BAB 24 RATU menelungkupkan wajahnya di atas meja belajar miliknya. Manik matanya melihat ke arah langit hitam bertabur bintang serta rembulan. Sesekali Ratu hanya mendesah pelan. Ia langsung mengusir bayang-bayang wajah Adrian di kepalanya. Tapi lelaki tersebut selalu saja bergentayangan di seisi otaknya. Sampai bunyi ketukan pintu saja tak mampu membuat Ratu mengalihkan pandangannya. Ratu masih tetap dengan posisi yang sama. Tara menghela napasnya panjang. Tara mendekati Ratu yang tengah menyendiri dan melamun. Tara tahu akan sulit bagi Ratu menghadapi semuanya. Cintanya hanya politik semata. Hanya karena ikatan keluarga antar orang tua atau rasa belas kasih untuk mempererat tali silahturahmi. “Ada orang di depan,” kata Tara. Ratu melirik Tara malas dengan sudut matanya. “Ratu engga

