Kantor kepolisian Chicago selalu ramai dengan aktivitas para penegak hukum berlencana dan tentunya para kriminal baik yang kelas teri maupun kelas kakap. Semua bertumpah ruah di gedung berlantai 10 itu menimbulkan suara berdengung bagai kumpulan lebah yang sibuk.
Dering telepon tanpa jeda membuat stres para penegak hukum itu meningkat, tidak jarang mereka harus mengonsumsi obat tidur hanya untuk meredakan migren dan beristirahat beberapa jam. Berhenti dari kewajiban mereka di jam-jam tak normal dimana orang lain telah terlelap ke alam mimpi.
Dan di sanalah Emily Rosalyn Carter saat ini, langkah ringan kakinya di atas high heels 10 cm mengetuk-ngetuk lantai kayu di koridor department kriminal Kepolisian Chicago hingga terhenti di depan sebuah pintu tertutup bertuliskan Detektif Ryan Falderson. Wanita itu tersenyum tipis sembari mengetok pintu kantor sang kapten.
Pria itu menyuruhnya masuk dengan suara bernada tak sabar dari dalam ruangan. Dengan perlahan Emily menarik gagang pintu di hadapannya dan masuk ke dalam ruangan itu sendiri. Kedua ajudannya dia bebas tugaskan untuk istirahat makan siang.
"Selamat siang, Capt. Apa aku mengganggumu?" sapa Emily menyunggingkan senyum profesionalnya seraya duduk di seberang meja Kapten Ryan Falderson.
Kini pria itu tertawa pelan dan menyeringai geli, dia berkata, "Akan selalu ada waktu untuk Nona Jaksa Emily Carter. Ada kehormatan apa yang membuatku mendapat kunjungan kejutan ini, Em?"
"Satu ... dan lain hal. Termasuk salah satu di antaranya, kasus anak Senator Crawford," ujar Emily menurunkan volume suaranya karena menyebut nama sensitif yang memiliki kekuasaan besar di kota Chicago.
Kapten Ryan Falderson bersiul lalu terkekeh sebelum berkomentar, "Tahukah kau bahwa menyinggung orang besar itu berisiko tinggi, Em? Aku tidak suka berpolitik, ada terlalu banyak kasus kriminal yang membutuhkan perhatianku dibanding bersinggungan dengan golongan penguasa tak terjamah yang kau sebutkan tadi."
Sebenarnya Emily tidak begitu suka dengan perkataan Ryan yang seolah memilih-milih lawan yang seimbang baginya. Apa urusannya kalau itu memberikan rasa nyaman dan tak nyaman mengusut sebuah tindak kriminalitas?
"Jangan cemen, Ryan! Apa kau takut mempertaruhkan lencana kaptenmu hanya karena mengusut kasus pejabat terkemuka?" cecar Emily seraya bersedekap duduk berhadapan dengan Ryan Falderson.
"Mister Gordon tidak akan tinggal diam bila penerusnya yang akan menjadi senator berikutnya tercemar namanya karena kasus kriminalitas, Em. Pria itu menutupi kejahatannya bagaikan lapisan es di danau saat winter. Kau bisa memecahkan lapisan es itu dan akan membahayakan hidupmu sendiri. Anggap saja ini saran dari pria yang pernah menyayangimu dulu, Emily!" Ryan Falderson cukup kenyang dengan blackmail yang ditujukan kepadanya dalam periode dinasnya beberapa waktu lalu dan akhirnya memilih menutup kasus yang berkaitan dengan keluarga Crawford.
Sayangnya perkataan Ryan Falderson menggelitik rasa keadilan yang telah tertanam kuat dalam jiwa Emily. Dia pun menjawab, "Baiklah. Aku tak ingin membuang waktumu, Kapten Falderson. Apakah ada kolegamu yang bisa membantuku menyelidiki kasus yang berkaitan dengan Henry Crawford? Aku memiliki soft file laporan kasus itu di pc-ku seandainya ada yang bisa menyelidikinya."
"Letnan Benjamin Roosevelt, dia polisi yang berjiwa keras dan sedikit punya nyali dibanding kolega-kolegaku yang lain. Hanya saja kukatakan sekali lagi, Em ... lawanmu terlalu berat kali ini. Utamakan keselamatan nyawamu sebelum kau ingin bertindak sebagai Dewi Athena bagi orang-orang yang menuntut keadilan darimu!"
Ryan menyalakan rokoknya lalu mengisapnya dalam-dalam, dia menatap menerawang jauh ke langit-langit ruang kantornya yang berukuran 3 x 4 meter persegi, penuh berkas kasus kejahatan di kota Chicago.
"Sejujurnya kau salah menyebutnya, Dewi Themis adalah dewi keadilan yang patungnya dipajang di gedung pengadilan. Dewi Athena itu dewi kebijaksanaan dan pelindung para pahlawan," koreksi Emily sembari tertawa ringan. Dia lalu melanjutkan gurauannya, "Aku akan melindungi Letnan Benjamin Roosevelt bagaikan Dewi Athena baginya bila dia mau bekerjasama denganku untuk mengerjakan kasus putera senator Crawford!"
Ucapan Emily membuat sang kapten mengerang dan mengernyitkan dahinya. "Kau tak juga paham, Em! Baiklah, sebenarnya kasus apa yang membuatmu getol ingin memenjarakan putera sang senator?"
Senyum kemenangan terbersit di bibir Emily Rose Carter, dia tak menyia-nyiakan peluang itu. "Korupsi anggaran dewan dan pelecehan wanita-wanita yang bekerja magang di kantornya. Aku mendapatkan bocoran informasi berbahaya itu dari salah satu wanita yang pernah bekerja cukup lama di kantor dewan kota. Datanya cukup lengkap hingga mampu menyeret Henry Crawford ke penjara," ujar Emily yang membuat Ryan Falderson tertarik.
"Apa aku boleh meminta identitas wanita itu, Em?" tanya Ryan singkat.
"Tentu saja boleh, kau penegak hukum kota ini, Ryan. Wanita itu dapat memberikan kesaksiannya kepadamu bila kau mengirimkan surat panggilan interogasi resmi dari kepolisian Chicago," jawab Emily senang.
Ryan menyodorkan kertas notes ke meja di hadapan Emily. "Oke, tuliskan nama lengkap wanita itu dan nomor kontaknya untuk segera kuhubungi!"
Tanpa ragu Emily menuliskan nama Cecilia Briane Sommerhalder berikut nomor kontak wanita itu. Dia memang butuh kerja sama dari pihak kepolisian untuk menanyai saksi perkara hukum.
Pria itu membaca nama yang ditulis oleh Emily lalu menginputnya ke layar komputernya untuk mencari fotonya sesuai rekaman data id card penduduk negara Amerika Serikat.
"Apa benar wanita yang ini, Em?" tanya Ryan meminta Emily mendekat ke kursinya untuk melihat foto wanita itu di layar komputer.
Dengan segera Emily beranjak ke sisi kursi Ryan Falderson lalu memandangi sosok wanita cantik bermata hijau dengan rambut lurus sebahu warna perunggu itu dan berkata, "Iya, benar dia memang Cecilia Sommerhalder."
"Emily, kuharap kau akan lebih berhati-hati. Berurusan dengan politikus kelas atas itu dapat menyeretmu ke dalam mara bahaya!" pesan Ryan untuk kesekian kalinya.
"Hey, kupikir kau mau membantuku mengusut tuntas kasus Henry Crawford, Capt!" ujar Emily merasa Ryan bimbang dan ingin mundur dari penyidikan kasus yang tadi mereka bahas berdua.
Pria itu pun mencoba mengalihkan pembicaraan ke kasus lainnya. Dia membahas kasus Jared Detroit, pembunuh berantai 5 wanita yang akan disidangkan besok pagi di pengadilan wilayah negara bagian Chicago.
"Apa kau akan hadir di persidangan besok, Ryan?" tanya Emily ringan lalu mengeluarkan file kasus lainnya yang masih belum terselesaikan oleh pihak kepolisian.
"Ya, aku akan hadir di persidangan itu. Apakah kau akan menuntut hukuman penjara seumur hidup bagi Jared Detroit?" balas Kapten Ryan Falderson yang berhasil menangkap penjahat kasus pembunuhan berantai itu di TKP calon korban keenam yang untungnya belum sempat dihabisi oleh Jared Detroit usai diperkosa.
"Pria itu tak akan lepas jadi jerat hukum dengan dalih gangguan psikologis. Aku tak akan membiarkannya masuk panti rehabilitasi mental, dia harus dipenjara seumur hidup, Ryan!" jawab Emily dengan tegas.
Perbincangan seru mengenai beberapa kasus kejahatan yang masih belum tuntas di kota Chicago berlangsung hingga beberapa jam menghabiskan jam istirahat makan siang sang jaksa dan sang kapten polisi.
Emily juga mencatat beberapa surat pemangilan saksi dan juga tersangka di buku agendanya agar ia tidak lupa. Asistennya yang akan membuat format cetak surat tersebut untuk ia tanda tangani dan bubuhkan stempel resmi jabatannya sebelum dikirim ke petugas kepolisian yang berwajib.