SARI mengikuti perkembangan Rosa saban hari. Dia mampu melihat dengan detil perkembangannya. Rosa sudah mampu menyebutkan kosa kata: ma-ma, pa-pa, dan juga bi-bi walaupun belum fasih dan masih terbata-bata.
Rosa tumbuh menjadi anak yang menggemaskan. Kulitnya putih. Rambutnya ikal bergelombang. Dua gigi serinya yang putih tumbuh semakin menambah gemas dan keimutannya membuat naluri setiap orang tua akan merasa iri. Siapa yang tidak bangga dikarunia anak yang sehat, cantik, imut, dan terlebih lagi nantinya menjadi anak yang salehah.
Rosa mewarisi kelebihan yang dimiliki mama dan papanya. Rambut yang seperti Mamanya. Wajahnya mirip papanya. Hidungnya yang mancung mirip mamanya. Sebuah perpaduan yang sempuna kecantikan dan ketampanan. Matanya yang bening menunjukkan kesucian. Anak memang tak punya dosa. Dia bergantung bagaimana lingkungan mencelup dan mencetaknya akan menjadi seperti apa. Bisa menjadi pembangkang, penyabar, pemberontak, dan apa saja bergantung keinginan orang tuanya.
Langit Jakarta sore hari ini cerah. Sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Di rumah hanya ada Sari dan Rosa. Ratna belum pulang kerja. Ferdi tidak bisa dipastikan berada di mana. Beberapa hari ini dia tidak pulang rumah. Ratna pun sudah merasa terbiasa. Jadi, dia tidak terlalu memedulikan tingkah polah suaminya. Dia sudah menguatkan diri untuk menjadi seorang perempuan pemberani dan juga mandiri.
Sore itu, Sari baru saja memandikan Rosa. Dia mendandani Rosa dengan bedak, kayu putih dan baju bayi yang paling bagus. Sari Sendiri sudah mandi sebelumnya ketika Rosa istirahat siang. Mengurus bayi mungil itu seperti bukan mengurus anak orang lain. Dia merasa seperti mengurus anaknya sendiri. Rosa mengingatkannya pada sosok anaknya yang meninggal beberapa jam setelah kelahirannya. Dia benar-benar terpukul atas perhatian itu. Dia belum sempat memberinya Asi dan menyapihnya. Kalau saja anak itu masih ada di dunia, umurnya tidak akan jauh berbeda seperti Rosa.
“Rosa sayang, Yuk ah kita jalan-jalan,” Sari mengajak Rosa berdialog. Rosa nyengir memperlihatkan dua gigi serinya.
“Ma … Ma … ”
Hati Sari menjadi sangat terenyuh mendengar kata yang diucapkan anak kecil yang masih terbata-bata itu. Dia begitu paham, kalau anak itu membutuhkan sosok seorang ibu kandungnya, bukan pembantu seperti dirinya. Selama ini, majikan perempuannya terlalu disibukkan dengan urusan pekerjaannya. Pulang selalu larut malam. Rosa tidak mendapatkan perhatian yang khusus dari ibunya.
“Nanti ya, Sayang. Mama bakal jalan-jalan sama Rosa. Rosa sekarang jalan-jalannya sama bibi sekarang.”
“Ma … Ma. Pa … Pa…”
“Iya nanti, ya. Mama dan papa pasti akan jalan-jalan sama Rosa. Mama dan papa sangat menyayangi Rosa.”
Rosa menggendong Rosa. Dia keluar apartemen. Dia keluar mengenakan kerudung hijau tosca dan gamis yang warnanya senanda dengan kerudung yang dikenakan. Beberapa bulan ini dia merasa tenang mengenakan pakaian yang menutup aurat. Dia lebih leluasa dari bulan-bulan sebelumnya. Awal-awal bekerja, Ratna sempat keberatan dengan pakaian Sari. Namun Sari berusaha menjelaskan prinsipnya.
Telinga Sari sudah kebal dengan berbagai omelan yang terkadang cenderung mengejek pakaian syar’i yang dikenakannya. Namun dia tak peduli. Toh pakaian Muslimah yang dikenakannya tidak menganggu dan menghambat pekerjaannya. Dia sudah berhasil membuktikannya, sehingga akhirnya Ratna sudah bisa menerimanya.
Saat berada di dalam rumah pun, Sari tetap mengenakan pakaian Muslimah. Dia tidak berani mengenakan pakaian di luar itu kecuali di kamarnya sendiri. Hal itu dikarenakan majikannya yang laki-laki, Ferdi adalah nonmahram baginya. Secara fikih, yang dia ketahui, tidak boleh perempuan itu terlihat auratnya kecuali muka dan telapak tangan di depan lelaki asing.
Dia menyeberangi jalan di area Taman Rasuna. Di seberang jalan, arah bagian barat terdapat sebuah sungai. Sungai atau kali itu berwarna kehijauan. Masih terbilang bersih untuk air kali ukuran Jakarta. Pemandangan di sekitarnya indah. Jalanan pada sore hari dibuat ramai oleh hilir mudik kendaraan. Tidak ada kendaraan umum di jalan ini, kecuali hanya dilalui oleh shuttle bus khusus area Epicentrum Complex.
Sore itu Sari bersama Rosa menyusuri tepian kali sebelah timur. Dua sisi tepi kali itu berteras. Tumbuhan pagar dan bunga-bunga taman tertata dengan apik. Sari mulai menyusuri dari sebuah jembatan yang di seberangnya terdapat Bakri Tower dan sederet bangunan yang terdiri atas restoran, bank, mall, dan tempat kursus atau pelatihan.
Di dekat pagar besi tepi kali Sari bersandar. Dia menunjukkan air kali yang sedikit kehijauan. Ada beberapa ikan kecil. Kelihatannya ikan-ikan kecil itu sengaja ditanam di situ.
Setelah merasa bosan di tempat itu, Sari dan Rosa menyusuri tepian kali yang semuanya berlantai teras berukuran besar. Di tempat itu banyak orang hilir mudik melakukan berbagai aktivitas.
Ada banyak pasangan muda-mudi yang mojok. Sari merasa risih menyaksikannya. Mereka masih terlalu muda. Sari berpikir, kalau saja mereka mendapatkan pendidikan yang benar tentang batasan pergaulan antara lawan jenis dalam ajaran Islam harus seperti apa, tentu hal itu tidak akan terjadi. Orang-orang muda seperti mereka akan tahu batasan dimana laki-laki dan perempuan boleh berinteraksi dan di mana saja keduanya dilarang bercampur. Meskipun Sari adalah seorang pembantu, dia cukup paham agama karena pernah mondok di sebuah pesantren saat di kampung dulu.
Karena ketidaktahuan mereka, atau mungkin lebih tepatnya tidak berusaha untuk tahu, banyak kejahatan terjadi di mana-mana. Pergaulan bebas muda-mudi semakin parah. Praktik aborsi semakin meraja lela. Sari beristighfar. Ya Rabbi, sampai kapan negeri ini akan terus kacau balau seperti ini? Sari segera melangkah ke tempat lain sepanjang tepian kali itu.
Ada beberapa orang yang sedang melakukan jogging menyusuri taman di sekitar tempat itu. Mereka orang-orang bule. Ada pula orang-orang yang berjajar di pinggir kali membentangkan kail mereka ke air kali. Mereka terlihat begitu asyik menunggu umpan mereka dilahap oleh mulut ikan-ikan.
Sari berhenti di dekat orang-orang yang memancing itu, dia berbicara pada Rosa tentang memancing ikan.
“Rosa, Sayang, bibi juga dulu waktu di kampung sering menemani suami bibi memancing ikan. Memancing ikannya di sungai di sawah.”
Rosa tak menghiraukan perkataan orang yang mengasuhnya. Matanya lebih tertarik melihat kail yang bergoyang-goyang. Kail itu diangkat oleh yang punya. Di kailnya terkait mulut ikan yang berukuran sedang dengan warna sisiknya yang kemerahan. Orang yang memegang kail itu tampak senang. Usahanya membuahkan hasil.
Rosa berceloteh. Dia ikut kegirangan. Tangannya menunjuk ikan, mulutnya berceloteh, dan matanya memandang pengasuhnya. Meskipun suara yang keluar dari Rosa seperti bahasa ‘planet’, namun sang pengasuh bisa memahami betapa Rosa tertarik pada ikan yang mulutnya menyangkut di kail itu.
“Itu namanya Ikan, Nak. I-kan... I-kan. Ikan itu ciptaan Allah, Nak. Ikan itu rasanya enak. Ikan bisa bikin tubuh Rosa Sehat.”
Rosa kembali berceloteh aktif dengan bahasa ‘planet’-nya. Sari tersenyum bahagia. Rosa memang sangat membuatnya benar-benar menjadi seperti seorang ibu. Kalau saja dia menjadi sosok Ratna, sesibuk apa pun dirinya tentu tidak akan pernah lupa kepada buah hatinya.
Sore mulai terlihat gelap. Lampu-lampu di tepi jalan dan gedung menambah semarak suasana. Meskipun masih asyik di tempat itu, Sari merasa hal itu kurang baik bagi anak seumuran Rosa.
“Sayang, sudah malam, yuk kita pulang!”
Pembantu yang mengenakan kerudung dan baju yang rapi dan tertutup itu segera berbalik arah. Dia menyusuri jalan yang semula dilaluinya.
*
Bersambung