“ALHAMDULILLAH, akhirnya Ibu Sadar juga,” ucap lelaki berjanggut. Lelaki berjanggut itu berdiri di samping Sari.
Sari yang membuka mata melihat-lihat di sekelilingnya. Keningnya terlihat mengkerut , menahan rasa sakit di kepalanya. Tangannya memegang kepala yang terbalut kain kassa.
“Rosa!?” Ucap Sari dengan suara serak.
“Tenang Bu, Rosa ada. Dia sedang digendong sama adik saya. tadi dia nangis terus. Terus adik saya mencoba membawanya keluar.”
“Alhamdulillah,” ucap Sari sambil menitikkan air mata,
“Nah itu dia, panjang umur. Baru saja tadi diomongin,” ucap lelaki berjanggut sambil mengarahkan tangannya ke pintu depan rumah.
Sari yang duduk di kasur lantai di ruangan itu langsung bangkit. Dia melangkah dengan tenaga yang dimilikinya untuk bisa meraih Rosa.
“Hati-hati, Bu. Biar saya aja yang kesana,” kata seorang perempuan berkerudung dan mengenakan gamis itu sambil melangkah mendekati Sari. Sari berpikir betapa baiknya orang-orang yang telah membantunya.
*
HARI berikutnya, Sari sudah mulai pulih. Dia pun sudah mengenal lelaki yang telah menolongnya. Namanya adalah Sulaiman, panggilannya Eman. Adiknya yang selalu menutup aurat dengan berkerudung dan mengenakan gamis bernama Syarifah. Mereka ternyata satu kota dengan Sari, dari Majalengka. Hanya mereka berbeda kecamatan.
Sari menceritakan semua kejadian yang menimpanya dari awal sampai akhir kepada Eman dan Syarifah. Dia pun menceritakan kebingungannya untuk pulang kampung karena gagal bertemu dengan majikannya. Kalau dia pulang kampung dan masih membawa Rosa dia kuatir fitnahan orang-orang kampung akan makin menjadi-jadi.
“Ibu, tenang saja. Ini ujian Allah untuk ibu. Kalau saya menyarankan lebih baik ibu pulang kampung. Biarkan saja orang kampung mau menuduh dan memfitnah ibu, mereka akan cape sendiri jadinya. Jangan pernah ladeni mereka. Pada akhirnya mereka akan berhenti menfitnah dengan sendirinya,” ucap Eman.
“Saya masih takut pulang kampung,” ucap Sari sambil menangis. Dipangkuannya Rosa tertidur pulas.
“Insya Allah semuanya akan baik-baik saja, Bu,” Syarifah ikut menghibur.
“Kalau ibu tidak pulang kampung rencananya mau bagaimana?” tanya Eman.
Sari terdiam. Dia tidak punya rencana lain. Sari tak berhenti menitikkan air matanya. Air matanya jatuh di kening Rosa yang masih tidur.
“Kami akan mencoba membantu, Bu. Kebetulan arah pulang kita satu arah. Beberapa hari lagi kami akan pulang kampung. Kami bisa menemani ibu pulang kampung. Kita bisa pulang bareng, Bu.”
Sari menatap langit-langit di ruangan itu. Tatapannya kosong. Namun tiba-tiba dia teringat ibunya. Dia pulang tidak sesuai rencana. Dia membayangkan ibunya sedang menunggunya dan mungkin sekarang dia bertanya-tanya kenapa dirinya belum pulang juga. Dalam hati Sari berdoa untuk ibunya, semoga di sana dia sehat-sehat saja seperti waktu dia tinggalkan ke Jakarta. Namun kembali Sari berpikir, apakah dia akan sanggup bersabar atas fitnah orang-orang kampung terhadapnya. Allahu akbar, kuatkan hambamu ini, ungkapnya dalam hati.
“Kalau bapak tulus membantu saya, saya dengan senang hati menerima bantuan Bapak. Baiklah saya ikut Bapak pulang kampung bersama-sama.”
“Nah, alhamdulillah, akhirnya ibu mau pulang juga. Insya Allah Dia selalu bersama dengan orang-orang yang sabar dan kuat menghadapi segala cobaan hidup,” ungkap Syarifah dengan penuh senyuman.
*
“KIRI, Mang,” Sari menghentikan Bus tepat di terminal yang terletak di desanya.
Eman dan Syarifah Ikut turun. Mereka sudah berjanji untuk mengantar Sari hingga selamat sampai di kampungnya.
“Rumahnya masih jauh, Bu?” tanya Syarifah.
“Ah dekat kok. Sebentar lagi juga nyampe.”
“Wah enak ya, tidak usah ngojeg lagi,” timpal Eman.
Sari tersenyum. Dia tak habis pikir, masih ada orang-orang baik seperti Eman dan Syarifah. Terkadang dia ingin mencuri pandang agar bisa memandang lelaki yang telah menolongnya. Dia penasaran apakah Eman sudah berkeluarga apa belum. Namun malu untuk menanyakannya. Dia hanya menerka-nerka sepertinya Eman sudah berumah tangga kalau dilihat dari usia dan penampilannya.
Sari terus melangkah. Dipangkuannya Rosa berceloteh. Rosa tersenyum kepada Eman dan Syarifah. Syarifah dan Eman mengekorinya dari belakang.
“Tuh, lihat, Rosa kelihatan senang udah nyampe kampung,” ujar Syarifah.
“Anak pintar, anak manis,” Eman memuji Rosa.
Rosa memainkan tangannya. Mulutnya tak henti berceloteh. Rosa seolah mengajak berbicara pada Eman dan Syarifah.
“Asyik udah nyampe kampung, ya, Nak,” ucap Syarifah.
Sari menghentikan langkah. Dia tertegun. Syarifah dan Eman pun ikut berhenti. Ketiganya mematung di depan sebuah rumah panggung. Di depan rumah itu banyak sandal. Gemuruh Suara orang mengaji dan berdoa ramai terdengar begitu jelas.
Perlahan-lahan Sari naik ke rumah panggung itu. Orang-orang di sekelilingnya memandanginya. Dia pun mengarahkan pandangan kepada orang-orang yang mengaji di rumah itu. Tangis Sari pecah. Dia benar-benar tak membayangkan hal ini akan terjadi. Dia sungguh benar-benar menyangkan ibunya akan pulang secepat ini.
“Emak... Bohong. Kalian bohong. Emak masih hidup. Emak belum mati,” teriak Sari.
Sari melihat ditengah-tengah ada sosok yang terbaring berbungkus kain samping bercorak batik. Dia tidak mau membuka. Dia tak kuasa menahan buncahan kesedihannya. Dia menangis sejadi-jadinya.
“Tabahkan dirimu Sari, Emak meninggal tadi Shubuh,” suara yang sudah tidak asing bagi Sari. Dialah saudara sepupunya, Wati.
Tubuh Sari lunglai. Tubuhnya tak kuat menahan beban berat dirinya dan juga berat Rosa. Wati kewalahan menahan beban tubuh Sari. Beberapa orang yang melayat ikut membantu. Wati mengambil Rosa yang berada dalam pangkuan Sari.
*
Bersambung