Mulai menerima 1

1942 Kata
"Aku tahu pasti dia sangat tertekan dengan keadaan ini, tapi sampai aku menemukan obatnya, dia harus bisa menerima keadaan ini!" kakek membelai rambut cucunya itu yang sudah tertidur pulas di ranjang rumah sakit. Satu jam kemudian,  Marel tersadar dan melihat dunia yang dilihatnya gelap, dia mencoba untuk tenang dan menanyakan keadaannya sekali lagi kepada kakeknya. "Kek, apakah selamanya aku tidak bisa melihat?" Marel bertanya dengan air mata yang mengalir di pipinya. Kakeknya dengan penuh kasih sayang mengusap sedikit air mata yang mengalir di pipi Marel. "Kamu harus kuat! Kamu akan tetap bisa menjadi seorang pria yang gagah dan kakek berjanji akan menemukan obatnya, karena ini bukan kebutaan permanen, kamu harus yakin kamu bisa melihat lagi," kakek sedikit menasihatinya. "Kakek jangan tinggalkan aku! Kenapa gelap sekali!" Marel mencoba bangun dari tempat tidurnya. "Kakek akan selalu pendampingimu, Nak!" Kakek memeluk cucuknya itu dan mendekap di pelukannya. "Jika di rumah sakit ini, aku masih tidak ada harapan untuk melihat, lebih baik kita pulang! Aku harus mencari cara agar aku bisa melihat!" ucap Marel. "Tapi pengo--" kakeknya masih ingin menahannya karena pengobatannya belum selesai. "Kek, jika aku tetap disini. Tidak ada yang bisa aku lakukan, aku sangat tersiksa dengan gelap!" Marel tetap bersih keras untuk pulang. "Baiklah, akan kuatur kepulanganmu hari ini," kata Kakek sambil memberikan kode kepada Sanis untuk menyelesaikan administrasinya. Setelah menyelesaikan Administrasi akhirnya Marel pulang ke Rumah,  *** "Apakah kita sudah sampai?" Marel bertanya "Ya, kita baru saja sampai, "Kakek keluar duluan dari pintu mobil bagian depan. Kemudian Kakeknya membantu Marel untuk keluar dari mobil, betapa susahnya Marel untuk sekedar mencari sandal dibawah kakinya, lalu tersandung saat akan keluar dari mobil. "Aww, mobil ini sama sekali tidak mau bekerja sama!" Marel mulai emosi sendiri dengan keadaanya. "Sudah, mobil itu juga tidak salah. Ayo, akek bantu masuk!" Kakek menggandeng tangan Marel. "Tidak, aku tidak sakit. Aku harus bisa melakukannya sendiri! Aku mau jalan sendiri!" Marel melepaskan pegangan kakek, lalu meraba-raba bagian depan dengan pelan-pelan meraba naik tangga dan masuk melalui pintu depan. Kakek sangat prihatin dengan keadaan cucunya saat ini, Kakek terus mengikuti Marel dari belakang. Apakah gelap akan selalu seperti ini?Ibu apakah ini yang harus aku terima? Apakah ini artinya? Tiba-tiba Marel tersandung tangga pertama untuk naik keatas. "Brukk!"  Marel akhirnya jatuh. "Sial!" Marel mencoba bangkit lagi. "Lusi! Pindahkan semua barang- barang tuan muda kelantai bawah!" Kakek memerintah salah satu pelayannya. "Baik, tuan. " Jawab Lusi. "Tidak! Aku akan tetap menempati kamarku diatas, jika memang aku tidak bisa melihat maka aku harus terbiasa dengan hal ini!" Marel benar-benar memaksakan dirinya sendiri. Marel kembali mencoba melangkah perlahan dengan meraba gagang tangga dan melangkahkan kakinya perlahan. Adiknya yang sudah berada diatas sejak tadi malah tersenyum, tanpa peduli kakaknya sedang kesulitan. Akhirnya doaku terkabul, kamu mendapatkan akibat dari segala perbuatanmu dan aku akan dengan sangat mudah mendapatkan hati kakek dengan menggantikanmu sebagai CEO perusahaan ini. Batin Gedi sambil membersihkan kukunya di sandaran besi di lantai atas, sembari melihat kakaknya berusaha untuk menuju lantai atas dengan susah payah. Kakeknya melihat Gedi hanya melihat tanpa ada belas kasian akhirnya memanggil. "Gedi, apa yang kamu lakukan disana? Melihat kakakmu baru saja mendapatkan musibah, kamu tidak membantu tapi hanya melihat saja!" Komentar kakeknya melihat tingkah Gedi yang tidak pantas sebagai seorang adik. "Apakah selama ini Kak Marel peduli padaku? Tidak, kakek pun begitu, tidak ada satupun orang di rumah ini yang peduli padaku, untuk apa aku memperdulikan orang lain," Gedi meninggalkan tempatnya berdiri dan masuk kedalam kamarnya. Dasar anak itu, apakah dia masih membenci perlakuanku terhadapnya waktu itu. Aku harus meluruskan masalah ini, kakak beradik tidak boleh bermusuhan! Kondisi Marel juga sedang tidak baik, aku yakin emosinya sedang tidak stabil. gumam kakek dalam hati sambil memperhatikan Marel yang pelan-pelan melangkah di tangga. Adikku sendiri tidak peduli padaku, apakah ketika aku bisa melihat, aku terlihat sangat kejam padanya? Marel mencoba mengoreksi dirinya sendiri. Marel akhirhya sampai di lantai atas, dia mencoba membayangkan letak kamarnya yang tidak jauh dari arah tangga. Perlahan dia berjalan lurus kedepan dan akhirnya menemukan pintu kamarnya. "Aku menemukannya!" Marel membuka pintu pelan-pelan lalu meraba setiap sudut kamarnya untuk menghafal letak satu persatu. Sampai akhirnya dering telpon berbunyi,  "Kring, kring, kring." Dering itu terus berulang  Marel dengan cepat meraih seluruh bagian kamarnya hingga segalanya pecah, tapi tidak kunjung menemukan handphonenya. "Sial! Mengapa aku harus buta arrrrrggggghh!" Marel mulai emosi dan menangis lalu membanting apa yang dirabanya. Setelah semua pecah dan Marel tetap tidak menemukan handphonenya, Marel terduduk di sebelah tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya. Kakeknya dibawah jelas merasa khawatir, bersama Sanis dan Lusi, kakek naik keatas dan membuka pintu kamar Marel. Kakek sangat terkejut dan memeluk cucunya yang masih duduk di lantai, "Tenanglah!Tuhan sedang mengujimu," kata kakeknya mencoba membuat Marel mengerti dan menerima keadaan itu. "Tapi kenapa aku harus buta, Kek?Aku tidak bisa melihat apapun, aku hanya bisa mendengar, bahkan aku akan dikucilkan jika aku masuk ke dalam perusahaan, apakah kakek akan memakaiku lagi untuk menjabat sebagai seorang CEO?Apakah aku akan bisa menikah? apakah dunia ini tidak akan mengucilkanku,Kek? Ap--" "Sssssttt, kakek akan membuatmu tetap menjadi seorang CEO itu masih menjadi posisimu, kamu tetaplah anak yang cerdas, kamu tetap bisa mengelola perusahaan, mungkin kamu buta tapi kamu masih punya telinga untuk mendengar, tangan untuk melakukan sesuatu dan kaki untuk berjalan. Kamu harus kuat, Belajarlah dari orang buta yang pernah kamu temui, kelemahan mereka bukan sebuah halangan untuk bergerak maju, justru mereka akan lebih peka dalam mendengar, justru mereka akan lebih cekatan dalam bertindak karena mereka tidak melihat kelemahan sebagai penghalang tapi mereka berusaha bersyukur dan mengubah kelemahan menjadi motivasi sehingga mereka bisa tetap mencari nafkah walaupun tidak bisa melihat, apa kamu mengerti?" jelas kakek masih memeluk Marel. "Maafkan aku, Kek. Maafkan aku!" Marel meneteskan air mata. "Kakek akan memberimu pelatih yang handal agar kamu tetap bisa beraktifitas kakek berjanji!" Keesokan harinya, Pagi yang cerah di hari itu, kakek sudah pelan-pelan membuka jendela kamar Marel, membuka setiap tirai di kamar itu, suara geseran korden membuat Marel yang tertidur pulas sedikit risih, membanting tubuhnya kekanan dan kekiri. hingga akhirnya dia memaksa untuk membangunkan dirinya dan duduk diatas tempat tidurnya, masih dengan mata tertutup. Mengusap perlahan, tapi tak juga terbuka, Marel baru sadar dia tidak bisa melihat, dengus kesal berhembus dari sebagian nafasnya. "Siapa yang menggangguku pagi-pagi begini?" ujar Marel masih terduduk diatas tempat tidurnya. Kakek yang sudah berdiri disampingnya bersama seorang pelatih yang dibawanya pun menjawab, "Ini Kakek, seperti janji kakek, kamu akan dilatih oleh Mr Park, menurutlah dengannya sebentar, sampai kamu bisa hidup mandiri," jelak kakek mengenalkan. "Selamat pagi Tuan Muda, perkenalkan nama saya--" "Sudah tidak usah memperkenalkan diri, aku tahu nama panggilanmu saja sudah cukup, Mr Park. Sebenarnya aku sungguh membenci bangun pagi, tapi aku harus segera kembali ke kantor, aku harap kamu bisa melatihku dengan kilat tanpa waktu lama, kira-kira kapan aku bisa Mandiri melakukan semuanya sendiri?" Marel berkata seolah tidak sabar. "Baiklah Tuan, semua itu tergantung Tuan, jika Tuan memiliki keinginan kuat dalam waktu tiga bulan mungkin bisa dikuasai dengan baik, tapi jika memang belum sepenuhnya saya akan mendampingi Tuan selama enam bulan kedepan," jawab Mr Park dengan rasa Hormat. "Baiklah kalau begitu, mulai saja pagi ini. Aku ingin mandi, bantu aku untuk lebih cepat mengenal beberapa hal yang ada di sekitarku!" perintah Marel sambil beranjak dari tempat tidurnya. "Baiklah Tuan, saya memberikan alat bantu berupa tongkat. hal ini sangat di perlukan untuk bisa berjalan!" Mr Park mengarahkan tongkat itu ketangan Marel. "Baiklah, aku akan memakainya," Marel mulai berusaha berjalan dengan tongkat itu untuk menemukan pintu kamar mandi, Mr Park mengarahkan Marel perlahan agar tidak terpeleset atau menabrak sesuatu. Perlahan kakek meninggalkan kamar Marel, wajahnya tersenyum, melihat hari ini Marel penuh semangat untuk belajar. *** Kehidupan di suatu tempat tetap berjalan, bertemu dengan seorang wanita cantik penjual Banana Coffee yang sangat lezat disebuah otlet yang terletak di pusat kota, wanita itu hidup bersama seorang ayah yang berprofesi sebagai dokter tradisional dan Ibunya adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit ternama di Indonesia. Nama Wanita itu adalah Felove. Felove tidak berminat dengan dunia kesehatan seperti profesi yang dimiliki orang tuanya, dia selalu menolak tawaran orang tuanya untuk kuliah di dunia kedokteran, pada akhirnya sambil kuliah di mata kuliah bisnis, Felove membangun usahanya yaitu membuka otlet Banana Coffee dengan brandnya sendiri, yang kini telah memiliki banyak pelanggan dan sangat laris. Buatan Felove memang terkenal enak, walaupun otletnya masih kecil, Felove sudah memiliki satu karyawan yaitu adik sepupunya sendiri bernama Carla. Usaha yang Felove tekuni ini sudah berumur tiga tahun, dia berniat untuk mengembangkannya bahkan sangat ingin Banana Coffeenya bisa menembus pasar Internasional. Namun keinginannya itu sekarang sedang menemui kendala, karena pemilik otlet kecil yang disewanya meninggal dunia dan anaknya tidak ingin lagi menyewakan otlet tersebut kepada siapapun kecuali Felove bisa membeli otlet tersebut karena anaknya ini akan pindah keluar negeri sehingga tidak mungkin kembali lagi ke Indonesia. Sedangkan waktu yang dimiliki Felove hanya dua hari. Apa yang harus aku lakukan?banana Coffee tidak mungkin tutup karena pelanggan sudah banyak, tapi jika membeli otlet, uang simpananku masih kurang. Adakah jalan keluar, ya Tuhan? Felove bergumam sendiri sambil mencari cara untuk masalajnya ini. Hari itu saat pulang kuliah sebelum dia berjualan, Felove mencoba mencari pinjaman dan meminta bantuan temannya untuk meminjam uang tapi usahanya gagal. Kemudian Felove kebingungan, dia kehilangan akal untuk meminjam kepada siapa lagi, akhirnya pada hari itu Felove kembali berjualan, hari itu dia membuat ektra banana Coffee, berharap bisa menambah uang untuk membeli otlet kecil tersebut. Sampai tengah malam dengan susah payah, Banana Coffee habis terjual tapi uang yang di perlukan untuk membeli otlet masih juga kurang. Waktu tersisa satu hari, setelah pulang kuliah dia mencoba mencari pinjaman uang ke sebuah koperasi di dekat kampusnya. Tapi mereka membutuhkan survey dengan waktu minimal satu minggu, akhirnya Felove gagal mendapatkan pinjaman itu karena tinggal besok hari terakhirnya. felove terduduk di sebuah Halte, melihat sekelilingnya ramai orang. dengan berat kakinya melangkah untuk masuk ke dalam bus dan memutuskan untuk berjualan. Di dalam bus yang penuh sesak terlihat seseorang yang mencurigakan sedang bergeser membawa sebilah pisau ditangan kananya, melirik kesana kemari, Felove yang tidak mendapatkan tempat duduk, tiba-tiba di robek tasnya dan orang itu berhasil mengambil dompet Felove tanpa Felove sadari. Pemberhentian bus berikutnya adalah tepat tujuan Felove untuk turun, dengan berjalan cepat Felove akhirnya turun, beruntungnya Felove sudah membayar bus lebih awal, saat handphonenya berdering. Felove merogoh tas sampingnya dan merasakan ada yang aneh dengan tasnya. "Ah, ini tidak mungkin! dompetku, tasku? hanya tersisa hanphone, oh Tuhan , uang hasil dagangan kemarin baru saja aku kumpulkan, sekarang segalanya hilang, aku harus bagaimana?" Felove terduduk di pinggiran trotoar, dia menangis tanpa henti. Tanpa di duga Ibunya lewat di depan Felove, "Felove, Apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu menangis?" Ibunya terkejut setelah melihat mata putrinya sembab. "Ibu, tolong aku! uangku semua di copet padahal aku harus membeli otlet itu, bu!" Felove merengek kebingungan memeluk Ibunya. "Jangan menangis disini! Ayo ikut ibu pulang dan ceritakan dirumah," jelas Ibu Felove sambil merangkul anak perempuannya itu. Hari itu juga Felove pulang kerumah dan saudaranya Clara tetap berjualan sendirian di otlet tersebut, sampai dirumah, ayah dan ibunya hanya terdiam melihat putrinya itu bercerita. Ayahnya yang sejak awal tidak pernah menyetujui keinginan putrinya untuk menjadi seorang pengusaha itu, akhirnya hanya mendengarkan dan menyalahkan putrinya sendiri. "Ayah sudah pernah bilang, kuliahlah di kedokteran. Jadilah seorang Dokter saja, kamu tidak perlu susah untuk menangis dan mendapatkan masalah seperti ini!" ucap ayah Felove sambil meminum Kopi di meja. "Apakah disaat seperti ini, ayah harus membahasnya lagi!Sudah ku bilang, aku tidak tertarik dengan dunia kedokteran," Felove masih bersih keras dengan keinginannya. Ayahnya mengernyitkan dahi dan berfikir sejenak. Anak ini, memang tidak pernah bisa diatur. Padahal ini demi kebaikannya dan demi kehidupannya kelak. tidak ada orang tua yang ingin anaknya tidak bahagia. Sepertinya aku harus melakukan cara ini! batin ayahnya setelah berfikir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN