Damai yang Hilang (2)

1474 Kata
Sari hendak membawa kantongnya keluar kamar. Tiba-tiba dia teringat Rosa. Dia menengkok Rosa yang tengah lelap tertidur. Sambil menatap wajah imut tanpa dosa itu, Sari begitu merasa berat meninggalkannya. Maafkan Bibi ya, Nak. Bibi harus pulang dulu. Ada hal penting yang harus bibi lakukan di kampung, ucapnya dalam hati. Dia merasa berdosa meninggalkan anak itu sendirian. Bagaimana jadinya saat Rosa bangun, dan dirinya tidak ada di situ? Sari berkata pada dirinya sendiri, ah sudah ... cepatlah berangkat mumpung nyonya belum pulang. Sari pun melangkah keluar. Sampai di mulut pintu kamar, Rosa terbangun. Rosa tertatih dan berceloteh. Rosa tiba-tiba menangis. Sari membalikkan tubuhnya. Sari tak kuasa meninggalkan Rosa yang bangun dan menangis seakan-akan dia tak mau ditinggalkan. Rosa yang selama ini dia asuh sudah seperti anaknya sendiri. Sari segera memangku Rosa. Sari merasa gamang, antara pergi atau tetap bertahan mengasuh Rosa. Dia berpikir kalau saja majikannya mengizinkan pulang untuk beberapa hari saja tanpa harus menunggu lebaran. Betapa tak tahan di rumah yang selalu menyala dengan pertengkaran. Tidak ada ketenangan. Sehari bagaikan setahun. Dia merasa tak kuasa kalau harus menunggu lebaran yang masih terlampau lama.  Setengah jam telah berlalu. Sari tidak dapat mengurungkan niatnya untuk keluar dari rumah itu. Namun hatinya tak tega meninggalkan Rosa. Jika dia meninggalkan Rosa bagaimana nasib dia, dia yakin mamanya tidak akan bisa mengurusnya. Dia kuatir Rosa akan dimarahi terus mamanya. Rosa kembali melihat jam dinding. Jarum detik tak berhenti bergerak ke kanan. Pikiran Sari makin gusar. Hati kecilnya mengatakan bahwa ini saat yang tepat, mumpung tidak ada siapa-siapa di rumah. Bisikan lain bertanya, bagaimana dengan Rosa? Kasihan dia. Dia begitu membutuhkanmu. Tangan dan kakinya refleks ke dapur. Dia membuat s**u dan membawa perbekalan untuk dirinya dan Rosa selama dalam perjalanan. Perbekalan yang dia kumpulkan segera dia masukkan ke tas pakaian. Dengan ragu-ragu dia membawa Rosa. Dia membawa Rosa pulang ke kampung. Dia tidak berniat jahat. Dia tidak tega melihat Rosa sendirian di rumah. Ups, ada yang lupa. Sari kembali ke kamar. Di kamar itu, tangannya reflek menuliskan kalimat demi kalimat yang dia tujukan untuk majikannya. Setelah surat yang dia tulis dianggap cukup, kemudian dia simpan surat itu di meja dekat telpon. Dia berharap semoga majikan perempuannya bisa menemukan dan segera membacanya. Dari kawasan Epicentrum, dia meluncur ke Cililitan dengan naik busway. Di dalam busway, Rosa tidur di pangkuan Sari dengan lelap. Sari pun demikian. Dia terkantuk-kantuk. Namun dia berusaha mengalahkan rasa kantuknya. Dia tidak mau salah turun halte. Lagi pula dia merasa harus waspada di busway yang penuh sesak itu. Dia mempunyai pengalaman yang tak mengenakkan saat berada di busway. Dia pernah kecopetan dan pernah juga ada yang hendak melakukan pelecehan s*****l. Jadi, walaupun sangat ngantuk, Sari menahannnya karena takut kejadian itu berulang lagi.  Untuk mengenyahkan kantuk dia mengarahkan pandangannya ke gedung-gedung sepanjang jalan yang dilewati busway. Busway meluncur melewati gedung-gedung angkuh Jakarta yang semakin hari semakin banyak. Sari mulai berpikir pantas saja, Jakarta selalu langganan banjir. Gedung-gedung semakin banyak dibandingkan pohon-pohonnya. Sekilas Sari membaca nama-nama gedung yang tak diketahuinya untuk kegiatan apa. Ada Gedung Indonesia Power, Hero, Smesco, Mustika Ratu. Waktu berjalan begitu cepat, kecepatan busway melesat begitu cepat karena jalanan tidak begitu macet sehingga kendaraan yang ditumpangi Sari ini sudah sampai di halte cawang UKI. Sebentar lagi Sari sampai di halte yang ditunggu-tunggunya, Cawang MT. Haryono. Lima menit kemudian Sari turun dari busway. Sambil memangku Rosa dan kantong pakaian, dia berjalan menyusuri jembatan dan turun menuju Pool Bus Primajasa. Begitu sampai di bus, dia membaca bus yang menuju Cileunyi. Dia segera masuk dan memilih tempat duduk yang masih kosong. Bus pun meluncur. Sari tak kuasa menahan kantuknya. Di dalam bus itu, dia tertidur pulas. * “PERJALANAN masih jauh, Nak,” ucap Sari pada Rosa. Rosa menangis. Sari menghiburnya. Dia mengajak Rosa berdialog. Sari memang sudah mahir meredakan tangisan Rosa. Sari mencari tempat yang teduh. Beberapa langkah kemudian ada sebuah masjid agung. Dia duduk di teras dan memberikan s**u dot pada Rosa. “Kamu haus ya, Sayang.” Rosa memegang dotnya dengan tangannya sendiri. Kelihatannya Rosa memang sangat haus. Dia minum dengan lahap. Air s**u di dot pun cepat habis. “Yuk, kita lanjutkan perjalanan,” bisik Sari pada Rosa. Rosa terlihat mengangguk. Sari menunggu minibus yang menuju arah Bantarujeg. Dia menunggu beberapa saat. Ketika angkutan yang ditunggu-tunggunya muncul, dia segera bangkit. Mobil itu terus melaju membelah Sumedang hingga sampai di perbatasan kabupatennya. Di perbatasan itulah Sari dan Ibunya tinggal. Jalan yang dillalui memang tidak senyaman jalan tol. Bahkan jalan itu membuat setiap badan ringsek. Namun rasa sakit terobati ketika mata melihat pemandangan kampung halaman dan kaki menginjak bumi tempat dia dilahirkan. Ketika Sari turun menginjakkan kaki di kampungnya, kaki langit barat berwarna merah jingga. Azan Maghrib telah berkumandang dari tiap mesjid seolah saling bersahutan satu sama lain. “Alllahu akbar, alhamdulillah akhirnya kita sampai juga, Nak,” ucap Sari sambil menghirup napas dalam-dalam. Dia merasakan udara bersih desa masuk ke rongga paru-parunya. * SEDAN warna merah maroon berhenti tepat di depan apartemen Taman Rasuna. Ratna segera membuka pintu mobil di sampingnya. Tanpa basa-basi dia segera keluar. Tetapi tangan kanannya ada yang menahan. “Mau apalagi sih, Mas?” "Kamu masih marah, sama aku Rat?” “Ngapain marah Mas? Aku bukan siapa-siapa Mas? Aku hanya bawahan Mas di kantor?” ucap Ratna dengan wajah cemberut sambil berusaha melepas tangan Hari. “Ya sudah. Kalau kamu nggak marah, kenapa cemberut?” goda Hari. Ratna makin menekan kerut wajahnya. Hari tertawa dibuatnya. “Kamu emang pinter ngegombal, Mas. Udah ah, udah malam. Aku capai. Aku pengen istirahat.” “Kamu kok tega, Rat. Nggak ngajak aku mampir kek meski sekadar basa-basi.” “Jadi mas pengen aku basa-basi... hehe. Baiklah...” “Eittt sudah-sudah jangan marah lagi.” Ratna kini tersenyum lebar. “Aku lebih suka jika kamu sedang marah. Lebih seksi dan lebih cantik.” “Nah, udah mulai gombal lagi. Udah mas,” ucap Ratna sambil menutup pintu mobil depan. Dari dalam mobil, Hari terus menatap Ratna. Ratna terlihat dingin. Mobil berbalik arah dan mulai melaju. Ekor mata Ratna menatap arah mobil itu melaju sampai benar-benar menghilang. Pikirannya memikirkan lelaki pengendara mobil itu. Pikirannya yang lain berkata, kamu kok jadi mikirin bos kamu ini... eh jangan-jangan... Ratna menggeleng-gelengkan kepala. Dia berkata dalam hati, ini nggak boleh terjadi. Ratna segera membuka pintu. Sampai di rumah, dia merasa rumah begitu sepi. Dia yakin Ferdi tidak ada. Dia mengecek kamar Sari, sekalian dia ingin melihat kondisi anaknya. Dia merasa sangat rindu pada Rosa. Namun di kamar itu, Sari dan Rosa tidak ditemukan. Dia bertanya-tanya dalam hati, kemanakah Sari dan Rosa. Dia mulai berpikir negatif. Setiap ruangan yang dia cek, Rosa dan Sari tidak diketemukan. Keringat bercucuran. Dia merasa sangat kehilangan. Kepada siapa dia harus bercerita akan masalah ini. Suaminya benar-benar tidak bisa diandalkan. Apa mungkin Sari mengajak jalan-jalan Rosa? Ah, mustahil. Malam-malam begini jalan-jalan kemana? Ratna melanjutkan pencarian ke setiap sudut ruangan. Ke dapur, kamar mandi, gudang, dan beranda apartemen. Upayanya nihil. Dia mulai cemas. Ratna duduk lunglai di kursi. Dia kebingungan. Tenaganya habis. Yang keluar dari mulutnya, Ya Tuhan, kemanakah Rosa? Kemanakah Sari? Apakah mungkin ada perampokan dan keduanya diculik? Ah tidak! Di rumah ini tidak ada tanda-tanda perampokan.  Ratna meraih gagang telpon. Dia mencoba menghubungi Ferdi. Sialnya, nomor Ferdi tidak aktif. Dia marah-marah sendiri. “b******k. Lelaki tak berguna! Lebih baik mati saja kau,” bentak Ratna sambil menangis. “Mawaar, kemana kamu, sayang?” ucapnya lagi sambil menangis. Tangisnya pecah. Dia tidak tahu kepada siapa dia harus bersandar dalam kondisi sulit seperti ini. Betapa rindunya dia pada sosok lelaki yang tangannya kokoh yang bisa dia pegang dalam kondisi sulit seperti ini. Tangan kokoh itu mampu melindunginya. Dia merindukan bahu seorang lelaki untuk dapat bersandar padanya saat dirinya dirundung lara. Kalau dulu dia bisa bersandar pada Ferdi. Setelah Ferdi benar-benar berubah karena frustasi terkena PHK, Ratna tak memiliki lagi sosok suami yang mampu melindungi diri dan anaknya. Gagang telpon masih menempel di telinga Ratna. Matanya tertuju pada sebuah amplop putih berukuran kecil bertuliskan: Untuk Nyonya Ratna. Ratna segera menyambar surat itu, dan segera membuka isinya. Assalamu ‘alaikum warahmatullah Nya, mohon maaf saya pulang kampung dahulu. Mohon maaf saya pulang tanpa sepengetahuan nyonya. Masalahnya nyonya tidak mengizinkan saya, padahal saya di kampung punya kewajiban juga untuk menengok ibu yang sudah sepuh. Saya dengar dari orang kampung, beliau sedang sakit. Saya tak tega, beliau tidak ada yang mengurus. Mohon Maaf, Nya. Rosa saya bawa ke kampung karena sewaktu saya mau pulang, dia terbangun saya tidak tega dia sendirian. Tadinya kalau ada Tuan, mau saya kasih ke Tuan. Tapi Tuan juga tidak ada. Nyonya, di kampung saya hanya seminggu. Nyonya jangan kuatir. Saya akan selalu menjaga dan merawat Rosa sampai Rosa kembali ke Jakarta. Makasih banyak, Nya. Semoga nyonya tidak marah. Wassalam alaikum warahmatullah. “Pembantu t***l, kenapa kamu tidak memberikan alamat kamu di kampung. Bagaimana aku bisa menyusul kamu. Bodoh! Benar-benar bodoh!” Ratna menggerutu sambil terus menangis. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN