Perpisahan (1)

876 Kata
“PARA orang tua yang sangat kami cintai, Para guru yang kami hormati. Pada kesempatan ini, kami hanya ingin melisankan ucapan terima kasih kepada kalian semua,” ucap Rosa. Rosa berdiri di panggung acara perpisahan kelas. Dia didaulat untuk mewakili siswa memberikan pidato perpisahan. Dengan penampilannya yang sederhana, kerudung putih yang lebar, seragam putih Abu yang juga lebar tak memperlihatkan lekuk tubuhnya membalut tubuhnya mengesankan gadis remaja ini begitu memesona. “Tanpa kalian, kami tidak akan ada artinya,” lanjut Rosa. “Ucapan terima kasih saja sungguh tak pernah cukup. Para orang tua, kalian rela berlelah-lelah berada di bawah terik matahari hanya demi kami, agar menjadi anak-anak shaleh berprestasi. Pun kalian, Para guru yang tercinta. Demi kesuksesan kami dalam ujian, kalian rela mengorbankan waktu dan pikiran mengarahkan dan membimbing kami. Bahkan, kalian telah membuka pintu rumah kalian tanpa sungkan dan siap memberikan arahkan ketika kami belum memahami pelajaran.” “Wahai para guru dan orang tua sekalian, dedikasi kalian tiada duanya, kami takkan sanggup membalasnya, hanya Allah saja yang bisa menggantikan pengorbanan kalian.” Sari kemudian menutup pidatonya dengan salam. Ruangan aula bergaung dengan tepuk tangan para orang tua. Sari duduk di jajaran kursi bersama orang tua siswa lainnya. Di hadapan mereka, pembawa acara sudah membuka acara sepuluh menit yang lalu. Ruangan itu ditata dengan apik. Orang tua laki-laki dan perempuan duduk terpisah. orang tua laki-laki berada di sayap kanan panggung. Sedangkan orang tua perempuan berada di sayap kiri. Raungan aula nampak meriah dengan berbagai dekorasi. Di depan panggung spanduk besar terpasang. Di sekitar panggung terpasang bunga-bunga dengan sebuah taman imitasi.  “Hadirin Rahimakumullah. Beranjak pada acara berikutnya adalah pemberian hadiah kepada mereka yang berprestasi,” ucap lelaki yang menjadi pembawa acara itu. Lelaki itu kemudian memanggil siswa-siswa berprestasi di sekolah itu. Salah satunya adalah Rosa. Abyasa yang menjadi saingan Rosa pun ikut naik panggung aula. Mereka menerima sertifikat dan hadiah.  Selama 3 tahun di MA (Madrasah Aliyah), Rosa selalu ranking pertama. Saingannya bernama Abyasa. Abyasa masih satu kampung dengan Rosa. Selanjutnya, ada penampilan musik dari Abyasa dan tiga orang temannya. Abyasa memainkan gitar akustik sekaligus menjadi lead vokal. Temannya yang lain memainkan piano. Di hadapan para orang tua dan guru. Dia menyanyikan beberapa buah lagu. Lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu-lagu Maher Zain dan Sami Yusuf. Penampilan mereka disambut dengan tepuk tangan hadirin. Acara terus berlanjut. Ada pembacaan puisi dan penampilan drama. Hingga di penghujung acara, MC menutupnya dengan salam. Para hadirin bubar. Sari dan Rosa pun seperti para hadirin yang lain keluar dari ruangan Aula. Ketika sampai di luar aula, Rosa dan Ibunya berpapasan dengan Abyasa dan bapaknya. “Bu, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Pak Ustaz Sulaiman atas bimbingan belajar agamanya pada anak saya,” ucap ayah Abyasa yang mengenakan pakaian batik dengan corak awan. Penampilannya begitu rapi. “Iya, Bu. Makasih banyak,” kata Abyasa mengulum senyum bergantian kepada Rosa dan Ibunya. “Iya sama-sama, Pak. Ngomong-ngomong Abyasa mau meneruskan studi ke mana?” ucap Sari. “Masih beberapa pilihan sih, Bu. Antara Jakarta, Yogya dan Bandung.” “Oh Baguslah. Pilih perguruan tinggi terbaik. Ibu berharap Kaum muslimin di Negeri ini dan juga di dunia bisa maju dan bangkit lewat generasi seperti Nak Abyasa ini.” “Ammin. Semoga bisa seperti itu. Kalau Rosa mau diterusin kemana?” ucap Abyasa sambil tersenyum melirik Rosa. Rosa mengarahkan pandangan ke arah lain. Dia tidak menjawab pertanyaan Abyasa karena dia pikir pertanyaan itu dia tujukan untuk ibunya.  “Rosa juga masih banyak pilihan. Bisa di Bandung atau Jakarta. Bukan begitu Rosa?” Rosa mengangguk. Dia banyak menunduk. “Oya Pak Ustaz Eman kok tidak ikut, Beliau kemana?” tanya ayah Abyasa. “Bagi-bagi tugas, Pak. Adiknya Rosa, Bunga juga lagi acara kelulusan. Adiknya juga lulus MTs (Madrasah Tsanawiyah).” Suasana percakapan tiba-tiba hening. Yang terdengar hanyalah gemuruh orang-orang yang hilir mudik. “Baiklah kalau begitu, saya masih ada keperluan. Kami pamit dulu, Bu,” kata ayah Abyasa. “Oya, kami juga mau langsung jalan,” kata Ibu Rosa. “Oh kalau gitu, boleh pulang bersama, kami bawa kendaraan. Sepertinya cukup,” timpal ayah Abyasa. Wajah Abyasa sumbringah ketika ayahnya menawarkan untuk pulang bersama. “Ah tidak usah merepotkan, Pak.” “Tidak kok, biar sekalian aja. Jarang-jarang saya bisa ketemu dengan ibu ustaz. Merupakan suatu kehormatan bagi saya,” Ayah Abyasa merendah. “Wah maaf sekali, Pak. Saya merasa begitu tersanjung. Tapi kami kayaknya ada keperluan mampir dulu ke kerabat yang rumahnya tidak jauh dari sekolah ini.” “Oh Begitu. Ya sudah tidak apa-apa. Kalau begitu kami duluan.” Keduanya pun pamitan lebih dahulu. Dalam hati, Abyasa merasa sangat menyayangkan. Abyasa dan ayahnya meluncur ke tempat parkir. Tak lama kendaraan Avanza muncul kembali di depan Rosa dan ibunya. Kaca mobil depan terbuka. Ayah Abyasa yang mengemudikan kendaraan itu tersenyum. “Bu, Kami duluan,“ ucap Abyasa. “Ya,” kata ibu Rosa. “Assalamu alaikum,” ucap Ayah Abyasa sambil melambaikan tangan. Sari dan Rosa menjawabnya dengan salam yang lengkap. Kaca mobil kembali ditutup. Kendaraan mulai melaju. Diam-diam Abyasa memandangi kedua perempuan itu dari balik kaca mobil. Bahkan ketika mobil menjauh, Abyasa masih memandangi Rosa dan Ibunya. Rosa dan Ibunya mulai melangkah dari tempat itu. Keduanya makin mengecil dan selanjutnya tak terlihat lagi kedua sosok itu dalam pandangan Abyasa. * Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN