Galau (1)

1188 Kata
MATAHARI sudah turun di ufuk barat. Sari baru saja melaksanakan shalat Ashar di sebuah mesjid Jami di kawasan Epicentrum, tak jauh dari apartemen taman Rasuna. Usai melaksanakan shalat, tubuhnya terasa segar. Lelahnya selama dalam perjalanan sedikit menghilang. Tak lama kemudian dia segera melangkahkan kaki menuju apartemen orangtua Rosa. Sari memasuki lift. Di lift itu dia menekan tombol angka 5. Tidak kurang dari 5 menit dia sampai di lantai 5. Sampai di depan pintu, Sari memencet bel. Dua menit berlalu, pintu tak kunjung dibuka. Dia pun memencet ulang bel. Namun pintu belum juga dibuka. Sari paham, dia mengira-ngira bahwa majikan yang laki-laki pasti sedang di luar. Sementara majikan perempuannya pasti sedang berada di kantor. Kemungkinan majikan perempuannya pulang nanti malam. Meskipun begitu, Sari masih membayangkan Nyonya Ratna membukakan pintu. Dalam bayangannya, Nyonya Ratna terharu dan memeluk Rosa. Tiba-tiba bayangan lain muncul dalam pikirannya. Tiba-tiba wajah Ratna memerah berubah menjadi seperti monster. Lalu monster itu berteriak-teriak tidak jelas menunjuk-nunjuk pada dirinya. Dalam hati, Sari mengucapkan basmalah. Ini untuk ketiga kalinya dia memencet bel. Setelah itu Sari tidak akan memencetnya lagi. Dia menunggu pintu ada yang membuka. Pintu tak kunjung dibuka. Akhirnya Sari membalikkan badan. Dia bermaksud kembali lagi setelah maghrib. Dia akan keluar sebentar karena perutnya terasa lapar. Rosa pun menangis. s**u perbekalan untuk Rosa sudah habis selama dalam perjalanan. Baru satu langkah kaki kanannya, suara derit pintu tiba-tiba terdengar. Sari membalikkan wajahnya. Seorang perempuan berwajah oriental menyembul dari balik pintu. Sari bertanya siapakah gerangan perempuan ini. Sari kembali membalikkan badan mendekati perempuan berwajah cina itu. Perempuan di hadapan Sari memandang Sari dengan agak aneh. Dia mengamati Sari dari ujung kaki hingga kepala. Dia juga mengamati Rosa yang berada di pangkuan Sari. Perempuan di hadapan Sari menyuruh Sari untuk menunggu dengan isyarat tangannya. Perempuan itu kembali ke dalam rumah. Tak lama kemudian perempuan itu muncul kembali. Sari tersenyum menyambut perempuan itu. Tiba-tiba perempuan itu menyerahkan uang lembaran sepuluh ribuan. Sari merasa kikuk dibuatnya. Dia bertanya-tanya kenapa perempuan itu memberinya uang. Dia akhirnya berkesimpulan, mungkin perempuan itu menganggap dirinya peminta-minta. Sari berusaha menolak uang pemberian itu. “Maaf, Bu, saya ke sini bukan untuk meminta uang. Saya hanya ingin menanyakan. Apakah nyonya Ratna sudah pulang ataukah masih berada di kantor?” Dengan logat Cina-nya yang kental, perempuan itu menjawab, “Nyonya siapa tadi?” “Nyonya Ratna, Bu.” “Di rumah ini, tidak ada yang bernama Ratna. Di rumah ini hanya ada saya dan suami saya. Nama saya Lin-Lin.” Sari terperangah. “Oh ... Jadi. Ibu tidak kenal dengan Nyonya Ratna?” “Siapa Ratna?” perempuan itu mengarahkan pandangannya ke langit-langit apartemen. “Ooooh... mungkin penghuni rumah ini sebelumnya,” lanjut perempuan itu. “Iya mungkin, Bu. Soalanya dua minggu sebelumnya saya memang bekerja di rumah ini,” kata Sari. “Iya, Iya.” “Jadi kemana sekarang Bu Ratna?” tanya Sari. “Lha kok kamu tanya saya. Mana saya tahu. Saya tidak kenal dia.” Sari sudah tidak bisa berpikir lagi. Dia tidak tahu apa yang mesti dia lakukan. Dia berdiri di tempat itu. Tertegun. Dia merasa tidak sedang menginjak bumi. Dia merasa berada di kehidupan lain yang terasa asing dan sama sekali tak dikenalinya. * Kemanakah Sari melangkah? Pikiran dan hatinya gamang. Sambil menggendong Rosa, dia menyusuri jalanan dengan langkah gontai. Sementara hari sudah gelap. Dia tidak terbiasa malam-malam berada di jalanan Jakarta. Hatinya dipenuhi pertanyaan untuk dirinya sendiri, apakah yang harus kulakukan. Dia juga ingat pada ibunya di kampung. Besok dia sudah harus pulang karena sudah berjanji pada ibunya untuk pulang secepatnya. Sementara kondisinya sekarang seperti ini. Tidak mungkin dia pulang kampung dan membawa Rosa lagi. Apa anggapan orang kampung nanti. Bisa-bisa fitnah yang mereka tebar dianggap benar jika dia masih membawa Rosa ke kampung. Sari berhenti sebentar. Perutnya terasa begitu lapar. Dia mencari sebuah warteg di pinggir jalan. Di warteg itu dia makan dengan menu yang murah. Dia hanya memesan nasi setengah porsi, telur dadar dan sayur tahu. Dia membawa perbekalan hanya cukup untuk ongkos perjalanan. Usai makan, kebingungan masih mengganjal di hati Sari. Dia akan bermalam dimana. Dia menyusuri jalanan Rasuna Said. Jalanan yang ditempuhnya sampai ratusan meter. Dia berjalan sekehendaknya tanpa tujuan. Keringat mulai bercucuran. Sementara Rosa tertidur dalam gendongannya. Ada keganjilan yang Sari rasakan. Dia merasa seperti diikuti orang. Dia melihat berulang kali ke belakang. Dia merasa yakin tiga orang di belakangnya mengikutinya. Sari pun mempercepat jalannya. Dia segera mencari tempat keramaian agar orang-orang itu berhenti mengikutinya. Namun Sari kalah cepat. Begitu cepatnya tiga orang berbadan tegap itu menghadangnya sehingga membuat Sari tidak bisa berbuat apa-apa. “Apa mau kalian?” Ketiga orang itu tertawa menyeringai. Sari dengan bersegera berbalik arah. Namun tangannya begitu kuat digenggam oleh salah seorang dari mereka. Sari berusaha melepasnya, namun tenaganya tak cukup. Salah seorang yang lain mengambil Rosa dengan paksa. Rosa terbangun dari tidurnya. Rosa terlihat kaget. Dia pun menangis. Namun mereka tidak peduli dengan tangisannya. “Jangan Ambil anak ini,” teriak Rosa. Dompet Sari pun di rampas. Sari berusaha melawan dengan menggigit tangan seorang yang merampasnya. Namun perlawanannya terlalu mudah dipatahkan. Sari tidak putus asa. Dia melawan sebisanya. Dia akan mempertahankan Rosa. Dia merasa harus mempertahankan Rosa. Dia berpikir bagaimana caranya untuk bisa melawan. Ada beberapa orang lewat di sekitar tempat itu. Sari mencoba meminta bantuan, namun tidak ada yang mengulurkan bantuan. Sari merasa begitu sedih mengapa tidak ada orang mau membantunya. Dia sadar beginilah hidup di ibukota. Orang-orangnya inidvidualis, hanya mementingkan diri sendiri. Sangat sedikit orang yang peduli pada orang-orang yang tertindas. Kebanyakan mereka lebih memilih cari aman. Sari berdoa mengharap Allah menurunkan pertolongan untuknya. Sari mulai berpikir, kalau dia membela diri dengan tangan kosong itu sia-sia. Dia pun berusaha mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyerang mereka. Sari menemukan sebuah kayu di seberang jalan. Dia membungkukkan badan untuk meraih kayu itu. Dia memohon pertolongan Allah. Semoga dengan perlawanan ini, menjadi amal ibadah baginya. Membela diri dari penindasan orang itu termasuk bagian dari ibadah. Bahkan dalam ajaran Islam, jika terbunuh saat menjaga kehormatan dan harta milik sendiri itu sungguh mulia. Saat berdiri, seorang lelaki berjenggot berdiri di depannya. Lelaki itu bertopi. Pakaiannya terlihat lusuh. Di belakangnya ada gerobak bertuliskan ‘batagor’. Lelaki itu bertanya kepada Sari. Sari menceritakan dengan tergesa-gesa sambil memohon bantuan kepada lelaki itu. “Nanti saya ceritakan lebih jauh, Pak. Saya mohon tolong saya sekarang,” ucap Sari sambil memelas pada lelaki itu. Sari dan lelaki itu segera berlari. Mereka mengejar orang-orang yang telah merebut Rosa. Punggung tiga orang berbadan tegap itu masih terlihat. Rosa dan lelaki itu semakin mempercepat larinya. Perkelahian tak terelakkan. Lelaki bertopi bertarung menghadapi dua orang berbadan tegap. Kekuatan tak berimbang. Namun untungnya lelaki itu cukup mahir bela diri. Beberapa kali dia sempat merobohkan dua orang lawannya. Dengan kayu itu, Sari memukul seorang yang merebut Rosa dari belakang. Tetapi lelaki itu terlalu kuat. Lelaki itu membalikkan badan. Ketika Ratna memukulkan kayu untuk kedua kalinya, lelaki itu menahan kayu yang melayang ke hadapannya. Dengan cepat kayu itu direbut. Lelaki itu menghantam kepala Sari dengan kayu itu. Sari tak mampu menghindar. Sari merasa pandangan di sekelilingnya gelap. Tubuhnya rubuh. Dia tidak tahu lagi nasib Rosa dan lelaki bertopi yang berbaik hati membantunya. * Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN