Memori (2)

1071 Kata
Kontan madrasah sangat geger. Rosa yang sedang membaca Al-Quran tiba-tiba menghentikannya. Wajahnya memerah. Dia ingin memarahi siapa yang menuliskan lelucon itu, tapi dia tidak tahu itu siapa. Sementara Abyasa yang sedang membuka terjemahan Al-Quran pun terperanjat. Mukanya pun memerah. Dia merasa semua mata tertuju padanya, termasuk tatapan mata Rosa. Hatinya bertanya-tanya, siapakah yang beraninya menuliskan kata-kata itu dengan menggunakan namanya. Abyasa tersenyum sendiri. Kejadian itu konyol sekali. Namun kini terasa sungguh manis. Satu hal yang selama ini selalu mengganggu pikirannya? Seperti apakah perasaan Rosa. Apakah Rosa memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Kalau sama betapa bahagianya dia. Namun seandainya sebaliknya, Rosa sama sekali tidak memiliki perasaan suka terhadapnya, apa mau dikata, cinta tidak bisa dipaksa. Cinta terbit dan datang begitu saja. Abyasa berkata pada dirinya sendiri, Mahasuci Allah yang telah menganugerahkan cinta dalam diri manusia. Mahasuci Allah yang telah mengamanahkan pada manusia untuk menjaga kesucian cinta. Mahakasih Allah yang telah memberikan solusi untuk menjaga kesucian cinta lewat jalinan ikatan suci bernama pernikahan. Seandainya kamu ditakdirkan Allah sebagai tulang rusukku, cinta ini akan terpelihara nanti dalam jalinan pernikahan. Semoga Allah menyatukan hati kita.  Pikiran Abyasa meloncat ke episode yang lain. Matahari mulai meninggi, sebentar lagi waktu dzhuhur tiba. Sinarnya sedikit redup. Terkadang muncul, kadang kala terhadang awan. Cuaca pun tidak menentuk. Kadang panas. Sedikit-sedikit gerimis. Rosa berada di pos terakhir. Para siswa berseragam coklat lengkap dengan atributnya sudah berkumpul. Mereka baru saja melalui beberapa pos dalam penjelajahan. Ini merupakan hari terakhir mereka setelah mereka berlelah-lelah mengikuti kemah pelantikan pramuka tingkat Ambalan. Beberapa panitia dari pos berjalan menyusuri pematang sawah yang becek oleh lumpur. Termasuk Abyasa yang bertugas dari pos pertama. Mereka semakin mendekat ke pos dimana Rosa bertugas. Pos terakhir ini sudah hampir dekat dengan lokasi perkemahan. Para peserta dan seluruh panitia berkumpul di tempat itu. Lokasinya berupa petak sawah yang masih basah dan ada sebagian yang hampir kering. Bagian yang hampir kering itulah ditempati oleh para peserta untuk berkumpul berdasarkan regu. Regu laki-laki dan perempuan terpisah. Laki-laki ada 3 kelompok. Sementara perempuan terdiri dari empat kelompok. Masing-masing kelompok ada yang delapan orang dan ada yang sepuluh orang. Kelompok perempuan semuanya memakai kerudung. Baju yan mereka kenakan tidak dimasukkan. Bagian bawahnya terdapat saku dan pita. Mereka menunggu instruksi selanjutnya dari panitia. Di tempat itu juga terdapat saung kecil berlantai anyaman bambu. Beberapa orang berteduh di situ. Abyasa duduk di situ. Dia meletakkan buku catatan yang sejak tadi dalam genggamannya. Abyasa istirahat sejenak di tempat itu melepas rasa pegal di kakinya. Dia duduk di saung itu bersama panitia laki-laki yang lain. "Aby, langit udah mendung kayaknya bakal hujan gede nih,”ucap salah seorang temannya. Abyasa mengamati langit yang ditutupi awan gelap. “Benar juga. Kita harus secepatnya nyampe posko sebelum hujan turun,”ungkap Abyasa. Kumandang azan terdengar sayup-sayup dari pemukiman warga. Para peserta dan panitia meninggalkan tempat itu dengan segera sebelum hujan makin membesar. Cuaca drastis mendung. Hujan yang tadinya gerimis mulai turun dengan deras. Para peserta meninggalkan tempat itu lebih dulu. Panitia menyusul di belakangnya. “Aby, ayo kamu duluan,” ucap Rosa. “Silakan duluan, saya ambil dulu catatan. Ketinggalan di saung itu,” ungkap Abyasa sambil berlari kecil ke Saung kecil yang berjarak hanya beberapa meter. Setelah sampai di saung dia segera menyambar buku catatannya yang tergeletak. Kemudian dia berbalik arah secepatnya mengejar teman-temannya.  Rosa meneruskan langkahnya dengan cepat namun tetap berhati-hati karena pematang sawah lebih licin dari sebelumnya karena hujan makin deras. Dia menyusul teman-temannya yang mereka pun berjalan cepat karena tidak mau basah kuyup. Sewaktu kaki kanannya hendak melangkah lebih lebar melewati lumpur yang menggenang, langkah kakinya tidak sampai pada bagian tanah yang kering. Kakinya menginjak genangan lumpur. Lumpur itu lengket, sehingga sepatu pantopel hitamnya terlepas dari kakinya. Rosa berusaha menjaga keseimbangan agar tidak jatuh dan terpeleset. Pada saat yang sama, Abyasa muncul di belakangnya. Rosa masih terdiam. Dia melihat Abyasa. Mulutnya ingin sekali meminta bantuan kepada Abyasa. Namun dia merasa malu dan dia merasa tahu batasan syariat Islam terhadap hal ini. Dia merasa tidak perlu meminta bantuan pada Abyasa. Rosa sadar bahwa dirinya dengan Abyasa adalah non-muhrim. Dia merasa kuatir akan menjadi fitnah. Abyasa mengamati Rosa yang masih mematung di tempat itu. Abyasa segera mendekat ke arah Rosa. Dia ingin membantu, tapi hatinya masih ragu-ragu. Apakah tidak jadi dosa bila dia membantu memasangkan sepatu perempuan non-muhrim di hadapannya. Namun hujan yang makin deras waktu itu, mendorongnya untuk segera bertindak cepat. Abyasa segera membungkuk untuk mengambil sepatu yang tertanam di lumpur. Dia mengambilnya lalu mengarahkannya ke dekat kaki Rosa yang terbalut kaus kaki putih. Dia memandangi sepatu yang dia pegang sampai kaki Rosa pelan-pelan terpasang kembali di sepatunya.  Abyasa tidak mengetahui respon wajah Rosa seperti apa. Begitu pun Rosa tidak berani memandang Abyasa yang telah membantunya. Abyasa segera berdiri. “Ayo cepat jalan, nanti kamu sakit lagi.” “Ii... iya. Terima kasih atas bantuannya,” ucap Rosa dengan nada datar sambil melihat sekilas rona muka Abyasa. Rosa melangkah dengan cepat. Perempuan itu mengejar langkah teman-teman perempuannya. Langkahnya lebih dia percepat lagi dari langkah sebelumnya. Abyasa masih mematung di situ, tubuhnya dan seragam coklatnya basah kuyup. Dia hendak melanjutkan langkahnya ketika Rosa sudah berada jauh dari hadapannya. Guyuran air hujan yang deras terasa keras mengenai kulitnya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya apa yang baru saja dia lakukan disaksikan oleh teman-temannya. Ini akan jadi bahan gosip terbaru di sekolahnya. Dia tidak merencanakan kejadian tadi. Kejadian tadi berlangsung begitu saja karena keadaan yang mendesak. Abyasa tersadar dari lamunannya. Hujan deras turun. Dia buru-buru mengambil jas hujan dalam bagasi motornya dan segera mengenaikannya. Dengan segera dia naiki motornya dan menyalakan mesin. Punggungnya menonjol oleh tas gendong yang dia kenakan Setelah siap segera dia melajukan motornya menempuh jalan aspal yang mulai basah dengan curahan air hujan. Selama mengemudikan motor, wajah Rosa kembali terbayang. Dia berulang kali beristigfar untuk menghilangkan bayangan itu sehingga tidak mengganggu konsentrasinya. Abyasa menyadari bahwa hal seperti normal dialami oleh manusia seusianya. Namun dia tidak mau seperti remaja kebanyakan yang larut dalam perasaannya. Apa artinya dia belajar Islam selama ini jika pikiran, perasaan, dan perbuatannya masih persis sama dengan remaja kebanyakan. Dalam menyikapi perasaan seperti ini, sebagai orang yang terus berusaha dan mendalami agama, tentu akan berbeda dengan remaja kebanyakan. Agamanya telah mengajarkan untuk menjaga pandangan, melarang mendekatai zina, termasuk berpacaran yang memang sedikit demi sedikit bisa mengantarkan pelakunya pada perbuatan zina. Yaa Allah, tolonglah hamba agar mampu memanaj perasaan ini hingga hamba benar-benar siap menjadi seorang imam bagi sebuah keluarga, doanya dalam hati. * Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN