Mencari Sakinah

1680 Kata
PEREMPUAN yang merupakan ‘ibu kedua’ bagi Rosa itu menyiapkan makan malam, meskipun kedua majikannya belum ada di rumah. Kalau kedua majikannya makan di luar, dia sendiri yang menikmati makanan sambil menyuapi Rosa. Rosa memang sudah diberi makanan. Selama ini ibunya tidak lagi memberikan ASI ekslusif. Dia begitu menyenangi makan-makanan manis dan bergula. Sebagai pengganti ASI yang tak didapatkan anak itu secara ekslusif, sehari-hari Rosa diberi s**u formula. Usai menghabiskan makanannya, Sari membawa putri kecil ke kamarnya. Selama ini Rosa ditempatkan di kamarnya. Mamanya pernah menidurkannya di kamarnya, namun jika malam bangun dan menangis, mamanya suka marah dan tidak mampu meredakan tangisan Rosa. Hanya Sari yang dapat mengasuh Rosa dengan baik. Makanya, mamanya tidak mempermasalahkan Rosa tidur di kamar Sari. Sari membelai-belai rambut Rosa sambil menyenandungkan Asmâul Husnâ. Rosa terlihat tenang ketika telinganya mendengar nama Allah didendangkan oleh pengasuhnya. Kemudian anak manis itu tidur. Sari segera menidurkannya di ranjang kecil khusus untuk Rosa. Dia selimuti anak itu dengan amat telaten.  Jelang beberapa saat, Sari pun merasakan kelopak matanya mulai berat. Dia membaringkan tubuhnya yang letih di ranjang yang bersebelahan dengan tempat tidur Rosa. * RATNA pulang larut malam. Di kantor dia mengikuti acara pesta yang diadakan perusahaan. Pesta itu diadakan dalam rangka launching produk terbaru perusahaan. Pesta memang kesukaan Ratna. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berpesta. Baginya, berpesta bisa menghilangkan kepenatan hidup, meskipun nalurinya sendiri mengakui kepenatan hidup itu hilang hanya sementara. Namun setidaknya dia bisa merasa terhibur. Ketika sampai di rumah, dia masuk ke kamar Sari untuk melihat putri kecilnya. Dia membuka pintu kamar pelan-pelan supaya tidak membangunkan Sari. Sekilas dia melihat Sari. Dia tidak berusaha membangunkannya. Dia mengusap wajah Rosa yang lelap tertidur. Sambil menatap wajah putrinya itu, hatinya berbicara sendiri. Rosa, mama sangat sayang kamu. Maafkan Mama, sayang. Mama tidak bisa mengasuhmu tiap hari. Andai saja papamu paham akan keadaan, Mama rela mengorbankan pekerjaan demi kamu, sayang. Tapi mama tidak bisa melakukannya, karena papamu tidak bisa diandalkan. Tiba-tiba sudut kelopak matanya basah. Ratna mengusap wajah anaknya dan mencium kening anaknya sambil berbisik, maafkan mama, sayang. Mama sangat menyayangimu. Mama seperti ini demi kamu, sayang. Apa pun akan mama lakukan demi kelangsungan hidupmu. Dia pun segera meninggalkan kamar itu. Ketika hendak ke kamarnya, dia melihat Ferdi duduk di meja makan. Ferdi terlihat begitu lahap makan. Ratna menghampirinya. Beberapa hari Ferdi menghilang. Ratna begitu kesal dan tak kuat menahan kekesalannya. Rosa langsung duduk di seberang meja makan sambil menatap mata suaminya dengan tajam. Sementara Ferdi tak menghiraukan. Dia terus saja makan, seolah-olah dia tak merasa ada siapa pun di hadapannya. Ratna paham, Ferdi ingin memancing dirinya supaya lebih kesal lagi. Ratna diam beberapa saat. Dia berusaha mengendalikan diri. Namun, kemarahannya makin terakumulasi dan sebentar lagi meletup ibarat lava di kawah gunung berapi. “Enak makannya? Habiskan semuanya, Tuan! Tuan tidak perlu berpikir kenapa makanan itu bisa ada. Ajaib ya, makanan itu muncul begitu saja. Makanan itu langsung turun dari langit. Dan semunya bebas! Free! Gratissss!” Ratna berkata demikian dengan nada tinggi. Kata-kata yang dikeluarkan dengan nada yang muncul begitu paradoks. Ferdi tidak bereaksi. Dia masih mengunyah sesendok demi sesendok. Matanya sekilas menatap mata Ratna merah memendam amarah. Ferdi mengunyah makin cepat. Amarahnya mulai terpancing, namun masih tertahan. Dia segera menyiduk nasi lagi begitu banyak. Lauknya pun diciduk begitu banyak. Dia makan dengan lahap meskipun sebetulnya dari tadi semenjak muncul istrinya selera makannya lenyap seketika. Respon suaminya makin mendorong kemarahannya menuju k*****s. “Bodoh! Kamu tak punya otak!” teriak Ratna sambil menggebrak begitu kuat. Meskipun tangannya sakit, rasa sakit kalah oleh amarahnya sendiri. Ferdi kaget ketika meja digebrak. Lalu dia makin mempercepat aktivitas makannya. Dia masih menahan kemarahannya. “Aku pikir setelah kamu menghilang berhari-hari tidak akan kembali lagi. Aku lebih tenang jika kamu tidak ada. Ada atau tidak ada kamu, sama saja bagiku. Aku dan Rosa sampai hari ini masih hidup tanpa kamu. Aku tak memerlukan kamu lagi,” ucap Ratna sambil berdiri dan menunjuk-nunjuk suaminya. Ferdi menggebrak meja. Makanan yang dikunyahnya disemburkan dan dimuntahkan. Sendok dia lempar. Suaranya berdentang beradu dengan lantai. Piring yang masih penuh dengan nasi pun jadi sasaran lemparan. Dia lemparkan juga ke lantai. Suara terdengar makin mengiris hati. “Fuihhh, Aku tidak i***t seperti yang kamu katakan!” Ferdi akhirnya berteriak melebihi tinggi suara Ratna. “Tidak, Kamu memang Bodoh! Buktinya kamu hanya bisa marah dengan merusak barang. Aku juga bisa melakukan apa yang kamu lakukan tadi. Emang kamu saja yang bisa merusak barang hah?” Ratna melempar gelas ke dinding di belakang Ferdi. Pecah-pecahan belingnya berhamburan di lantai dan di sekitar kaki Ferdi. Ferdi tertawa kecut. “Terserah kamu! Aku tidak bodoh. Justru kamu yang lebih dungu.” Suara pecah belah piring dan gelas terdengar hingga keluar. Di Kamar Sari hanya bisa menutup telinga. Tiap kali mendengar pertengkaran seperti ini, dia ingin sekali meninggalkan rumah ini. Bagaimana pun hal itu mempengaruhi dirinya. Kejadian seperti ini membuatnya tidak tenang.  Sari bangun karena Rosa juga terbangun. Rosa menangis. Rosa terbangun karena suara gaduh pertengkaran orangtuanya. Sari segera memangkunya. Dia berusaha meredakan tangisan Rosa. “Tenang, sayang. Bibi ada di sini. Jangan takut.” Rosa masih terus menangis. Anak itu menangis makin keras. Sari kebingungan apa yang harus dilakukan agar anak itu berhenti menangis. Sari hendak bawa Rosa keluar, tapi itu tak mungkin dia lakukan karena kondisi sedang darurat, bisa-bisa malah akan menambah kacau suasana, pikir Sari. “Sudah... sudah Sayang, jangan nangis ya. Ada bibi di sini. Jangan nangis ...” Sari berulang-ulang mengatakan itu sambil memeluk Sari. Sari merasa cemas. Dia merasa tidak enak hati. Tangisan Rosa makin keras. Tubuhnya mengejang dan meregang. Sari kewalahan dibuatnya. Kenapa mereka tidak bisa menyelesaikan permasalahan mereka ini, tanpa harus melibatkan anak yang tak berdosa ini? Pertanyaan itu berulang kali berseliweran di benak Sari. Tiba-tiba dari pintu kamar dibuka dengan keras. Ratna menyembul dari balik pintu. “Sari! Kenapa Rosa?” Sari kaget dengan teriakan Majikannya. “Ini ... itu .. Nyo... Nyo,” Sari gelagapan. “Ngomong yang jelas! Seharusnya kamu bisa ngasuh Rosa dengan benar,” ucap Ratna sambil mengambil Rosa dari pangkuan Sari. Sari benar-benar gugup. Hatinya menggerutu ketika dia disalahkan. Memang betapa mudahnya menyalahkan dan terus menyalahkan orang lain. Justru seharusnya nyonya yang harus bisa menjadi seorang ibu yang baik, teriak Sari dalam hatinya.  Tangisan Rosa tak berhenti. Dia berontak tak mau berada dalam pangkuan mamanya. Tubuhnya masih meregang dan mengejang. Sementara Sari hanya bisa diam. “Kamu nggak bisa ngurus Rosa. Mahal-mahal aku bayar kamu, tapi nggak bisa membuatnya berhenti menangis.” Ratna mengendalikan Rosa yang meronta-ronta. “Diam! Anak Nakal! Ini sudah malam. Harusnya kamu tidur!” “Tadi dia sudah tidur, Nya. Tapi ...” “Aku nggak nyuruh kamu ngomong.” Sari menunduk. Dia enggan berbicara lagi. Dia tidak berani. Padahal dalam hati, dia menjerit-jerit mengatakan, nyonya dan tuanlah yang telah menganggu tidur Rosa. Kalau majikannya sedang murka, dia sama sekali tidak bisa membela diri meskipun dia benar dan majikannya salah. Tangisan Rosa belum juga reda. Ratna makin kesal. Dia memang tidak terbiasa mengasuh anaknya. Dia tidak memahami keinginan anaknya. Sari memberanikan diri memangku Rosa, “Maaf, Nyonya, sini saya coba ajak Rosa keluar kamar. Biasanya kalau dia nangis, saya ajak dia ke ruang tengah. Di sana ada banyak foto. Dia senang melihat-lihat pajangan foto.” Agak ragu Ratna menyerahkan Rosa kepada Sari. Sari segera membawa putri kecil yang masih menangis itu keluar. Rosa ke dapur untuk membuat s**u buat Rosa. Dengan hati-hati dia melewati pecahan beling yang berserakan ketika dia menuju dapur. Rengekan dan isakan Rosa sedikit-sedikit berkurang. “Sabar, Sayang. Bibi buatkan s**u ya. Kalau habis nangis kan cape. Biar nggak lelah. Rosa nanti minum susu.” Saat s**u siap, Rosa mau memasukkan dot ke mulutnya. Sari memangku Rosa menuju ke Ruang tengah. Sambil minum s**u, Sari menunjukkan foto-foto dinding kepada anak itu. Rosa sudah terlihat tenang dan betah di tempat itu. “Nah, ini foto Rosa sama mama dan papa. Rosa sangat cantik ya.” Rosa memandangi foto itu. Tangannya berusaha meraih foto itu. Sari melangkah agar foto di dinding itu dapat dipegang oleh Rosa. Ratna tertegun. Dari dekat pintu dia melihat Rosa yang tenang berada dalam pangkuan Sari. Terbit penyesalan di hatinya. Dia tadi memang tidak bisa mengendalikan diri. Amarah telah merusak nurani perempuan dan keibuannya. Dia menyesal karena terlalu sering memarahi Sari. Dia menyadari bahwa Sari sebetulnya tidak bersalah. Hatinya mengatakan bahwa yang paling bersalah dalam hal ini adalah Ferdi yang tidak bertanggung jawab sehingga memaksa dirinya untuk menjadi tulang punggung keluarga. Dia mulai berandai-andai, kalau saja dia punya seorang suami yang kaya dan dapat memenuhi semua kebutuhannya, tentu akan lain kejadiannya. Dan apakah pendiriannya ini sepenuhnya benar? Bukankah di dunia ini berlaku hukum aksi dan reaksi atau sebab dan akibat?  Pandangannya itu tetap kukuh tegak akhir-akhir ini dalam hatinya. Di dunia seakan-akan tidak yang lebih bersalah daripada Ferdi. Kondisinya saat ini tidak lain disebabkan oleh suaminya yang s****n. Sejauh ini Ratna tak sama sekali berpikir terbalik, berusaha berpikir reflektif. Seakan-akan dirinya selalu benar. Sementara Ferdi selalu berada dalam posisi sebagai pihak yang paling bersalah. Di sudut lain, Ferdi berada di teras. Dia berdiri dekat pagar. Dari tempat itu, dia menyaksikan gemerlap kawasan Epicentrum. Bakri Tower menjulang merupakan bangunan tertinggi di kawasan itu. Beberapa lampu gedung itu masih menyala. Sebagian yang lain terlihat gelap. Pikiran Ferdi kosong. Beberapa pekan ini, kondisi tubuhnya kurang fit. Otot-otot tubuhnya terasa lemah. Kepalanya terasa berdenyut-denyut. Migrain kerap menggedor-gedor kepalanya, baik sebelah kanan maupun kiri secara selang-seling. Dia berpikir, jangan-jangan ini pengaruh obat-obatan dan miras. Namun, pikiran lain segera muncul, ah tidak mungkin, justru obat-obatan itu menghilangkan rasa sakit dan deritanya selama ini. Obat-obatan dan miras adalah salah satu cara agar membuat dirinya tenang dan sejenak melepaskan keterhimpitan beban hidupnya dalam dunia nyata.  Ferdi tiba-tiba merasa benci terhadap kehidupan ini. Sungguh dunia ini betapa tidak adil. Mengapa dia harus berada dalam posisi sulit seperti ini. Menjadi pengangguran. Tidak punya harga di mata istrinya sendiri sekali pun. Dia juga benar-benar tidak mengerti mengapa PHK itu menimpa dirinya, padahal di perusahaan tempat bekerjanya dulu, dia termasuk karyawan yang berprestasi dan produktif. Dunia ini memang kejam! Dunia ini memang tidak adil! Berulang-ulang kalimat itu menggema dalam benaknya. * Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN