BAB 14 “Kau tahu cinta bisa saja datang di saat yang tidak tepat, contohnya kita.” "LO bahkan enggak ngerti tentang cinta, tahu apa lo?” Adrian menyeringai. Ia membiarkan buku-buku tangannya mengeluarkan darah akibat barang-barang yang baru saja ia pecahkan di kamarnya. Bahkan kamarnya saja sudah berantakan sekarang, Adrian mengusap wajahnya kasar, lalu ia tertawa. “Bahkan lo enggak tahu hati lo buat siapa, Rian. Lo sama Ratu cuma akibat dari pertaruhan.” Byarrr... Adrian yang tadinya sedang berbicara dengan pantulan dirinya memalui kaca lemari langsung saja menghancurkan kaca tersebut hingga berkeping-keping. Darah mulai berceceran di lantai. Adrian tidak peduli akan hal itu. Laki-laki tersebut langsung memilih duduk di sudut kamarnya. Ia menenggelamkan wajahnya di antara tengkuk

