Kecelakaan 1
Pesta malam untuk kalangan pengusaha yang diselenggarakan oleh Perusahaan Minuman MageZone dan diadakan di rumah Marel yaitu CEO perusahan ini ternyata di hadiri oleh berbagai tamu undangan dari berbagai negara, CEO muda ini hanya tinggal bersama kakek dan adik kandungnya sedangkan orang tuanya sudah meninggal dalam kecelakaan pesawat saat perjalanan bisnis ke eropa sepuluh tahun yang lalu. Seperti biasa Marel selalu menyiapkan hidangan mewah, tidak hanya makanan tapi juga pelayanan dari wanita malam VVIP yang di hadirkan gratis untuk kalangan pejabat yang hadir di malam itu.
"Hei Pak Marko, Wanita yang di dekat balkon sudah menunggumu! aku tahu seleramu tidak jauh berbeda dengan Paman Michael." bisik Marel dengan segelas anggur ditangan kanannya.
"Dasar anak nakal, sejak kapan kamu mahir menjadi seorang mucikari? Wanita itu sungguh sesuai dengan tipeku, Terimakasih," pak Marko menepuk pundak Marel, lalu berjalan mendekati wanita yang ditunjukkan Marel tadi.
Aku heran wanita itu kelas rendahan dimataku tapi, ternyata sesuai dengan tipe kesukaan paman dan pak Marko, mereka memang tidak bisa melihat wanita yang berkelas, gumam Marel dalam hati kemudian berlalu dengan kedua wanita cantik yang sudah bergelayut manja di kanan dan kiri pundaknya.
"Ayo sayang, kita lanjutkan pesta malam kita di ruang pribadiku! Aku akan memberi kalian berdua mobil mewah sebagai hadiahnya," ucap Marel dengan sombong naik ke lantai atas dikamar mewahnya.
"Benarkah? Dengan senang hati tuan, kami akan memberikan service yang menarik untuk Tuan dan kami akan membuat tuan puas," kata seorang wanita malam bernama Debi di sebelah kirinya.
Kedua wanita itu tersenyum kemudian berlalu begitu saja saat Marel masuk ke kamar dengan kedua wanita itu dan mengunci pintunya.
Dari balik tiang berdiri seorang pria tampan dengan jas yang elegan, dia adalah adik kandung Marel yang bernama Gedi. Sifat mereka memang berbeda tapi mereka memiliki jiwa kepemimpinan yang sama, Gedi selalu iri melihat kakaknya menjadi seorang CEO di perusahaan padahal, dia selalu melihat tingkah yang menyimpang dari kakaknya itu, seperti mabuk-mabukan, main perempuan dan sifat sombongnya itu. Kakek mereka tahu tapi selalu berusaha menutupinya, sedangkan jika Gedi yang melakukan hal yang menyimpang itu kakeknya selalu marah besar kepadanya padahal itu bentuk kasih sayang kakeknya agar Gedi tidak seperti Marel. Pikir Gedi jika dirinya menjadi CEO kakeknya tidak akan memarahinya lagi dan akan mendukungnya walaupun dirinya melakukan hal yang menyimpang sekalipun.
Lihat saja kak, suatu hari aku akan melengserkan posisimu sebagai CEO perusahaan ini dan aku akan merebut kasih sayang kakek darimu, ucap Gedi dalam hati sambil tersenyum.
Malam itu setelah menghabiskan malam dengan dua wanita di dalam kamar, Marel menepati janjinya untuk memberikan mobil mewah kepada masing-masing wanita itu. Kunci mobil koleksi mobil mewahnya sudah siap di dalam sakunya, langsung di berikan kepada kedua wanita itu.
Marel dengan mesra mengecup bibir kedua wanita itu dan memberikan kunci mobilnya.
"Terimakasih banyak Tuan, jangan kapok untuk memakai jasa kami Tuan," Kata Debi yang sudah menjadi wanita malam selama sepuluh tahun itu.
"Iya Tuan, Terimakasih," sahut wanita yang satunya.
"Baiklah, baiklah. Karena aku lelah kalian boleh pulang!" Marel masih bersandar di ranjangnya sambil meneguk satu botol anggur merah yang tersisa.
Setelah kedua wanita itu pergi, Kakek tiba-tiba masuk, sambil membawa tongkat kebesarannya.
"Bisakah kamu menghentikan kebiasaan burukmu itu?Aku sudah mulai lelah menutupi dari semua awak media dan dari beberapa kolega kita." Kakek mulai mengeluh.
"Kakek tidak usah khawatir awak media tidak akan tahu, aku tidak pernah bermain di bar dan aku selalu melakukannya dirumah," Marel masih dengan kurang ajar menjawab kakeknya sambil meneguk anggur di botol itu lagi.
"Sudah cukup tidak usah minum lagi! Sekarang masih jam setengah sebelas, kamu harus menemui Mr Puja dari India untuk persiapan berangkat besok ke Kanada, Lekas kenakan bajumu dan segera turun ke bawah, jika dalam lima menit kamu tidak juga turun, kartu kreditmu akan ku blokir semua!" jelas kakek itu sambil keluar kamar dan menutup pintu.
"Dasar kakek, dia selalu berkuasa untuk membuatku menurut." Marel yang setengah mabuk itu meminum sedikit s**u yang di sediakan di meja tempat tidurnya untuk sedikit meredakan efek alkohol ditubuhnya lalu mengenakan jasnya lagi yang masih bau parfum eropa itu.
Marel akhirnya turun dan menemui Mr Puja, mereka mengobrol bisnis cukup lama sambil menikmati suasana pesta klasik di rumah itu.
"Baiklah, sekitar pukul delapan kita akan berangkat ke Kanada, biar sopirku yang menjemputmu besok pagi untuk ke Bandara," Mr Puja menawarkan penjemputan.
"Tidak usah, Terimakasih banyak Mr Puja, jangan terlalu repot, aku masih bisa menyetir sendiri, " Ucap Marel berusaha sesopan dan seramah mungkin.
"Kamu ini pemuda yang sangat membanggakan, selalu mandiri dan tidak pernah bergantung dengan siapapun, Lihat kakekmu tersenyum sangat bahagia," Mr Puja memuji Marel dengan berlebihan membuat kakeknya hanya tersenyum sambil menganggukan kepala.
Pesta malam itu berakhir.
***
Marel langsung kembali ke kamarnya dan mandi, Tanpa menghiraukan kakeknya dibawah.
Kapan anak itu akan sadar? Aku berharap dia menjadi pria baik dan mau menghargai dirinya sendiri, tidak main perempuan lagi, tidak mabuk-mabukan. Dia pintar sebagai pemimpin perusahaan tapi dibalik itu dia tetaplah anak-anak yang selalu tersesat, usiaku sudah semakin tua, jika dia tidak kunjung berubah juga. Bagaimana nasib perusahaan ini? Sudah tidak ada yang akan menolongnya lagi jika aku tiada, Tuhan berilah jalan untuk merubah Marel menjadi lebih baik. Kakek menatap Marel yang berjalan keatas sambil berdoa dan bergumam di dalam hatinya.
Marel sampai di kamarnya, perlahan melepas jas dan kemejanya lalu meminum segelas air putih di sebelah tempat tidurnya. d**a yang kekar itu membuat siapa saja pasti tunduk ke dalam pelukannya, tapi sayang sampai detik ini dia tetap pria yang takut untuk berkomitmen dengan wanita manapun dan belum pernah tahu bagaimana rasanya mencintai seorang wanita
Marel akhirnya mandi lalu beristirahat di ranjang empukknya sambil menyalakan musik kesukaannya.
***
Keesokan harinya Marel sudah memakai pakaian formal dan satu koper besar untuk segera berangkat ke Kanada, perjalanan bisnis ini bertujuan untuk memperluas pasar minuman kemasan agar bisa dinikmati di seluruh penjuru di Kanada baru setelah itu, dia akan merambah ke negara lain di sekitarnya.
"Kek, aku berangkat dulu semoga hari ini lancar," Marel mencium tangan kakeknya.
"Tumben kamu meminta restuku?" Kakek mengernyitkan dahi melihat tangannya dicium.
"Sekali-sekali menjadi anak yang baik kan nggak papa, Kek." komentar Marel ringan dan selalu membuat seluruh orang yang mendengar sedikit tercengang.
Dasar penjilat! batin Gedi yang buru-buru meninggalkan mereka semua.
"Hei, kamu tidak berpamitan?" Panggil Marel dengan santainya kepada adiknya itu.
"Tidak perlu," Nada Gedi sedikit jengkel.
"Ada apa dengan anak itu, kek? Ketus sekali," Marel heran melihat adiknya.
"Tidak usah kamu pikirkan, jangan membuat Mr Puja menunggu, berangkatlah sekarang!" perintah kakek.
"Baiklah kek, Marel berangkat!" Marel melambaikan tangan dan masuk kedalam mobilnya.
Tapi beberapa menit kemudian,
"Aku sepertinya malas untuk memakai mobil ini, " Marel keluar dari mobilnya dan mengambil mobil yang ada di dalam garasi, kemudian Marek berangkat.
Dalam perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke Bandara, membuat Marel, menggunakan kecepatan penuh untuk sampai ke Bandara dengan lebih cepat.
Di Rumah Marel, para montir pribadi untuk keluarga itu tiba-tiba panik, ketika mobil yang belum selesai mereka service menghilang dari garasi. Salah satu montir kepercayaan bernama Durna menghadap ke kakek untuk mencari tahu keberadaan mobil tersebut.
"Maaf Tuan, Apakah tuan melihat mobil berwarna biru di dalam garasi?" Durna bertanya dengan sangat sopan.
"Mobil itu baru saja dibawa oleh Marel untuk ke bandara," Jelas kakek.
"Waduh! kenapa Tuan muda tidak memakai mobil yang sudah saya siapkan di depan, bagaimana ini?" Durna Panik.
"Sebenarnya ada apa?" kakek penasaran.
"Maaf Tuan, mobil itu belum selesai di service, saya takut terjadi apa-apa pada Tuan muda," jelas Durna kebingungan.
"Astaga! Aku akan menelpon anak itu," kakek ikutan panik kemudian mengambil handphonenya di saku celananya.
Dering telpon berbunyi
"Thut, thut, thut," panggilan telpon berkali-kali tidak diangkat.
Di dalam mobil, Marel sedang asik mendengarkan musik dan konsentrasi di jalan, hingga akhirnya dia menemui satu jalan bertikungan tajam, Marel gagal menurunkan kecepatannya, dia berteriak ketika membanting setir untuk menghindari mobil yang Berlawanan kearahnya.
"Ini aneh, kenapa mobil ini tidak bisa dikendalikan? Remnya tidak berfungsi, kakek tolong aku!" mobil Marel berulang kali oleng, hingga pada tikungan tajam yang kedua, Marel terpaksa banting setir kearah tebing yang ada disisi kanan untuk menghindari jurang.
"Blarr!"
Suara keras tabrakan itu terdengar dari mobil Marel, mobil bagian depan ringsek, hingga membuat benturan cukup keras di kepala Marel di bagian depan, darah mulai mengucur dari wajah Marel dan tangan kirinya yang terjepit di sisi kanan. Saat itu juga Marel menutup mata dan kehilangan kesadaran.
Dirumah keluarga Marel
Kakek yang masih panik menelpon Marel, masih terus gagal menghubunginya, Kakek sangat panik dan meminta untuk para montir mengikuti jalan arah Marel ke Bandara.
Sudah pukul 07.30
Mr Puja tiba-tiba menelpon kakek dalam keadaan dia sudah berada di dalam pesawat sebelum pesawat meninggalkan bandara.
"kring, kring, kring"
kakek mengangkat telepon itu,
"Halo Mr Pe, mengapa Marel tidak sampai juga ke bandara? Jika terlambat maka kemungkinan bisa gagal rencana kita, mereka sudah menunggu," panggilan kakek Marel oleh Mr Puja sambil memberi tahu bahwa Marel belum juga sampai.
Gawat! Perasaanku benar-benar tidak enak sekarang, gumam kakek
"Pyar!"
Suara nyaring dari gelas yang tiba-tiba tanpa sengaja tersenggol oleh kakek yang masih menerima telepon dari Mr Puja.
Dengan perasaan yang begitu panik,
"Maafkan Saya Mr, silahkan berangkat duluan! Saya belum berhasil menghubungi Marel, saat berangkat dia menggunakan mobil yang belum selesai di service, aku berharap tidak terjadi sesuatu padanya, aku akan memberikan kabar padamu," kakek yang kelewat cemas langsung mematikan telpon itu.
Marel, kamu dimana, nak? Kenapa tak juga mengangkat telpon kakek? Ya, Tuhan aku mohon lindungilah cucuku! Batin kakek masih mondar -mandir di teras depan.
***
Lokasi kecelakaan sudah ramai pengendara yang lewat dan beberapa warga sekitar, mereka segera mencoba untuk mengevakuasi Marel dari mobil yang sudah rusak parah itu. Akhirnya montir yang dikirim kakek itu, melihat lokasi terjadinya kecelakaan.
"Tidak salah lagi, itu pasti Tuan Muda!" Kata Durna kepada salah seorang temanya bernama Aski.
"Iya, itu Tuan Muda. Ayo kita keluar!" Aski melepaskan sabuk pengamannya.
mereka berdua turun menghampiri kecelakaan itu, menoleh kesana kemari mencari dimana keberadaan Marel, melihat Marel penuh darah dan tergeletak di Jalanan sudah berselimut koran, membuat Durna dan Aski kebingungan. Mereka berlari menghampiri Marel.
"Tidak, bagaimana ini?Tuan! Bangun, Ki segera telpon ambuland denyut nadinya masih ada tapi cukup lemah," ucap Durna masih memastikan bahwa Marel masih selamat.
"Aku akan telpon sekarang!" Aski segera menghubungi Rumah sakit terdekat untuk mengirimkan ambuland.
sekitar sepuluh menit kemudian Ambulan akhirnya datang, darah sudah mengucur deras, Marel segera masuk kedalam mobil ambuland kemudian dilarikan ke Rumah sakit. Dalam perjalanan Durna sangat cemas karena darah tidak kunjung berhenti tanpa sadar air matanya ikut menetes.
Setelah sampai di IGD Marel langsung ditangani, Para montir menunggu di luar mereka begitu lemas.
"Aku berharap tuan baik-baik saja, Ini semua salahku!" Durna lemas di depan ruang IGD.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, kamu sudah menyiapkan mobil di depan untuk tuan muda, tapi tuan muda yang mengambil sendiri mobil di dalam garasi, sekarang berdoa saja semoga tuan muda baik-baik saja,"
satu jam kemudian, dokter keluar dari Ruang IGD dengan berlari dan segera memindahkan Marel ke Ruang Operasi.
"Ada apa dengan para dokter, mengapa mereka berlari?" Durna beranjak dari tempat duduknya dilantai kemudian mengikuti dokter sampai depan ruang ICU diikui Aski juga.
Durna mencolek pundak suster,
"Sus, sus, tunggu! Ada apa dengan pasien itu?" Durna bertanya setengah terengah-engah.
"Apakah anda keluarganya?" Suster itu kembali bertanya,
"Saya utusan keluarganya, ada apa dengan tuan muda?" Durna semakin panik.
"Pasien kehilangan banyak darah, kondisinya kritis, dokter sedang mengusahakan dua kantong darah lagi karena persediaan rumah sakit habis, dokter sedang memeriksa akibat benturan yang terjadi dikepalanya dan secepatnya melakukan operasi," Jelas suster itu.
"Apa golongan darah yang diperlukan, sus?" Tanya Aski.
"AB, apa diantara kalian berdua ada yang memiliki golongan darah AB?" Suster itu kembali bertanya.
"Saya sus, ambil darah saya saja!" Durna dengan jelas menawarkan diri
"Baik, ikut dengan saya!" Suster itu menuju keruang donor darah.
"Ki, ini handphoneku, tolong telpon tuan!" Durna menyerahkan handphonenya lalu mengikuti suster itu.
Aski melakukan perintah Durna,
Kakek yang masih terus cemas menunggu telpon dari montir kepercayaannya yaitu Durna untuk memberi kabar, tiba-tiba suara dering handphone kakek berbunyi.
"kring,kring, kring,"
dengan segera kakek mengangkat telepon,
"Gimana Durna? Sudah kamu temukan Marel? Apa dia baik-baik saja?" kakek langsung melontarkan beberapa pertanyaan sebelum Aski yang menggunakan handphone Durna berbicara.
"Maaf Tuan, saya Aski. Maafkan kami Tuan, Tuan Muda mengalami kecelakaan di ujung tebing arah bandara, Sekarang Tuan sedang ditangani diruang Operasi." Aski menjelaskan langsung pada intinya.
"Apa? Apa nama Rumah sakitnya? Aku akan segera kesana!" Kakek terdengar begitu panik,
"Rumah sakit Roland, Tuan." Jawab Aski.
Kakek langsung menutup telponnya,
"Thut,thut,thut"