Mulai menerima 3

1527 Kata
"Apakah kamu sudah selesai berfikir?" Mr Park membuyarkan pikiran Marel. "Dari mana Mr Park tahu, aku sedang berfikir?" Marel masih berdiri kearah lain. "Karena aku melihatmu, baiklah kita lanjut ke pelajaran berikutnya, pergilah ke kanan dan temukan kursi yang sudah aku siapkan! Lalu duduk di kursi itu," Perintah Mr park dengan tegas. "Baiklah, pergi ke kanan," Marel mulai meraba sekitarnya untuk menemukan kursi itu. "Tubuh tetap tegak, berlagaklah seolah kamu bisa melihat, rasakan benda yang berada di sekitarmu. Sekarang ayunkan tongkatmu dan temukan kursi itu!" tambah Mr Park lagi. Marel mengikuti arahan Mr Park, dia mulai mengerti. "Ini tidak sulit, aku menemukannya!" Marel begitu girang. Marel akhirnya duduk. "Jangan terlalu bangga saat menggunakan tongkat itu sebagai alat bantu karena suatu hari, aku tidak akan memperbolehkanmu menggunakan tongkat itu lagi. Mungkin kamu bisa membawanya disaat paling sulit, tapi tidak untuk hari biasa!" Mr Park mulai tegas untuk memberi pelajaran. "Astaga, kau ini galak sekali!" Marel mendengar semua perkataan Mr Park dengan baik. "Sekarang gunakan kedua telingamu untuk mendengar benda yang ada di sekitarmu, hafalkan desir suara itu," "Thing" suara cangkir di pukul oleh Mr Park diatas meja. "Srek," suara sapu yang diayunkan oleh Mr Park. "Thik, thok, thik, thok" suara jam berdenting. Semakin lama suara-suara itu mulai tidak asing di telinga Marel, dia mulai bisa merasakan barang disekitarnya bergerak bahkan hafal dengan bunyi yang dia dengar, hari pertama ini, Marek bisa menghafal beberapa sumber suara, walaupun masih banyak yang gagal tapi dia mulai mengerti dasar teori pelatihan ini. Pelajaran selanjutnya adalah cara berjalan, tubuhnya yang biasanya tegap jadi sedikit bungkuk karena harus mencari arah sebelum berjalan, dengan disiplin Mr Park memukul pundak Marek untuk bisa berjalan tegap. "Pluk!"  "Aww, sakit! Apakah harus dengan cara seperti itu melatih orang buta?" Marel mengelus pundaknya yang dipukul dan terasa nyut-nyutan itu. "Jika kamu berjalan seperti itu, bagaimana kamu bisa mendapatkan calon istri? Bahkan wanita yang kamu tiduri, mungkin tidak akan mau bersamamu lagi," penjelasan Mr Park kali ini benar-benar menampar keras pipi Marel. Mulutnya pedas sekali! Tapi itu memang benar, sekarang pun ada yang melihatku sebagai seorang pria saja sudah bersyukur, banyak hal yang akan berubah setelah ini, gumam Marel dalam hati. "Cepat jalan! Jangan melamun!" Mr Park membuyarkan Pikiran Marel sekali lagi. "Bagaimana bisa, Mr menilai aku sedang melamun? Mr ini aneh-aneh saja!" Marel mengernyitkan dahinya. "Sudah, jangan banyak bertanya!" Mr Park melanjutkan lagi pelajarannya. Pelajaran kali ini, membuat Marel mendapatkan banyak pukulan, tapi dia mulai terbiasa dengan hal itu. Perlahan bisa melakukan instruksi dari Mr Park. Dua bulan telah berlalu, waktu yang singkat itu ternyata mampu ditahklukan Marek untuk belajar arahan dari Mr Park. Sekarang Marel tumbuh menjadi Pria yang lebih berwibawa dan lebih santun, gaya berpakaiannya lebih rapi. Ketika kakeknya melihat perubahan cucunya itu, Kakek merasa sangat bangga dan berterimakasih dengan Mr Park. "Kau sudah menepati janjimu! Dia sudah berubah, Terimakasih Mr Park," ucap Kakek berdiri disamping Mr Park sambil melihat Marel berdiri di balkon atas. "Tuan, pelatihan ini belum selesai, setelah ini saya ijin untuk membawa Tuan muda pergi keluar, karena dia harus bisa menghadapi keadaan yang sebenarnya di luar sana," ungkap Mr Park. "Silahkan Mr, lakukan sesukamu! Aku percaya padamu, jika berkenan ajarkan juga dia di dalam perusahaan besok, karena dewan direksi sudah mulai resah mendengar berita bahwa Marel buta, mereka ingin secepatnya melengserkan posisi Marel dengan CEO yang baru. Aku ingin mereka semua mengerti walaupun Marel buta, kemampuannya dalam memimpin perusahaan tetap sama, aku sudah menyewa asisten khusus untuk membantu Marel membaca beberapa laporan di perusahaan, " Kata Kakek dengan panjang lebar menjelaskan keadaan perusahaan saat ini. "Baik Tuan, saya akan dengan senang hati mendampingi Tuan Muda. Hari ini saya mohon ijin," Mr Park membungkukkan sedikit badannya untuk memberi hormat. Kakek hanya menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum melihat cucunya yang masih berdiri di balkon. Mr Park menghampiri Marel yang berdiri di Balkon, berdiri disebelahnya. "Aku mulai hafal, Mr ada di sebelah kananku sekarang," sapa Marel masih menghadap ke depan dengan tongkat bantunya. "Perkembanganmu sudah cukup baik, sebagai hadiah, aku akan mengajakmu jalan-jalan, kamu akan menikmati dunia yang sebenarnya. Ini agak sedikit membuatmu pusing, karena dunia di luar akan terasa segar tapi perlahan menusuk telingamu yang sudah cukup peka untuk mendengar, dalam keramaian itu, tugasmu adalah memilah dan mencari sumber suaraku! Bersikaplah tegap, pakai kacamata ini, dan berpenampilanlah yang rapi layaknya seorang CEO!" perintah Mr Park. "Baik Mr, aku akan segera kembali." Marel berbalik menuju ke kamarnya diatas. Marel tidak lagi terbata-bata saat berjalan, langkahnya pasti dan berjalan layaknya pria yang memiliki penglihatan. Beberapa menit kemudian, Marel memakai kacamatanya, masih meraba tangga dan turun dengan perlahan. Marel terlihat sangat tampan saat ini, jas hitam dengan kemeja ketat berwarna abu-abu, lengkap dengan ikat pinggang dan celana kain yang begitu rapi, itulah penampilan biasanya. Lemari Marel penuh dengan kode untuk memilih warna. Semua sengaja ditata sesuai dengan jenis pakaian sehingga Marel bisa lebih mudah untuk mengambil dan memilih pakaiannya sendiri. Waktunya berangkat,  Perjalanan cukup singkat menuju sebuah trotoar panjang yang ada di kota, Marel turun dari mobil dengan gagah dan terlihat begitu tampan, para wanita yang sedang berjalan kaki langsung menoleh dan terkesima melihat Marel keluar dari mobil. "Lihat, ganteng sekali!" kata segerombolan wanita. "Itu kan Marel, CEO perusahaan Magezone, ku dengar kabar terakhir, dia buta? Tapi kok dia berjalan biasa?" kata sekelompok wanita pekerja yang berjalan bersama. "Itu benar-benar Marel, ini gila, kenapa pria itu tampan sekali," kata salah seorang wanita yang lain. Mr Park melihat Marek mulai terlihat bangga dan tersenyum sendirian melihat beberapa pujian yanh sekilas di dengar. "Itulah salah satu kelemahanmu, kamu sangat suka di puji, itu akan menjatuhkanmu! Jika kamu ingin menjadi seorang yang kuat, berlagaklah biasa saat di puji, ketika semua orang mengenalmu dan kamu buta, kamu tidak akan merasakan sakit yang keterlaluan!"Mr Park yang baru saja berdiri di sebelah Marel tiba-tiba berjalan duluan. Marel mengikuti langkah kaki Mr Park,  Sepertinya, Mr Park memang mengubah secara keseluruhan, aku pusing, sepertinya segala sesuatu dikritik, Marel bergumam dalam hati. Tiba-tiba Mr Park berhenti dan Marel menubruk Mr Park di depannya, banyak orang yang lewat tertawa dan tersenyum mengejek, Marel mendengar hal itu, Beginikah rasanya ditertawakan? Tanya Marek dalam hati. "Jangan terlalu banyak berfikir, berdirilah dengan tegap, Berjalanlah di sampingku!Rasakan hawa sejuk di setiap perjalanan, kamu harus tahu apa yang ada di depanmu dan kamu harus belajar untuk tidak menabrak!" Perintah Mr Park. Kali ini Marel sangat berkonsentrasi dan menikmati perjalanan itu dengan benar-benar menyiapkan pendengarannya. *** Felove sedang berjualan di outletnya yanh selalu ramai pengunjung, hari yang cerah itu membuat banana Coffee terasa lezat ketika di seduh dalam keadaan dingin. "Kak, minta satu lagi!" kata seorang anak kecil meminta tambah untuk banana coffeenya. "Tunggu sebentar, kakak akan buatkan!" jawab Felove sambil mengambil membuat racikan banana Coffee. "Ini sudah jadi," Felove memberikannya kepada anak kecil itu. "Terimakasih," ucap anak kecil itu lalu membawa banana coffee itu pergi. Tiba-tiba seorang ibu datang membawa sebuah kertas datang menghampiri Felove,  "Kak aku pesan Banana Coffee sesuai tulisan di kertas, ada toping coklat, ada yang hanya toping keju ada yang topingnya lengkap. Tolong antarkan ke ujung jalan itu, ya!" kata seorang ibu itu dengan terburu-buru. "Baik, bu. Saya akan segera menyelesaikan pesanannya!" Felove segera membuat sesuai pesanan. "Terimakasih, aku kembali kesana dulu!" Ibu itu berlari dengan tergesa-gesa. Felove dengan Carla menyiapkan pesanan, setelah pesanan itu jadi, Felove pergi mengantar pesanan di ujung jalan. Dari arah samping Marel berjalan dengan ritme yang sedikit cepat, kemudian Felove dengan membawa baki berisi minuman Banana Coffee itu akan lewat di depan Marel.  Beberapa saat kemudian..... "Bruk!" Kedua orang itu bertubrukan, terlihat dengan jelas banana coffee yang di bawa oleh Felove jatuh berserakan, bahkan mengenai wajah Marel yang awalnya baik-baik saja. Felove yang tanpa sengaja bertumpu di depan wajah Marel, membuatnya terpesona sejenak, kaca mata Marel yang terlepas dan matanya yang tertutup membuat Felove sedikit berdebar. Aku baru tahu, jika ada pangeran setampan ini, kulitnya halus walaupun wajahnya sudah penuh dengan banana Cofee, Felove bergumam dalam hati sampai lupa untuk berkedip. Marel membuyarkan lamunan Felove kenapa badanku terasa berat? tangan Marel tiba-tiba menggeliat menyentuh Felove di depannya, tanpa sadar tangan Marel menyentuh pinggul Felove sontak membuat Felove berteriak dan menampar, "Arrrrggggg!" "Plak!" "Aww" Marel merintih memegangi pipi kanannya. Satu tamparan itu membuat Mr Park tertawa, "Dasar pria m***m!" Felove membentak tanpa ampun di depan Marel dan berpindah dari tubuh Marel, rasa kagumnya dalam sekejab hilang dan sontak membuat Marel terkejut. "m***m?" Marel bingung. Felove dengan sangat marah mengambil beberapa gelas itu ke dalam bakinya, kemudian dia membuangnya ketempat sampah, tanpa menyapa Marel, Felove berlalu begitu saja. Mr Park tersenyum, "Apakah tamparan itu sakit? "Mr masih bertanya? Apakah ingin merasakannya juga?" Marel terlihat kesal. Marel bangkit berdiri "Kenapa pertama kali keluar rumah, aku malah Sial? Bajuku basah, masih ditampar dan di cap pria m***m? wanita itu keterlaluan," Marel membersihkan sedikit demi sedikit Banana Coffee di tubuh dan wajahnya. "Mungkin itu semacam hadiah liburan, ini bajumu, barusan aku sudah bilang kepengawal untuk mengambilkan baju ganti di mobil, untung saja di mobilmu itu selalu tersedia baju ganti," jelas Mr Park sambil menyodorkan baju ke tangan Marel. "Ya, karena selalu ada keadaan darurat seperti ini, Sekarang tunjukkan padaku dimana toliter terdekat!" "Baiklah, kamu berjalanlah lurus, lalu belok ke kiri, kamu akan menemukan toilte umum!" Mr Park mengarahkan Marel. "Baiklah,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN