Abyasa memacu motornya di jalan yang berkelok-kelok. Dia baru saja melakukan perjalanan ke kota Majalengka. Jarak ibukota kabupaten dari tempat tinggalnya cukup jauh. Waktunya menghabiskan tiga sampai empat jam. Di samping kanan kiri jalan terdapat pesawahan yang padinya mulai menguning. Pemandangan indah yang serba kuning. Musim panen hampir tiba. Terbayang memori musim panen empat bulan yang lalu dan tahun-tahun sebelumnya, dia sering ikut terjun langsung bersama ayahnya ke sawah mereka. Kalau musim panen tiba, dia merasakan betapa nikmatnya. Menjemur padi di sawah. Setelah lelah dan berkeringat mereka makan bersama dengan para buruh tani yang bekerja di sawah ayahnya.
Lelaki itu mengerem motornya tepat di dekat sebuah jembatan. Dia beristirahat di situ. Pemandangan di situ terlihat sangat indah. Motor dia parkir di pinggir jembatan. Tas yang dia gendong dia buka. Dia periksa kembali buku yang baru saja dia beli dari kota. Buku yang dia beli adalah Kamus Indoensia-Inggris John M. Echols; Kamus Arab Al-Munawwir; dan Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam.
Dia membuka ketiga buku itu dan membaca beberapa lembar bagian depannya. Setelah itu dia masukkan lagi ke dalam tas gendongnya. Kemudian dia berdiri memandangi aliran sungai di bawah jembatan. Airnya terlihat masih begitu jernih. Dia bisa melihat beberapa ekor ikan yang tengah menenggak air. Dia memandang ke kedalaman air. Tanpa terasa pikirannya melayang ke masa lalu.
Madrasah yang dipenuhi para santri. Laki-laki duduk dengan rapi di bagian depan. Sementara yang perempuan berbalut mukena duduk di bagian belakangnya. Di depan Ustaz Farid duduk di atas sajadah. Para santri terdiri dari usia SMP dan SMA.
Para santri dengan suara nyaring dan serempak membaca surah An-Naba dari ayat 1 sampai 40. Mereka menghafalnya seperti yang ditugaskan Ustaz Farid seminggu yang lalu.
“Para santri semuanya,” ucap Ustaz Farid, “Yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng...”
“Huuuh,” suara santri bergemuruh. Salah seorang dari mereka mengatakan, “asyik... Pak Ustaz muji kita nih.”
Ustaz Farid tersenyum, “Sudah-sudah. Silent! Bapak hanya ingin menegaskan dari apa yang sudah kalian tadi hafal. Surah An-Naba. Di surah ini salah satu kandungannya adalah tentang sebuah berita besar.”
Suasana hening. Para santri menyimak pemaparan ustaz Farid.
“Berita besar itu tiada lain adalah tentang hari kiamat dan hari berbangkit. Siapa di sini yang tidak percaya akan adanya hari kiamat? Kalau tidak percaya berarti iman dia telah copot. Kita wajib meyakininya. Kiamat sudah dekat dan pasti terjadi.”
“Anak-anaku semua, perlu kita pahami keimanan kita pada hari kiamat itu harus memotivasi kita untuk bergiat lagi dalam beramal. Jangan sebaliknya dengan diberitakannya tentang kiamat justru kita jadi malas untuk melakukan kebaikan. Malas untuk berdakwah.”
“Memahami iman kepada hari kiamat akan menggerakan pikiran dan hati kita untuk menjadi lebih baik, tidak berleha-leha selama hidup di dunia. Jadi kalau sekarang orang-orang ribut tentang kiamat 2012 seperti ramalan suku Maya, itu buat apa? Tidak ada gunanya sedikit pun bagi kita. Masalah kiamat terjadinya kapan itu bukan wilayah yang mampu manusia jangkau. Itu rahasia Allah.”
“Yang sebaiknya kita tanamkan dalam pikiran dan perasaan kita adalah, dengan adanya kabar tentang kiamat dari Allah yang termaktub dalam Al-Quran adalah keyakinan kita akan adanya hisab perbuatan kita selama di dunia. Runtuh sudah anggapan orang-orang materialisme yang mengagung-agungkan akal. Cara berpikir mereka yang ngaco dan tidak utuh. Kita adalah manusia yang merasa paling beruntung karena dengan meyakini hari kiamat ini, Patokan kita jelas dalam berbuat segala hal di dunia. Semua yang telah kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan kelak.
“Karena itu, kita sebagai muslim menjadi terikat pada aturan alias syariat Allah sehingga itu menjadi ruh kita dalam bernapas, berbicara, melangkah, tidur dan semua aktivitas yang kita lakukan sepanjang hidup kita, bahkan dalam urusan bernegara pun Syariat Islam sangat unggul daripada aturan buatan manusia yang hanya berlandaskan pada akal-akal manusia seperti para filosof Yunani, India, dan Persia yang terbatas dalam mencerap dan memahami fakta kehidupan. Sementara orang yang berpaham materialisme menganggap semuanya hanya akan kembali menjadi sebuah ketiadaaan karena akidah mereka yang salah.
“Sama sesatnya pula dengan orang-orang yang berakidah sekularisme. Mereka telah memisahkan peran agama dari kehidupan. Meski mereka masih meyakini eksistensi agama, mereka telah membunuh dan mengebiri agama. Untuk aturan yang sifatnya privat, oke mereka membolehkan kita dengan leluasa melaksanakan shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya. Namun giliran aturan-aturan yang sifatnya untuk kehidupan publik, mereka menggantinya dengan pendapat mereka yang hanya didasarkan pada kecenderung nafsu dan manfaat bagi mereka.
“Dengan kata lain akidah sekularisme ini dengan beraninya memerangi agama. Agama tidak boleh mengaturan urusan keduniaan, para aktivisnya sering mengatakan janganlah bawa-bawa agama ke dalam urusan dunia. Biarkan agama hanya mengatur urusan akhirat. Biarkan agama hanya berperan di masjid, gereja, dan tempat-tempat ibadah lainnya. Kalau agama lain boleh saja diperlakukan demikian, tapi kalau Islam yang diserang jelas kaum muslimin tidak bisa terima. Bagaimana pun Islam adalah mabda[7] yang paripurna yang sangat layak dan siap untuk dijadikan pijakan dalam kehidupan ini.”
Ustaz berhenti menjelaskan karena hapenya berdering. Dia mengambilnya dari saku baju koko putihnya.
“Asalamu alaikum.”
“Iya.. sekarang?”
“Oo. Baik. Sebetulnya saya sedang mengajar. Tapi tidak apa-apa, nanti saya minta izin kepada anak-anak.”
Para santri berbisik satu sama lain. Baik santri laki-laki maupun perempuan ada beberapa orang yang terlihat bahagia karena dari ucapan Pak Ustaz Farid dia tidak mengajar sampai tuntas.
“Para santri semuanya, mohon maaf bapak ada keperluan mendadak. Ada tamu dari luar kota di rumah. Beliau donatur untuk pesantren kita ini. Silakan lanjutkan hafalannya. Bapak tugaskan kalian untuk mempersiapkan hafalan surah berikutnya, surah An-nazi’at. ”
Setelah ustaz keluar, suasana madrasah berubah menjadi gaduh. Beberapa orang mengikuti anjuran guru ngajinya dengan membuka Al-Quran. Namun sebagian yang lain sibuk melempar kertas yang digulung yang sudah mereka tulisi. Bunga dan Laila ikut-ikutan tergoda untuk berbuat hal yang sama. Laila adalah sepupu Bunga dan Rosa. Dia seumuran dengan Bunga. Laila adalah putri Ustaz Farid dan Bu Syarifah, adiknya Abah. Bunga dan Laila tidak mempan meskipun sudah diingatkan oleh Rosa. Kertas-kertas yang digulung itu mereka lempar ke jajaran santri laki-laki. Sementara yang laki-laki melempar ke arah santri perempuan.
Entah siapa yang melempar, tiba-tiba gulungan kertas jatuh di atas mushaf Al-Quran yang Rosa baca. Bunga dan Laila saling berebut menyambar kertas tergulung itu.
“Hei, kalian apa-apa sih? Ayo buka Al-Quran. Baca dan hafalin,” Rosa melotot ke arah Bunga dan Laila.
Bunga dan Laila masih tidak peduli. Laila lebih dahulu memegang kertas itu. Dia segera membukanya. Dengan keras-keras dia membaca isinya.
“Rosa, aku ingin mengatakan betapa aku cinta padamu. From Abyasa.”
Bersambung