BAB 30 “RATU, ayo make a wish terus tiup lilinnya,” kata Tara menegur Ratu. Sontak Ratu membelalakkan matanya. Ia mengangguk mengiyakan. Aku cuma minta satu sama tuhan, di mana pun dia sekarang aku mau dia baik-baik aja. Kepala Adrian rasanya berat sekali. Jalanan juga terlihat gelap. Rerintik hujan mulai berjatuhan membasahi lelaki yang hanya berbalutkan jaket kulit hitam tersebut. Di balik helm full-face miliknya, hanya terlihat sorot mata merah megawasi setiap jalan licin dengan tatapan kosong. Tidak peduli dengan beberapa kali mobil yang melaju kencang dari belakang lalu mengklasoni dirinya, sampai bahkan ada yang mencaci dirinya dengan perkataan kasar. Berbeda sekali dengan Adrian yang dulu, jika ada satu orang saja yang berkata tidak sopan dengannya maka tulang orang itu Adrian

