada beban pikiran yang mengganjal di sana. Apalagi mengingat sifat kekanak-kanakan istrinya itu. Timbul rasa tidak percaya jika Fasha bisa menjaga calon anak mereka. Kepalanya sedikit pusing saat ini. Sudah tidak tidur semalaman, di tambah dengan harus menemani Enggar untuk follow up pasien karena Enggar belum juga mahir dalam hal itu. Dan Arham tidak tega jika harus membiarkan anak manusia yang beberapa hari lalu mencari ribut dengannya karena salah paham yang membuatnya sedikit kesal jika mengingatnya. Sejenak Arham memijit pelipis

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN