Perpisahan (2)

1082 Kata
SEMINGGU Kemudian. Bacaan Al-Quran dan doa-doa baru saja bergaung memenuhi ruangan rumah Abah. Syukuran atas kelulusan Rosa dan Bunga baru saja dirayakan. Para tetangganya sudah berpamitan. Mereka menyalami Abah dan pulang dengan menjinjing Nasi kotak yang dibungkus dengan kantong keresek warna biru muda. Rumah yang tadinya ramai berbalik menjadi hening. Rosa, Bunga dan ibunya sibuk merapikan ruangan dan membereskan piring-piring. “Alhamdulillah anak Abah akhirnya sudah dewasa,” ucap Abah mendekati Rosa yang baru saja tuntas membereskan piring. Rosa menghampiri Abah yang duduk di kursi yang baru saja Abah rapikan. Rosa duduk disamping Abah. Dia memeluk Abahnya dengan manja. Bunga pun muncul dan ikut menggelayuti Abah di sisi yang lain. “Alhamdulillah Abah. Anak-anak Abah memang pintar-pintar seperti abahnya,” kata Rosa. “Abah lebih pinter dari Einstein. Dan aku lebih pintar dari Isacc Newton,” kata Bunga. “Setuju. Like that,” timpal Rosa sambil mengacungkan jempolnya. Sari pun muncul dari dapur sambil berkata, “Anak-anak umi dan Abah pasti bakal jadi Fatimah dan Aisyah yang cantik, solehah, dan pastinya supercerdas.” Sari Duduk di dekat Bunga. Dia membelai kepala Bunga yang dibalut kerudung ungu. “Siapa Aisyahnya, Umi?” “Ayo, siapa yang mau jadi Aisyah?” Umi balik bertanya. “Enggak ah, Teh Rosa aja yang jadi Aisyah. Teh Rosa lebih tepat jadi Aisyah. Teh Rosa kan ada yang warna merah. Pipi kak Rosa juga terlihat kemerah-merahan. Aku lebih baik jadi Fatimah aja. Fatimah Az-Zahrah. Namaku kan Bunga.” “Pinter sekali Anak Abah yang satu ini,” kata Abah sambil mencubit pipi anaknya itu. “Abah, Umi, Liat itu ada dua orang laki-laki,” kata bunga sambil mengarahkan telunjuknya. Bunga berpindah duduk mendekati Rosa. Dia menggoda kakaknya dengan menyikutnya. Rosa berkata, “Iih apaa sih, nih anak?” “Umi, Abi, Teteh pura-pura nggak ada apa-apa, padahal ada apa-apa.” “Sudah-sudah jangan dibencadain. Ada tamu tuh, malu.” “Iya niihh, huuh dasar,” bisik Rosa. Bunga cemberut. Tapi tak lama kemudian, dia menggoda kakaknya lagi dengan menggelitik pinggang kakaknya. Rosa tetap tenang karena malu. Kedua lelaki itu semakin mendekat. Abah bangkit menghampiri mereka menuju mulut pintu. Tiga orang lelaki itu pun berpelukan bergantian. “Waah, bapak telat datangnya. Sudah tidak kebagian jamuannya hehehe,” ucap Abah. “Waah keterlaluan sekali. Kok sampai tidak disisakan,” ucap Bapak Abyasa, “Hehe bercanda, Pak Ustaz, Kami minta maaf dengan sangat karena silaturrahim ke sini sudah sangat telat karena kami juga ada acara keluarga barusan. Istri saya juga mohon maaf tidak bisa ikut karena sedang tidak enak badan.” Abah membimbing keduanya masuk ruangan. Mereka melanjutkan obrolan sambil sesekali dibumbui dengan gelak tawa. Rosa dan Bunga sedari tadi berada di dapur. Keduanya membantu ibunya menyeduh teh manis dan menyiapkan makanan. Setelah semuanya siap, Rosa dan Bunga saling tuding siapa yang akan menyuguhkan. “Teteh aja, Teteh kan yang lebih gede. Terus pas juga momennya kan ada Aa Abyasa. Kalau nggak sekarang kapan lagi?” “Husss. Ngaco kamu. Kamu aja. Biar belajar sejak dini bagaimana menjamu tamu.” “Udah jangan berantem terus. Sekarang tinggal pilih mau Rosa atau umi?” Rosa terdiam. Dia banyak menunduk. “Hmm Umi aja ya. Rosa ee...” Umi akhirnya segera membawa cangkir di teh ke ruangan dimana abah dan para tamunya berada. Rosa merasa lega. Perlahan-lahan dia menuju kamar. Sampai di kamar dia langsung merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Walau pun sudah memejamkan mata, dia masih mendengar percakapan abah dan tamunya. Dinding di rumah itu semuanya terbuat dari bilik bambu. Jadi percakapan sangat jelas terdengar. “Pak Ustaz, saya benar-benar ucapkan terima kasih. Abyasa sudah dibimbing belajar agama, bahasa Arab dan Kitab-kitab kuning (kitab gundul).” “Itu sudah menjadi kewajiban saya, Pak. Saya merasa beruntung punya santri yang semangat seperti Abyasa. Santri-Santri yang lain pada malas, merasa sudah cukup dengan belajar di waktu bakda maghrib saja. Saya merasa bahagia dan tetap semangat karena masih ada santri kalong (santri yang tidak tinggal di asrama/mukim di rumah sendiri) yang mau menyempatkan waktunya belajar bakda Shubuh. Alhamdulillah kalau belajar di waktu pagi hafalan nahwu-sharafnya cepat masuk kan, Wan?” “Iya, Ustaz. Alhamdulillah.” Rosa yakin itu suara Abyasa. Selanjutnya Rosa mendengar suara Ayah Abyasa berkata, “Begini, Pak Ustaz, Abyasa alhamdulillah sudah mengikuti SPMB. Dan Lulus. Kami sekalian mau pamitan karena beberapa hari lagi dia akan berangkat ke Jakarta.” “Alhamdulillah. Syukurlah. Jaga diri di Jakarta, Nak, Jangan lupa dakwahnya.” “Insya Allah, Ustaz.” Pikiran Rosa sudah berada diambang bawah sadar. Setengah kesadarannya sudah menghilang. Pendengarannya sudah tidak dapat mencerna lagi percakapan. Perlahan-lahan dia tertidur pulas dalam tubuhnya yang kelelahan karena mempersiapkan acara syukuran sejak pagi. Sementara percakapan itu masih terus berlanjut. Abah ditemani Umi dan Bunga. Tema percakapan berganti dengan cepatnya. Abyasa tidak berbicara banyak. Dia hanya berbicara jika ditanya oleh Abah. Dalam Pikirannya dia bertanya-tanya dimanakah Rosa, kok tidak ada. Dia memainkan hapenya. Dia melihat nomor hape Rosa. Dia ingin mengirimkan pesan untuk Rosa. Tapi dia bingung pesan apa? Untuk apa? Akhirnya dia hanya memandangi nomor itu. Pikiran Abyasa tidak bisa berhenti untuk memikirkan Rosa. Inikah yang diartikan cinta? Wajah Rosa selalu dia lihat dimana-mana. Dia selalu melihat wajah itu saat berbaring, saat membaca buku, saat menonton televisi, saat berolahraga, disela-sela makan, saat mengaji, membaca kitab, dan di semua aktivitas yang dia lakukan. Abyasa menyadari bahwa semua itu keliru dan mampu merusak kesucian hati. Buru-buru dia beristighfar. Namun kerap godaan itu selalu datang. Ini masalah perasaan. Namun bagaimana pun perasaan tetap harus dimanaj, tidak boleh diumbar dan diperturutkan. Abyasa percaya bahwa jodoh adalah sebuah ketentuan Tuhan. Dia boleh saja mencintai seseorang, namun orang yang dia cintai belum tentu menjadi pendampingnya. Namun dalam setiap doa yang dia panjatkan, dia memohon kelak yang menjadi ibu dari anak-anaknya adalah Rosa. Abyasa makin larut dalam dunianya. Sementara ayahnya makin asyik berbicara dengan abah. Sambil memainkan hape dan memandangi nomor Rosa, Abyasa berdialog dengan hatinya. Hei, kau yang selalu mencuri perhatianku, apakah kau merasakan apa yang kurasakan. Kuharap kau demikian. Kuharap kelak jika aku telah siap dan kau pun siap, kuingin kau dan aku memasuki istana. Kuingin kau menjadi penyempurna hidupku. Hei kau yang mengganggu hari-hariku, adakah namaku terpatri dalam hatimu. Betapa aku ingin tahu. Namun aku bersabar karena syariat berusaha menjaga kau dan aku. Abyasa masih memandangi nomor Rosa. Tanpa sadar dia telah memencet nomor itu. Dia beristighfar dan buru-buru mematikan dan memasukkan hapenya supaya kejadian itu tidak dia ulangi. Dia memang harus memakai logika untuk mengendalikan perasaannya ini. Dia berusaha menghibur diri, kalau memang jodoh tidak akan ke mana.  * Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN