16 Tahun Kemudian
CAHAYA mentari menerobos jendela-jendela rumah kecil nan asri. Rumah itu terlihat kecil, namun tertata rapi dan asri. Rumah kecil itu berlantai papan kayu mahoni. Dindingnya terbuat dari bilik bambu. Dindingnya memakai cat berwarna putih. Sedangkan bagian depannya dilapisi dinding papan bercat biru muda. Pada bagian depannya ada teras yang mirip balkon berlantai papan. Pada teras itu ada beberapa kursi dipan.
“Umi, Abah berangkat dulu. Sudah siang,” ucap Abah mulut pintu.
“Sebentar, Pak... Ini bawa perbekalannya,” Sari setengah berlari membawa jinjingan plastik berisi nasi dan lauk pauk dari dapur.
Abah mengenakan pakaian k*****t hitam dan celana di atas mata kaki. Kepalanya di tutup dengan topi. Dia setengah terburu-buru berangkat ke sawah. Sesampai di mulut pintu, Sari menyerahkan jinjingan itu kepada suaminya. Abah menerimanya dan tersenyum kepada istrinya.
“Anak-anak kemana Umi?”
“Rosa dan Bunga sedang umi suruh nganter barang ke rumah bibinya. Kebetulan hari ini mereka tidak sekolah. Lagi hari-hari bebas. Jadi mereka main di sana kemungkinan bermain bersama Laila.”
“Oh gitu ya, Mi. Umi, Abah berangkat dulu. Jaga rumah ya.”
“Iya,” ucap Umi sambil mencium tangan suaminya.
“Assalamu ‘alaikum,” Ucap Abah sambil melangkahkan kaki.
“Waalaikumussalam wahamatullah”
Sari kembali ke dapur. Dia membereskan pekerjaan yang belum dikerjakannya.
Begitulah kehidupan Sari kini. Dia menjadi istri Eman. Enam bulan setelah Sari kehilangan ibunya, dia dilamar Eman. Hal yang tak pernah Sari sangka. Awalnya Sari menganggap rasa kagum pada lelaki yang telah menolongnya hanya sebuah angan yang takkan terwujud. Namun Allah ternyata mendengar doa dan harapan Sari. Sewaktu Eman menolong Sari, status Eman adalah seorang duda yang baru ditinggal wafat istrinya.
Sementara adiknya Syarifah menikah lebih dahulu sesuai rencana Syarifah. Sepulang dari Jakarta, dia memang sudah dilamar seorang ustaz muda di daerahnya. Lelaki itu bernama Farid, seorang alumni Universitas Islam dan jebolan Pesantren Daarusslam Gontor. Dia bekerja sebagai seorang guru PNS dan memiliki pesantren di daerahnya. Abah pun yang pernah nyantri di salah satu pesantren di Cianjur, walau pun hanya sebentar, menjadi salah satu staf pengajar di pesantren yang dikelola Farid. Pesantren itu dinamai pesantren Mabda’ul Ulum.
Setahun dalam usia pernikahan Eman dan Sari, Eman memutuskan untuk tidak berangkat lagi ke Jakarta. Dia berhenti berjualan batagor. Di desa dia menjadi seorang petani. Pada awalnya dia mengolah tanah lahan orang. Eman dan Sari berusaha untuk bisa menabung, hingga mereka pun bisa membeli sawah dan mempunyai tanah sendiri. Tahun demi tahun usahanya berkembang. Dia bisa membeli domba dan sapi. Karena repot jika mengurus sendiri, akhirnya dia mempekerjakan orang khusus untuk membantunya mengolah sawah, mengurus domba dan sapi. Sementara Sari sehari-hari menjaga warung yang letaknya tak jauh dari rumah. Impiannya dulu ingin memiliki toko sendiri, kini telah terwujud.
Sari tidak berhenti mensyukuri kehidupannya sekarang. Allah telah memberinya karunia yang luar biasa, sebuah keluarga sederhana. Dia tak pernh berhenti berdoa agar keluarganya bisa menjadi model keluarga islami, menjadi contoh bagi tetangganya dan orang-orang di sekitarnya. Eman dan Sari telah menyatukan impian mereka dalam sebuah bingkai pernikahan yang berharap dan bermuara pada keridhaan Allah. Keduanya bercita-cita menjadi keluarga muslim yang darinya terpancar sinar Islam sehingga Islam kembali menemukan peradaban cemerlangnya, mengalahkan peradaban-peradaban lain yang hanya berlandaskan nilai-nilai materi dan sangat jauh dari semangat ruhiyah mentauhidkan Allah dan menjadi Rasululluh sebagai model ideal dalam segala perikehidupan.
Mereka berupaya mewujudkan rumah tangga ala Rasulullah dan mencoba menjadi bagian yang berkontribusi mengembalikan peradaban Islam warisan Rasulullah. Eman dan Sari sungguh meyakni bahwa Rasulullah lah panutan dalam segala hal: urusan rumah tangga, konsep pemerintahan, konsepsi politik, pendidikan, ekonomi, konsep bernegara, dan segala hal.
*
“MI, Cepetan... kita udah kesiangan nih,” teriak Hari kepada Ratna. Hari berada di mulut pintu kamar. Dia berada di situ untuk yang ketiga kalinya. Sebelumnya dia menunggu di ruang tengah cukup lama.
“Sabar dong, Pii... aku beresin dulu dandananku. Masih ada yang kurang,” ucap Ratna dengan enteng sambil mengamati alisnya di cermin.
Dalam hati, Hari menggerutu, sabar.. sabar. Susah kalau sama perempuan yang suka dandan dan belanja berlebihan. Apa sih sebetulnya manfaat dandan dan belanja??? Aku lebih setuju kalau kamu berada di luar apa adanya, tanpa make up berlebihan. Aku tidak suka kalau ada lelaki lain bermata jelalatan memandangi kamu. Kalau saja kamu tau...
“Yuk ah ... Pi,” ucap Ratna dengan gaya seorang nyonya besar.
Hari tidak menjawab karena merasa begitu kesal.
“Oya Piii, anak-anak udah berangkat sekolah?”
“Udah. Tau tuh. Tumben mereka berangkat pagi-pagi. Melati berangkat bawa motor, tapi dia nggak pake seragam. Ardhy juga berangkat lebih dulu. Dia bawa pake mobil, juga nggak pake seragam.”
“Mau ngapain mereka. Anak-anakmu tu, Pii. Mereka susah sekali diatur.”
“Kok anak aku. Anak kamu juga lah.”
Keduanya melenggang ke depan rumah. Di depan rumah, Sedan berwarna merah sudah siap dengan seorang sopirnya. Ketika Ratna dan Hari muncul di dekat mobil, sopir dengan segera membukakan kedua pintu mobil. Keduanya segera masuk. Mobil pun melaju membelah jalanan Buncit Raya. Kantor Hari di jalan itu. Kendaraan melaju lambat karena jalan macet. Sepanjang jalan Hari dan Ratna berdebat masalah rumah tangganya. Sopirnya pura-pura tidak mendengar meskipun dia tidak tuli. Sesekali sopir memandangi kedua majikannya dari kaca spion depan mobil.
“Mii, aku malam ini nggak pulang.”
“Ya udah... nggak usah lapor. Aku udah tahu. Giliran menemui nenek lampir itu kan?”
“Kamu jangan bilang gitu dong, Mi. Dia tidak sekejam yang kamu bayangkan.”
“Bohong! Dia memang pantas disebut nenek lampir. Lagian, kamu juga nggak adil, Pii. Waktu kamu lebih lama bersama dia. Lantas aku kau jadikan sebagai apa? Simpenan? Kamu udah ngelanggar janji. Pii. Aku nggak mau diperlakukan kayak gitu. Aku nggak terima. Aku malu sama orang-orang.”
Hari meraih tangan Ratna, namun Ratna menariknya dan memalingkan pandangan ke luar kaca mobil.
“Mii, Kamu masih tidak mempercayaiku. Aku sama sekali tidak memosisikan kamu sebagai simpenan. Buktinya aku menikahimu secara sah.”
“Iya, tapi kamu tidak mendapatkan restu dari nenek lampir itu sehingga kita nikah sembunyi-sembunyi.”
“Iya awalnya seperti itu. Tapi kan sekarang kita udah punya surat nikah.”
“Aku tak peduli dengan semua itu. Aku hanya ingin kamu berlaku adil, Pi. Aku ingin kamu menyediakan banyak waktu untukku, Ardhy dan Melati.”
Sopir memperhatikan kedua majikannya dari kaca mobil. Hari dan Ratna memalingkan pandangan ke arah berlawanan. Masing-masing memandang ke arah luar melalui kaca mobil. Tak ada percakapan lagi. Hanya terdengar suara mesin mobil.
Mobil tiba-tiba berhenti. Sopir keluar memeriksa kendaraan yang dikemudikannya. Dia berkeliling memeriksa mobil. Dia menggeleng-geleng kepala, bingung, dan setengah ketakutan.
“Kenapa Parjo?”
“Anu tuan... bannya kempes.”
“Huuuh ... kamu kok nggak diperiksa dulu sih, Parjo. Ini waktunya mepet nih. Mana macet lagi?” teriak Ratna.
“Maaf Nya... tadi udah saya periksa...”
“Ah sudah... kamu jangan banyak alasan. Kalau kerja yang benar dong. Rugi aku gaji kamu,” bentak Hari.
Lelaki yang sudah beruban itu tidak berkutik. Hatinya sudah kebal dengan omongan-omongan seperti itu. Dalam hati dia menggerutu, Dasar orang kaya sombong! Kalau saja harta kalian habis kalian tidak lebih tinggi derajatnya daripadaku.
“Hei kamu malah ngelamun lagi. Cepat bereskan pekerjaanmu. Aku nggak mau tau. Kita harus nyampe kantor secepatnya,” bentak Ratna.
Parjo gelagapan, “ba... baik Nya...”
Hari dan Ratna melanjutkan percakapannya.
“Mi, kalau kamu nuntut aku. Aku juga boleh dong nuntu mami.”
“Apa yang kurang dari aku, Pi?”
“Aku juga ingin kamu mengerti, mi. Aku tidak suka mami belanja berlebihan. Belanja seperlunya. Aku kuatir anak-anak, terutama Melati juga jadi ikuta-ikutan.”
“Ya untuk urusan itu. Suka-suka aku dong, Pi. Aku belanja dari uang hasil kerjaku sendiri.”
“Ya nggak bisa begitu, dong. Meskipun mami bisa cari uang sendiri. Kalau yang namanya rumah tangga harus sejalan seirama.”
“Ah papi hanya berteori. Buktinya papi juga belum bisa konsisten memenuhi janji papi. Udahlah kalau untuk urusan shopping itu kan urusan hobby. Masing-masing aja. Toh aku juga tidak pernah ganggu hobby papi. Papi kan suka main golf, mancing, dan sebagainya, aku tidak pernah melarang-larang papi.”
*